Masuk Pesantren

Zea menatap gugup pada semua orang yang tengah memandangnya di depan gerbang pesantren.

Ia masih ingat saat tadi Ustazah Hilma sudah menjemputnya. Ia disuruh mengenakan pakaian yang sangat panjang dan membuatnya kepanasan, juga sebuah hijab instan yang juga membuat bagian kepalanya berkeringat saat ini.

"Assalamualaikum, oerkenalkan, ini Zea, penghuni baru pesantren ini. Saya harap, kalian menerimanya dengan baik di sini," ucap Ustazah Hilma.

"Waalaikumsalam, baik, Ustazah," sahut mereka semua serempak.

Tampak sepasang mata memandanginya dari atas sampai bawah. Menyisakan sebuah tatapan tidak suka akan wajahnya yang sangat cantik.

"Zea, perkenalkan, ini Lastri. Beliau akan menjadi teman sekamar kamu. Lastri bekerja di bagian dapur."

"Salam kenal, Mbak Lastri," ucap Zea seramah mungkin.

"Salah kenal, ayo, ikut aku," ajak Lastri.

"Iya, Mbak, Ustazah, saya pamit dulu." Zea mengikuti langkah Lastri.

"Zea," panggil Ustazah Hilma.

Zea menoleh.

"Assalamualaikum," ucap Ustazah Hilma yang bermaksud mengajari Sea bahwa setiap bertemu dan berpamitan, mereka harus mengucap salam.

"Eh, maaf, Ustazah, Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Zea pun melanjutkan langkahnya mengikuti Lastri.

Lastri sendiri sudah berumur sekitar tiga puluh tahun, seorang janda yang mengabdi di pesantren itu setelah keluar dari penjara.

Mereka sampai di sebuah kamar yang ukurannya sangat kecil bagi Zea. Di dalamnya ada dua buah tempat tidur yang tertata rapi.

"Zea, kamu tidur di sini, ya." Lastri menunjuk sebuah ranjang berukuran tiga kaki di bagian kanannya.

"Iya, Mbak." Zea mengangguk.

"Dan ini, di dalam lemari ini banyak pakaian gamis dan hijab instan yang bisa kamu pakai. Kalau soal pakaian dalam, kita bisa beli di pasar nanti," jelas Lastri.

"Ini semua pakaian Mbak?" tanya Zea sambil membuka lemari yang isinya berbagai gamis yang cantik.

"Bukan, ini milik almarhumah anak Ustazah Hilma, namanya Aisyah."

Mendengar ucapan Lastri membuat Zea sedikit ngeri. Ia memundurkan langkahnya menjauhi lemari pakaian itu.

"Kamu jangan takut, baju-baju ini masih baru. Belum pernah dipakai Aisyah karena sudah meninggal sewaktu baju-baju ini masih dalam perjalanan. Semula dikasih ke Mbak, tapi badan Mbak nggak muat, jadi Mbak biarin dulu di sini, siapa tau suatu hari Mbak bisa langsing." Lastri tertawa cekikikan.

"Oh, gitu, ya Mbak. Terus tempat tidur itu gimana?" tanya Zea yang masih berpikir horor. Ia menduga bahwa Aisyah dulu menempati ranjang itu.

"Oh, itu dulu ditiduri sama Mbak Sari. Tapi dia menikah setahun yang lalu dan pergi ke luar kota bersama suaminya," ucap Lastri.

"Oh, gitu, ya udah, Mbak. Maaf ya saya banyak tanya," ucap Zea.

"Nggak apa-apa, kamu kan orang baru, jadi nggak apa-apa tanya-tanya dulu." Lastri mengangguk sembari tersenyum.

"Oh, ya, Mbak, kalau di dalam kamar boleh lepas hijab, nggak?" tanya Zea yang semakin risih dengan hijab itu.

"Boleh, asalkan nggak ada laki-laki yang melihat."

Zea mengangguk mengerti. Ia langsung membuka hijabnya saat itu juga.

"Emang kamu nggak pernah pakai hijab, ya?" tanya Lastri.

"Nggak pernah, Mbak." Zea menunduk malu.

Lastri hanya tersenyum simpul.

"Kamu bisa masak, nggak?"

Lagi-lagi Zea menggeleng.

"Ya udah, Mbak cuma pengen tau aja. Kalau kamu bisa masak, siapa tau kamu bisa kasih menu-menu baru buat anak-anak pesantren."

"Nanti aku bantuin Mbak, ya," ucap Zea pelan.

"Kamu liatin aja, setelah mengerti, baru kamu bantuin Mbak."

"Iya, Mbak." Zea mengangguk.

Dan tak berselang lama, adzan Dzuhur pun berkumandang. Terdengar suara pria yang menjadi Muazin di masjid pesantren itu.

"Ya ampun, merdunya." Lastri tersenyum sambil memejamkan matanya.

"Suara siapa, Mbak?" tanya Zea.

"Itu, Ustaz Syahil, anaknya Ustazah Hilma, adiknya almarhumah Aisyah."

"Yang mana, Mbak?" tanya Zea yang masih mengingat orang-orang yang ia lihat di depan gerbang.

"Oh, kamu belum ketemu, ya. Dia itu yang dulu nolongin kamu waktu terdampar di pinggir sungai. Anaknya ganteng banget." Lagi-lagi Lastri tersenyum saat menceritakan Syahil.

"Astaghfirullahalazim." Lastri langsung tersadar akan tingkahnya yang berlebihan.

Zea hanya tersenyum melihat tingkah Lastri.

"Ayo, Zea, kita ke masjid, sholat berjamaah di sana," ujar Lastri.

Zea hanya diam dan menatap ragu.

"Kamu,,,,nggak bisa sholat?" tanya Lastri menerka-nerka.

Dengan perlahan Zea mengangguk, lalu tertunduk malu.

"Nggak apa-apa, nanti Mbak ajarin, ya," ucap Lastri mencoba menghibur Zea.

Zea mengangguk sambil tersenyum.

"Sekarang kamu tetap ikut sholat, ya. Kamu bisa Bertasbih (mengucapkan Subhanallah), bertahmid (mengucapkan alhamdulillah) dan bertahlil (mengucapkan La ilaha illallah) aja dulu."

Zea tidak mengerti akan ucapan Lastri.

"Jika hanya untuk bertasbih, bertahmid, bertahlil saja dalam shalat seseorang tidak hafal. Maka cukup baginya untuk bertakbir pada setiap berganti gerakan. Dan bertasbih saja dengan mengucapkan “Subhanallah” yang dibaca sebanyak 3 kali setiap berganti gerakan sholat nya. Hingga akhirnya ia mengakhiri sholatnya dengan salam bersama Imam. Dengan begitu sholatnya sudah SAH." Lastri kembali menjelaskan.

"Iya, Mbak." Zea mengangguk.

"Ini mukena kamu, sekarang pakai hijabnya, kita wudhu, habis itu sholat," ujar Lastri sambil menyerahkan mukena kepada Zea.

Lagi-lagi Zea terdiam.

"Tenang aja, nanti Mbak ajarin kamu caranya berwudhu."

Zea mengangguk dan kembali tersenyum.

Mereka pun segera pergi ke masjid untuk ikut melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

jangan-jangan rianti yang melihat zea dengan tatapan sinis?

2023-01-10

0

Ayas Waty

Ayas Waty

klo mbk Lastri baik... terus yg menatap gk suka siapa ya

2022-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!