Dua hari setelah kejadian itu, Inara tiba di kota Jakarta dan sengaja tidak pulang ke kediaman Airlangga. Dia menginap di rumah sahabatnya yang bernama Riska, lalu mengirim email kepada dosen pembimbing untuk mengirimnya magang ke luar kota. Dengan begitu dia tidak perlu lagi tinggal di rumah Aksa. Dia ingat betul bagaimana Aksa melarangnya menginjakkan kaki di rumah itu.
Pagi hari, Inara datang ke kampus dan segera menemui dosen pembimbing yang sudah menunggunya di kantor. Setelah mendapatkan proposal magang, Inara terpaksa pulang untuk menyiapkan semua dokumen pribadinya.
Dari proposal yang dia baca, Inara dikirim ke sebuah rumah sakit yang ada di pulau Sumatera. Sebuah kota kecil yang terkenal dengan sebutan kota wisata berkat peninggalan zaman penjajahan yang masih terjaga kelestariannya. Bahkan hingga saat ini masih menjadi incaran para turis asing.
Pada saat jam makan siang tiba, Inara sudah tiba di kediaman Airlangga. Kedatangannya disambut oleh Nayla dan juga Aina, ada Inda dan beberapa pelayan juga di sana. Inara langsung berhamburan dan memeluk mereka satu persatu. Air matanya mendadak jatuh mengingat kenyataan pahit yang harus dia jalani setelah ini.
"Sayang, kenapa pulangnya mendadak begini? Tumben gak ngasih kabar dulu, Bunda kan bisa nyuruh Om Baron buat jemput Inara." ucap Nayla sambil memeluk putri semata wayangnya itu dengan erat. Setelah kejadian hari itu, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Inara.
"Tidak apa-apa Bun, sebenarnya Inara sudah tiba sejak kemarin. Tapi Inara harus nginap di rumah Riska karena ada tugas yang harus Inara selesaikan." Air muka Inara nampak sedih saat tertangkap oleh Aina, hal itu membuat Aina menautkan alisnya.
"Sayang, apa kamu sakit? Kok wajahnya aneh gitu?" timpal Aina kebingungan.
"Tidak apa-apa Ma, Inara baik-baik saja kok. Mungkin karena kecapekan," jawab Inara berbohong. Dia tidak ingin siapa pun tau tentang apa yang sudah dia alami di kota Busan beberapa hari yang lalu. Dia juga berharap Aksa tidak akan buka mulut saat pulang nanti.
Setelah melepaskan kerinduannya, Inara masuk ke kamarnya lalu membereskan barang-barang yang akan dia bawa. Hari ini juga Inara akan pergi dari rumah itu, entah sampai kapan dia sendiri tidak tau.
Inara menarik koper dan turun ke bawah. Tentu saja hal itu membuat Nayla dan Aina tercengang dengan mata membulat sempurna.
"Sayang, kamu mau kemana lagi?" tanya Nayla dan Aina bersamaan.
"Bun, Ma, Inara dapat tugas magang di Bali. Besok Inara sudah mulai bekerja sebagai asisten dokter. Jadi Inara harus berangkat hari ini juga, " jelas Inara berbohong.
Inara tidak ingin satu orang pun tau kemana dia akan pergi sebenarnya. Tentu saja hal itu untuk menghindari Aksa, dia sudah berjanji tidak akan menampakkan mukanya lagi di depan kakaknya itu. Bagaimanapun dalam beberapa hari ini Aksa akan kembali. Lebih cepat Inara pergi, maka akan semakin baik.
"Tapi sayang-"
"Bun, tolong jangan memberatkan kepergian Inara! Ini semua demi masa depan Inara, Inara ingin menjadi dokter dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Inara tidak mau bekerja di kantor Papa, Inara tidak suka pekerjaan itu."
"Tapi kamu belum bertemu Ayah sama Papa sayang, bagaimana mungkin kamu bisa pergi tanpa berpamitan sama mereka?" timpal Aina.
"Inara akan menghubungi mereka nanti, Mama tidak perlu khawatir."
Setelah mengatakan itu, Inara memeluk Nayla dan beralih memeluk Aina lalu memeluk Inda dan menyalami mereka semua secara bergiliran. Inara kemudian meninggalkan rumah, dia diantar oleh Pak Anang ke bandara.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, air mata Inara tak hentinya menetes. Hal itu membuat Pak Anang kebingungan sambil sesekali meliriknya dari spion depan.
"Non, kenapa menangis?" tanya Pak Anang sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa kok Pak, sedih saja harus pergi lagi. Padahal baru sampai," jawab Inara sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Non yakin?" Pak Anang memastikan.
"Yakin Pak, Bapak tidak usah khawatir. Inara baik-baik saja kok,"
Pak Anang manggut-manggut mendengar itu, masuk akal juga ucapan Inara barusan. Wajar dia sedih karena baru saja pulang tapi harus pergi lagi, begitu pikir Pak Anang lalu kembali fokus menyetir mobil.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Pak Anang menepi di pintu bandara. Dia segera turun dan membukakan pintu untuk Inara, kemudian menurunkan koper gadis itu.
"Mau Bapak antar ke dalam?" tawar Pak Anang.
"Tidak usah Pak, Bapak pulang saja! Terima kasih untuk tumpangannya,"
Inara menolak tawaran Pak Anang dengan sopan, lalu menarik koper dan berjalan memasuki bandara. Tak disangka dia akan pergi meninggalkan kota kelahirannya secepat ini. Dia bahkan harus berbohong untuk menutupi kesalahan yang sudah dia lakukan di kota Busan tempo hari.
Meski kejadian tersebut terjadi tanpa dia sadari, tapi tetap saja dia merasa bersalah karena sudah berhubungan dengan orang asing yang tidak dia kenal. Apalagi hal itu terekam jelas di dalam sebuah video. Bagaimana kalau keluarganya tau tentang itu? Pasti mereka semua akan malu karena membesarkan anak yang tak tau diri seperti dirinya.
Setelah membeli tiket, Inara memberikan kopernya kepada petugas lalu memasuki area tunggu untuk menanti jadwal keberangkatan.
Lima belas menit kemudian, Inara sudah duduk di dalam pesawat. Air matanya kembali menetes saat menatap arah jendela. Rasanya sangat menyedihkan harus pergi tanpa berpamitan dengan orang-orang yang dia sayangi, terutama sang ayah yang merupakan cinta pertama di hidupnya.
Setelah pesawat mengudara, Inara mencoba memejamkan matanya. Entah kapan dia akan kembali dan bertemu lagi dengan kedua orang tuanya dia sendiri tidak tau.
Pukul enam sore, pesawat yang dia tumpangi sudah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Inara turun sambil tersenyum menyambut hari baru yang harus dia jalani.
Setelah mengambil kopernya, Inara berjalan menuju parkiran. Dia nampak bingung karena tidak tau harus kemana terlebih dahulu di kota yang belum pernah dia jajah sama sekali.
Lalu Inara menghampiri sebuah taksi yang terparkir di depan sana. "Pak, kalau mau ke Bukittinggi naik apa ya?" tanya Inara kepada sang sopir.
"Kalau ke Bukittinggi naik travel Dek, butuh tiga jam untuk sampai di sana." jawab sopir itu.
"Kalau boleh tau, travelnya mangkal dimana ya Pak?" tanya Inara lagi.
"Ada loketnya, tapi kalau mau pesan online juga bisa." jawab sopir itu.
"Oh, kalau begitu terima kasih ya Pak." ucap Inara dengan sopan.
"Sama-sama Dek," jawab sopir itu.
Inara kemudian membuka ponselnya dan mencoba mencari jasa travel yang memiliki jadwal keberangkatan saat ini juga. Tidak terlalu sulit, setengah jam kemudian sebuah travel dengan logo Armada Travel Oke sudah datang menjemputnya.
Inara menaikinya dan duduk di bangku tengah. Karena kebetulan travel tersebut sudah penuh, sang sopir langsung melajukan mobilnya menuju kota yang Inara tuju.
Sebuah kota kecil yang dulunya pernah menjadi ibukota Indonesia. Tempat yang terkenal dengan menara tinggi yang dinamakan Jam Gadang. Terkenal juga dengan cuacanya yang dingin dan pegunungan yang menjulang tinggi mengelilingi, serta memiliki peninggalan bersejarah yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
byk2 sabar Inara, emang ya mulutnya Aksa bikin sakit hati org, ntar dicabein biar kapok, semoga pekerjaan mu lancar Inara
2022-11-17
2
mom kayla rafis
yang sabar yaa inara 🥺🥺
2022-11-17
1