Dikhianati

Zea mengetuk sebuah pintu rumah seseorang. Tak berselang lama, muncullah seorang wanita muda seusianya bernama Mila.

"Nara? Kok kamu disini? Bukannya kamu tunangan sama Steven?" tanya Mila dengan tatapan heran. Memang, Zea masing menggunakan gaun yang ia kenakan saat pertunangan tadi.

"Aku Zea, bukan Nara." Zea menatap Mila dengan mata berkaca-kaca.

"Ya ampun, Zea. Kenapa kamu jadi begini?" Mila hendak menariknya masuk. Namun, seseorang dari dalam mencegahnya.

"Mil, lihat tuh berita gempar di tv." Feli, kakak Mila berujar.

"Kenapa kak?"

"Lihat aja dulu. Habis itu baru kamu putusin, dia pantas nggak masuk ke rumah kita."

Mila merasa heran dengan ucapan sang kakak. Ia pun pergi ke dalam dan melihat berita yang dimaksud sang kakak. Tampak jelas ekspresi wajahnya yang terkejut. Ia kembali menghampiri Zea. Namun kali ini dengan raut wajah penuh emosi.

"Berani banget kamu nunjukin muka kamu dasar penghianat!"

"Mil, dengarkan aku. Ini semua tidak seperti yang kamu lihat. Aku,,,,aku difitnah." Tenggorokan Nara tercekat saat mengatakan hal itu.

"Kamu kira aku percaya? Pergi kamu! Dasar penghianat!!" Mila mendorong Zea hingga ia jatuh terpelanting.

Ia membanting pintu dengan kuat di depan Zea.

Dengan rasa hancur, Zea pun pergi dari tempat itu. "Kemana lagi aku harus pergi. Oh ya, Farah dan Stella pasti bisa menolong ku. Mereka kan yang selama ini aku bantu." Ia mempercepat langkahnya. Ia menyetop sebuah taksi dan meminta diantar ke alamat yang bertempat di luar kota itu.

Tiga jam Zea menempuh perjalanan hingga akhirnya ia sampai di tempat tujuan. Karena tidak punya uang, ia lantas membayar ongkos taksi dengan salah satu anting mahalnya yang harganya pun melebihi ongkos taksi tersebut.

Zea mendatangi sebuah rumah milik kedua adik kakak yang merupakan temannya. Namun, sebelum ia mengetuk pintu, mereka sudah keluar lalu memeluknya.

"Zea, akhirnya kamu kesini. Kita udah telponin kamu dari tadi tapi nggak aktif. kamu nggak papa, 'kan?" Stella memegangi wajah dan tangan Zea untuk memastikan kondisinya.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena kalian masih peduli padaku. Aku kira, aku tidak akan menemukan tempat untuk pulang." Zea sesenggukan karena tak henti-hentinya menangis.

"Ze, sekarang kamu ikut kita, ya. Sebaiknya kamu tinggal di apartemen. Kalau kamu disini, takutnya mama dan papa kami nggak setuju. Kamu mengerti, 'kan." Farah memberi pengertian kepada Zea.

"Aku mengerti. Terima kasih, ya." Zea memeluk kedua teman yang sering ia bantu itu.

Mereka pun naik mobil menuju apartemen untuk ditempati Zea. Namun, jalan yang dilalui membuat Zea heran. Bukan aspal dan jalanan yang ia temukan, melainkan jalan kecil dan sempit yang terdapat banyak ilalang.

"Kita mau kemana? Kok jalurnya berbeda?"

Tanpa menjawab, Farah yang duduk di samping Zea malah menyuntikkan sesuatu pada Zea hingga ia tak bisa bergerak.

Farah dengan cepat mengikat tangan dan kaki Zea.

"Kalian? Kenapa kalian melakukan ini?" Zea berusaha berontak namun dirinya tak bisa bergerak.

"Kenapa? Mungkin karena Nara memberi kamu uang yang banyak untuk mengeksekusi kamu." Farah menatapnya dengan senyum jahat.

"Jadi, kalian bekerja sama dengan Nara?"

"Ya, kami akan membantu dia melenyapkan kamu dari muka bumi ini." Stella menambahkan.

"Kalian sama jahatnya dengan dia!"

"Kami jahat? Lalu kamu apa? Kamu bahkan sangat kejam, Ze. Kamu menindas rakyat kecil demi ambisimu dan pujian dari papamu."

"Kalian bodoh karena mengikuti perintah Nara. Kalian penghianat yang bodoh!"

"Diam!!" Farah menampar pipi Zea dengan kuat.

"Stella, berapa lama obat lumpuh itu bereaksi?"

"Satu jam kak. Aku yakin setelah kita membuang dia ke sungai, dia akan mati dalam lima menit karena tidak bisa bergerak dan tenggelam."

"Tolong, jangan lakukan ini. Aku akan membayar kalian lebih dari Nara." Air mata Zea kembali jatuh berlinang.

"Bayar? Apa kamu bisa membayar rasa sakit hati kami? Apa kamu tidak ingat saat dulu kamu sering mengatai kamu gadis bodoh tak berotak. Memang, kamu membatu kami, tetapi mulut pedasmu juga ikut membantu kami menaruh dendam padamu."

Zea kembali teringat akan sifatnya yang sombong dan asal bicara. Jelas sekali saat dulu ia membantu Farah dan Stella dengan kalimat-kalimat sadisnya. Karena ia melihat mereka tertawa, ia pikir itu tidak masalah. Namun ternyata itu malah menjadi Boomerang untuk dirinya.

"Mana Zea yang sombong, angkuh, belagu dan arogan? Sudah ciut." Farah menunjukkan jari tengahnya ke depan wajah Zea.

Zea yang sudah terpengaruh dengan obat itu, tak mampu berbuat apa-apa.

Hingga saat mereka sampai di sebuah sungai, Farah dan Stella mengangkat tubuh Zea yang lumpuh itu lalu menceburkan dirinya ke sungai. Dalam hitungan detik, Zea langsung hanyut terbawa arus sungai hingga hilang dari pandangan.

Farah dan Stella segera pulang setelah memastikan Zea sudah tidak tampak lagi. Mereka akan membawa berita gembira itu pada Nara.

Terpopuler

Comments

renita gunawan

renita gunawan

kasian, zea.sifat jahatnya dulu mengakibatkan orang menjadi sakit hati dan dendam kepadanya

2023-01-10

1

linay

linay

zea jg jahat sih dlu nya jd banyak musuh....

2022-12-05

1

Ayas Waty

Ayas Waty

kok jahat semuanya ta

2022-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!