Asal usul

"Jadi kalian tinggal di jalanan setelah rumah kalian diambil?" tanya Zea sambil menyeka sudut matanya. Kini mereka sedang berada di sebuah warung kecil di dekat pondok pesantren itu. Para pengemis itu baru saja selesai makan setelah Zea memastikan kepada penjual bahwa ia akan membayarnya nanti.

"Iya, kami tidak punya apa-apa lagi, sehingga terpaksa kami menggelandang di jalanan," sahut si bapak. Sebut saja namanya Pak Arif.

"Maafkan semua kesalahan saya, Pak." Zea menatap kedua orang tua itu dengan mata berkaca-kaca.

"Sejak tadi kamu meminta maaf, apa kami mengenalmu?" tanya Pak Arif.

"Saya, adalah gadis yang telah mengusir kalian dari rumah kalian sendiri." Zea akhirnya mengaku.

Mendengar hal itu, Pak Arif langsung memberinya tatapan tajam penuh kebencian. "Kalau saya tau, saya tidak akan sudih makan dari uangmu."

"Maafkan saya, Pak, saya benar-benar menyesal. Jika waktu bisa diputar ulang, maka saya pasti tidak akan melakukan hal keji itu." Zea menatap mereka dengan air mata yang masih mengalir.

"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi kami. Lihat cucu saya sampai seperti ini!" Pak Arif kini menangis sambil memeluk cucunya yang masih asyik meminum susu cokelat yang tadi dibelikan Zea.

"Saya benar-benar menyesal, Pak, saya sudah menyadari akan kesalahan saya. Saya mohon, bukakanlah pintu maaf untuk saya."

Pak Arif membuang muka. Sedangkan Bu Arif istrinya tengah berusaha membujuk pria separuh baya itu.

"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Pak Arif setelah kemarahannya sedikit mereda.

"Saya dikhianati kakak dan teman-teman saya, dibuang oleh keluarga saya, bahkan hanyut di sungai dan terdampar di daerah ini setelah kakak saya berusaha membunuh saya."

Pak Arif dan istrinya terkejut mendengar cerita Zea.

"Saya tahu itu adalah balasan untuk saya. Saya menerimanya karena saya memang salah." Zea menyeka sudut matanya.

"Sudah, Neng, jangan diingat lagi, Ibu dan Bapak sudah memaafkan kamu." Bu Arif menyentuh pundak Zea.

"Hei, mana nih, yang jualan! Mau duit nggak?!"

Seorang wanita yang baru saja turun dari mobil dengan gaya sosialita berteriak pada si pemilik warung.

Pemilik warung pun datang sambil mendengarkan pesanan si wanita itu. Tak berselang lama, dua orang wanita yang turun dari mobil lain menyusul.

"Ra, Lo yakin kita makan di sini?" tanya salah seorang teman si wanita tadi.

"Gue laper banget. Di sini juga nggak ada restoran. Terpaksa deh."

"Padahal dikit lagi kita sampai di tempat klien loh. Kan mau beli berlian langka itu."

"Ya sabar dong, gue laper banget sumpah, nanti kalau nggak fokus gimana? Gue nanti nggak bisa bedain mana asli mana palsu."

"Iya deh, Lo kan satu-satunya temen kita yang tau jenis barang langka."

Mendengar obrolan para gadis kaya itu, Zea langsung teringat akan antingnya. Satu-satunya perhiasan yang tidak lepas dari tubuhnya saat hanyut.

Ia langsung mendatangi para wanita itu.

"Mbak, nerima berlian nggak?" tanya Zea.

"Siapa Lo sok kenal banget. Lo mana punya berlian. Dandanan Lo aja kayak orang miskin." Wanita itu langsung menatap Zea dari atas sampai bawah.

Zea langsung menunjukkan dua anting berlian miliknya.

Ketiga wanita itu terkejut dengan pemandangan di depan mereka.

"Hah? Ini beneran?" Wanita itu meneliti anting berlian itu dengan alat yang dibawanya. "Ini asli, dan ini langka banget, cuma ada seratus di dunia." Tercengang menatap Zea. "Lo nggak maling, kan?"

"Nggak, Mbak, ini punya saya. Emm saya bangkrut, jadi cuma berlian ini yang saya punya. Harga aslinya satu milyar, tapi saya akan kasih harga setengahnya kalau Mbak bayar sekarang. Cash ya, Mbak."

"Untung aja yang mau gue temuin ini tadi minta cash juga, jadi gue bawa uangnya. Nih, lima ratus juta." Wanita itu menyerahkan sebuah amplop cokelat besar pada Zea.

Dengan senang hati Zea langsung menerimanya.

Ketiga wanita itu tidak jadi memesan dan langsung pergi dari tempat itu dengan meninggalkan uang seratus ribu pada pemilik warung. Mungkin mereka takut Zea berubah pikiran dan meminta uang satu milyar, sehingga ketiga wanita itu langsung pergi.

Zea mengambil seratus ribu untuk membayar makanan mereka. Dan sisanya, empat ratus sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus ribu rupiah pada pengemis itu.

"Ini uang untuk kalian. Cari rumah yang layak, beli, jangan kontrak. Buat usaha sesuai keahlian kalian. Beli makanan yang bergizi untuk anak ini."

Kedua pasutri itu saling memandang dengan tatapan heran.

"Ini sangat banyak, bahkan melebihi harga rumah lama kami."

"Anggap saja ini permintaan maaf saya. Selama ini kalian sudah hidup dengan penuh luka. Jika suatu hari saya kembali sukses, saya akan menemui warga yang lain dan mengganti semua uang mereka." Zea menatap serius.

"Terima kasih, kami berjanji akan hidup lebih baik."

"Ya sudah, saya harus pergi. Tolong jaga yang ini. Taruh di dalam karung atau wadah jelek agar orang tidak berbuat jahat pada kalian.

"Neng, lebih baik mereka beli rumah di belakang warung saya saja. Rumah itu hendak dijual, butuh cepat dan harganya tidak terlalu mahal," tawar pemilik warung.

"Alhamdulillah, semua dipermudah oleh Allah. Ya sudah. Bu, saya mohon temani mereka, ya," pinta Zea.

"Iya, Bu, nanti Ibu kami kasih komisi. Yang penting bantu kami, ya," pinta Pak Arif.

"Iya, saya akan bantu kalian. Lagipula ada Neng ini. Dia bisa memantau saya. Saya tidak akan menipu kalian."

"Alhamdulillah, terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi, Pak Arif, Bu Arif, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Zea langsung berjalan keluar warung. Ia pun kembali ke pesantren untuk mendengarkan ceramah Ustaz Syahil. Namun sayangnya, saat ia hendak masuk, ternyata ceramahnya sudah selesai.

Zea memahami jika ia telah memakan waktu yang lumayan lama bersama Pak Arif dan istrinya.

"Zea," panggil Ustazah Hilma dari kejauhan.

Zea langsung datang mendekat. "Assalamualaikum, Ustazah," ucap Zea.

"Waalaikumsalam, kamu mau kemana?"

"Tadinya saya mau ikut dengerin ceramah, Ustazah, tapi sudah selesai, maaf saya terlambat."

"Panggil saja saya Umi, ya. Memangnya daritadi kamu kemana?"

"Saya habis dari luar, Umi."

"Untuk apa?"

Zea bingung harus menjawab apa. Ia tidak ingin berbohong, tapi jujur pun ia belum siap.

"Saya emm, anu, Umi, saya tadi,,,"

"Assalamualaikum, Umi." Rianti datang dan menyalim tangan Ustazah Hilma.

"Waalaikumsalam, Rianti, sudah selesai?"

"Sudah, Umi." Kini mata Rianti tertuju pada Zea yang masih diam.

"Umi, saya sudah menghafal sepuluh surah hari ini," ucap Rianti dengan tersenyum bangga.

"Wah, hebat, Rianti. Kamu harus terus belajar, ya. Umi yakin, kamu pasti bisa."

"Iya, Umi, saya akan berusaha. Oh ya, Umi, kenapa Mbak Zea tidak pernah ikut kegiatan di pesantren ini?"

"Oh, Zea kan masih baru, dia perlu beradaptasi dulu. Sama halnya seperti kamu saat pertama kali masuk ke sini. Sementara ini dia sudah mau pergi ke dapur membantu Mbak Lastri. Siapa tahu nanti dia mau menjadi guru di pesantren ini."

Zea terkejut dengan ucapan Ustazah Hilma. Rasanya ia tidak pernah bercerita bawah ia pemegang rangking satu dari mulai SD sampai SMA. Saat menempuh jalur S2 pun, ia mendapat gelar cumlaude.

"Hah! Jadi guru? Bukankah Mbak Zea tidak punya riwayat pendidikan, Umi?"

"Rianti, sepertinya teman-teman kamu sudah menunggu, sekarang temuilah mereka." Ustazah Hilma menunjuk teman-teman Rianti yang sejak tadi menunggunya.

Setelah Rianti pergi.

"Umi, darimana Umi tahu kalau,,,,"

"Saya juga tahu kalau kamu mengalami masalah besar hingga berakhir di sungai daerah ini. Kamu anak dari seorang pengusaha bernama Baskoro, kan?"

"Apa? Darimana Umi tau?" Zea semakin terkejut dengan ucapan Ustazah Hilma. Bagaimana ia tahu sampai sedetail itu? Apakah Ustazah Hilma diam-diam mencari informasi tentangnya?

Terpopuler

Comments

🌹🪴eiv🪴🌹

🌹🪴eiv🪴🌹

bukannya udah buat bayar taxi ya,waktu kerumahnya temen yg ngelumpuhin zea

2024-02-25

1

renita gunawan

renita gunawan

waaah..jangan-jangan umi mengetahui identitas diri zea dari berita televisi yang ditontonnya atau umi ada diwarung saat zea mengakui tentang kesalahan dirinya kepada pak arif dan keluarganya

2023-01-10

1

Ayas Waty

Ayas Waty

dari yg punya warung

2022-11-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!