TPTG BAB 7.

Saat Rai tiba di halaman, dia mendapati Aksa yang tengah berbicara dengan Pak Anang. Entah apa yang mereka bicarakan Rai sendiri juga tidak tau.

"Oke Pak, makasih." Setelah mengatakan itu, Aksa berjalan menghampiri Rai.

"Bawa mobilnya!" titah Aksa sambil melemparkan kunci mobil ke tangan Rai.

Rai dengan sigap menyambutnya. "Mau kemana?" tanya Rai dengan kening mengkerut.

"Mau nyari kucing liar," jawab Aksa asal, lalu masuk ke dalam mobil.

"Kucing liar?" Rai mengerutkan keningnya sambil mengangkat bahu, lalu dia ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi. "Dimana kucing liarnya?" tanya Rai dalam mode seriusnya.

"Jalan angkasa no 27," ucap Aksa. Dia kemudian merebahkan sandaran bangkunya ke belakang, lalu merebahkan diri.

Rai menggertakkan giginya saat melihat kelakuan Aksa yang menjengkelkan. Aksa enak-enakan berbaring sementara dirinya disuruh mencari alamat yang dia sendiri tidak tau dimana.

"Kalau kau tidur, kapan kita bisa sampai di alamat itu? Aku sama sekali tidak tau tempatnya, kau pikir ini Seoul?" ketus Rai dengan tatapan kesal.

"Dasar bodoh, cari di google!" ketus Aksa sambil memejamkan matanya.

"Kau yang bodoh, tanganku cuma dua. Kalau aku pegang hp, lalu stir nya dipegang pakai apa?" Rai mengeratkan rahangnya. Jika saja dia punya taring, ingin sekali dia menggigit Aksa dan menghisap darahnya sampai habis.

Aksa membuka matanya dan menatap Rai dengan tatapan mematikan. "Jalan saja cepat, nanti aku kasih tau jalannya!"

Terpaksa Aksa meluruskan sandaran bangkunya kembali. Sayang sekali mobil semewah itu tidak memiliki holder hp di dalamnya. Lagian siapa suruh dia memakai mobil yang biasa dipakai Pak Anang? Padahal mobil lainnya masih banyak berjejer di garasi.

Setelah Rai melajukan mobilnya, Aksa menuntunnya menuju jalan angkasa yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai di sana.

"Itu dia, rumah nomor 27." ucap Rai sambil membuka kaca jendela dan menoleh ke sebuah rumah yang cukup sederhana.

"Tunggu di sini!" Aksa turun sendirian dan berjalan mendekati pintu rumah. Baru saja dia ingin mengetuk pintu, seseorang sudah lebih dulu muncul di hadapannya.

"Anda siapa?" tanya gadis itu sambil menautkan alisnya.

"Apa kau yang bernama Riska?" tanya Aksa yang langsung saja pada intinya.

"Iya, ada apa ya?" Lagi-lagi Riska menautkan alisnya, dia bingung karena tak mengenal pria itu sebelumnya.

"Kau tidak perlu tau siapa aku. Aku ke sini untuk mencari tau keberadaan Inara, dimana dia?" tanya Aksa dengan tatapan tajam menuntut kejujuran.

"Aku tidak tau," jawab Riska gugup, dia berusaha menghindar dan segera menutup pintu tapi Aksa dengan sigap menahan pintu itu dengan kakinya.

"Jangan main-main denganku kalau kau masih ingin bernafas besok pagi!" ancam Aksa dengan tatapan membunuhnya.

"Aku tidak tau, jangan ganggu aku!" Riska berusaha mendorong pintu, tapi kekuatannya tak sebanding dengan Aksa. Sekali dorong saja, tubuh Riska sudah terpental dibuatnya.

"Satu kesempatan lagi, itupun kalau kau masih ingin hidup." Aksa menggerakkan tangannya ke belakang lalu mengeluarkan senpi dan menodongkannya ke arah Riska. "Mau bagian yang mana dulu? Kepala, dada, perut, atau kaki?" tawar Aksa sambil tersenyum sumringah.

"Jangan, aku mohon!" Riska menyatukan kedua telapak tangannya memohon agar Aksa tidak menembaknya.

"Pilihan ada di tanganmu." Aksa kembali tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Satu..."

"Dua..."

"Ti-..."

"Iya iya, akan ku katakan. Tolong simpan dulu senjata itu!"

Tidak ada pilihan lain lagi, mau tidak mau Riska terpaksa mengatakan keberadaan Inara kepada pria yang tidak dia kenal itu. Tidak hanya mengatakan dimana Inara berada, Riska juga terpaksa menyebutkan nama rumah sakit tempat Inara magang dan memberikan nomor ponsel Inara yang baru kepada pria itu.

"Anak pintar, sekarang masuklah ke dalam dan jangan lupa kunci pintunya!" Aksa menyimpan senpi nya kembali, lalu meninggalkan rumah itu dengan senyum penuh kemenangan.

Kemudian Aksa melangkahkan kakinya menuju mobil sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah duduk di bangkunya, Aksa menyalakan ponselnya.

"Bagaimana? Apa kucing liarnya ada?" tanya Rai yang masih fokus dalam mode seriusnya.

"Tidak ada, sekarang antar aku ke bandara!" perintah Aksa sambil terus menggeser layar ponselnya.

"Bandara lagi?" Rai mengerutkan keningnya. "Memangnya mau kemana lagi? Kita baru sampai, apa kau tidak lelah?" keluh Rai yang sebenarnya sudah sangat lelah dan butuh waktu untuk istirahat.

"Kali ini aku akan pergi sendirian. Setelah mengantarku, kau boleh pulang dan istirahat sampai aku kembali." jelas Aksa.

Mendengar itu, tentu saja Rai sangat bersemangat dibuatnya. Sudah hampir tiga tahun dia ikut dengan Aksa tapi tak sekali pun dia diberi kesempatan untuk istirahat. Kali ini dia akan memanfaatkan waktunya untuk pulang ke rumah keluarganya yang ada di Semarang.

Rai menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu, lalu memasuki jalan raya. Hanya dalam waktu seperempat jam saja mobil mewah itu sudah berhenti di depan bandara.

"Turunkan koperku!" Aksa turun lebih dulu dan berdiri di depan mobil sambil memakai kacamata hitamnya. "Bawa saja mobil ini bersamamu, saat aku kembali kau sudah harus ada di sini!" imbuh Aksa, lalu mengambil alih kopernya dari tangan Rai dan berjalan memasuki bandara.

"Pergilah, bila perlu agak lama. Aku ingin bebas untuk sementara waktu," teriak Rai yang begitu bahagia lepas dari cengkraman Aksa.

Aksa berbalik dan mengepalkan tinjunya ke arah Rai, Rai yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan menghela nafas lega. Lalu Rai pun pergi melajukan mobilnya menuju kota Semarang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Tepat pukul delapan malam, pesawat yang Aksa tumpangi sudah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau. Berbeda dengan Inara waktu itu, Aksa justru merental satu mobil untuk dirinya sendiri. Dia tidak suka duduk berdesak-desakan dengan orang lain apalagi orang yang tidak dia kenal sama sekali.

Sesampainya di kota Bukittinggi, Aksa meminta sang sopir menurunkannya di novotel. Sebuah hotel yang berada di tengah kota dan sangat dekat dengan ikon kota tersebut yaitu Jam Gadang.

Mengingat hari yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Aksa segera membersihkan diri dan memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melakukan pencariannya esok hari.

Namun sayangnya mata Aksa sangat sulit di pejamkan meski sebenarnya dia sudah sangat lelah. Dia menyalakan ponselnya dan membuka video itu, tiba-tiba saja otaknya kembali eror saat menyaksikan kelincahan Inara ketika mencumbui dirinya malam itu.

Ini benar-benar aneh, tak disangka kejadian itu membekas begitu dalam di hati Aksa. Dia tidak bisa seperti ini, dia berusaha meredam perasaan yang berkecamuk di hatinya namun rasanya begitu sulit.

Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh menyukai Inara. Inara adalah adiknya dan sampai kapan pun akan tetap menjadi adiknya.

Setelah berusaha meyakinkan dirinya sendiri, Aksa akhirnya tertidur sambil memegangi ponselnya yang masih menyala.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

ngak ada yg salah sm perasaan km Aksa, toh inarah bkn adik kandungmu, kalian sm sekali tdk terkait ikatan darah, kalian hanya dibesarkan dlm satu rumah dan lingkungan yg sama, jgn menyangkal perasaanmu Aksa, ntar kalo ada cowok deket sm Inara km marah

2022-11-18

2

lihat semua
Episodes
1 TPTG BAB 1.
2 TPTG BAB 2.
3 TPTG BAB 3.
4 TPTG BAB 4.
5 TPTG BAB 5.
6 TPTG BAB 6.
7 TPTG BAB 7.
8 TPTG BAB 8.
9 TPTG BAB 9.
10 TPTG BAB 10.
11 TPTG BAB 11.
12 TPTG BAB 12.
13 TPTG BAB 13.
14 TPTG BAB 14.
15 TPTG BAB 15.
16 TPTG BAB 16.
17 TPTG BAB 17.
18 TPTG BAB 18.
19 TPTG BAB 19.
20 TPTG BAB 20.
21 TPTG BAB 21.
22 TPTG BAB 22.
23 TPTG BAB 23.
24 TPTG BAB 24.
25 TPTG BAB 25.
26 TPTG BAB 26.
27 TPTG BAB 27.
28 TPTG BAB 28.
29 TPTG BAB 29.
30 TPTG BAB 30.
31 TPTG BAB 31.
32 TPTG BAB 32.
33 TPTG BAB 33.
34 TPTG BAB 34.
35 TPTG BAB 35.
36 TPTG BAB 36.
37 TPTG BAB 37.
38 TPTG BAB 38.
39 TPTG BAB 39.
40 TPTG BAB 40.
41 TPTG BAB 41.
42 TPTG BAB 42.
43 TPTG BAB 43.
44 TPTG BAB 44.
45 TPTG BAB 45.
46 TPTG BAB 46.
47 TPTG BAB 47.
48 TPTG BAB 48.
49 TPTG BAB 49.
50 TPTG BAB 50.
51 TPTG BAB 51.
52 TPTG BAB 52.
53 TPTG BAB 53.
54 TPTG BAB 54.
55 TPTG BAB 55.
56 TPTG BAB 56.
57 TPTG BAB 57.
58 TPTG BAB 58.
59 TPTG BAB 59.
60 TPTG BAB 60.
61 TPTG BAB 61.
62 TPTG BAB 62.
63 TPTG BAB 63.
64 TPTG BAB 64.
65 TPTG BAB 65.
66 TPTG BAB 66.
67 TPTG BAB 67.
68 TPTG BAB 68.
69 TPTG BAB 69.
70 TPTG BAB 70.
71 TPTG BAB 71.
72 TPTG BAB 72.
73 TPTG BAB 73.
74 TPTG BAB 74.
75 TPTG BAB 75.
76 TPTG BAB 76.
77 TPTG BAB 77.
78 TPTG BAB 78.
79 TPTG BAB 79.
80 TPTG BAB 80.
81 TPTG BAB 81.
82 TPTG BAB 82.
83 TPTG BAB 83.
84 TPTG BAB 84.
85 TPTG BAB 85.
86 TPTG BAB 86.
87 TPTG BAB 87.
88 TPTG BAB 88.
89 TPTG BAB 89.
90 TPTG BAB 90.
91 TPTG BAB 91.
92 TPTG BAB 92.
93 TPTG BAB 93.
94 TPTG BAB 94.
95 TPTG BAB 95.
96 TPTG BAB 96.
97 TPTG BAB 97.
98 TPTG BAB 98.
99 TPTG BAB 99.
100 TPTG BAB 100.
101 TPTG BAB 101.
102 TPTG BAB 102.
103 TPTG BAB 103.
104 TPTG BAB 104.
105 TPTG BAB 105.
106 TPTG BAB 106.
107 TPTG BAB 107.
108 TPTG BAB 108.
109 TPTG BAB 109.
110 TPTG BAB 110.
111 TPTG BAB 111.
112 TPTG BAB 112.
113 TPTG BAB 113.
114 TPTG BAB 114.
115 TPTG BAB 115.
116 TPTG BAB 116.
117 TPTG BAB 117.
118 TPTG BAB 118.
119 TPTG BAB 119.
120 TPTG BAB 120.
121 TPTG BAB 121.
122 TPTG BAB 122.
123 TPTG BAB 123.
124 TPTG BAB 124.
125 TPTG BAB 125.
126 TPTG BAB 126.
127 TPTG BAB 127.
128 TPTG BAB 128.
129 TPTG BAB 129.
130 TPTG BAB 130.
131 TPTG BAB 131.
132 TPTG BAB 132.
133 TPTG BAB 133.
134 TPTG BAB 134.
135 TPTG BAB 135.
136 TPTG BAB TERAKHIR
Episodes

Updated 136 Episodes

1
TPTG BAB 1.
2
TPTG BAB 2.
3
TPTG BAB 3.
4
TPTG BAB 4.
5
TPTG BAB 5.
6
TPTG BAB 6.
7
TPTG BAB 7.
8
TPTG BAB 8.
9
TPTG BAB 9.
10
TPTG BAB 10.
11
TPTG BAB 11.
12
TPTG BAB 12.
13
TPTG BAB 13.
14
TPTG BAB 14.
15
TPTG BAB 15.
16
TPTG BAB 16.
17
TPTG BAB 17.
18
TPTG BAB 18.
19
TPTG BAB 19.
20
TPTG BAB 20.
21
TPTG BAB 21.
22
TPTG BAB 22.
23
TPTG BAB 23.
24
TPTG BAB 24.
25
TPTG BAB 25.
26
TPTG BAB 26.
27
TPTG BAB 27.
28
TPTG BAB 28.
29
TPTG BAB 29.
30
TPTG BAB 30.
31
TPTG BAB 31.
32
TPTG BAB 32.
33
TPTG BAB 33.
34
TPTG BAB 34.
35
TPTG BAB 35.
36
TPTG BAB 36.
37
TPTG BAB 37.
38
TPTG BAB 38.
39
TPTG BAB 39.
40
TPTG BAB 40.
41
TPTG BAB 41.
42
TPTG BAB 42.
43
TPTG BAB 43.
44
TPTG BAB 44.
45
TPTG BAB 45.
46
TPTG BAB 46.
47
TPTG BAB 47.
48
TPTG BAB 48.
49
TPTG BAB 49.
50
TPTG BAB 50.
51
TPTG BAB 51.
52
TPTG BAB 52.
53
TPTG BAB 53.
54
TPTG BAB 54.
55
TPTG BAB 55.
56
TPTG BAB 56.
57
TPTG BAB 57.
58
TPTG BAB 58.
59
TPTG BAB 59.
60
TPTG BAB 60.
61
TPTG BAB 61.
62
TPTG BAB 62.
63
TPTG BAB 63.
64
TPTG BAB 64.
65
TPTG BAB 65.
66
TPTG BAB 66.
67
TPTG BAB 67.
68
TPTG BAB 68.
69
TPTG BAB 69.
70
TPTG BAB 70.
71
TPTG BAB 71.
72
TPTG BAB 72.
73
TPTG BAB 73.
74
TPTG BAB 74.
75
TPTG BAB 75.
76
TPTG BAB 76.
77
TPTG BAB 77.
78
TPTG BAB 78.
79
TPTG BAB 79.
80
TPTG BAB 80.
81
TPTG BAB 81.
82
TPTG BAB 82.
83
TPTG BAB 83.
84
TPTG BAB 84.
85
TPTG BAB 85.
86
TPTG BAB 86.
87
TPTG BAB 87.
88
TPTG BAB 88.
89
TPTG BAB 89.
90
TPTG BAB 90.
91
TPTG BAB 91.
92
TPTG BAB 92.
93
TPTG BAB 93.
94
TPTG BAB 94.
95
TPTG BAB 95.
96
TPTG BAB 96.
97
TPTG BAB 97.
98
TPTG BAB 98.
99
TPTG BAB 99.
100
TPTG BAB 100.
101
TPTG BAB 101.
102
TPTG BAB 102.
103
TPTG BAB 103.
104
TPTG BAB 104.
105
TPTG BAB 105.
106
TPTG BAB 106.
107
TPTG BAB 107.
108
TPTG BAB 108.
109
TPTG BAB 109.
110
TPTG BAB 110.
111
TPTG BAB 111.
112
TPTG BAB 112.
113
TPTG BAB 113.
114
TPTG BAB 114.
115
TPTG BAB 115.
116
TPTG BAB 116.
117
TPTG BAB 117.
118
TPTG BAB 118.
119
TPTG BAB 119.
120
TPTG BAB 120.
121
TPTG BAB 121.
122
TPTG BAB 122.
123
TPTG BAB 123.
124
TPTG BAB 124.
125
TPTG BAB 125.
126
TPTG BAB 126.
127
TPTG BAB 127.
128
TPTG BAB 128.
129
TPTG BAB 129.
130
TPTG BAB 130.
131
TPTG BAB 131.
132
TPTG BAB 132.
133
TPTG BAB 133.
134
TPTG BAB 134.
135
TPTG BAB 135.
136
TPTG BAB TERAKHIR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!