Nara

Di sebuah pondok pesantren tempat Zea dulu tinggal, kini Nara terlihat sedang melamun di dalam kamar. Dia menatap jendela yang menunjukkan berbagai macam pemandangan. Beberapa santriwati terlihat sedang membaca Alquran. Ada juga yang sedang mengobrol karena ini waktunya istirahat. Pemandangan memang terlihat sangat menyejukkan. Namun, dia tidak pernah ingin berada di sini.

Dia masih ingat bagaimana dirinya tertangkap basah di hadapan Steven dan orang tuanya.

Flashback on

Sebuah acara makan malam di rumah keluarga Nara. Acara itu sengaja dibuat untuk membicarakan tanggal pernikahan mereka.

"Bagaimana kalau tanggal empat saja. tanggal ulang tahunmu," ujar Steven.

"Baiklah, dengan begitu kita bisa merayakan ulang tahunku sekalian." Nara mengangguk setuju.

"Oh ya, tema apa yang akan kita pakai ketika menikah? Ah, bagaimana kalau temanya negeri dongeng?" usul Steven.

"Tidak, ah, aku tidak suka." Nara menggelengkan kepalanya perlahan.

"Kenapa?"

"Sejak dulu aku memang tidak suka cerita dongeng, Sayang." Nara tertawa kecil.

Di sini Steven menatapnya dengan tatapan heran karena di buku diarynya, teman masa kecilnya pernah berkata bahwa dia ingin menikah dengan tema negeri dongeng.

Melihat ada yang tidak beres, Steven pun mulai mengetes Nara lagi.

"Oh ya, Nara, di malam pertunangan kita yang gagal, sebenarnya aku telah menyiapkan hadiah khusus untukmu. Tapi, karena saat itu kondisimu sangat memprihatinkan, maka aku belum jadi memberikannya sampai sekarang." Steven pun mengeluarkan sebuah kotak berisi gelang yang sangat cantik.

"Wah, cantik sekali," ucap Nara sambil berdecak kagum di depan gelang berlian itu.

Steven kembali tertegun karena teman masa kecilnya sama sekali tidak menyukai gelang. Dan sebenarnya gelang itu adalah milik istri kliennya yang akan diantarkan nanti sepulang dari sini. Istri kliennya memesan gelang berlian itu sudah lama sekali. Dan nanti, mereka akan melakukan serah terima gelang itu.

"Ya, apa kau menyukai gelang ini? Waktu itu aku ingin memberikannya. Tapi, karena kau hampir pingsan, aku menahannya sampai sekarang. Untung saja tidak hilang."

"Wah, itu bagus sekali, Steven." Baskoro juga memuji gelang pemberian Steven.

"Aku sangat menyukai gelang ini. Bahkan sejak kecil aku selalu menyukai gelang."

Bingo, akhirnya Steven mulai menyadari bahwa wanita yang ada di depannya ini bukanlah teman masa kecilnya. Bisa dikatakan, bahwa teman masa kecilnya adalah Zea.

"Andai saja malam itu Zea tidak menculikmu dan mengurungmu di gudang, pasti aku sudah memberikan gelang ini padamu." Steven mulai mengetes Nara lagi.

"Benar, sayang sekali aku harus berada di dalam gudang dalam waktu yang lama. Harusnya aku memiliki benda ini sejak lama, bukan?" Nara masih fokus memperhatikan gelang berlian itu.

"Ya, apalagi dia juga menyiksamu dan membuatmu tak berdaya. Andai saja dia tidak melakukan itu, pasti malam itu kita masih tetap bisa melanjutkan pertunangan."

"Ya, benar."

"Dia memukulimu di bagian mana? Bagaimana dia bisa sekuat itu? Aneh sekali orang lemah seperti dia bisa membuatmu seperti itu."

Pertanyaan Steven membuat kedua orang tua Nara merasa heran.

"Ah, sebenarnya dia tidak memukuliku sama sekali. Semua itu hanyalah sabotase saja agar dia bisa dibenci semua orang."

"Apa?!" Sontak kedua orang tua Nara pun terkejut. Mereka menatap Nara tajam. Tak percaya jika anak pertamanya melakukan hal seperti itu.

Nara yang sudah sadar dengan ucapannya pun langsung gelagapan dan berusaha untuk menjelaskan kepada mereka.

"Bukan, maksudku bukan itu. Dia menyuruh orang lain untuk memukuliku."

"Diam! Jadi, yang dikatakan oleh Zea benar? Kau yang telah memfitnah dirinya?" Baskoro berdiri dan berteriak kencang pada Nara.

"Tidak, Pa, aku tidak melakukan itu." Nara masih berusaha keras mengelak meski sudah tertangkap basah.

"Ibu tidak menyangka anak ibu akan melakukan hal ini! Apa salah adikmu sehingga kau tega melakukan ini padanya?" Ibunya juga berteriak kencang bahkan sampai menangis.

"Kalian semua sangat menyayanginya, bahkan membanggakan dirinya pada semua orang. Sedangkan aku? Kalian tidak pernah menganggapku ada!" Akhirnya Nara mengeluarkan semua unek-uneknya yang sejak lama dia simpan.

"Tapi itu bukanlah alasan untuk melakukan fitnah pada adikmu sendiri. Tidakkah kau tahu betapa tersiksanya dia?" Baskoro semakin meninggikan suaranya hingga membuat Nara ketakutan.

Sementara itu Steven hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap kecewa. Ternyata benar, tunangannya lah yang jahat.

Mereka pun langsung mengusir Nara malam itu juga. Nara pun menatap Steven dan meminta pertolongan.

"Steven, kalau masih mencintaiku, kan?"

"Jika kau adalah teman masa kecilku sebenarnya, pasti aku akan menerimamu. Tapi, sayangnya tidak. Kau bukanlah teman masa kecilku karena menyukai gelang. Sedangkan dia tidak. Dan kau tidak menyukai negeri dongeng. Padahal, itu adalah cita-cita teman masa kecilku."

Nara terkejut karena Steven sudah mengetahui semuanya. Memang, dulu, Zea lah yang menjadi teman masa kecil Steven. Namun, karena Steven kecelakaan, Nara memanfaatkan hal itu untuk bisa dekat dengannya. Dia mengancam Zea untuk tetap diam demi melancarkan rencananya.

"Sekarang pergi dari sini, karena yang akan aku nikahi adalah Zea, bukan kau!"

"Pergi sana! Kami akan menjemput Zea dan membawanya kemari karena perusahaan sangat membutuhkannya."

Nara pun pergi dengan tangis keputusasaan. Dia tidak menyangka bahwa malam ini akan menjadi malam yang paling buruk baginya. Kejahatannya terbongkar secara bersamaan.

Dia pun luntang lantung di jalan. Sendirian, kelaparan, hingga akhirnya nekat mencuri roti dan berakhir tragis. Dia tak berdaya ketika dihajar oleh warga yang geram karena dia mencuri.

Steven yang mengetahui hal itu langsung menyuruh orang-orang suruhannya untuk mengevakuasi Nara dan membawanya ke klinik Jihan karena dia ingin agar Nara tinggal di pesantren seperti Zea dulu. Dia berencana membuat Nara menjadi wanita yang bisa mengalihkan perhatian Syahil agar pria itu tidak lagi memikirkan Zea.

Flashback off

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

orang jahat suatu saat pasti akan mendapatkan balasannya dari allah.steven pinter banget menolong nara dan memasukkan nara dipesantren syahil,agar pikiran syahil terhadap zea teralihkan kearah nara.semoga dipesantren itu,nara bisa berubah menjadi lebih baik

2023-01-10

0

Ayas Waty

Ayas Waty

setiap kebusukan pasti akan tercium juga

2022-11-14

0

Mulianti Mulianti

Mulianti Mulianti

senjata makan tuan nara,, semangat up thorrr

2022-11-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!