Tak terasa sudah dua jam saja Aksa terlelap di atas pangkuan Inara. Saat membuka mata, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. Wajah Inara yang begitu polos membuat dada Aksa berdenyut ngilu seperti tergores sembilu tajam, pikirannya mulai bercabang entah kemana.
Aksa berpikir, apakah dia harus menghentikan permainan ini sesegera mungkin? Jika Akbar sudah tidak ada lagi, kemungkinan semuanya akan kembali seperti semula. Inara bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang dan Aksa berjanji tidak akan mengganggunya lagi.
Apakah Aksa sanggup menahan diri untuk tidak mendekati Inara? Jawabannya cuma dua, sanggup atau tidak. Hal itu membuat Aksa semakin bingung menghadapi keadaan rumit ini.
Aksa kemudian bangkit dari pembaringannya dan merebahkan Inara di atas sofa. Sebelum berlalu pergi, dia mengelus pipi Inara dan mengecupnya lalu mengesap bibir adiknya itu dengan lembut.
Sebelum Inara terbangun, Aksa sudah selesai mengemasi pakaian dan menutup resleting kopernya dengan perasaan penuh kebimbangan.
Apakah dengan pergi seperti ini akan mengembalikan keadaan seperti sedia kala? Bagaimana jika Inara justru sedih kehilangan Akbar yang sudah dianggapnya sebagai sosok dewa penolong di dalam hidupnya?
Tapi Aksa harus melakukannya, dia tidak ingin terjerumus lebih dalam lagi dengan perasaan yang tidak jelas arah tujuannya ini. Akan lebih baik jika Inara menjadi adiknya saja.
Aksa kemudian menulis sepucuk surat dan meletakkannya di atas kasur, lalu menaruh sebuah ATM yang bisa Inara gunakan sesuka hatinya. Anggap saja itu adalah pertolongan terakhir dari sosok Akbar yang akan menghilang dari kehidupan Inara.
Setelah semuanya beres, Aksa keluar dari kamar sambil menarik koper di tangannya. Seketika matanya berkaca saat menatap wajah polos Inara yang masih tertidur dengan lelap.
Dengan berat hati, Aksa segera memalingkan wajahnya dan berjalan menuju pintu utama. Setelah menutupnya, Aksa melangkah mendekati motor dan meletakkan koper itu di belakang.
"Maaf sayang, sosok Akbar harus pergi dari hidupmu." gumam Aksa, lalu menarik gas dan melaju meninggalkan rumah itu.
Aksa memang pergi meninggalkan rumah itu, tapi dia sama sekali tidak berniat meninggalkan Inara. Dia akan kembali sebagai dirinya sendiri karena begitulah janji yang sudah dia ucapkan pada Aina dan juga Nayla. Dia akan menjaga Inara sampai magangnya selesai dan kembali ke Jakarta bersama-sama.
Aksa kembali ke novotel dan memarkirkan motornya di parkiran. Setelah check-in dan memasuki sebuah kamar, Aksa segera menghubungi pemilik motor dan memintanya menjemput motor itu. Aksa tidak membutuhkannya lagi, sekarang dia membutuhkan mobil karena akan kembali ke wujud aslinya. Kebetulan novotel menyediakan sewa mobil jadi Aksa tidak perlu repot lagi mengurusnya.
Malam hari, Aksa keluar dari kamar dan berjalan ke Ramayana yang ada di depan novotel. Hanya beberapa langkah saja kakinya sudah tiba di mall itu. Aksa terpaksa membeli beberapa pasang pakaian baru karena pakaian sebelumnya sudah pernah dilihat oleh Inara, tentu saja dia sudah memikirkannya dengan sangat matang.
Setelah merogoh kocek sampai puluhan jutaan rupiah, Aksa kembali ke novotel membawa beberapa paper bag dan koper baru. Sedangkan koper dan pakaiannya yang lama dia berikan kepada pegawai novotel, sayang kalau dibuang karena semuanya bukanlah barang murahan melainkan brand ternama yang berasal dari Seoul.
Di kontrakan, Inara mulai kelimpungan sebab sejak sore tadi Aksa tak kunjung keluar dari kamar. Karena jam makan malam sudah tiba, Inara akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar itu.
Seketika manik mata Inara berguling liar menatap setiap sudut yang tampak sepi tanpa kehidupan. Inara menautkan alisnya melihat kamar yang sangat rapi seperti tidak ada penghuni.
"Akbar, kamu dimana? Makan dulu yuk!" sorak Inara sambil melangkahkan kakinya.
Karena tak ada sahutan, Inara memberanikan diri mendekati pintu kamar mandi lalu mengetuknya. "Akbar, buka pintunya! Kamu di dalam ya?"
Lagi-lagi tak ada sahutan hingga Inara berinisiatif membuka pintu itu. Seketika mata Inara membulat dengan sempurna saat mendapati kamar mandi yang kosong melompong. Darah Inara tiba-tiba berdesir, ada ketakutan yang terlukis pada raut wajahnya.
Tanpa pikir, Inara langsung berlari menuju lemari.
"Deg!"
Jantung Inara berdegup kencang seperti tengah lari maraton, tangannya bergetar dengan wajah memucat saat menyaksikan lemari yang sudah kosong. Sehelai pun tidak ada pakaian di dalamnya.
Inara kemudian memutar lehernya dan melihat sesuatu yang tergeletak di atas kasur. Segera Inara berlari mencapai ranjang hingga matanya membesar menatap secarik kertas yang ternganga di atas sana.
Dengan deru nafas tersengal, Inara mengambil kertas itu dan menemukan ATM yang terselip di dalamnya. Inara duduk di sisi ranjang dan segera membaca tulisan yang tersurat di sana.
"Ra, tolong maafkan aku! Aku harus pergi dengan cara seperti ini. Aku harus kembali ke luar negeri, tolong jaga dirimu baik-baik!"
"Selesaikan magang mu dan jadilah dokter seperti yang kamu mau! Aku tidak bisa lagi menemanimu karena tugasku sudah menunggu."
"Aku harap kepergianku ini tidak akan menjadi beban untukmu. Bagaimanapun kita sudah sepakat bahwa setelah magang mu selesai hubungan kita juga selesai."
"Aku meninggalkan sebuah ATM untukmu, kamu bisa menggunakannya sesuka hatimu. Pin nya sudah aku tulis di bawah."
"Kamu harus semangat ya, jangan lelah dan jangan pernah menyerah! Sekali lagi aku minta maaf karena pergi tanpa pamit dulu padamu, aku harap kamu bisa mengerti."
AKBAR
Pin xxxxxx
Setelah membaca surat itu, air mata Inara langsung berjatuhan membasahi pipinya. Inara meremas kertas itu dan meraung sejadi-jadinya.
"Dasar brengsek, bajingan kau Akbar! Kau sudah tega membohongiku. Kau bilang tidak akan pernah menyakitiku, katamu kau akan selalu menjagaku. Mana buktinya?"
Inara melemparkan kertas dan ATM itu ke sembarang tempat, tubuhnya merosot hingga terduduk di dasar lantai dan tersandar di tepi ranjang.
"Kau jahat Akbar, kau tidak menepati janjimu. Kenapa meninggalkan aku sendirian? Kenapa? Apa salahku padamu?" teriak Inara seiring isak tangis yang mengalun memenuhi seisi kamar.
Inara tak menyangka bahwa Akbar akan meninggalkannya secepat ini. Inara pikir pria itu benar-benar serius padanya, tapi ternyata dia mempermainkan Inara lagi untuk yang kedua kalinya.
Inara bahkan sudah terjebak dalam permainan pria itu, Inara menyukainya, dia mencintainya. Tapi kenapa pria itu malah meninggalkannya dengan cara seperti ini? Tidak bisakah dia pamit dengan cara baik-baik jika memang harus kembali ke luar negeri?
Inara tak sanggup menahan diri, tubuhnya terasa lemah setelah menumpahkan segala kekecewaan di hatinya. Matanya sampai sembab menangisi kepergian pria itu.
Kenapa lagi-lagi hidupnya harus dihadapkan dengan masalah serumit ini? Tidak bisakah sekali saja dia merasakan kebahagiaan bersama pria yang dicintainya itu? Dosa apa yang sudah dia lakukan sehingga badai itu selalu saja datang menghadang langkahnya.
Apa Inara tidak pantas untuk bahagia? Apa dia tidak boleh mencintai pria itu? Baru saja Inara meyakinkan dirinya bahwa cinta itu sudah tumbuh dan bersemi di dalam hatinya, tapi kenapa pria itu malah menghilang tanpa sepengetahuan dirinya?
Inara benar-benar tidak sanggup kehilangan pria itu, hanya dia yang selalu ada saat Inara membutuhkan seseorang tempatnya bersandar. Seseorang yang mampu mengisi kekosongan di hatinya dan memberi secercah harapan menyongsong kebahagiaan.
Tapi kini apa yang terjadi? Inara harus menelan kekecewaan dan kehilangan sandaran yang mampu menenangkan hatinya. Inara benar-benar hancur hingga terisak menahan rasa sakit yang menghujam jantungnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
kasihan km Inara, lgan Aksa kalau mo pergi ya bilang terus terang bicarakan secara langsung, jgn sembunyi2 km sdh memberikan harapan kpd Inara, tp km jg yg menghancurkan harapan itu
2022-11-24
3
✾ᴀᴜʟʟʏᴀᴀ✾
kenapa rumit sekali sih thor😭
2022-11-24
1