Hari yang ditunggu pun tiba. Dua hari ini merupakan hari terberat yang Zea alami. Bagaimana tidak? Dia harus bersikap seperti Nara yang ramah dan ceria. Setiap waktu harus tersenyum dan tidak bisa diam.
Hingga saat malam tiba, Ia yang sudah berada di gedung lokasi pertunangan Nara dengan Steven.
Saat itu ia baru selesai dirias di sebuah ruangan. Steven tiba-tiba saja masuk dan menyuruh semua orang yang ada di dalam keluar kecuali Zea yang kini sedang menyamar sebagai Nara.
Melihat Steven mengunci pintu, Zea menjadi gugup. 'Mau apa dia?' Batinnya.
"Ste-steven. Ada apa?"
"Ada apa? Tentu saja karena aku rindu padamu, sayang." Steven mendekat lalu memegang pinggang Zea dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Ja-jangan sekarang. Kita akan bertunangan."
"Aku hanya ingin mencium calon tunangan ku. Tidak boleh?" Steven memandang lekat wajah Zea yang memang tidak berbeda dari wajah Nara.
"Ja-jangan. Nanti make up ku hancur. Aku tidak mau terlihat jelek di depan kamera."
Steven menghembuskan nafas berat. "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu sampai acara pertunangan selesai. Setelah itu kita akan pergi ke tempat biasa untuk bercinta semalaman. Kamu mau kan sayang?" Steven mencium pundak Zea yang terbuka karena gaun seksinya.
Zea merinding mendapat perlakuan seperti itu. Namun dia akui, bahwa ia sedikit terlena dengan perlakuan tersebut. Bahkan saat beromantis ria pun, Steven masih terlihat dingin. Mata elangnya, senyum datarnya, dan suara beratnya benar-benar membuat Zea lupa bahwa bukan dialah orang yang dicintai Steven.
Setelah Steven keluar, Zea kembali duduk di depan cermin. Ia memegang pundaknya yang baru saja dicium Steven. Jantungnya berdebar kencang saat mengingat peristiwa tadi.
"Nara, sudah waktunya, sayang." Mama masuk dan mengajak Zea keluar.
Di sana sudah banyak tamu papanya yang datang dari dalam maupun luar negeri. Zea semakin canggung. Apalagi saat ia berhadapan dengan Steven, pria dingin dan kejam itu.
Pembawa acara sudah memulai rangkaian acara yang dilakukan hingga kini saatnya pertukaran cincin. Zea sudah bersiap memasangkan cincin ke jari manis Steven.
"Hentikan pertunangan ini!" Suara seseorang yang dikenal Zea berteriak dari kejauhan. Seketika semua orang menoleh ke sumber suara itu.
Alangkah terkejutnya mereka saat melihat bahwa yang sedang berdiri adalah orang yang mereka pikir Zea, kembaran Nara dengan keadaan yang memprihatinkan. Bajunya kotor dengan banyak bercak darah dan terdapat beberapa bagian yang sobek. Wajahnya penuh dengan luka lebam
"Matikan kameranya!" Perintah Baskoro. Ia dan Mama Zea datang menghampirinya. "Zea, kamu kenapa?"
"Aku,,,aku bukan Zea. Aku,,,,aku Nara!!" teriak Nara dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa?! Bagaimana bisa? Bukannya Zea,,,,"
"Ma, Pa. Zea berusaha mengambil Steven dariku. Dia merencanakan semua ini! Saat aku mengantarnya ke bandara, dia malah mengajakku ke sebuah gedung kosong. Disana dia menyekap lalu menyiksaku. Kemudian dia pergi dan meninggalkan aku sendirian selama dua hari!!"
Sontak ucapan Nara membuat semua orang yang ada di dalam gedung itu terkejut. Dan yang paling terkejut adalah Zea yang tak tahu apa-apa. Nara memfitnahnya sedemikian rupa. Ia benar-benar tidak menyangka kakaknya sendiri tega melakukan itu.
Semua yang ada di sana langsung menatap Zea dengan tatapan sinis. Beberapa dari mereka saling berbisik.
Baskoro menghampiri Zea lalu dengan cepat tangannya menampar pipi Zea. Plaakkk!
Semua orang terlihat mendukung tindakannya.
"Bisa-bisanya kamu menggunakan cara licik seperti ini! Dimana rasa malu kamu? Kenapa kamu harus mencoreng nama baik keluarga Baskoro, ha!!" Teriakan Baskoro menggema di dalam ruangan itu.
"Pa, ini semua tidak seperti yang kalian pikir. Kak Nara lah yang memintaku menggantikan dirinya karena dia ingin menghadiri undangan fashion show di Australia. Tetapi dia malah datang dan membuat cerita palsu!" Zea menunjuk Nara yang sedang dipeluk mamanya.
"Diam kamu! Dasar anak tidak tau malu!"
"Pak Baskoro, apa-apaan ini. Apa anda mengundang kami untuk melihat ini semua?" salah satu klien penting Baskoro angkat bicara.
"Tidak, Pak. Saya tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi."
"Bagaimana anda mendidik putri anda hingga menjadi orang yang tidak tau malu seperti ini?" tanya klien yang lain.
"Benar, kalau begini, saya akan membatalkan saja kontrak kerjasama kita. Saya tidak mau bekerja sama dengan perusahaan yang di dalamnya ada orang licik seperti dia."
"Iya, saya juga. Pada kakaknya sendiri saja sudah licik, apalagi pada orang lain. Bisa-bisa dia menipu kami."
Baskoro mulai panik dengan suasana yang semakin memanas. Zea yang tak punya kesempatan untuk bicara langsung diseret keluar oleh Baskoro. Di depan gedung, ia mendorong Zea hingga jatuh ke tanah. "Pergi kamu anak tidak tau diri! Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depan keluarga Baskoro. Kamu bukan anakku lagi!"
Para tamu yang mengikuti Baskoro mendukung keputusannya. Mereka menatap Zea dengan sinis. Melempar berbagai cacian dan hinaan padanya.
Dengan perasaan kecewa dan hancur, Zea pergi dari lokasi itu. Ia akan menemui teman-temannya untuk meminta bantuan. Ia tidak akan bisa hidup tanpa uang dan kekuasaan. Apalagi berita ini akan menjadi trending dan viral. Bukan hanya para tamu saja yang akan membencinya, namun semua orang yang ada di negara itu akan langsung mengucilkan dirinya.
Sementara itu, Baskoro terpaksa membatalkan pertunangan antara Nara dan Steven dikarenakan kondisi Nara yang memerlukan perawatan. Pertunangan akan dilaksanakan dua minggu lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Yuli maelany
buaya d kadalin.....
2023-02-04
0
renita gunawan
astaga 😱😱.q g'nyangka banget jika nara itu seekor ular yang sangat berbisa.tega banget memfitnah saudara kandung sendiri
2023-01-10
1
Ayas Waty
orang yg kelihatan ramah jutru licik....
2022-11-13
1