Es Krim

Langit terlihat cerah hari ini, awan putih berarak kecil di sudut birunya langit. Langit memang cerah tapi bukan cuaca yang hangat tapi panas yang membuat tenggorokan kering dan haus.

Es Krim sepertinya pilihan yang bagus untuk melewati panasnya hari ini. Pikiran itu yang saat ini ada di kepala Yolan dan teman-teman barunya.

Yolan, Maya dan Yayuk duduk di bangku kayu yang terletak di sudut lapangan sekolah. Mereka menikmati istirahat siang mereka dengan manisnya es krim, ini adalah makanan penutup mereka di siang ini setelah menikmati mie goreng tadi di kantin sekolah.

"Enak gak rasa macha nya may" tanya Yayuk.

"Enak...mau" Maya menyodorkan es krim di tangannya ke depan mulut Yayuk.

"Hmmm lumayan..." Yayuk menjilat sedikit es krim rasa macha itu.

"Yolan..." Maya menyodorkan es krimnya ke arah Yolan.

"Gak ah" Yolan menggeleng.

"Bentar lagi ujian tengah semester kan" celetuk Yayuk.

"Iyah.. Bentar lagi kita lulus " jawab Maya.

Yayuk langsung menatap malas sahabatnya dan disambut gelak Yolan.

"Kan bener, bentar lagi kita lulus" Maya membela diri.

"Iyah maya sayang, bentar lagi kita lulus tapi kita ujian tengah semester dulu" jelas Yayuk.

"Tau..tau"

"Kita bisa belajar bareng nantikan kalau udah mau dekat ujian" tanya Maya.

"Bisa sih" jawab Yolan.

"Nanti nginap di rumah gw ya" kata Maya.

"Sip..."

Tanpa aba-aba hanya teriakan panjang, yang sayup-sayup terdengar namun terlambat.

"Awas"

Sebuah bola basket tepat mengenai tangan Yolan yang membuat es krim di genggamannya jatuh ke baju putihnya.

Yolan, Maya dan Yayuk masih ternganga shock dengan kejadian itu.

"Sorry" kata seorang yang mengambil bola basket yang jatuh di sisi Yolan.

Yolan tersadar saat pemuda itu mulai berjalan menjauh dari mereka.

Yolan berlari, menarik tangan pemuda itu. Membuat langkah cowok berbaju basket warna biru tua itu berhenti.

"Lihat gak baju gue kena es krim" bentak Yolan.

Bio menatap datar Yolan, ia sama sekali tidak menepis tangan Yolan. Bio menghela nafasnya pelan dan menatap Yolan dengan ekspresi datar.

"Gue kan udah minta maaf"

Yolan menarik nafasnya berat, tangan semakin menggenggam erat tangan Bio. Dan kemudian menghempaskan tangan Bio kuat.

Bio dan Yolan masih saling menatap, pikiran berkecamuk di kepalanya, ingin rasanya semua isi kebun binatang ia keluarkan, semua umpatan ia lemparkan tapi rasanya gak terlalu elegan. apalagi jika mengingat kalau cowok di depannya menatap Yolan seperti menantang.

Secepat kilat dan diluar dugaan Bio yang membuat ia tak sempat menghindar saat es krim di tangan cewek di depannya menempel di baju basketnya yang kemudian di biarkan jatuh kelantai.

"Uppssss maaf" kata Yolan dan berbalik pergi.

Ini memang benar-benar di luar dugaan Bio, ia fikir di depannya saat ini hanya cewek genit yang mencoba menarik perhatiannya. Tapi cewek di depannya saat ini adalah cewek yang berani menantangnya.

Tak sempat Bio menahan kepergian Yolan dari hadapannya.

Yolan melangkah cepat menuju kamar mandi, di ikuti oleh Maya dan Yayuk.

"Harus cepat di bersihkan nih"kata Maya.

Tapi sebelum mereka masuk ke dalam toilet sesosok tangan menarik Yolan dengan kuat sehingga Yolan terhuyung kebelakang dan menabrak seseorang yang menariknya tadi.

Yolan langsung berbalik dan ia sangat yakin siapa yang menariknya tadi. Wajah Bio terlihat marah dengan mata yang menatapnya tajam.

"loe apa-apaan ngasih baju gw es krim"

"apa-apaan apanya? Kan gue udah minta maaf" kata Yolan dengan senyum mengejek.

"Dasar kurang ajar loe" maki seseorang menarik rambut Yolan yang terkuncir dengan kuat. Mau tak mau Yolan tertarik kebelakang menghindari sakit karena rambutnya tertarik, Yolan berusaha melepaskan rambutnya.

"Sheila lepas" kata Maya dan Yayuk membantu. Yang akhirnya membuat Yolan lepas dari genggaman shela.

"Sheila" Siska langsung membantu saat Sheila di keroyok.

"Dasar centil lu ya, godain cowok orang" maki Sheila.

"Apaan sih lu gak jelas banget" Yolan balik memaki.

"Dasar gak tau diri lu" Sheila kembali memaki bersamaan dengan melempar botol minuman kearah Yolan.

Yolan tak sempat menghindar, meski begitu botol minuman itu sama sekali tak bisa menyentuhnya karena entah kenapa Bio melindungi Yolan dengan tubuhnya. Menarik Yolan hampir ke pelukannya.

Yolan menatap Bio, menatap kedua bola mata cowok yang lebih tinggi darinya itu.

"Apa maksudnya ini? Kenapa" batin Yolan.

"kena Bio" kata Sheila panik, yang menghentikan adegan saling tatap itu.

"Gak usah ikut Campur Shel" menatap Sheila tajam.

"Bio" rengek Sheila.

“cuciin baju gue” kata Bio membuka begitu saja baju basket dan sekrang bertelanjang dada di hadapan Yolan.

Apa yang dilakukan Bio mendapat teriakn heboh dari siswa menyaksikan perdepatan itu.

“Gak mau, cuciin juga baju gue” kata Yolan tidak mau menerima baju yang sudah ada ditangan Bio.

“Ya udah, sini... biar gw cuci”

ada makna tersembunyi dari kalimat Bio barusan.

“Hah...” Yolan kehabisan kata-kata.

“Ya gak bsa gitu lah”

Bio tersenyum licik dan memaksa yolan menerima bajunya dengan meletakan paksa di tangan Yolan dan kemudian pergi.

“Bubar-bubar” kata Feri menarik Bio pergi keruangan ganti dengan cepat karena makin rame siswa ngumpul disana.

Yolan hanya terdiam melihat kepergian bio dan baju di tangannya secara bergantian.

“bersihkan es krimnya dulu deh” kata Maya menarik Yolan ke toilet.

Yolan melempar baju Basket yang ada ditanganya itu ke wastafel, ia benar-benar kesal karena hal ini. Yayuk mengambil beberapa tisu dan membasahi dengan air sedikit kemudian mengusap tumbahan es krim di baju Yolan.

"udah lah, jangan cari ribut sama Bio" pinta Yayuk.

"Kenapa harus takut sih sama dia?" protes Yolan.

" Bukannya Bio, tapi Sheila yang tadi narik rambut lu"

"Dia itu sudah bikin pengumuman dari lama, kalau dia itu pacar Bio. Ya, walaupun Bio gak pernah mengiyakan"

"Dan Lagian juga katanya papanya Bio itu jadi direktur perusahaan milik papanya Sheila"

"Dan Sheila itu bisa sangat jahat, dan itu di luar dugaan biasa yang dia lakukan" jelas Maya dan Yayuk secara bergantian.

Yolan menghela nafasnya pelan, sebenarnya bukan masalah buatnya jika harus berurusan dengan yang namanya Sheila, tapi jika di lihat dari Ekspresi 2 sahabatnya sepertinya bukan ide yang bagus untuk berurusan dengan Bio.

"Tuh baju ini gimana?" tanya Yolan menunjuk baju yang tergeletak di wastafel.

"Laundry aja" kata Yayuk.

"Hu..uh.. " maya mengiyakan.

...****************...

"Pak, nanti berhenti di laundry yang dekat perumahan ya" kata Yolan saat perjalanan pulang ia dengan pak Hasan.

"Baik Non"

"Kak mau nyuci ini, bisa ambil nanti malam" tanya Yolan saat telah berada di sebuah laundry dengan corak putih biru. Wangi parfum memasuki penciuman Yolan.

"Gak bisa, besok bisa lah"

"Satu nih aja kak, tolong lah kak" mohon Yolan.

"Ya udah deh, nanti sekitar jam 9 malam jemput ya" kata mbak-mbak penjaga laundry.

"Makasih kak, ini duitnya" Yolan tersenyum senang.

...****************...

"Beneran disini tempat duduk dia" tanya Yolan.

" Iyah, Bio tuh duduk satu meja ama ayank Ibnu" jelas Yayuk.

Ibnu, nama itu sering muncul dalam topik pembicaraan mereka sekarang ini. Sejak Yayuk dan Ibnu pacaran setelah pedekate yang cukup lama.

"Oke lah" kata Yolan kemudian meletakkan sebuah paper bag coklat di bangku kayu di sebuah kelas yang masih sepi.

"Ayo" panggil Maya dari depan pintu.

Yolan dan yayuk berlari kecil menuju luar kelas.

"Kayaknya ada yang dapat hadiah nih pagi-pagi" kata Feri begitu sampai di depan meja Bio.

Bio yang berjalan di belakang bersama Ibnu tak paham.

"Apa?"

"Tuh" Ibnu yang cepat paham menunjuk kursi kayu tempat biasa Bio duduk dengan ekspresi wajahnya.

Bio mengangkat paper bag itu sebelum duduk dan meletakkan di atas meja. Menarik isinya keluar yang membuat sebuah senyuman lepas dari bibir Bio.

"Bukannya itu baju basket lo" kata Feri.

"Kayaknya habis dari laundry" kata Ibnu .

"Hu.uh.."

"Lo tersenyum" Feri memperhatikan wajah Bio yang dari tadi tersenyum.

"Gw kira baju ini udah jadi abu"

"Bener juga, kalau gw sih udah gw bakar" kata Ibnu.

"Bukankah Yolan cukup menarik" goda Feri melirik Bio dan duduk disebelahnya.

"Benerkan" tanya Feri kearah Ibnu.

Ibnu mengangguk,

"Pemberani"

"Gak usah ngacok lo berdua"

"Gak usah malu lah" goda Feri lagi.

Bio hanya tersenyum sambil menatap baju basket berwarna biru tua itu.

...****************...

Terpopuler

Comments

shanum

shanum

gas lanjut

2023-10-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!