Rasa es krim yang sama

Langkah kaki Maya, Yolan dan Yayuk membawa mereka menuju sebuah rumah singgah. Menurut informasi yang mereka dapat, anak-anak jalanan di sekitar sini akan belajar disana.

Biasanya akan ada sukarelawan yang mau mengajar mereka secara cuma-cuma. Syukur warga di sini masih mengizinkan anak mereka untuk sekedar belajar disini. Karena sebagian besar anak-anak ini adalah pencari nafkah di keluarga mereka.

Sayup-sayup terdengar suara sorakan anak-anak. Sepertinya mereka sedang belajar. Bangunan yang terbuat dari kayu itu cukup luas, biasanya di gunakan untuk rapat warga sekitar.

Yolan, Maya dan Yayuk muncul di ambang pintu, pengajar kali ini menarik perhatian mereka. Mereka kenal persis siapa yang sedang mengajar di depan kelas saat ini.

Karena merasa ada yang berdiri didepan pintu si guru menatap ke arah pintu. Dua orang yang berdiri di belakang para murid juga kenal dengan yang baru datang.

"kak Yolan" teriak salah seorang murid, kelas terdengar riuh. Mereka seakan sadar kalau kedatangan Yolan pasti ada makanan.

"Kak Yolan mau es krim" teriak mereka.

Kelas benar-benar riuh, Bio yang mencoba menenangkan kelas sama sekali gak bisa. Mau tak mau Yolan maju ke depan kelas. Mengangkat tangannya mencoba menarik perhatian, kemudian menempelkan jari telunjuknya di bibir.

Suasana yang tadi ricuh berangsur tenang,

"Semuanya denger ya, kalian belajar dulu. Setelah belajarnya selesai baru nanti kita bagi es krim dan makanannya ya" jelas Yolan.

Mendengar penjelasan Yolan, kelas kembali ribut. Banyak dari mereka yang komplen.

"mau es krim gak" tanya Yolan lagi.

"Mau..." seru 1 kelas.

"Kalau mau, belajarnya harus diselesaikan dulu. Setelah itu kita akan makan es krim sama-sama" jelas Yolan lagi.

Kelas terlihat diam,

"Setuju ya" tanya Yolan lagi.

"setuju" seru semua anak di kelas.

"Kalau gitu semuanya dengerin kak Bio ya"

"Ya..."

Yolan tersenyum mengangguk ke arah Bio, yang di balas anggukan oleh Bio. Yolan melangkah keluar kelas.

Hampir 15 menit Bio mengajar anak-anak itu membaca, sampai akhirnya kelas dibubarkan dan akhirnya Yolan, Maya dan Yayuk diserbu anak-anak itu.

Ibnu membantu Yayuk membagikan roti, Bio membantu membagikan bungkusan nasi.

Sedangkan tak jauh dari mereka, ada Yolan dan Maya sedang membagikan Es krim.

"Ayang kok gak bilang ke sini juga" tanya Ibnu.

"Kan gak tau kalau tempatnya sama, kalau tau tempatnya sama mending tadi pergi bareng" jawab Yayuk.

"Kalian sering kesini?" tanya Bio ingin tau.

"Kalau gw sama Maya baru 2 kali kesini, tapi kalau Yolan katanya sih sering kesini. Sebelum pindah dan menetap di Jakarta pun Yolan sering kesini" Jelas Yayuk.

Bio terdiam, melihat gadis di seberang yang sedang tertawa sesekali karena tingkah anak jalanan itu.

Suasana mulai sepi, anak-anak itu mulai pamit pulang setelah dapat makanan. Yolan dan Maya duduk di bangku kayu yang tampak lapuk.

"Aaa.... "tiba-tiba Yolan berteriak yang membuat Maya ikut berteriak karena melihat sebuah binatang di kaki Yolan.

Mendengar teriakan keduanya membuat yang lainnya kaget. Bio langsung berlari kearahnya.

"Kenapa?"tanya Bio

"Kecoa" teriaknya, melompat-lompat. Benar sebuah kecoak baru jatuh dari kakinya kemudian berlari menjauh. Yayuk dan Maya yang melihat itu ikut berteriak dan menjauh.

"Udah pergi kecoak nya" kata Bio.

"Ada di kaki gw" Yolan mencengkram kaos putih Bio erat.

"Beneran udah pergi" kata Bio menyakinkan Yolan dengan menggenggam tangan Yolan yang meremas erat bajunya.

Yolan mulai terisak,

"Hei.. Yolan" panggil Bio menangkup kedua pipi Yolan dengan tangannya. Membuat Yolan akhirnya menatap Bio.

"Kecoak nya udah pergi" kata Bio menatap kedalam kedua mata Yolan yang sudah basah .

Yolan menarik nafasnya, membuat Bio melepaskan tangannya dari pipi itu.

"Maaf" Yolan mengusap air matanya, ia sadar kalau dari tadi ia telah menarik baju cowok didepannya tanpa malu.

"Pindah duduk kesana yuk" ajak Feri.

"Ayok Lan" ajak Maya.

"Lo takut banget ya sama kecoak ya" tanya Maya merapikan rambut sahabatnya.

"Hu..uh.. Maaf ya buat rusuh" jawab Yolan.

"Gak apa-apa" kata Yayuk menyerahkan botol air mineral.

Bio sendiri hanya diam pandangan matanya jauh menerawang. Mendengar dan melihat bagaimana Yolan menangis membuat ia teringat dengan seseorang yang jauh dari masa lalunya.

Wajah memelas ketakutan dan teriakan ketakutan Yolan mirip dengan Bintang, Ia ingat bagaimana Bintang juga sangat takut dengan kecoa bahkan sampai menangis.

"Ini" mata Bio membulat melihat Bintang kecil berdiri tepat di hadapannya.

"Bio" panggil Bintang kecil yang akhirnya membuat Bio sadar dari lamunan panjangnya.

Yolan tepat berdiri dihadapannya saat ini, tangan kananya menyodorkan sebuah bungkusan es krim berwana coklat.

"Mau nggak, gak gue kasih apapun kok"

Bio tak kunjung merespon, dia masih saja diam tak bicara, malah memandangi Yolan yang menatapnya heran.

"Ya udah kalau lo gak mau"

"Mau" Belum sempat Yolan menarik tangannya, Bio menarik tangan Yolan dan mengambil es krim itu.

"Oke" Yolan jadi salah tingkah dan kemudian pergi dari hadapan Bio.

Feri terkekeh menatap layar hpnya,

"iseng banget lo, Sheila lihat bisa ngamuk" kata Ibnu melihat kalau Feri sudah mengambil diam-diam foto Yolan dan Bio dari samping.

"Ya gak usah di posting lah" kata Feri.

****

Bio memandangi foto yang sekitar 5 menit tadi masuk ke grup WA nya. Grup wa mereka bertiga.

Ia membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya, memandangi foto itu lagi. Gak seperti biasanya , biasanya ia akan marah jika Feri iseng sepeti ini. Tapi kali ini Bio hanya menggapai kan foto itu, tidak meminta Feri menghapusnya atau memaki Feri.

Jujur ia merasa nyaman didekat Yolan, senyaman ia didekat Bintang dulu. Bio menarik nafasnya kasar, menutup matanya dengan lengannya kemudian larut dalam pikiran panjangnya sendiri.

\*\*\*\*\*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!