Curiga

Sudah satu bulan Zea berada di pondok pesantren tersebut.

Zea sedang duduk merenung di kamarnya. Saat ini penghuni pesantren sedang sibuk dalam proses belajar dan mengajar. Lastri pun sedang berbelanja ke pasar.

Ia hanya duduk merenung meratapi hidupnya yang telah hancur karena ulah kakak kembarnya sendiri.

Tanpa terasa, air mata mengalir di pipinya. Isakan tangis pun terdengar.

"Kenapa hidupku jadi seperti ini? Aku difitnah kakak ku sendiri, dibuang keluargaku, dan dikhianati temanku." Berdiri, lalu berjalan ke arah jendela kamar yang terbuat dari kaca.

"Apakah ini balasan untukku, ya Allah? Apa karena selama ini aku sangat kejam dan tidak berhati sehingga KAU begitu murka padaku?" Menatap langit dengan air mata yang terus mengalir.

"Mama, papa, aku rindu."

Setelah lama berada di kamar, Zea pun memilih keluar. Langkah kakinya menuntunnya menuju sebuah pohon di belakang pondok pesantren itu.

Ia memerhatikan pohon yang hanya ada satu di bagian belakang pondok pesantren.

"Apa ini tempat Mbak Aisyah melakukan bunuh diri?" gumam Zea sambil terus memerhatikan pohon yang lumayan tinggi itu. Ia memerhatikan bekas luka pada batang pohon itu. Ia yakin itu bekas tali yang menggantung tubuh Aisyah.

"Aneh, kenapa bekas luka di batang itu lebar? Sedangkan lebar tali tidak akan seperti itu. Luka di batang itu terlihat acak-acakan."

"Assalamualaikum."

Seseorang datang dan mengagetkan Zea.

"Eh, wa-waalaikumsalam." Zea langsung berdiri dari tempat duduknya.

"Sedang apa di sini?"

"Sedang duduk, maksud ku sedang mencari angin."

"Aku rasa Allah sudah cukup memberi kita angin, kenapa harus dicari?"

"Apakah kau Syahil?" tanya Zea ingin memastikan.

"Ya, aku Syahil."

"Terima kasih telah menolong ku waktu itu."

"Berterima kasihlah pada Allah karena DIA yang telah menolong mu. Aku hanya perantara saja."

"Ah, ya, baik." Zea mengangguk pelan. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Aku hanya ingin melihat pohon itu. Aku yakin kamu telah mendengarnya dari Mbak Lastri." Menujuk pohon yang tadi diperhatikan Zea.

"Apa itu bisa membuatmu lebih baik?"

"Aku tidak yakin, tapi, jika aku merindukannya, maka aku akan ke sini dan itu membuatku lebih tenang."

"Aku turut berdukacita."

"Terima kasih, sebaiknya kau kembali ke kamarmu, tidak baik jika ada yang melihat kita berdua di sini, takut timbul fitnah."

"Baik, aku akan pergi." Zea melangkahkan kakinya.

"Zea."

"Ya." Zea berbalik.

"Assalamualaikum."

"Eh, iya, Waalaikumsalam."

Zea pun kembali ke kamarnya.

*****

Di kediaman rumah orang tua Zea.

"Apa? Pak Diki membatalkan kerjasama? Tapi kenapa, Pa?" tanya Mama Zea.

"Iya, Ma, tadi dia marah besar karena pekerjaan yang selama ini dihandle pengganti Zea sangat berantakan." Papa Zea duduk di sofa sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

"Lalu, bagaimana, Pa? Padahal pengganti Zea adalah orang yang berpengalaman dan hebat dalam bidang ini. Tapi tetap saja dia tidak bisa bekerja secara sempurna seperti Zea." Mama Zea menghela nafas pelan.

"Zea, andai saja kamu tidak mengkhianati Nara, pasti semua ini tidak akan terjadi. Padahal, jika dia menginginkan Steven, pasti Papa akan memberikan Steven padanya. Dia adalah anak kebanggaan Papa. Semua kemajuan perusahaan berkat kerja kerasnya." Papa Zea memijit pelipisnya.

"Kenapa Zea sampai melakukan semua itu, Pa? Kenapa dia tega sekali pada Nara. Padahal, selama ini dialah yang selalu kita banggakan. Dibanding Nara, Zea lebih baik dan sempurna. Kita nyaris tidak melihat celah di diri Zea."

"Papa juga tidak habis pikir. Selama ini, dia tidak pernah menunjukkan gelagat mencurigakan, bahkan untuk sekadar mengobrol tentang pria pun dia malas."

"Ya sudah, Pa, jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya Papa istirahat saja dulu." Mama Zea pun menemani papa Zea ke dalam kamar.

Di sisi lain.

Di sebuah hotel, sepasang muda mudi sedang melakukan hubungan suami istri meski mereka belum menikah.

Mereka adalah Steven dan Nara. Terlihat sang pria tengah dimabuk cinta. Bibirnya terus merancu mengatakan hal-hal toxic.

Namun, saat berada di tengah kenikmatan, Steven mengatakan hal yang membuat Nara marah.

"Oh, Zea kamu cantik sekali."

"Apa? Zea?!" Nara langsung memukul dada Steven. Ia mendorong tubuh yang tengah menggagahinya.

Steven yang tidak ingin berhenti di tengah jalan, terus melakukan aksinya meski Nara terus memaki dan mendorong tubuhnya meski tak tergeser sedikitpun.

Setelah selesai, Steven langsung memakai bajunya.

"Steven, apa maksud mu tadi? Kau menyebut nama Zea! Apa kamu sudah gila!" Nara berteriak sambil melempar bantal ke arah Steven.

"Maaf, Sayang, hanya saja, di malam pertunangan itu, aku sedikit menaruh kagum pada Zea. Kenapa? Karena dia terus menghindari ku. Sedangkan kamu berbeda, kamu yang sejak dulu mengejarku sampai menyerahkan tubuhmu padaku." Steven menatap sinis pada Nara.

"Tapi dia sudah menculik ku? Dia hampir membunuh ku." Nara mengambil handuk, lalu melilitkan ke tubuhnya. Ia menghampiri Steven dan menatapnya tajam.

"Itu dia yang membuatku heran sampai sekarang. Jika dia menculikmu agar bisa mendapatkan ku? Kenapa malam itu dia menghindariku? Seharusnya, jika dia mencintai ku, dia akan bersikap sama seperti mu. Dia tidak akan menghindari ku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Steven memajukan tubuhnya sehingga Nara melangkah mundur ke belakang hingga menyentuh tembok.

"A-aku tidak menyembunyikan apapun. Dia saja yang sok jual mahal, padahal dia itu wanita murahan yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." Nara terlihat sedikit gugup.

"Oh ya? Tapi kenapa aku tidak percaya, ya? Aku seperti mendengar getaran suara dan tatapan kebohongan penuh keraguan."

"Aku berkata jujur, Steven. Lagipula, kenapa kamu malah membahas ini? Kita akan menikah satu bulan lagi." Nara mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tanpa berkata apapun, Steven pergi keluar dari kamar hotel itu. Meninggalkan Nara yang kini terlihat cemas.

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

semoga kebusukan nara segera terbongkar

2023-01-10

1

Ayas Waty

Ayas Waty

sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai pasti akan tercium juga

2022-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!