Mulai menarik

Bio, Ibnu dan Feri sedang duduk di kantin sekolah. Jam istirahat sudah berlangsung sekitar lima menit yang lalu.

Pasti ada pertanyaan kenapa meraka tidak ada di lapangan basket, karena mereka sudah mengurangi kegiatan main basket karen mau ujian tengah semester.

"Pedes" Feri mulai seperti ikan dengan mulut di buka tutup. Ia mengambil minuman yang sekarat.

"Ya habis, bagi gw yo" belum sempat Feri mengambil minuman itu. Tepat tangan Bio langsung mengambil minuman orange miliknya.

"Beli aja sana" Kata Bio.

"Pelit lu yo" kata Feri yang berdiri menuju lemari pendingin.

Bio hanya diam cuek dan meminum air berasa jeruk miliknya.

"Ayang Ibnu" panggil Yayuk mendekat ke arah Ibnu.

"Kamu kenapa" Ibnu terlihat khawatir karena pacarnya tiba-tiba datang.

"Kami boleh duduk di bareng disini gak, soalnya gak ada meja lagi" jelas Yayuk.

"Disini aja bareng-bareng" ajak Feri yang baru selesai minum.

Terlihat Yolan dan Maya berdiri tepat dibelakang Yayuk.

"Boleh gak Yo" tanya Ibnu.

"Terserah"

"Ayo duduk disini" ajak Ibnu kemudian memindahkan piringnya. Yang awalnya duduk berhadapan dengan Feri, akhirnya pindah duduk disamping Feri.

"Yolan mau tukeran tempat duduk" tanya Yayuk saat ia sadar kalau saat ini Bio dan Yolan duduk saling berhadapan. Mengingat kalau beberapa waktu yang lalu sempat terjadi perang antara mereka berdua sempat terjadi perang antara mereka berdua .

"nggak usah di sini aja" jawab Yolan.

Yayuk mengangguk tanda mengerti, suasana canggung amat terasa walaupun sesekali Ibnu dan Feri berusaha mencairkan suasana tersebut.

"Uhuk.." Yolan tersedak, dan sialnya ketika dia membuka tutup minumannya masih belum terbuka dari awal.

"Uhuk..uhuk" Yolan terbatuk lagi, Bio mendorong minumannya tadi ke arah Yolan, kemudian menarik botol minuman ditangan Yolan.

Dengan terpaksa Yolan mengambil minuman itu, yang membuat teman-teman mereka tidak percaya dengan yang mereka lihat.

Bio meletakkan minuman yang tadi di ambilnya disamping Yolan, setelah sebelumnya membuka tutup botolnya.

"Makasih" kata Yolan menatap Bio.

Bio hanya mengangguk.

"Nu" panggil Feri sambil berbisik.

"hmmmm"

"Tadi gue minta minumannya nggak boleh disuruhnya gw beli, tapi sekarang dia ngasih aja tanpa diminta untuk Yolan" bisik Ferry di telinga Ibnu.

"Lo rabies makanya bio takut" jawab Ibnu juga dengan berbisik.

"Sialan loe" protes Feri menjitak kepala Ibnu.

"kenapa?" tanya Yayuk.

"nih susahnya kalau pacarnya disini nih" protes Feri.

"Gak ada hubungannya" jawab Ibnu malas.

"Kok bisa makan bareng kalian" protes Sheila yang tiba-tiba datang entah dari mana.

"mereka tuh gak ada tempat, makanya duduk bareng kita" Feri membantu menjawab.

"Dasar ganjen lu ya, mau deketin cowok gw kan lu" maki Sheila tepat dihadapan Yolan.

Yolan menarik nafasnya jengah, ini adalah yang paling ia tidak suka. Dari awal ini yang paling ia khawatirkan.

"Gw cuman makan disini, lagian siapa juga yang deketin cowok lu. Emang lo lihat gw lagi rayu-rayu dia apa? Gw lagi makan" jelas Yolan.

"Dasar lo ya" Sheila ingin menyingkirkan minuman di atas meja tadi ke arah Yolan, untuk dengan cepat tangan Bio menarik tangan Sheila.

"Gak bikin ribut sehari aja bisa gak" protes Bio.

"Kamu kok belain dia sih" rengek Sheila tak terima.

"aku bukannya ngebelain, kamu aja yang setiap hari ada aja yang diributkan. Makin lama makin kayak anak kecil" jelas Bio terlihat kesal, ia menghempaskan tangannya yang di pegang Sheila dan kemudian pergi.

"Bio .." rengek Sheila mengejar Bio.

"Ganggu makan gw aja tuh cewek" kata Feri menghabiskan makan sisa makanan di piringnya.

"Ayo susul Bio" ajak Feri pada Ibnu. Ibnu meneguk minuman botolnya dan kemudian berdiri dari duduknya.

"Kalian lanjut aja makannya. Dan lo Lan, yang sabar ya" kata Feri dan kemudian pergi dari kantin mencari keberadaan Bio.

...----------------...

"Yo, gw mau nanya sama lo. Beneran kalau Yolan belum berhasil menarik perhatian lo" tanya Feri.

Mereka saat ini sedang ada diparkiran, Feri dan Ibnu menahan Bio yang ingin pulang dengan pertanyaan itu.

"gw gak paham maksud lo" elak Bio.

" Kita berdua udah kenal lo lama, mana ada orang yang di bully Sheila yang lo bela kayak Yolan"

"Trus kemaren lo nolongin Yolan kan di perpustakaan"

" Dan minuman lo dengan tenangnya lo berikan ke Yolan"

Feri dan Ibnu menjelaskan bergantian.

Bio menarik nafasnya panjang, menatap kedua sahabatnya bergantian.

"Gak ada yang berbeda itu hanya perasaan lo berdua" bantah Bio

Feri terlihat kesal dengan bantahan Bio, sebelum dia bicara Ibnu memberi kode dengan menepuk bahu Feri.

"Ya udahlah, kalau emang gitu. Kalaupun iya Yolan mulai menarik perhatian lo, gw rasa gak ada salahnya. Jangan sampai karena janji lo sama bintang lo itu jadi buat lo seperti ini" jelas Feri bijak.

Bio terdiam.

"syukur kalau si Bintang itu masih ingat lo, kalau enggak gimana? Lo aja gak tau dia dimana sekarang" tambah Ibnu.

Lagi-lagi Bio hanya terdiam, memang masuk akal apa yang di bilang ibnu dan Feri.

"Ya udah lah, balik yuk" ajak Feri.

Bio masuk ke mobilnya, sedangkan Feri naik motor sport merahnya. Begitu juga dengan Ibnu.

Bio menyandarkan tubuhnya sejenak, memejamkan matanya. Sampai saat ini impian Bio hanya bertemu sahabat kecilnya, yang ia harap adalah masa depannya.

Bio membuka matanya, tepat saat Bio membuka matanya. Yolan terlihat tak jauh berdiri dari tempat ia parkir mobil, ia bersiap untuk naik mobilnya. Tak berapa lama, Yolan dan mobilnya ikut hilang dari parkiran sekolah.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!