Mobil sedan hitam menerobos lebatnya hujan dimalam itu, Bio mengendarai mobilnya terlihat tak sabar. Beberapa kali ia memaki saat bertemu macet.
Sangat jelas di ingatannya, apa yang tadi di katakan Maya dan Yayuk padanya. Yolan memang Bintang.
"Yolan sendiri emang bilang sama kita kalau dia adalah Bintang, teman masa kecil lo" jelas Maya.
"Trus kenapa dia mengelak terus setiap gw tanya"
"Yolan tuh seneng banget pas tau lo Beonya, dia jg udah nyari lo selama ini. Tapi.." Yayuk menggantung kalimatnya.
"Tapi apa ?" desak Bio tak sabar.
"maaf sebelumnya, kita berdua udah cerita ke Yolan soal status lo"
"Status apa?" Bio tampak kesal dengan penjelasan berbelit-belit Maya dan Yayuk.
"Kalau lo anak adopsi"
"Trus hubungan dengan Yolan apa?" tanya Feri ikut bingung dengan penjelasan Maya.
"Yolan mendengar pembicaraan lo sama Sheila di kelas, intinya Yolan tu gak mau Sheila ngelakuin sesuatu ke loe dan keluarga lo" jelas Yayuk.
Bio terdiam sesaat, ia ingat kalau dia memang bertengkar di kelas dengan Sheila dan dia mengancam akan meminta papanya memecat papa Bio kalau Bio dekat dengan orang lain.
"Sial" kutuk Bio.
Feri, Ibnu, Yayuk dan Maya menatap Bio khawatir.
"Tiiitttttt" Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Bio. Ia harus menjelaskan ini semua kepada Bintang, bagaimanapun hidupnya tak ada hubungannya dengan Sheila.
Tepat di depan sebuah rumah mewah mobil milik Bio berhenti, ia ingat beberapa waktu lalu ia sempat mengantar Bintang alias Yolan ke rumahnya.
Bio turun dari mobilnya, ia masih memakai seragam putih abu-abunya, suara guntur mulai terdengar di langit yang semakin gelap. langit sore menjelang malam ini seperti suasana hati Bio.
"Maaf den, nyari siapa?" tanya Seorang pria menghampiri Bio dibalik pagar besi rumah itu.
"Yo.. Bintang, Bintang ada pak?" jawab Bio.
Pak Hasan terdiam sesaat, menatap Bio dengan mata penuh selidik.
"Teman sekolah non Bintang ya?" tebak pak Hasan.
" Iyah pak" Bio mencoba tersenyum.
"Dengan aden siapa?"
"Bio"
" Oh, baik. Sebentar ya den, saya panggil non Bintangnya dulu" Pak Hasan pergi dari hadapan Bio.
Bio menyadarkan tubuhnya di mobil sedannya, ia tersenyum sendiri. Ia baru sadar itu adalah sopir yang dulu mengantar Bintang waktu bertemu dia di lampu merah. Kenapa ia tak sadar dari sebelumnya? Mungkin akan lebih baik masalahnya saat ini jika yang tau identitas Bintang duluan dia dai pada Bintang yang tau kalau Bio adalah Beo.
"Maaf den" Pak hasan datang dengan terburu-buru. Wajahnya menunjukkan sedikit rasa tak enak hati atau rasa segan.
"Kenapa pak?" Bio berjalan mendekat ke dekat pagar.
"Non Bintang gak mau ketemu katanya, aden disuruh pulang" jelas Pak Hasan.
Bio sudah menebak ini sebelumnya, ia sangat yakin kalau Bintang pasti bersikeras tak akan mau bertemu dengannya.
Bio menatap tingkat 2 rumah itu, sebuah tirai terlihat tersibak, Bio sangat yakin Bintang sedang memperhatikan ia disana. Bio tersenyum.
"Saya akan tunggu sebentar lagi pak" Bio tak memperhatikan pak Hasan tapi matanya melihat kelantai 2 rumah itu. Pak Hasan ikut melihat kearah pandangan Bio, tak berapa lama setelah ketahuan mengintip, Bintang menutup tirai kamarnya.
Pak Hasan tersenyum sesaat,
"Ya sudah den, Saya mau kebelakang dulu ada yang mau di kerjakan" pamit Pak Hasan.
"Iyah pak, Makasih" Bio kembali bersandar di pintu mobilnya. Ia dengan setia menatap lantai 2 rumah di hadapannya.
Setetes demi setetes hujan mulai membasahi pipinya, Bio menatap langit yang semakin gelap. Lampu jalan mulai menyala, malam mulai datang menyapa diiringi gerimis senja.
Bintang aka Yolan duduk di tempat tidurnya, ia mendengar suara hujan yang mulai turun, ia meyakinkan dirinya bahwa pasti Bio akan pergi karena hujan.
Ia memasang earphone nya kemudian mendengarkan musik untuk sesaat, ia ingin sibuk sesaat demi melupakan Bio yang ada didepan rumahnya.
......................
Setengah jam berlalu, hujan makin lebat. Yolan melirik jendelanya yang ditutupi tirai bewarna abu-abu. Ia mematikan musiknya, mencoba mendengar suara hujan di luar. Hujan masih terdengar lebat.
"Pasti dia udah pulang" ucapnya pada diri sendiri.
baru Bintang ingin melanjutkan rutinitasnya tadi yaitu mendengar musik.
"Tok..tok" terdengar suara pintu di ketuk.
"Ya"
"Non... Temannya apa gak disuruh masuk aja non, kasian hujan-hujanan di luar" kata Bibi Minah.
"Hah.." Yolan bergegas menuju jendela kamarnya. Didapati Bio masih berdiri di tempatnya tadi dengan keadaan basah kuyup.
"Apa sih yang di fikirkan dia?" maki Yolan bergegas menuju pintu kamarnya, bik minah sudah berdiri didepan kamarnya.
"Payung dimana bik" Tanya Yolan bergegas turun menuju tangga.
"Ada non , sebentar"
Tak Lama bik Minah datang membawa sebuah payung besar bewarna biru tua.
" Ini non" Yolan menerima payung itu dan melangkah menuju halaman rumahnya
Air hujan sudah membasahi seluruh tubuh Bio, ia mulai kedinginan. Ia memeluk badannya dengan melipat tangannya.
Wajah Bio tersenyum penuh harap saat seseorang keluar dari pintu rumah itu. Dia adalah sosok yang ia tunggu dari td.
Yolan membuka pagar rumahnya, melangkah keluar pagar. Bio yang tadi bersandar di mobilnya melangkah maju.
Bintang mendekat, mengangkat payungnya tinggi agar Bio bisa berada dibawah payungnya. Suasana mulai diam, hanya suara hujan yang terdengar. Bintang menatap Bio dengan wajah yang sulit di artikan.
"Aku memang Bintang" ucap Yolan.
Mendengar kata-kata itu, Bio langsung tersenyum menatapnya.
"Tapi aku tidak pernah berharap bertemu Beo, bagiku.... Dia sudah mati" kalimat Bintang berhasil menghancurkan senyum di wajah Bio.
Yolan menarik tangan Bio, menyerahkan gagang payung padanya, Bio yang masih syok hanya pasrah menerima payung itu. Ia tak sempat menahan Bintang yang sudah kembali berlari kedalam rumahnya.
"Den, pulang aja ya"pinta pak hasan datang dengan berpayung, ia mengawasi majikannya dari tadi.
Bio diam sesaat dan kemudian mengangguk.
Bio menyerahkan payung yang tadi diberikan Bintang ke pak Hasan. Dan kemudian tersenyum singkat dan masuk kedalam mobilnya.
perasaan ini hampir sama dengan saat ia ditinggalkan Bintang dulu. Tanpa ia sadari air matanya jatuh di pipinya, kenapa dengannya? Bukannya dulu ia siap apapun yang akan terjadi jika ia bertemu dengan Bintangnya. Tapi saat tau Bintangnya adalah Yolan kenapa ia sangat takut untuk kehilangannya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
RumahSakit Mesra
aaaaaaaa
2024-08-02
1