Ditarik Kembali

Sudah seminggu sejak kejadian ditangkapnya Lastri dan Sari sebagai tersangka pembunuhan Aisyah yang disabotase seperti bunuh diri.

Kini nama Aisyah sudah bersih. Di mata masyarakat, ia tetaplah anak Kiyai Abdullah yang sangat baik dan pintar. Meski Aisyah telah pergi untuk selamanya, setidaknya ia meninggal bukan dalam keadaan hina seperti yang diberitakan sebelumnya.

Ustazah Hilma mengatakan pada media bahwa ini berkat penyelidikan polisi. Ia tidak mencantumkan nama Zea karena Zea sendiri tidak ingin keberadaannya diketahui siapapun terutama keluarganya.

Meskipun di hati kecilnya ia masih memikirkan orang tuanya, tapi ia tetap tidak ingin bertemu dengan mereka yang masih sangat membencinya. Terlebih lagi, jika ia kembali, maka Nara akan kembali menyingkirkan dirinya. Biarlah Nara berpikir bahwa ia telah mati. Dengan demikian, ia akan tenang berada di sini.

"Assalamualaikum, Zea," sapa Ustazah Hilma saat memasuki kamar Zea, yakni kamar Aisyah yang lama.

"Waalaikumsalam, Umi, ada apa?" tanya Zea sembari menarik kursi dari meja agar Ustazah Hilma bisa duduk, sementara ia duduk di tepi ranjang.

"Ada yang ingin bertemu denganmu."

"Siapa Ustazah? Bukan orang tua atau teman saya, kan?" Zea menatap ragu.

"Bukan, ayo, ikut Umi sekarang."

Zea mengangguk mengerti. Ia pun segera mengikuti langkah Ustazah Hilma yang ternyata menuju ke rumahnya. Memang, rumah Ustazah dan pesantren berada dalam satu lingkungan.

Mereka sampai di sebuah kamar. Ketika dibuka, Zea terkejut melihat seorang pria separuh baya sedang duduk di atas ranjang dengan selang infus di tangannya. Pria tua itu kini tengah tersenyum padanya.

"Silakan masuk, Nak," ujar Ustazah Hilma.

Zea mengucap salam yang langsung dibalas Ustazah Hilma dan pria tua tadi.

"Zea, ini adalah Kiyai Abdullah, suami Umi, ayahnya Syahil dan Aisyah." Begitulah Ustazah Hilma memperkenalkan dirinya.

Zea terkejut. Yang ia tahu, Kiyai Abdullah sedang stroke.

"Beliau telah sadar beberapa hari yang lalu. Setelah Umi dan Syahil menceritakan tentang kejadian sebenarnya yang dialami Aisyah, perlahan Abi mulai membuka mata. Sepertinya beliau sudah mempunyai semangat hidup lagi. Tapi Umi tidak mau bercerita pada siapapun, dan kamu orang pertama yang diminta Abi untuk melihatnya."

"Terima kasih, Zea, berkat kamu, nama Aisyah sudah bersih," ucap Kiyai Abdullah sambil terus tersenyum pada Zea.

"Sama-sama, Kiyai," sahut Zea.

"Panggil Abi saja," ujar Kiyai Abdullah.

"Iya, Abi."

"Zea, apa kamu sudah memiliki pasangan sebelum datang kemari?" tanya Ustazah Hilma.

"Seperti yang Umi ketahui, saya tidak punya siapa-siapa sekarang. Dalam artian berada di sisi saya." Zea menjelaskan.

"Kalau begitu, apakah kamu mau menjadi menantu keluarga kami," ucap Kiyai Abdullah tiba-tiba.

Zea terkejut mendengar ucapan Kiyai Abdullah. Bagaimana mungkin mereka berpikir seperti itu?

"Maaf, Abi, Umi, saya melakukan semuanya secara ikhlas, bukan karena,,,,,"

"Syahil mengatakan pada Umi kalau dia mencintai kamu, Zea."

Ucapan Ustazah Hilma langsung membuat Zea terdiam. Syahil menyukainya? Sejak kapan? Apa karena Zea telah menemukan pelaku pembunuhan kakaknya?

"Saat Syahil melihat kamu bersama laki-laki sepulang dari kantor polisi, dia mengatakan pada Umi bahwa dia mencintai kamu. Dia ingin menjadikan kamu istrinya. Sepertinya Syahil cemburu pada laki-laki itu."

"Laki-laki itu adalah tunangan kakak kembar saya, Umi," jelas Zea.

"Tapi Umi bisa melihat bahwa laki-laki itu menyukai mu. Karenanya, Syahil tidak mau terlambat dan menyesal."

"Tapi, saya belum ingin bertemu dengan keluarga saya, Umi. Terlebih kakak kembar saya. Jika dia mengetahui bahwa saya masih hidup, kemungkinan dia akan semakin gencar menyingkirkan saya."

"Kita bisa bicarakan pelan-pelan dengan mereka. Kita hanya meminta ayahmu menjadi wali nikah, setelah itu, kamu akan tetap ada di sini bersama Syahil," ujar Ustazah Hilma.

"Meskipun Syahil hanya guru di sini, tapi insyaallah, dia bisa memenuhi kebutuhan kamu." Kiyai Abdullah menambahkan.

"Bukan masalah itu, Abi. Ya sudah, saya terima, Umi, saya harap, jika kelak ayah saya mau ke sini, saudara kembar saya jangan sampai tau."

"Baik, kami akan berusaha memberitahu ayahmu pelan-pelan," ucap Ustazah Hilma.

Namun, baru saja mereka saling bertatapan sambil tersenyum, tiba-tiba terdengar suara gaduh di halaman.

Ustazah Hilma dan Zea lekas keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Betapa terkejutnya Zea saat melihat ayahnya sedang ditahan oleh Syahil.

"Papa!"

"Zea! Sini, Nak, tolong Papa. Laki-laki ini tidak membiarkan Papa masuk!"

"Syahil, tolong lepaskan Papaku," ujar Zea sambil menatap Syahil.

"Zea, tadi Papamu datang ke sini sambil marah dan,,,"

"Diam kamu! Zea, sini, Sayang. Papa hanya ingin bertemu denganmu, tapi laki-laki ini melarang Papa."

"Syahil, lepaskan Papaku!"

Kali ini, Syahil langsung melepaskan pegangannya terhadap Baskoro yang merupakan ayah Zea.

"Papa." Zea menghambur memeluk papanya.

"Sayang, apa kabar? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Baskoro sambil mengusap punggung Zea.

"Baik, Pa. Darimana Papa tahu aku ada di sini?"

"Papa mencarimu selama ini. Papa menyesal telah mengusir mu. Pulanglah, Nak, Mama sakit karena terus memikirkan dirimu."

"Tapi, Pa, aku sudah nyaman berada di sini. Aku,,,,akan menikah dengan Syahil." Zea melirik Syahil dan tersenyum.

Syahil juga membalas senyumannya. Terlihat Rianti yang mendengarnya langsung pergi dengan perasaan emosi.

"Tidak masalah, Nak. Nanti, kita akan menggelar pernikahan mu setelah ibu pulih." Baskoro menatap Zea dengan penuh harapan.

"Bagaimana dengan Kak Nara, Pa?"

"Nara, dia sudah mengakui semuanya. Dia bahkan sudah berjanji kalau dia akan meminta maaf dan membersihkan namamu."

"Alhamdulillah, akhirnya kebenaran terungkap." Zea tersenyum dan mengusap wajahnya pelan.

"Permisi, Nyonya, bolehkah saya membawa anak saya. Setelah ibunya pulih, kami akan datang kemari dan kita akan membicarakan perihal pernikahan anak-anak kita." Baskoro menatap Ustazah Hilma.

"Baiklah, Pak, kami percaya. Kami akan menunggu kedatangan kalian." Ustazah Hilma mengangguk mengerti.

Setelah berpamitan, Zea pun pulang bersama papanya hingga sampai di rumah mereka yang lama.

Namun, setelah mereka sampai di rumah, tiba-tiba saja papanya mendorongnya ke sofa.

Zea terkejut melihat perlakuan papanya. "Pa, kenapa?"

"Mulai sekarang, kamu tidak boleh keluar kemanapun!" Baskoro menatap dengan tajam.

"Wah, akhirnya papa berhasil membawa Zea kembali." Arini yang merupakan mama Zea berdecak senang.

"Mama? Jadi Mama tidak sakit?" Zea terkejut melihat mamanya yang masih sehat dan segar bugar.

"Kalau Mama tidak sakit, maka kamu tidak akan mau kembali ke sini." Baskoro menjelaskan.

"Tapi kenapa Mama dan Papa melakukan semua ini?"

"Perusahaan kita diambang kehancuran sejak kamu pergi. Maka dari itu, mulai besok, kamu harus kembali ke kantor dan stabilkan perusahaan kita!"

"Tapi, Pa, aku tidak bisa membangun di atas tanah orang-orang yang menderita. Mereka kehilangan semuanya karena kelicikan yang aku lakukan." Zea mencoba menolak.

"Papa tidak peduli. Dan bukan itu saja. Kamu harus menikah dengan Steven. Dia hanya menginginkan kamu, bukan Nara. Kakak kamu sudah Papa usir sejak kami mengetahui kelicikannya yang ternyata telah menjebak kamu. Semua rekan bisnis papa sudah mengetahuinya, juga semua teman mu."

"Apa? Menikah dengan Kak Steven? Aku tidak mau, Pa. Aku akan menikah dengan Syahil, titik!"

"Jadi kamu sudah mulai membangkang? Apa ini ilmu yang kamu dapat dari pesantren itu?"

"Ini pasti karena kerudungnya! Ayo, sekarang buka!" Arini menarik paksa hijab yang menutupi kepala Zea dengan paksa.

"Jangan, Ma, jangan!" Zea menangis sambil terus mempertahankan hijabnya.

"Diam kamu! Pa, pegangin tangannya."

Baskoro langsung memegangi tangan Zea sehingga Airin berhasil melepaskan hijab yang menutupi kepala Zea.

"Ma, kembalikan!" Zea berteriak saat Arini pergi dengan hijabnya.

"Dengar, ya, mulai sekarang jangan kamu berani memakai benda itu atau Papa tidak akan segan-segan menghancurkaan pesantren itu," ancam Baskoro.

"Minggu depan kamu akan menikah dengan Steven. Sebenarnya kami sudah memintamu baik-baik tadi. Kalau kamu bisa menstabilkan perusahaan, kami tidak akan memaksamu menikah dengan Steven. Tapi, karena kamu menolak, maka kamu harus menikah dengan Steven agar dia mau membantu menstabilkan perusahaan kita dengan uang dan kemampuannya," jelas Baskoro.

Zea tak bisa berkata-kata lagi. Hari ini, hidupnya langsung berubah drastis. Memang, namanya telah bersih kembali, tapi, bukan kehidupan ini yang ia inginkan. Mengapa disaat ia telah nyaman berada di tempat barunya, kehidupan yang tak lagi diinginkannya malah kembali menariknya.

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

papa zea pasti mendapatkan informasi tentang zea ini dari steven.walaupun nama zea kembali bersih,tapi mengapa zea harus menikah dengan steven?syahil tolonglah zea.kalau dirimu tidak cepat bertindak,zea akan menikah dengan steven

2023-01-10

0

Ayas Waty

Ayas Waty

bang Syahil tolong adek banggg

2022-11-14

0

jaran goyang

jaran goyang

syahil tlg zea

2022-11-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!