Kalung dengan inisial YB

Yolan terhenyak, ia terdiam cukup lama dengan posisinya saat ini.

Yolan bergegas menuju parkiran dimana pak Hasan sudah menunggunya di mobil.

"Pak ayo pergi" ajak Yolan masuk mobil yang membuat pak Hasan kaget.

"Eh non, gak jadi pulang telat" tanya pak Hasan.

"Gak, ayo pak jalan" ajak Yolan mulai tak sabar.

"Baik Non"

Yolan terlihat terburu-buru, dengan patuh pak Hasan mengendarai mobilnya dan pergi meninggalkan SMA Anugerah Bangsa.

"Pak kita toko emas Puan ya" pinta Yolan.

"Baik Non" jawab Pak Hasan tanpa bertanya.

Yolan turun terburu-buru menuju dalam toko emas.

"Eh Bintangkan" tanya koko cina yang menjaga toko mengenali Yolan.

Yolan mengangguk.

"Ci puan ada" tanya Yolan.

"Ada sebentar" laki-laki itu masuk ke dalam dan membawa seorang wanita berusia sekitar 60 tahunan.

"Bintang ngapa nyari" tanya wanita itu mengenali cucu pelanggannya.

Yolan mengeluarkan sebuah kalung berwarna silver dari sakunya.

"Ini buatan toko ini kan Ci" tanyanya.

Ci puan mengambil kalung yang terletak di atas meja kaca itu, membenarkan kaca matanya untuk memperjelas penglihatannya.

"Iyah, ini kalung yang hilang waktu itu kan" jawab Ci puan membenarkan

Yolan mengangguk, ia kalung itu ia akui hilang sekian tahun lalu. Yang akhirnya sang nenek membelikan gelang dengan bandul bintang akhirnya.

"Kenapa? Dimana ketemu?" ia menodong Yolan dengan pertanyaan.

"Di rumah" jawab Yolan singkat.

"Syukur ketemu lagi. Itu kan almarhum mamamu yang beli disini. Ada inisial namamu di belakangnya kan" kata ci Puan

Yolan mengangguk sambil mengusap pelan inisial nama di belakang kalung itu. Walaupun sudah sekian tahun berlalu, tapi Yolan bisa memastikan kalau kalung itu memang miliknya. Tapi kenapa ada di sekolahnya.

......................

Yolan bersandar di ranjangnya, tangannya mengangkat kalung itu tepat di depan matanya. Menghela nafasnya pelan, banyak teori yang muncul tentang kalung ini.

"Apa Beo sekolah di sekolahnya, tapi bukannya kalung ini di jual dulu. Berarti ada yang membeli kalung itu dan memakainya" ucap Yolan pada dirinya sendiri.

Sebuah suara notifikasi pesan masuk menginterupsi Yolan, ia lupa kalau tadi dia berencana membantu mencari kalung Bio.

"Kalung" ucap Yolan dan langsung bergegas mengambil smartphonenya mencari informasi soal kalung milik Bio.

"Gak mungkin kan" bisik Yolan pada sendiri.

Mata Yolan melebar saat melihat foto yang di kirim Yayuk di grup WhatsApp mereka. Kalung yang sama yang ada di genggaman tangan Yolan saat ini.

Beberapa kali Yolan memperbesar dan memperkecil foto itu tetap saja hasilnya kalau kalung di foto itu sama dengan miliknya.

"Gak ketemu kalungnya" Yayuk mengirim pesan.

"Kalung apa sih tuh, penting banget kayaknya" balas Maya.

Baru saja Yolan ingin bertanya sudah keduluan maya.

"Kata ayank Ibnu itu kalung dari teman masa kecil Bio jadi penting" jawab Yayuk.

Yolan rasanya ingin berteriak pas membaca pesan Yayuk, ingin ia menelepon Yayuk untuk bertanya banyak hal tapi di tundanya.

Di kepalanya telah muncul banyak teori, jika memang Bio adalah Beo maka bisa saja kedua orang tuanya adalah orang tua angkat.

"Yuk... Bio beneran anak angkat ya" tanya Maya, maya seakan tau apa yang ada di pikiran Yolan.

"Ssstttt...iya.. Kata ayank ibnu gitu. Tapi ini rahasia kita bertiga. lo tau dari mana?"

"Kan dulu lo pernah bilang, tapi gw lupa "

"Iyah. Kata ibnu itu rahasia"

Sudah jelas apa yang ingin Yolan ketahui ia sudah tau kenapa kalungnya ada di tangan Bio karena Bio adalah Beo nya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!