Pagi menjelang. Seorang pria yang memakai baju Koko dan peci hitam tengah mengambil air di sungai dibantu tiga orang remaja laki-laki yang memakai baju koko dan lobe di kepala mereka.
Pasalnya, listrik sedang mati karena pemadaman serentak sejak malam tadi. Sehingga mengharuskan mereka mengambil air di sungai untuk kebutuhan wudhu. Sedangkan untuk memasak, mereka menggunakan generator untuk menghidupkan listrik semantara waktu.
"Bagaimana Reza?" tanya pria berpeci.
"Sudah penuh, Ustaz. Itu derigen terakhir," sahut remaja pria yang bernama Reza itu.
"Ya sudah, bawa ke mobil pick up. Sepertinya sudah cukup untuk wudhu seluruh penghuni pesantren saat Dzuhur nanti," ujar pria berpeci yang sebenarnya bernama Syahil.
"Baik, Ustaz." Reza mengangguk lalu mengangkat derigen ke dalam mobil pick up.
Baru saja Syahil hendak melangkah menuju mobil, ia melihat sesosok tengah terdampar di pinggir sungai.
"Astaghfirullah! Siapa itu!" seru Syahil.
Reza dan lainnya pun sontak menoleh ke arah yang dilihat Syahil. Mereka pun segera kesana bersama Syahil guna memastikan apa yang mereka lihat.
Saat sudah mendekat, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sosok itu adalah seorang wanita dengan banyak luka. Disampingnya terdapat batang pisang yang sepertinya ia gunakan untuk tetap terapung.
"Siapa yang bisa memeriksa nadinya?" tanya Syahil. Ia enggan memeriksa nadi wanita itu karena bukan mahramnya. Begitu juga dengan para santri yang lain. Mereka juga enggan memeriksa karena alasan yang sama. Terlebih lagi wanita itu memakai gaun yang terbuka. Syahil dan lainnya sampai membuang muka karena tak ingin melihatnya.
"Tolong panggilkan Bu Jihan. Kliniknya 'kan dekat."
Seseorang diantara mereka langsung memanggil Jihan yang merupakan seorang bidan pemilik klinik di daerah itu.
Tak berselang lama, mereka kembali dengan Jihan. Wanita muda itu langsung memeriksa nadi wanita terdampar yang tak lain adalah Zea.
"Masih hidup, tetapi jantungnya melemah. Ayo bantu saya mengangkatnya. Tidak apa-apa jika kalian menyentuh wanita ini karena keadaan darurat." Jihan meminta beberapa remaja untuk mengangkat tubuh Zea.
Sedangkan Syahil tidak berani mengangkatnya karena teringat akan masa lalunya yang pahit.
Setelah itu, Zea dibawa ke klinik dengan mobil pick up. Jihan langsung memberikan pertolongan pertama. Mengobati luka-lukanya hingga memberikannya oksigen.
Syahil masih menunggu di luar. Sedangkan remaja yang lain sudah kembali ke pesantren guna mengabarkan berita ini kepada Ustazah Hilma yang tak lain adalah ibunda Syahil.
"Apa Ustaz mengenal gadis ini?" tanya Jihan setelah selesai mengobati Zea.
"Tidak, saya melihat dia terdampar di pinggir sungai," sahut Syahil.
"Sepertinya dia korban tenggelam. Syukurlah dia masih selamat. Luka di tubuhnya juga hanya lecet akibat bebatuan sungai. Sebaiknya Ustaz mencari keluarganya. Karena ia tidak mempunyai tanda pengenal."
"Syahil!!" Hilma yang merupakan ibunda Syahil datang menghampiri mereka.
"Umi. Assalamualaikum." Syahil menyalim tangan ibunya dan diikuti oleh Jihan.
"Umi, tadi,,,,"
"Iya, anak-anak sudah bercerita. Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Hilma.
"Sudah saya tangani, Ustazah. Sekarang hanya tinggal menunggu sadar saja," sahut Jihan.
"Ya sudah, biar dia istirahat dulu. Jihan, nanti setelah dia sadar tolong kabari kamu, ya," pinta Hilma.
"Baik, Ustazah." Jihan mengangguk pelan.
"Ya sudah, ayo kita pulang dulu, Le," ajak Hilma.
*****
"Kira-kira siapa ya wanita itu, Ustaz?" tanya Reza saat mereka sedang berkumpul di halaman pesantren.
"Kenapa? Kalau penasaran sana ke klinik Bu Jihan. Tanyakan padanya."
"Tidak, Ustaz. Saya hanya penasaran saja."
"Sebaiknya jangan membahas dia. Takutnya jadi ghibah. Mending kita baca hafalan saja," ujar Syahil. Pria berumur dua puluh lima tahun itu tersenyum.
"Assalamualaikum, Ustaz," sapa seorang gadis muda berjilbab panjang. Wajahnya sangat cantik, sorot matanya begitu teduh, dan senyumannya begitu manis.
"Waalaikumsalam, Rianti. Ada apa?"
"Begini, Ustaz. Saya ingin memberikan ini pada Ustaz." Gadis bernama Rianti itu memberikan sebuah paper bag pada Syahil.
"Terima kasih. Tapi kamu harusnya tidak perlu repot-repot. Tidak enak dilihat yang lain."
"Maafkan saya, Ustaz." Rianti menunduk.
"Saya terima pemberian kamu, sekali lagi terima kasih, ya."
Rianti kembali tersenyum dan pergi setelah sebelumnya mengucapkan salam.
"Sepertinya Mbak Rianti menyukai Ustaz. Hampir setiap bulan memberikan Ustaz hadiah," celetuk salah seorang dari mereka.
"Sudah, saya hanya menganggap ini hadiah antara sesama teman. Jangan berpikir yang bukan-bukan nanti jadinya fitnah."
"Iya, Ustaz maafkan saya. Tapi bolehkah kami lihat isinya?"
"Tidak baik memperlihatkan pemberian orang di depan orang lain. Nanti jadinya Riya'."
"Iya, Ustaz, iya." Mereka semua mengangguk mengerti kemudian melanjutkan hafalan bersama ustaz yang supel itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
renita gunawan
duh,untunglah zea selamat.walaupun tubuh zea penuh dengan luka-luka
2023-01-10
1
Ayas Waty
tampan gk ya ustadz Syahil
2022-11-13
1