Setelah memindahkan Aksa dan membaringkannya di atas sofa, Inara segera mengemasi kotak P3K dan baskom yang berserakan di dasar lantai. Dia membasahi handuk kecil tadi dan mengompres kening Aksa, lalu mengusap rambut Aksa dan mengelus pipinya. "Istirahat di sini dulu ya! Aku akan membuatkan bubur untukmu,"
Setelah mengatakan itu, Inara langsung berjalan menuju dapur dan segera merendam beras lalu menyiapkan sayuran yang akan dia campur dengan bubur itu. Inara nampak cekatan melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri untuk melayani suaminya.
Dari kejauhan, Aksa tak hentinya menatap Inara yang tengah sibuk mengaduk bubur yang sudah bertengger di atas kompor. Dari lubuk hati yang terdalam dia merasa senang melihat itu, tapi tetap saja ada kekhawatiran yang terselip di dalamnya.
Apa semua ini hanya mimpi dan akan berakhir saat Inara meninggalkan kota itu? Jika Aksa boleh meminta, dia ingin menetap di sini saja dan hidup berdua dengan Inara. Tapi itu tidak mungkin terjadi karena mereka berdua masih memiliki tanggung jawab kepada orang tua mereka. Aksa berharap akan ada keajaiban yang datang membantunya.
Dalam pemikiran yang tengah berkecamuk menusuk otaknya, Inara datang membawa sebuah nampan yang berisikan semangkok bubur dan segelas air putih ngilu kuku. Dari baunya saja sudah bisa dipastikan bahwa bubur itu sangatlah enak dan menggugah selera.
Inara menaruh mangkok itu di atas meja lalu membantu Aksa bangkit dari pembaringannya. Setelah Aksa duduk dan bersandar pada tampuk sofa, Inara mengangkat mangkok itu dan mengaduknya perlahan.
"Makan dulu ya biar cepat sembuh!" ucap Inara, lalu menyodorkan sendok berisi bubur itu ke mulut Aksa.
Aksa membuka mulutnya dan menelan bubur itu dengan susah payah, tenggorokannya terasa penuh menahan sesak saat air matanya ingin tumpah. Dadanya ngilu mengingat perlakuannya yang pernah melukai perasaan Inara, bahkan menyesal pun sudah tidak ada artinya lagi.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Inara yang menyadari perubahan pada raut muka Aksa.
"Tidak apa-apa, buburnya enak! Ayo, suapi lagi!" alibi Aksa mengalihkan perhatian Inara.
Inara mengukir senyum di bibirnya, sangat manis sehingga membuat Aksa semakin meleleh saat menatapnya.
Setelah bubur yang ada di mangkok itu habis, Inara menaruhnya di atas nampak lalu mengambil segelas air putih dan membantu Aksa meneguknya.
"Glug!"
Satu kali tegukan gelas itu sudah kosong dibuatnya. Lalu Inara membawa nampan itu ke dapur dan mencucinya.
Setelah dapur bersih, Inara kembali menemui Aksa dan duduk di sampingnya. Aksa langsung merebahkan kepalanya di pundak Inara dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
"Makasih," lirih Aksa, kemudian mengecup pundak Inara.
"Tidak usah berterima kasih, aku ikhlas melakukannya. Selama ini kamu sudah terlalu baik padaku, aku bahkan belum sanggup untuk membalasnya." sahut Inara.
"Tidak perlu membalasnya, aku juga ikhlas melakukannya." balas Aksa sambil mempererat pelukannya.
Bisakah Aksa selamanya seperti ini saja? Dia tidak ingin melepaskan adiknya itu. Cinta itu sudah tumbuh dan bersemi di hatinya, dia takut tidak akan sanggup berpisah setelah melewati kebersamaan ini.
"Ra..." gumam Aksa setelah cukup lama terdiam.
"Iya..." jawab Inara dengan suara lembutnya.
Aksa menghela nafas berat dan membuangnya dengan kasar. "Andai aku berbohong padamu, apa kamu akan memaafkan ku?"
Inara memutar lehernya beberapa derajat hingga bibir keduanya nyaris saja bersentuhan. "Kenapa bertanya seperti itu?"
"Tidak ada apa-apa, cuma ingin bertanya saja." balas Aksa.
"Hmm... Aku paling benci sama pembohong, tentu saja aku tidak akan memaafkan mu jika melakukan itu padaku." jawab Inara.
"Deg!"
Jantung Aksa lagi-lagi berguncang hebat setelah mendengar penuturan Inara barusan. Dari sini Aksa sudah bisa menebak bahwa Inara tidak akan mungkin memaafkannya jika mengakui kebenaran ini. Apa itu artinya Aksa harus menutup rapat kenyataan yang terjadi agar Inara tidak membencinya? Aksa benar-benar dilema dibuatnya.
"Apa kepalanya masih pusing?" tanya Inara sambil menempelkan punggung tangannya di kening Aksa.
"Masih, tapi panasnya sudah mulai turun." Aksa menangkap tangan Inara dan mengecupnya dengan lembut. "Ra, bolehkah aku tidur di pahamu sebentar saja?" lirih Aksa seakan sudah tak punya waktu lagi untuk bersama Inara.
"Iya boleh, tidurlah!" angguk Inara.
Setelah mendapatkan izin, Aksa segera membaringkan diri di sofa itu dan menjadikan paha Inara sebagai bantalannya. Inara kemudian mengusap rambut Aksa dan memijat dahinya dengan pelan.
"Hmm... Enak sekali. Andai saja kamu itu adalah istriku, pasti aku akan menjadi pria paling beruntung di dunia ini." gumam Aksa dengan mata tertutup rapat.
Inara yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. Apa Aksa sadar mengatakan itu, atau malah tengah bermimpi? Inara kemudian mengangkat bahu sambil melebarkan bibirnya.
"Andai saja kamu tau bahwa aku ini adalah kakakmu yang kejam itu, apa kamu akan tetap memperlakukanku seperti ini?"
"Tentu tidak kan? Kamu sangat membenciku, mana mungkin kamu mau memperlakukanku selembut ini?" batin Aksa mempertanyakan kegalauan yang bersarang di hatinya.
Aksa kemudian memiringkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Inara. Wajahnya menempel di perut gadis itu dan sesekali memajukan bibirnya, bermaksud mencium perut rata adiknya itu.
Tidak lama, Aksa pun tertidur sambil memeluk pinggang Inara. Inara mengukir senyum saat menatap wajah lelap kakaknya itu. Dia terus saja mengusap rambut Aksa dan memijat dahinya. Saking enaknya, Aksa sampai mendengkur dibuatnya.
Seketika Inara terkekeh mendengar dengkuran Aksa itu, lalu Inara memencet hidungnya hingga Aksa menggeliat saat merasakan sesak di dadanya.
"Kheekh..."
Inara menjauhkan tangannya dan menutup mulutnya menahan tawa. Sungguh ekspresi wajah Aksa kali ini membuatnya sangat gemas.
Setelah Aksa melanjutkan tidurnya, Inara menangkup tangannya di pipi kakaknya itu. Dia mengelus rahang berbulu tipis itu dengan lembut dan menatapnya dengan intim.
Sekilas bayangan wajah Aksa terlintas di benak Inara, mereka berdua terlihat begitu mirip hingga Inara tak berkedip memperhatikan garis rahangnya yang berbentuk persegi itu.
Apa mungkin mereka berdua merupakan orang yang sama? Tapi tidak mungkin, sikap keduanya sungguh jauh berbeda. Mungkin itu hanya pikiran Inara saja.
Mana mungkin Aksa bisa selembut itu pada dirinya? Pria itu sangat kejam dan mulutnya pun sangat berbisa, berbeda dengan Akbar yang walaupun galak tapi memiliki hati yang lembut dan penyayang. Hal itulah yang membuat Inara mulai tertarik padanya.
Inara mengakui bahwa dirinya menyukai Akbar, tapi Inara masih ragu memberikan hatinya. Dia takut suatu saat nanti Akbar akan mempermainkan dirinya lagi. Bagaimanapun Akbar lah penyebab utama dirinya berselisih paham dengan Aksa. Walau sebenarnya dia tau bahwa tanpa adanya Akbar, Aksa akan tetap membencinya karena begitulah kenyataannya.
Lama bergelut dengan pemikirannya sendiri, Inara pun ikut tertidur dengan tangan yang masih menempel di pipi Aksa.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Ruk Mini
ribet kau bank...🥴🥴😵💫😵💫
2023-11-14
0