Kalung

Setelah Pak Hasan pergi Bintang di ajak Beo masuk gubuknya, gubuk itu hanya beralaskan karton bekas. Kain-kain tampak berserakan disana, tempat itu sempit dan kumuh. Seorang pria tua dengan badan kurus, ia mengenakan baju kaus lusuh yang sobek dibeberapa bagiannya. Rambutnya putih beruban, kumis dan janggutnya pun mulai memutih.

Ia membuka matanya saat Beo membangunkannya, kemudian terbatuk. Dengan sigap Beo mengambil minuman di mug plastik berwarna hijau.

“Minum dulu airnya” kata Beo membantu kakeknya minum.

Kemudian sang kakek berbaring lagi, Bintang hanya memperhatikan dalam diam. Dia masih berdiri di depan pintu masuk.

“Bintang duduk disini” ajak Beo untuk duduk didekatnya.

Baru saja Bintang melangkah mau duduk disebelah Beo, ia langsung berteriak dan mundur dengan cepat.

“Ada kecoak” tangisnya.

“Mana” Beo langsung mencari makhluk yang bikin sahabat kecilnya ini menangis.

Si kecoak merasa hidupnya terancam saat sebuah sandal hampir mengenainya, si kecoak dengan cepat kabur.

“Udah..udah. kecoaknya udah pergi” Beo berusaha menenangkan Bintang yang menangis.

Bintang menghapus air matanya dan kemudian menatap Beo yang berdiri dengan wajah Khawatir didepannya.

“Ayo duduk”

Bintang mengangguk tapi masih saja dia melihat ke sekelilingnya, mana tahu tiba-tiba si kecoak datang lagi berniat untuk balas dendam.

“Bintang takut kecoak”tanya Beo.

Bintang mengangguk,

“Kecoak itu serem, kakinya banyak. Hihhhhh” Bintang merinding sendiri membayangkan.

Beo tertawa kecil.

“Beo tinggal cuman sama kakek aja” tanya Bintang melirik kakeknya Beo yang tertidur.

“Iyah, Beo gak tahu siapa orang tua Beo. Kata kakek mereka udah meninggal” jelas Beo.

Bintang menatap Beo kemudian kakeknya bergantian, hati Bintang merasa sedih. Ia menatap Beo kemudian tersenyum.

“Nama kamu kok kayak burung” Bintang mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Iyah, kakek Beo yang ngasih. Gak tau Beo sih apa alasannya”

Bintang tertawa kecil.

“Bintang pasti punya mama dan papa yang sayang sama

“Kakeknya udah Beo bawa berobat?”

Beo menggeleng.

“Belum, belum ada uangnya” jelas Beo kemudian melirik kakeknya.

Bintang terdiam sesaat, ia juga tidak punya uang untuk membantu Beo. Kalau minta sama Oma, nanti Oma belum tentu mau ngasih.

“Bintang tau” kata Bintang tiba-tiba.

“Tahu apa?” Beo heran tak mengerti maksud Bintang.

Kemudian Bintang mengeluarkan sebuah kalung berbandul bintang dari balik baju kausnya. Kalung itu berwarna perak. Bintang melepaskan kalung yang melingkari kepalanya.

“Ini kalung peninggalan Mama Bintang, Beo bisa jual ini, terus uangnya untuk bawa kakek berobat” jelas Bintang.

“Jangan.. itu kan peninggalan mama kamu”

“Gapapa, kakek untuk saat ini lebih penting” kata Bintang.

Bintang menerima kalung berwarna perak itu, terdiam untuk sesaat menatap kalung itu dan Bintang secara bergantian.

“Makasih ya, Beo janji. Beo akan balikan ini lagi ke Bintang”

“Hu...uh janji ya” Bintang mengangkat kelingkingnya.

“Janji”

(Ikhlas atau gak sih ngasihnya hihihi)

“Non” Pak Hasan datang dari arah pintu. Ia terlihat terburu-buru, dia terlihat ngos-ngosan. Tangannya menenteng kantung kresek warna merah, yang terlihat 2 bungkus nasi didalamnya.

Bintang lansung mendorong tangan Beo yang menggenggam kalungnya untuk menyembunyikan kalung itu. Kemudian mengangkat telunjuknya didepan bibir sambil tersenyum.

“Bapak lari-lari” tanya Bintang tertawa.

“Khawatir soalnya ninggalin non disini” jujurnya.

“Makasih ya pak” kata Bintang.

“Iyah non, ini nasinya”

@@@

Terpopuler

Comments

shanum

shanum

lanjut KK

2022-12-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!