Penyelidikan

Sudah beberapa hari ini Zea tidur di dalam kamar Aisyah. Ia merasa nyaman dan tidak pernah sekalipun terdengar suara tangisan maupun panggilan halus.

Pagi ini, selesai membereskan kamar, Zea pergi ke belakang pondok pesantren untuk meneliti pohon yang menjadi saksi bisu Aisyah menggantung dirinya.

Ia memanjat kursi di bawah pohon, lalu mengukur luka di batang pohon tersebut dengan seutas tali.

Setelah mendapatkannya, ia pun duduk untuk menulis hasil penelitiannya.

"Kamu sedang apa?" Tiba-tiba Syahil datang ke tempat itu. Ia berdiri tak jauh dari tempat Zea duduk.

"Aku,,,hanya sedang menggambar pemandangan di sini," sahut Zea dengan gugup.

"Ada kanvas dan cat milik almarhumah Mbak Aisyah, kamu bisa menggunakannya." Syahil menawarkan.

"Mbak Aisyah suka melukis? Bolehkah aku melihatnya?" tanya Zea antusias. Ini adalah hal yang bagus untuknya agar bisa menambah petunjuk.

"Ada di sebuah ruangan di belakang kamar Abi dan Umi, aku tidak tahu apakah kamu boleh melihatnya atau tidak."

"Aku mohon, aku ingin sekali melihatnya." Zea menatap penuh harap.

"Aku tahu kamu tidak suka melukis. Maksud ku, aku melihat kamu meneliti luka pohon bekas tali yang menggantung Mbak Aisyah, apa yang kamu sembunyikan."

'Sudah ku duga, sama seperti Umi, Syahil juga memiliki kepintaran dan insting kuat,' batin Zea.

"Maafkan aku, sebenarnya aku sedang melakukan penyelidikan terkait meninggalnya Mbak Aisyah. Aku curiga, bahwa kematian beliau itu bukanlah bunuh diri." Zea menatap ragu.

Syahil terkejut mendengarnya. Ia membelalakkan matanya, lalu setelahnya ia menghembuskan nafas lega. Zea tidak mengerti apa maksud dari ekspresi wajah Syahil barusan.

"Aku bersyukur, setidaknya bukan aku saja yang mencurigai hal itu. Sejak Mbak Aisyah meninggal, aku sudah menaruh curiga bahwa itu bukan bunuh diri."

"Benerkah? Kamu juga berpikiran sama sepertiku?" Zea tersenyum senang. Setidaknya ia tidak sendiri sekarang.

"Ya, bolehkah aku ikut bergabung denganmu?"

"Tentu saja, sekarang tunjukan dulu letak semua lukisan Mbak Aisyah, aku akan langsung menelitinya."

Syahil mengangguk. Ia pun mengajak Zea pergi ke sebuah ruangan yang sudah setahun tidak pernah dibuka.

Semua lukisan terlihat digantung di dinding dan dibungkus dengan palstik.

Syahil membantu melepaskan plastiknya, sementara Zea meneliti semua lukisan yang berjumlah tujuh buah.

Syahil yang sudah selesai melepas plastik langsung keluar. Ia tidak mau berlama-lama berada satu ruangan dengan Zea karena itu bisa menimbulkan fitnah.

Setelah Zea selesai meneliti, ia pun kembali menemui Syahil di luar.

"Bagaimana?" tanya Syahil.

"Sekarang, apakah aku bisa melihat tali yang pernah menggantung Mbak Aisyah?" Zea menatap serius. Sepertinya ia telah menemukan petunjuk lain dari lukisan tersebut.

"Ada di dalam gudang." Syahil menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka. "Ini kuncinya, kamu saja yang masuk."

"Tapi aku tidak tau dimana letak tali itu."

"Ada di dalam peti hitam."

Zea menatap gelagat aneh pada Syahil. Kenapa ia seperti trauma dengan gudang itu? Apa yang terjadi padanya saat ia berada di dalam sana?

"Ya sudah, aku yang akan mengambilnya. Pastikan tidak ada yang tahu." Zea pun pergi ke dalam gudang.

Saat ia sudah memasuki ruangan tersebut, ia langsung mencari peti hitam yang terletak di sudut ruangan. Ia lantas membuka peti tersebut dan mengambil tali yang langsung ia masukkan ke dalam plastik hitam yang sengaja ia bawa tadi.

Setelah itu ia pun keluar dan memberikan kunci pada Syahil.

"Aku harus kembali ke kamar. Terima kasih, begitu aku selesai menyelidiki, aku akan segera memberi tahumu."

Syahil mengangguk mengerti. Mereka pun segera pergi ke tempat masing-masing.

Zea yang sudah sama di kamar langsung mengumpulkan semua barang bukti yang ada.

Ia terus menghubungkan semua penemuannya di sana.

"Tenanglah, Umi, Abi pasti akan segera sembuh setelah mendengar bahwa Mbak Aisyah tidak meninggal karena bunuh diri. Dia wanita Solehah, dia tidak akan melakukan hal sehina itu." Zea menatap semua barang buktinya dengan mata berkaca-kaca.

"Tunggu ketika aku menemukan pelakunya, maka aku akan langsung memanggil polisi ke sini."

*****

Syahil masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan dirinya ke atas ranjang. Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu.

Flashback On

"Akhi, bisakah kamu mengantar saya ke dalam gudang? Saya rasa, saya perlu mengambil sesuatu?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah salah satu santriwati di pesantren itu. Namanya adalah Nana.

"Untuk apa, Ukhti?" tanya Syahil.

"Saya ingin mengambil beberapa barang yang tidak sengaja terbawa ke gudang. Saya takut, karena gudang sangat sepi."

"Baiklah, mari saya antar. Saya akan berjaga di luar."

Mereka pun segera pergi ke gudang. Sesampainya di sana, Nana langsung memasuki gudang dan mengambil barang-barangnya.

Namun, saat tengah berada di dalam, Nana tiba-tiba memanggil Syahil karena kakinya terjebak diantara kotak-kotak di dalam gudang itu.

Syahil bermaksud membantu, namun Nana malah menarik Syahil ke dalam pelukannya sampai mereka berdua jatuh dengan tubuh Syahil berada di atas tubuh Nana.

"Tolooooong!!!" Nana berteriak meminta tolong. Tangannya masih menahan tubuh Syahil agar tetap berada di atasnya.

Semua penghuni pesantren ke sana dan menyaksikan kejadian itu. Mereka menatap jijik pada Syahil. Umi langsung pingsan, sedangkan Abi hampir terkena serangan jantung kalau saja Aisyah tidak menenangkannya.

Singkat cerita, Syahil dan Nana pun di sidang di depan semua penghuni pesantren. Tepatnya di aula, disaksikan juga oleh orang tua Nana.

Di sana, Nana memberikan keterangan palsu.

"Ustaz Syahil meminta saya menemaninya ke gudang, namun ternyata dia ingin melecehkan saya." Nana menangis sesenggukan.

Membuat orang tuanya menjadi sangat emosi dan berniat memukul Syahil. Hampir saja terjadi keributan di sana.

"Tidak, itu bohong! Dia yang meminta saya menemaninya ke gudang. Ketika saya berjaga di luar, dia berpura-pura tersangkut di kaki. Dan ketika saya sudah mendekat, dia langsung memeluk saya hingga kami jatuh dengan posisi tadi." Syahil mencoba membela dirinya.

"Bohong! Sudah beberapa kali Syahil mencoba menggoda saya, tapi saya tidak mau. Saya minta Syahil harus bertanggung jawab!"

Berdasarkan saksi dan keterangan yang ada, akhirnya Syahil pun kalah. Ia lantas menikah dengan Nana sebagai wujud pertanggung jawaban yang sebenarnya bukan kesalahannya. Mereka tinggal di pesantren. Namun, sepanjang mereka menikah, Syahil tidak pernah mau menyentuh Nana seujung jari pun.

Mereka sering terlibat cekcok sampai akhirnya Nana keceplosan saat ia mengatakan, "Percuma dulu aku menjebak mu jika pada akhirnya kamu tidak mau menyentuh ku."

Akhirnya terkuak sudah bahwa Nana memang menjebak Syahil. Mereka pun akhirnya bercerai atas kemauan Syahil. Ia tentu tidak mau menikah dengan wanita seperti Nana yang ditutupi topeng. Dari luar terlihat berhijab, namun ia sering meninggalkan sholat, tidak mau berpuasa, dan sering merokok di dalam kamar.

Setelah kejadian itu, Syahil tidak mau masuk lagi ke gudang itu. Ia juga merasa takut jika menolong seorang wanita. Itulah sebabnya, ia tidak mau menolong mengangkat Zea saat ia ditemukan terdampar di pinggir sungai.

Flashback Off

Syahil menghembuskan nafas pelan. Ia lega semua itu telah terjadi. Yang ia dengar sekarang, Nana sudah menikah dengan seorang pengusaha yang sedang tersandung kasus prostitusi online dan Nana adalah salah satu korbannya.

Terpopuler

Comments

🌹🪴eiv🪴🌹

🌹🪴eiv🪴🌹

masa lalu .....😞

2024-02-25

1

renita gunawan

renita gunawan

waah..ternyata itu penyebab syahil seperti ketakutan masuk kegudang dan menolong zea.nadia jadi cewek kok g'punya harga diri.segitunya ingin menikah dengan syahil,sampai tega membuat jebakan agar syahil mau menikahi dirinya

2023-01-10

1

renita gunawan

renita gunawan

waah..ternyata itu penyebab syahil seperti ketakutan masuk kegudang dan menolong zea.nadia jadi cewek kok g'punya harga diri.segitunya ingin menikah dengan syahil,sampai tega membuat jebakan agar syahil mau menikahi dirinya

2023-01-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!