Sadar

Samar-samar Zea membuka matanya. Rasa nyeri di bagian dada membuatnya meringis kesakitan. Ia melihat pakaiannya sudah berganti dengan pakaian seperti pasiean rumah sakit. Ditangan kirinya tertancap sebuah jarum infus.

Ia masih ingat bagaimana saat ia dihanyutkan dengan pengaruh obat bius. Tanpa sengaja, arus sungai yang bergelombang, membuat tubuhnya naik ke atas sebuah batang pisang yang juga hanyut di sungai itu. Ia pun pingsan terbawa arus sungai dengan tetap berada di atas batang pisang tersebut. Hingga saat mencapai desa tersebut, ia terdampar di pinggir sungai.

"Apa? Aku masih hidup?" Zea mulai merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat pelan.

"Mbak sudah sadar?" Suara seseorang mengagetkan Zea.

"Siapa kamu?" tanya Zea dengan rasa khawatir. Ia takut kalau wanita berhijab yang masih muda itu adalah orang suruhan Nara.

"Saya adalah Bidan di daerah ini, nama saya Jihan. Tadi anak-anak pesantren menemukan Mbak di pinggir sungai dalam keadaan pingsan lalu membawa Mbak kesini."

"Nama saya Zea. Saya berada di kota apa?" tanya Zea. Ia takut masih berada di kota yang sama dengan Nara.

"Mbak sedang berada di desa Permai. Kita jauh dari kota, Mbak," sahut Jihan dengan senyum ramahnya.

Zea menghela nafas lega. "Terima kasih, Jihan."

"Oh ya, kalau boleh tahu, Mbak Zea berasal darimana, ya?"

Zea terdiam sejenak. Ia ragu untuk menjawab. Siapapun tidak boleh tahu asal-usulnya atau Nara akan menemukan dirinya.

"Tidak apa-apa, Mbak. Saya akan bicarakan ini dengan Ustazah Hilma."

Zea mengernyit.

"Ustazah Hilma adalah istri pemilik pesantren." Jihan menjelaskan tatapan keheranan Zea.

"Terima kasih."

🌺🌺🌺

Di pesantren.

"Begitu ceritanya, Ustazah," ucap Jihan saat mengakhiri ceritanya soal Zea yang sudah sadar namun enggan menjelaskan asal usulnya.

"Baiklah, kalau begitu. Saya akan kesana saat dia sudah sehat. Sampaikan padanya bahwa dia bisa tinggal di sini."

"Baik, Ustazah."

Jihan pun kembali ke kliniknya. Ia melihat Zea sedang makan ditemani oleh perawat yang bekerja di klinik tersebut. Hanya sedikit bubur yang bisa ditelan Zea. Beratnya masalah dan rasa bingungnya akan hidupnya setelah ini membuat nafsu makannya hilang.

Setelah makan, Zea meminum obat yang diberikan perawat.

"Bagaimana keadaan Mbak Zea?" tanya Jihan.

"Saya sudah baikan," sahut Zea.

"Oh ya, tadi saya sudah bertemu dengan Ustazah Hilma. Beliau berkata bahwa Mbak Zea bisa tinggal di pesantren setelah keluar dari klinik ini."

"Pesantren?" Zea mengernyitkan dahinya. Tampak jelas keraguan dalam dirinya.

"Kenapa, Mbak?"

"Apa saya harus mengenakan jilbab?"

Jihan tersenyum mendengar pertanyaan Zea. "Apakah Mbak muslim?"

Zea mengangguk.

"Kalau begitu kenapa harus ragu?"

"Saya hanya merasa tidak pantas." Zea menunduk sedih. Ia masih ingat bagaimana kelakuannya selama ini.

"Tidak ada wanita muslim yang tidak pantas mengenakan hijab."

Zea menatap wajah Jihan dengan serius. "Kamu cantik sekali, kamu juga baik." Tersenyum lembut.

"Semua wanita itu cantik, Mbak. Kebaikan hanya milik Allah." Jihan balas tersenyum.

Zea hanya tersenyum tanpa membalas perkataan Jihan.

🌺🌺🌺

"Kalian gimana, 'sih. Sampai sekarang berita kematian Zea belum juga muncul!" teriak Nara pada Stella dan Farah. Kakak beradik yang ia suruh membunuh Zea.

"Ya, mungkin aja mayatnya dimakan hewan buas. Sungai itu kan mengalir melewati hutan juga," sahut Farah.

"Bisa gawat kalau sampai dia masih hidup. Jika ada yang percaya padanya, bisa hancur rencana ku!" Nara menatap tajam ke sembarang arah.

"Kamu tenang saja, Nara. Pasti dia sudah mati. Mustahil orang yang terkena bius selama satu jam bisa bertahan di dalam air."

"Tapi selagi aku belum mendengar berita kematiannya, aku tidak akan bisa tenang!"

"Kami akan segera melaporkan padamu jika kami menemukan petunjuk tentang dirinya," ucap Stella.

"Ya sudah, aku akan pulang dulu. Aku harus mempersiapkan pertunanganku dengan Steven." Nara pun melangkahkan kaki keluar dari rumah Stella dan Farah.

Ia pun melaju kembali ke rumahnya. Dengan masih dibalut perban di beberapa bagian tubuhnya yang sebenarnya adalah palsu.

"Kenapa jasadnya tidak ditemukan! Arrrhhh! Bagaimana kalau sampai dia kembali? Tidak! Aku yakin dia pasti mati. Dan jika dia kembali, maka aku akan langsung membunuhnya! Siapa suruh kau selalu menjadi lebih unggul dariku!" Nara mencengkram kemudi sambil menatap licik.

Sesampainya di rumah, ia langsung di sambut pelukan oleh ibunya.

"Nara! Kamu darimana saja, sayang? Kenapa pergi diam-diam? Kami khawatir padamu?"

"Aku,,, berusaha mencari keberadaan Zea, Ma, Pa," sahut Nara dengan wajah sedih.

"Untuk apa kamu mencari dia? Dia itu sudah mencelakai kamu! Tidak seharusnya kamu mengkhawatirkan dia! Dia itu hanya anak yang sudah mencoreng nama baik keluarga kita dengan tindakan gilanya!" ucap Papa Nara dengan nada tinggi. Tampak jelas bahwa ia langsung emosi ketika mendengar nama Zea.

"Sudahlah, Nak. Kamu ke kamar, ya. Istirahat lah. Ingat, kamu harus menjaga kesehatan kamu agar saat pertunangan mu dengan Steven, kamu sudah sehat," ujar Mama.

"Baik, Ma." Nara pun pergi ke kamarnya dengan senyuman yang mengembang saat ia sudah membelakangi kedua orang tuanya. Ia merasa puas dengan kebencian kedua orangtuanya kepada Zea. Itu adalah hal yang selalu ia impikan, melihat Zea dibenci semua orang.

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

dasar nara ular berbisa

2023-01-10

1

Rupink Chiabella

Rupink Chiabella

jahat banget padahal sodara kembar

2022-11-14

2

Ayas Waty

Ayas Waty

dasar muka dua

2022-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!