Katak dan buku

Hening, suasana itu yang terasa di kelas ini sekarang. Semua diam memperhatikan papan tulis, suara buk zulfa mendominasi di kelas hari ini sesekali. Ia sedang menjelaskan mata pelajaran, sekretaris di kelas yang tulisannya paling cantik sedang mencatat materi di papan tulis.

Yolan sedang memperhatikan papan tulis dalam diam, sayup-sayup terdengar bunyi suara dari laci mejanya.

Yolan menatap Yayuk berharap yayuk juga mendengar suara seperti binatang terjepit di lacinya.

Merasa di tatap, Yayuk menatap balik Yolan.

"Apa?" bisik Yayuk.

"Coba dengar suara itu di laci" balas Yolan juga berbisik.

Yayuk menundukkan kepalanya, mencoba mencari tau apa yang di maksud Yolan tadi.

Sebuah suara kembali muncul, yang membuat Yolan dan Yayuk kaget. Hal itu mengundang perhatian Buk Zulfa.

"ada apa itu dibelakang" tanya dia berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Yolan dan Yayuk.

" Kenapa?" tanyanya tepat di samping Yolan.

" Hmmm anu buk..." Kata Yolan ragu.

"Anu apa?"

Sebuah suara yang seperti terjepit terdengar agak keras sekarang.

"Apa itu?" tanya dia.

"Gak tau Buk" jawab Yayuk.

"Berdiri kamu" perintahnya, yang membuat Yolan ciut. Berdiri pelan dari duduknya.

Buk Zulfa merogoh Laci meja itu, kemudian menatap kearah Yolan.

"Hangat" katanya.

Ia menarik keluar benda itu dan kemudia terpekik.

"Aaaaaaaa......." Suasana kelas langsung ricuh.

Seekor katak besar, segempalan tangan terlempar dari tangan buk zulfa.

"Yolan.... " teriak buk Zulfa panjang.

"Pergi keruang BK" lanjutnya menatap Yolan tajam.

"Cepat tangkap kataknya" perintah dia lagi.

Yolan melongos pasrah, ia saja shock karena kejadian ini. Bagaimana bisa seekor katak besar ada di laci mejanya?

Seseorang tersenyum licik melihat kejadian itu.

"Lucu " kata Sheila sambil tersenyum sinis.

****

"Gak apa-apa kita duluan pulang" tanya Maya kepada Yolan.

"Gak apa-apa, kalian berdua pulang aja. Harus pergi acara kan" jawab Yolan.

"Maaf ya Lan" kata Yayuk.

"Iyah.. santai aja" kata Yolan lagi sambil tersenyum.

"Padahal kan bukan kamu yang salah, kita juga gak tau katak itu dari mana" protes Yayuk cemberut.

"Gimana lagi, gak apa-apa" kata Yolan lagi.

"Kami pulang ya"kata Maya.

Yolan mengangguk.

Yayuk memeluk Yolan dan di ikuti maya,

"Kami pulang"kata yayuk lagi dan melepaskan pelukan itu dan melangkah pergi sambil melambaikan tangan dan menjauh.

"Lebai" kata Sheila melihat hal itu.

"Biar tau rasa dia, susun tuh buku perpustakaan tuh" kata Sheila lagi.

Siska disamping sheila ikut tertawa,

"Biarin aja lah dia, pulang yuk" ajak Siska.

"Yuk" Sheila setuju dan pergi sampil tertawa.

Yolan masuk kedalam perpustakaan dengan malas, seorang pria berumur sekitar Seorang pria berumur sekitar 40 tahunan duduk di balik meja, ia berkacamata tebal yang menatap Yolan terus saat pertama kali masuk.

“Yolan” katanya seolah bertanya.

“Iyah pak” jawab Yolan, sepertinya ia benar-benar sudah ditunggu.

“Buku yang disini, kamu susun ke rak nya masing-masing , catatannya ada di buku ini” jelas pak Johan menjelaskan apa pekerjaan Yolan ketika memasuki perpustakaan ini.

Yolan menatap tumpukan buku sekitar setengah meter dan ada lima tumpukan itu untuk sesaat kemudian mengambil buku yang dari tadi tergantung di tangan Pak Johan.

"Baik pak"

"Dan..."

Gerakan tangan Yolan terhenti saat pak Johan menyambung kalimatnya, di rak paling ujung ada tumpukan buku. Kamu susun aja di rak itu. Yolan terdiam menatap ujung ruangan itu.

"Baik pak" Yolan menjawab pasrah.

****

Yolan harus menyelesaikan pekerjaan dia sebelum jam 7 malam, sebelum perpustakaan tutup, lebih tepatnya sekolah tutup.

Yolan menyusun buku di troli yang iya dorong sesuai dengan kode yang tertempel dibuku.

"Alhamdulillah terakhir" Yolan menyelipkan sebuah buku bersampul hijau tua di antar beberapa buku lainnya.

"Sekarang tinggal rak ujung" katanya menghela nafas untuk sesaat.

Langkah kaki Yolan mendominasi di perpustakaan yang mulai sepi, tak berapa orang lagi yang masih berada disana.

Yolan terus berjalan menuju rak ujung dan tertunduk lemas melihat rak itu. Rak 4 susun itu penuh dengan tumpukan yang tak beraturan. Apalagi rak paling atas. Penuh dengan tumpukan buku yag disusun secara acak-acakan.

"Ini hukuman yang sebenarnya" bisik Yolan.

Yolan mencoba menyusun buku dari rak paling bawah, namun kemudian melihat rak paling atas. Menghela nafas lagi kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.

Seperti ada yang salah, Yolan berdiri setelah dari tadi duduk begitu saja di lantai. Ia pikir ia harus menyusun atau paling tidak menurunkan tumpukan buku paling atas dulu dan kemudian baru menyusunnya di rak yang kosong.

Ada sekitar sepuluh tumpukan buku tebal di tumpukan paling atas.

Rak paling atas cukup tinggi, setinggi jangkauan tangannya. Yolan menarik tumpukan buku paling bawah yang membuat semua tumpukan buku itu tanpa aba-aba tumbang.

Yolan tak sempat menghindar, tapi seorang tepat mendorongnya menunduk dan melindunginya dari longsor buku itu.

Tangan kiri si penolong di letakan di kepala Yolan untuk melindunginya. Sedangkan tangan kanannya berusaha menghadang tumpukan buku yang jatuh.

Yolan mendongak keatas menatap pemuda di balik tangan yang melindunginya.

"Bio" ucap Yolan pelan, lebih tepatnya berbisik pada dirinya sendiri.

"Ada apa ini?"tanya pak Johan tiba-tiba sudah ada didekat mereka. Bio memperbaiki posisinya kemudian berdiri tegap, posisi ia dan Yolan tadi cukup membuat curiga, mereka hampir saja berpelukan.

"Saya tidak sengaja membuat tumpukan buku ini jatuh pak" Jawab Bio.

Pak johan menatap lantai yang berserakan dengan buku.

"Kalian berdua Bereskan semua ini" perintah pak Johan.

"Iyah pak" jawab Bio.

Bio langsung memungut satu persatu buku yang berserakan, sementara Yolan masih saja mematung. Ia belum sepenuhnya sadar karena adegan tadi.

"Kok kamu diam saja, ayo bereskan" kata Pak Johan pada Yolan yang akhirnya membuat Yolan tersadar dan langsung memungut buku yang berserakan.

Sesekali Yolan melirik Bio dalam diam, sambil terus berfikir apakah dia Bio yang sama dengan Bio yang bertengkar dengannya kemaren.

Kenapa cowok ini dengan patuh mau menyusun buku itu, padahal bukan salah dia kan?

"Jangan hanya lihatin gw, susun bukunya" kata Bio menatap Yolan, sehingga kedua mata mereka saling bertemu.

Yolan berdehem pelan.

Ia langsung menyusun buku-buku itu di rak kayu yang ada di hadapan mereka.

"Kalian menyelesaikan pekerjaan kalian tepat waktu" kata pak Johan mengunci perpustakaan.

Langit sudah gelap, matahari sudah tenggelam. Cahaya lampu mulai mengambil alih tugas sebagai penerangan.

"Gak enakan di hukum membereskan perpustakaan" kata dia lagi menatap Yolan dan Bio bergantian yang berdiri disamping kanan dan kirinya.

Yolan hanya tersenyum kecut.

"Kalian berdua langsung pulang ya" kata dia lagi.

"Iyah pak" jawab Yolan.

"Saya duluan"

"Iyah pak"

Tanpa bicara sepatah katapun, Bio berjalan meninggalkan Yolan.

"Bio"panggil Yolan.

Bio berbalik menatap Yolan yang berjalan mendekat kearahnya.

Yolan menarik tangan kanan Bio, Bio kaget hampir saja ia menarik balik tangannya kalau saja Yolan tidak mengeluarkan sebuah plaster dari balik genggaman tangannya.

Memplester luka di lengan Bio dengan hati-hati, Bio sama sekali tidak sadar kalau tangannya luka.

Kemudian menyodorkan sebuah minuman berasa jeruk dalam botol berwarna oranye.

"Makasih" kata Yolan.

Bio mencoba mencerna kata sederhana yang keluar dari mulut Yolan.

Yolan menarik lagi tangan Bio dan meletakkan minuman tadi di telapak tangannya.

"Makasih sudah tolongin gw td"

Bio hanya mengangguk.

"Gw balik duluan" kata Yolan dan kemudian berjalan mendahului Bio.

Bio berbalik menatap punggung Yolan yang menjauh.

********

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!