Langit terlihat cerah dengan awan berarak, sorak sorai siswa SMA Anugerah Bangsa terdengar dari sebuah lapangan basket. Semua perhatian kaum hawa tertuju pada siswa yang sedang bermain basket, ia terlihat tampan dengan rambut lurus yang menutupi kepalanya hingga sebagian keningnya, rambutnya dibelah tengah. Hidungnya mancung dengan bibir tipis, rahang tegas dan senyuman yang mempesona. Nama siswa itu adalah Bioditya.
Siswa kelas XII itu mendrible bola basket itu sebelum melempar ke arah keranjang, suara rantai ring basket berbunyi saat bola itu tepat masuk ring basket. Si pencetak angka langsung mencari temannya untuk tos.
“Bio..Bio..”teriak semua siswi yang menonton memberi semangat, ini adalah pemandangan biasa 3 tahun belakangan ini. Mendengar siswi berteriak memberi semangat nama salah satu anggota tim basket ini.
Peluit panjang berbunyi tanda permainan selesai dengan kemenangan di tim Bio, tim Bio yang memakai baju basket warna merah langsung saling berpelukan.
“Bio..ini” kata seorang dengan pakaian putih abu-abu berdiri di pinggir lapangan, ia berdiri bersama temannya. Paras gadis itu cantik, dengan rambut panjang berwarna hitam dia siswi paling mencolok dibanding siswi yang lain.
Bio mengambil botol minuman air mineral yang dari tadi dipegang siswi itu, siswi itu bernama lengkap Shela Putri Wijaya. Dia siswi paling populer di sekolah. Dan semua tau kalau dia naksir Bio.
“makasih” kata Bio kemudian menyerahkan botol itu ke teman disampingnya, yaitu Feri
Feri kaget menerima botol itu, tak hanya Feri yang kaget. Shela juga tampak terima dengan perlakuan Bio padanya. Apa maksudnya minuman yang udah ia sediakan malah diberikan pada orang lain.
“Gue udah terima minuman ini, dan gak salah kan gue kasih minuman ini sama Feri. Kan udah punya gue” jelar Bio sebelum Shela komplain.
Sementara itu sepasang mata memperhatikan lapangan basket dari tadi, ia berdiri di balkon lantai 2 gedung sekolah itu. Ia tentu saja bukan untuk melihat Bio, kenal saja tidak. Dia hanya mencoba beradaptasi dengan sekolah barunya.
Benar, ini adalah sekolah barunya. Ia murid pindahan dari sebuah sekolah di Bogor. Siswi itu bernama...
“Yolanda Bintang” sapa seseorang dari arah belakang.
Merasa namanya dipanggil, ia memutar badannya. Seorang guru perempuan dengan baju seragam berwarna ungu tua dan jilbab ungu muda menatapnya.
“Iya, saya buk” jawabnya.
“Kenalkan, saya Buk Qodri. Guru bahasa Indonesia sekaligus wali kelas kamu”
“ Saya Yolanda bintang buk, biasa dipanggil Yolan” jawab Yolan segan dan langsung memberi salam.
Buk Qodri tersenyum,
“Sebentar lagi bel istirahat selesai, ayo ibuk antar kamu ke kelas” ajaknya.
Yolan mengangguk kemudian mengekor dibelakang buk Qodri. Benar kata Buk Qodri, bel berbunyi. Semua murid berhamburan menuju kelas masing-masing. Saat Yolan berjalan menuju kelasnya, ia berpapasan dengan Bio. Tangan mereka sempat bersinggungan tanpa sengaja.
Yolan terus berjalan mengikuti langkah buk Qodri tanpa merasakan ada yang salah, sedangkan Bio berhenti sesaat dari langkahnya sebelum masuk kelas dan berbalik melihat ke belakang.
“Kenapa Bi?” tanya Ibnu.
Bio terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Ibnu. Kemudian menggeleng pelan dan menepuk bahu Ibnu mengajak masuk kelas.
Sementara itu Yolan berjalan menuju kelasnya, suasana kelas yang awalnya riuh tiba-tiba diam saat bu Qodri masuk diiringi Yolan. Beberapa siswa dan siswi saling berbisik.
“Baik anak-anak..” Bu Qodri memulai berbicara mencoba menarik perhatian seisi kelas.
“Kelas kita kedatangan siswi pindahan dari Bandung, silakan perkenalkan diri kamu”
“Hai semua, nama aku Yolanda Bintang. Kalian bisa panggil aku dengan Yolan” jelas Yolan.
“Kalian ada yang mau bertanya” kata buk Qodri.
Semua Siswa cowok di kelas itu mengangkat tangan ke atas. Buk Qodri seakan bisa membaca situasi. Perempuan berusia sekitar 40 tahunan itu menghela nafas pelan.
“Sepertinya akan lama jika kalian bertanya semua, sebaiknya nanti pas jam istirahat kalian bisa bertanya pada Yolan” kata buk Qodri.
“Yah... “seruan komplen terdengar menggemuruh di seluruh kelas.
“Yolan, disana ada bangku kosong disebelah Yayuk” tunjuk buk Qodri. Yolan mengerti memandangi arah tangan buk Qodri, di urutan ke 3 dari depan di meja paling pojok sebelah kanan, duduk seorang anak perempuan seumuran dengannya.
“Kamu bisa duduk disana” lanjut Buk Qodri seperti sebuah perintah ditelinga Yolan.
Yolan mengangguk dan kemudian menuju bangku barunya disekolah ini. Yayuk sempat melempar sebuah senyum ramah k arah Yolan sebelum Yolan duduk.
Gadis berkacamata itu membetulkan kaca matanya sesaat kemudian, mengulurkan tangannya kearah Yolan.
“Yayuk” katanya dengan resmi memperkenalkan dirinya pada Yolan.
Yolan tersenyum menyambut uluran tangan Yayuk.
“Yolan, semoga kita bisa berteman” kata Yolan ramah.
Menyenangkan bisa disambut seramah ini ditempat baru, semoga tahun terakhir dia di SMA bisa indah.
“Hai Yolan, aku maya” kata seorang anak perempuan berambut sebahu, yang duduk di hadapannya tiba-tiba berbalik dan memperkenalkan diri.
“Hai..Maya”
“Ok, kalian bisa berkenalan dengan Yolan nanti. Sekarang kita mulai pelajarannya” kata buk Qodri mengintruksi.
“ya Buk..” ucap sebagian murid. Diiringi dengan berputarnya tubuh Maya menghadap kearah depan kelas.
***
“Semoga dia bukan salah satu fans Bio nantinya” bisik Siska tepat ditelinga Sheila.
“Maksudnya?” Sheila bertanya tak suka. Ia juga salah satu siswi dikelas itu sekarang.
“Ya.. kan Bio banyak Fansnya” ucap siska lagi.
“ .Bio cuman milik Sheila” Ucapnya menatap Siska.
Siska tertawa kecil, ia memang tahu akan seperti itu reaksi Sheila jika sesuatu berhubungan dengan Bio.
“Ya..ya..Bio cuman milik Sheila” Siska tersenyum, ia tidak ingin melanjutkan perdebatan ini ditengah pelajaran yang sedang berlangsung.
Sheila mendengus kemudian melirik Yolan sesaat, kemudian kembali menatap papan tulis didepan kelas. Raut wajahnya terlihat suram, sepertinya memancing kecemburuan Sheila bukan lah ide bagus
Sheila adalah siswi terpopuler disekolah ini, semua isi sekolah ini tau jika ia telah naksir Bio sejak lama. Sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di disekolah ini, sejak mereka mengikuti MOS disekolah.
Sheila tak hanya cantik, dia juga nekat karena dia dengan lantang pernah mengatakan menyukai Bio. Tapi sayangnya ia ditolak. Tapi meski begitu ia sama sekali tak menyerah untuk mendapatkan hatinya Bio.
Bahkan dia juga berhasil menghalangi siswi lain untuk berusaha menarik perhatian Bio. Bio sendiri memang tidak pernah terdengar memiliki hubungan dengan siapapun disekolah ini. Ataupun diluar sekolah. Agak sedikit aneh, tapi hal itu yang membuat Sheila semakin tertarik pada Bio.
***
Bintang duduk didepan meja rias di kamarnya yang bercat putih dengan gorden bewarna perak, ia menyisir rambutnya yang baru saja ia keringkan dengan hair dryer. Sebuah suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan Bintang, membuat ia memandang kearah pintu kayu bewarna coklat itu.
Sosok seorang wanita dengan wajah sudah berkeriput muncul di balik pintu yang didorong sehingga terbuka separo.
“Iya Oma” sapa Bintang tersenyum.
Perempuan yang dipanggil oma tadi melangkah masuk dan duduk diranjang dibelakang Bintang, ranjang yang dialasi sprai berwarna perak juga.
“Gimana sekolahnya?” tanya Oma.
Bintang tersenyum melihat pantulan sang Oma melalui kaca didepannya, kemudian berbalik menghadap sang oma.
“kan baru satu hari oma, belum bisa di jelaskan gimana-gimananya”
“ya kan bisa tergambar bagaimana sekolahnya” kata oma.
Bintang lagi-lagi tersenyum, kemudian meletakkan sisir diatas meja kemudian berdiri dan berjalan kearah oma. Oma menyambut tangan Bintang kemudian menarik Bintang untuk duduk disampingnya.
“Oma gak perlu khawatir” kata Bintang memeluk omanya menyenderkan kepalanya di bahu wanita berusia sekitar 66 tahun itu.
Rosmawati membalas pelukan cucunya, mengusap pelan rambut panjang Bintang.
“Ketemu teman kamu yang burung tuh?”
Bintang menarik tubuhnya, raut wajahnya seolah bertanya maksud pertanyaan omanya.
“Maksud Oma Beo?”
Oma mengangguk, Bintang terdiam sesaat.
“Jakarta gak sama dengan 10 tahun yang lalu non” kata pak Hasan berbicara kepada cucu majikannya yang duduk di jok belakang mobil.
Bintang alias Yolan menghela nafas panjang, kawasan yang dulu hanyalah pemukimam penduduk sekarang telah berubah menjadi gedung tinggi.
10 tahun bukannya waktu sebentar, ia saja sekarang bukan lagi anak SD tapi sudah berubah menjadi anak SMA.
“gak apa-apa pak, aku mau beli minuman di café depan tu dulu ya” kata Yolan yang kemudian keluar dari mobil. Yolan memejamkan matanya sesaat kemudian membuka matanya pelan.
“Bintang” panggil seorang anak laki-laki dari sebuah kedai kecil yang terbuat dari kayu.
Panggilan itu disambut dengan lambaian tangan seorang anak perempuan dengan seragam merah putih
Bintang kecil berlari kecil menuju warung,
“Ini buku untuk kamu belajar membaca yang aku janjikan, besok kita belajar pas hari minggu ya” kata Bintang menyerahkan sebuah buku.
“Aku gak yakin aku bisa, kamu tau sendiri seperti apa aku membacakan?” kata Bio tampak ragu menerima buku itu.
“Gak apa-apa, yang penting semangat” bintang tersenyum cerah
Bio mengangguk dan menerima buku itu, ia membalas senyuman Bintang.
Yolan ikut tersenyum melihat pemandangan itu, ia bukannya melihat tapi mengingat kembali masa lalunya di tempat itu.
Yolan menarik nafasnya kemudian masuk ke dalam sebuah café, wangi kopi yang wangi dan roti dipanggang masuk ke dalam rongga hidungnya.
Suara music nan lembut mengiri langkah kaki Yolan yang berjalan menuju tempat pemesanan minuman.
“Selamat datang, mau pesan apa?” Tanya seorang waitress dengan rambut disanggu yang ditutupi topi.
“Frappuccino Asian Dolce satu ya” jawab Yolan.
“ Baik kak, atas nama siapa?”
“Atas Nama Bintang”
“Baik, totalnya 49 ribu ya kak” kata waitress setelah sebelumnya menginput pesanan Yolan di komputernya.
Yolan merogoh sakunya dan memberikan uangnya.
“Ini kak, di tunggu minumannya ya” waitress itu menyerahkan uang kembaliannya sekaligus struk pembelian.
“ Ok terima kasih”
Yolan duduk disebuah bangku menunggu pesanannya, mengeluarkan smartphonenya sekedar mencek ada kah pesan masuk atau untuk menghilangkan kebosanannya.
“Atas nama kak Bintang” panggil waiter dari balik meja.
Yolan bergegas mengambil minuman itu dan lansung menuju parkiran, pas saat dia sampai di parkiran sebuah mobil sedan BMW berhenti tepat diseberangnya.
Tiga orang pemuda turun dari mobil sedan itu dan disaat itu Yolan menaiki mobilnya yang disopiri pak hasan.
Tepatnya 2 hari yang lalu itu terjadi, Bintang menggeleng.
“Seperti apa kata pak Hasan oma, Jakarta sudah banyak berubah, jadi akan susah mencari dia” jelas Bintang.
Oma mengangguk kemudia memeluk Bintang, Bintang membalas pelukan itu
“ Kalau kalian memang di takdirkan bertemu pasti bertemu” ucap Oma.
Bintang mengangguk dalam diam, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di dalam pelukan sang nenek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
shanum
lanjut min
2023-08-08
1