Sebuah kalung tepat berada di telapak tangan Yolan saat ini.
"Ini kalungnya" tanya Maya.
Yolan mengangguk,
Yayuk langsung mencocokkan kalung itu dengan yang ada di foto. Sama persis.
"Sama" Ucap Yayuk.
"Ketemu dimana?" tanya Maya
"Perpustakaan"
"Ayo cari Bio, kembalikan kalung ini" Yayuk menarik tangan Yolan menuju kantin.
"Bio" panggil Maya.
Bio yang saat itu sedang bersama Ibnu dan Feri menghentikan langkah kakinya.
"Kalungnya berhasil kami temukan" kata Yayuk.
"Yolan, bukan kami" bantah Maya.
"Sama aja, jangan lupa hadiahnya" Yayuk malah ribut dengan maya.
"Kalungnya ketemu?" Bio lebih fokus ke kalung.
"ketemu, kasih tengok lan" kata maya.
Yolan membuka telapak tangannya tepat di hadapan Bio. Sebuah kalung berwarna perak terlihat disana.
Bio mengambil kalung itu, mengangkatnya sampai kalung itu tergantung di tangan Bio. Bandul kalung berbentuk Bintang yang ia kenal, bandul Bintang yang dari dulu ia perhatikan saat ia rindu dengan pemilik kalung itu.
"Itu kalungnya" tanya Ibnu.
"Iya" Bio mengangguk.
"Alhamdulillah" kata Feri.
"Ketemu dimana?" tanya Bio, ia memasangkan kalung itu ke lehernya. Yolan tak mendengar pertanyaan itu, pikirannya sedang penuh saat ini. Ia hanya memperhatikan Bio memakai kalung itu.
"Yolan" panggil Bio.
"Ketemu dimana kalungnya?" tanya Bio lagi.
"Perpustakaan" jawab Yolan singkat.
"Tepati janji Yo, hadiah" kata Ibnu semangat.
"Iyah gw traktir kalian makan" jawab Bio setuju.
"Yes..."
"Habis pulang sekolah nanti ya" tambah Bio.
"Oke" jawab mereka hampir serempak.
"Kami kembali ke kelas ya" Yolan berbalik, bisa terlihat dimata Bio ada pikiran yang mengganjal.
"Yolan" Bio menahan Yolan dengan menarik tangannya pelan.
Yolan tersentak, menatap Bio dalam diam.
"Kamu gak apa-apakan?" tanya Bio.
Yolan menggeleng pelan.
Bio ikut diam sebentar,
"kamu tunggu disini bentar" kata Bio dan kemudian lari ke warung di ujung kantin.
Yolan tersentak, ia seperti di tarik ke masa lalu Beo kecil berlari ke arah warung dulu setelah pamit dan bilang tunggu sebentar.
Biasanya Yolan tidak pernah merasa seperti ini, dia memang seperti melihat Beonya. Hampir saja Yolan menangis kalau saja tak ingat situasi.
Sebuah eskrim dengan bentuk kerucut tepat di hadapan Yolan saat ini, Bio berdiri sambil mengulurkan es krim itu.
"anggap ini DP dari traktirannya" ucap Bio.
"Kita gak" tanya Maya dan Yayuk bersamaan.
"Yolan dulu, buat kalian nanti" jawab Bio.
"Yolan ambil" panggil Bio karena tak kunjung di ambil es krimnya.
Tangan Yolan terangkat mengambil es krim itu, kemudian menatap es krim itu dalam diam.
Yolan tersenyum, menatap Bio.
"Makasih ya"
Bio mengangguk.
Yolan kemudian berbalik, menatap es krim itu lagi. dulu dia yang selalu menyisihkan uang jajannya untuk membeli es krim, sekarang Beonya sudah bisa membelikan ia es krim.
Dia bukan Beo, dia itu Bioditya. Gak sama dengan Beo nya yang dulu. Yolan membuka bungkus Eskrim itu. Mencicipi rasa manisnya coklat yang hilang dari eskrim itu.
......................
Bio, Yolan, Ibnu, Yayuk, Feri dan Maya sedang menikmati traktiran Bio. Mereka pada awalnya sempat berdebat memilih tempat makan ini. Akhirnya makan pizza adalah pilihannya.
"Ngomong-ngomong ya, sejak kapan kita se akrab ini ya" tanya Feri sebelum memasukan potongan pizza ke dalam mulutnya.
"kami juga ogah akrab sama kalian, tapi kalau di traktir makan kami mau" jawab Maya.
"Dasar" kata Feri mencibir.
"Oh Ya Bio, boleh nanya" tanya Maya lagi.
"Apa?"
"Kalung itu pemberian siapa? Kok penting banget" tanya Maya kemudian.
"Uhuk... "Yolan tersedak, ia buru-buru meminum teh dingin di hadapannya.
Bio sempat melirik Yolan sesaat,
"Teman masa kecil"
"Cewek" tanya Yayuk lanjut bertanya.
Bio mengangguk.
"Cinta monyet lo ya" tebak Maya langsung di pelototin Bio. Yolan refleks juga ikut melotot.
"Gak tau juga, yang penting dia orang yang berharga dan kalung itu sama berharganya"
"Trus dimana dia sekarang" tanya Maya makin penasaran.
"Waktu umur 8 tahun, dia pindah ke Australia. Dan gw belum ketemu dia sampai sekarang"
"Hmmm pantas berharga"
"Tapi kok sama kayak"
"Ya Oma, iyah kami mau pulang" kalimat Maya terhenti saat tiba-tiba Yolan bicara di telpon.
"Aku harus pulang, kalian berdua bareng gw kan?" tanya Yolan matanya setengah mengkode.
"Iyah, kami pulang bareng Yolan" Yayuk setuju.
"Hah.." Maya heran tak mengerti.
"Ayo..." Ajak Yayuk.
"Makasih traktirannya" kata Yolan.
"Iyah, pizzanya belum habis kalian udah lau balik aja" kata Bio.
"Maaf ya, duluan ya" kata Yolan dan pergi dari tempat itu.
"Yolan" Yayuk menarik tangan Yolan membuat langkah kakinya terhenti saat di parkiran.
"Lo sengaja bikin maya berhenti bicara kan" todong Yayuk dengan pertanyaan.
"maksudnya?" maya tak mengerti.
"Perasaan lo aja" bantah Yolan.
"Tapi maya bener lo, teman masa kecil Bio itu lo Australia saat umur 8 tahun. Sama kayak lo, lo ke Australia juga umur 8 tahun kan" jelas Yayuk.
"Iyah benar" Maya mulai mengerti masalah yang terjadi.
"Hanya kebetulan aja" Yolan masih bersikeras membantah.
"Kalau hanya emang kebetulan aja, gw akan bilang sama Bio" kata Yayuk mengancam ia mencoba berbalik masuk.
"Jangan" cegah Yolan.
"Gw akan cerita"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments