"Tok Tok Tok"
"Inara, buka pintunya! Ini Ibu, ada tamu yang ingin bertemu." Bu Yanti mengetuk pintu dan membantu Aksa memanggil Inara.
"Iya Bu, tunggu sebentar!" sahut Inara dari dalam sana.
Setelah mendengar sahutan dari Inara, Bu Yanti meninggalkan Aksa sendirian di depan pintu. Dia tidak ingin mengganggu pembicaraan kakak adik itu karena bukan urusannya.
Setelah Bu Yanti menghilang dari pandangannya, Aksa berdiri dengan tangan terlipat di area dada. Sebelah kakinya bergerak mengetuk-ngetuk permukaan lantai menunggu Inara membukakan pintu.
"Ceklek!"
Pintu terbuka sedikit, Inara langsung membulatkan matanya dan bergegas menutupnya kembali. Sayangnya Aksa lebih sigap dan menahan pintu itu dengan kakinya.
"Buka pintunya, atau aku akan mendorongnya dengan kasar!" ancam Aksa dengan tatapan tajam seperti mata elang.
"Apa kau sudah gila? Untuk apa kau kemari? Tolong pergilah!" pinta Inara dengan air muka memelas.
"Aku akan pergi setelah bicara denganmu, biarkan aku masuk!" desak Aksa.
"Jangan gila! Ini kosan perempuan, kau tidak boleh masuk." tegas Inara.
"Kalau begitu ikutlah denganku!" Aksa meraih tangan Inara dan menariknya sehingga pintu itu akhirnya terbuka dengan lebar.
"Akbar, aku tidak mau." tolak Inara sambil menarik tangannya.
"Harus mau, kalau tidak jangan salahkan aku jika membuat kekacauan di tempat ini!" ancam Aksa dengan tatapan membunuhnya.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Inara terpaksa menurut dan mengangguk lemah. "Oke, aku akan ikut denganmu. Tapi lepasin dulu, aku mau mengambil hoodie!"
"Ambillah!" Aksa melepaskan genggaman tangannya dan berdiri di ambang pintu agar Inara tidak menutupnya.
Inara rasanya sudah tak memiliki tenaga lagi untuk berjalan, kakinya mulai bergetar, apalagi seharian ini dia belum makan karena tidak memiliki uang sama sekali.
Setelah mengambil hoodie dan mengenakannya, Inara menghampiri Aksa dan menutup pintu kamarnya. Keduanya berjalan menuju pintu utama.
"Ayo naik!" ajak Aksa setelah duduk di atas motornya.
Inara mengangguk lemah dan naik ke atas motor sport itu.
"Peluk aku, nanti kamu jatuh!" pinta Aksa sembari menoleh ke arah belakang, lalu meraih tangan Inara dan melingkarkan nya di pinggangnya. "Jangan dilepas!" imbuh Aksa yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Inara.
Setelah Inara duduk dan memeluknya, Aksa segera menyalakan motor itu dan melajukan nya meninggalkan kosan itu. Aksa membawa Inara berputar-putar mengelilingi kota kecil itu dengan senyum penuh kemenangan. Entah kenapa dia mulai nyaman berada di sisi adiknya itu.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Aksa sambil melirik Inara melalui kaca spion.
"Belum," geleng Inara dengan mata berkaca.
Aksa menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Makanya jangan keras kepala! Sudah tau tidak punya uang masih saja menolak diajak makan."
"Aku tidak mau menyusahkan orang lain. Aku tidak mau berhutang budi, aku takut tidak sanggup membayarnya." lirih Inara dengan suara tertahan.
"Dasar bodoh!" umpat Aksa dengan gigi menggertak kuat.
Meski kesal tapi Aksa semakin senang melihat muka kecut adiknya itu. Aksa kemudian memutar stang motornya ke arah sebuah cafe dan memarkirkannya di parkiran.
"Ayo turun, temani aku makan dulu!" ucap Aksa setelah mematikan mesin motornya.
Inara lagi-lagi hanya bisa menurut dan turun dari motor itu, lalu keduanya berjalan memasuki cafe itu dan memilih duduk di lantai dua dengan suasana outdoor yang romantis.
Banyak pasangan muda mudi yang tengah sibuk menyantap makanan mereka, ada juga yang tengah asik ber-selfie ria memanfaatkan view yang ada.
"Duduk di sana saja!" ajak Inara sambil menunjuk pojokan yang masih kosong dan menghadap gunung merapi yang nampak berkilauan dengan cahaya lampu yang tengah menyala.
Aksa menganggukkan kepala dan mengikuti Inara yang berjalan lebih dulu beberapa langkah di depannya.
Setelah keduanya duduk, seorang pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan menu makanan kepada keduanya.
"Mau makan apa?" tanya Aksa sambil melirik ke arah Inara.
"Nasi goreng spesial, soto padang sama milk tea." ucap Inara sambil menatap menu makanan yang ada di tangannya.
"Pesan itu saja, tambah bebek goreng, mapo tahu dan jus jeruk." imbuh Aksa kepada pelayan yang tengah berdiri di sampingnya.
"Baik, pesanan segera datang!" jawab pelayan itu, lalu meninggalkan meja yang mereka tempati.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Aksa mengeluarkan ponsel yang baru saja dia beli sore tadi lalu menyuruh Inara menyimpan nomor teleponan nya di dalam sana. Mau tidak mau, Inara terpaksa memberikan nomor teleponnya.
"Berapa lama kau magang di sini?" tanya Aksa memulai percakapan.
"Kisaran tiga sampai enam bulan, semua itu tergantung dokter Melisa." jawab Inara.
Aksa mengerutkan kening mendengar itu. Tiga sampai enam bulan bukanlah waktu yang singkat baginya, mana mungkin dia bisa menetap di sana selama itu? Dia juga tidak mungkin kembali tanpa membawa Inara bersamanya, dia sudah terlanjur berjanji kepada keluarganya untuk membawa Inara pulang secepatnya.
"Apa kau tidak rindu dengan keluargamu?" tanya Aksa lagi.
"Tentu saja rindu, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus membuktikan bahwa aku bukanlah pecundang seperti yang dipikirkan oleh kakakku. Aku akan membuktikan padanya bahwa aku bisa sukses dengan caraku sendiri, aku dan keluargaku tidak akan bergantung lagi pada keluarganya." jawab Inara.
Aksa menajamkan tatapannya, beruntung dirinya sekarang bukanlah Aksa yang dikenal Inara. Jika tidak, dia rasanya ingin sekali menampar pipi mulus adiknya itu agar tak sembarangan lagi dalam berucap.
"Apa keluarganya juga tidak memperlakukanmu dengan baik?" Aksa bertanya lagi.
"Hust, jangan sembarangan menuduh! Keluarganya sangat baik, aku sangat menyayangi Papa dan Mama. Mereka sudah menganggap ku seperti anaknya sendiri. Aku hanya membenci kakakku yang paling tua, mulutnya sangat pedas. Beda sama Papaku yang sangat lembut pada siapa pun, apa mungkin kakakku itu bukan anak kandungnya? Soalnya sikap mereka sungguh berbeda," terang Inara dengan polosnya.
Aksa mengeratkan rahang mendengar itu, lagi-lagi dia harus bersabar dan menahan diri agar penyamarannya tidak terungkap di hadapan Inara. Sungguh gadis itu membuatnya sangat kesal hingga dia ingin sekali menggigit bibir mungil adiknya itu agar tak berani lagi bicara sembarangan.
Saat Aksa ingin bertanya lagi, dua orang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Aksa mengurungkan niatnya dan memilih diam.
"Silahkan!" ucap pelayan itu setelah menaruh makanan di atas meja.
"Terima kasih," jawab Aksa sambil tersenyum kecil.
Setelah pelayan itu pergi, Aksa dan Inara langsung menyantap makanan mereka tanpa bicara sepatah kata pun. Inara yang sangat kelaparan nampak begitu lahap menghabiskan makanannya hingga tak bersisa.
Setengah jam kemudian, mereka berdua meninggalkan cafe itu. Aksa melajukan motornya dan kembali mengitari kota itu lalu membawa Inara ke hotel lain yang ada di pinggiran kota.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
gemes liat mereka berdua ini, yg satunya Arogan gampang marah yg satunya baperan plus keras kepala
2022-11-20
6