Tanpa pikir, Inara langsung memukulkan helm yang sudah ada di tangannya itu ke lengan Aksa, lalu memukul bahu, pinggang, punggung dan kepala Aksa tanpa ampun.
"Bajingan, pria brengsek. Kenapa kau membuntuti ku? Apa lagi yang ingin kau lakukan padaku?" teriak Inara penuh kemarahan. Suaranya menggelegar hingga menjadi tontonan warga sekitar yang ada di tempat itu.
Aksa berjongkok dan menutup kepalanya dengan tangan. "Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?"
Seumur-umur baru kali ini Aksa dibuat bertekuk lutut di hadapan seorang wanita seperti ini.
"Aku gila?" Inara tersenyum kecut dan membanting helm itu ke kepala Aksa. "Kau benar, aku memang sudah gila. Dan itu semua karena kau." Setelah mengatakan itu, Inara menendang pinggang Aksa sekuat tenaga lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Setelah merasa aman, Aksa langsung berdiri dari jongkoknya. Dia tidak menyangka bahwa Inara bisa sekejam itu saat melihatnya. Seketika Aksa tertegun, dia ingat bahwa saat ini dia bukanlah Aksa melainkan pria lain dengan tubuh yang sama.
Aksa segera menaiki motornya dan menyusul Inara dari belakang. "Hei, berhenti dulu! Aku ingin bicara denganmu," seru Aksa sambil melajukan motornya dengan pelan.
"Urusan kita sudah selesai, pergilah! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi," Inara memutar langkahnya ke tempat sempit sehingga membuat Aksa kesulitan mengikutinya.
Aksa tak menyerah sampai di sana, dia menepikan motornya di tempat lapang dan berlari mengejar Inara. Inara yang menyadari itu langsung berlari sekencang yang dia bisa, sayangnya langkah Inara berhasil disusul oleh Aksa.
"Hei, jangan kekanak-kanakan begini!" Aksa meraih tangan Inara hingga langkah gadis itu terhenti seketika. "Ayo ikut aku, aku ingin bicara baik-baik denganmu!" imbuh Aksa menurunkan nada bicaranya.
"Lepasin aku, aku tidak mau bicara denganmu! Kau sudah menghancurkan hidupku, apa lagi yang kau inginkan dariku?" Inara menepis tangan Aksa dengan kasar, air matanya menetes hingga membuat Aksa tidak tega melihatnya.
Lalu Aksa meraih pinggang Inara dan menariknya hingga tubuh keduanya nyaris tanpa jarak.
"Jangan menangis, aku minta maaf jika aku salah. Ikut aku ya, kita harus bicara!" bujuk Aksa dengan suara lembutnya.
Bukannya berhenti menangis, hal itu justru membuat Inara semakin tak kuasa membendung air matanya. Inara berjongkok dan menumpahkan semua tangisannya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, kita hanya orang asing yang tak sengaja bertemu. Sekarang pergilah, jangan mempersulit hidupku!" isak Inara sesegukan.
"Aku minta maaf, malam itu-"
"Malam itu kau menjebak ku, kau merekam adegan itu dan menyebarkannya kepada orang lain. Apa kau tau betapa malunya aku? Aku dihina dan dikira wanita murahan oleh kakakku sendiri. Dan sekarang aku harus pergi meninggalkan keluargaku, itu semua karena ulah mu." lirih Inara dengan suara yang nyaris menghilang.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." ucap Aksa dengan wajah sendu.
"Terlambat, semua sudah terjadi dan aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang. Tolong jauhi aku, aku ingin fokus dengan tugasku!" Inara bangkit dari jongkoknya dan menyapu wajahnya dengan kasar, lalu dia melangkah pergi melanjutkan pencariannya.
Saat pulang dari rumah sakit tadi, Inara baru menyadari bahwa dompetnya sudah tidak ada lagi di dalam tas. Dia juga tidak ingat kapan terakhir kali dia melihat dompet itu, dia terlihat kebingungan sambil menyusuri jalanan yang sudah dia lewati tadi.
"Apa yang kau cari?" tanya Aksa yang masih setia mengikuti pergerakan Inara.
"Bukan urusanmu, tolong jangan ikuti aku lagi!" ketus Inara, lalu mempercepat langkahnya.
Aksa tak menyerah meski Inara sudah berkali-kali mengusirnya. Dia terus saja mengikuti Inara dari jarak beberapa meter di belakangnya. Seringai tipis melengkung di sudut bibir Aksa, rasanya sangat menyenangkan melihat ketidakberdayaan gadis itu.
Sesampainya di rumah sakit, Inara masuk dan mencoba mencari dompetnya di ruangan dokter Melisa. Sayangnya dia tidak menemukan apa-apa di sana.
Beberapa menit kemudian Inara keluar dengan wajah kusut, air matanya kembali berjatuhan. Dia tidak memiliki uang lagi selain yang tersisa di dompet itu. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Dia tidak punya apa-apa lagi, bagaimana cara bertahan hidup kalau seperti ini? Kepada siapa dia harus meminta tolong?
Sesampainya di gerbang rumah sakit, Inara menekuk kakinya di atas trotoar. Dia merasa hidupnya sudah berakhir, kembali ke Jakarta rasanya tidak mungkin. Dia tidak ingin pulang sebelum menyelesaikan magangnya.
"Kenapa duduk di sini?" Aksa menekuk kakinya di samping Inara, lalu membuka jaketnya dan menutupi punggung adiknya itu.
"Kenapa masih mengikuti ku? Pergilah, aku mohon!" lirih Inara dengan tatapan sendu.
"Jangan keras kepala! Ini sudah malam, cuaca juga dingin. Ayo ikut aku, aku akan mengantarmu pulang!" ajak Aksa dengan suara lembutnya, berbeda sekali dengan watak aslinya.
"Aku bisa pulang sendiri, terima kasih untuk perhatiannya." Inara bangkit dari duduknya dan melepaskan jaket itu dari punggungnya lalu menaruhnya di lutut Aksa.
Inara kemudian melangkah meninggalkan tempat itu dan berjalan dengan wajah lesu. Aksa yang melihat itu kembali mengikutinya dari belakang. Entah kenapa dia merasa tidak rela ditinggalkan oleh Inara.
Aksa kemudian menghadang langkah Inara dan memaksanya naik ke atas motor. "Ayo, naik!" paksa Aksa sambil mencengkram lengan Inara dengan kuat.
"Lepasin aku, sakit!" rintih Inara sambil meronta.
"Akan aku lepaskan jika kau menurut. Jika tidak, aku akan mencium mu sekarang juga!" ancam Aksa dengan tatapan membunuhnya.
"Jangan, aku tidak mau dicium olehmu!" tolak Inara sambil menjauhkan dirinya.
"Kalau begitu naik!" Aksa menajamkan tatapannya.
Mau tidak mau, Inara terpaksa menurut dan menaiki motor itu.
"Pakai jaketnya!" imbuh Aksa sambil mengulurkan jaketnya dan membantu Inara memakainya.
Setelah jaket itu terpasang di badan Inara, Aksa ikut naik dan menyalakan motornya. "Peluk pinggangku!" pinta Aksa.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi tapi, cepat peluk!" desak Aksa sambil memutar gas motornya, hal itu membuat Inara terperanjat dan spontan memeluk pinggang Aksa.
"Aaaaa..."
Aksa mengukir senyum saat merasakan benda kenyal milik Inara menempel di punggungnya. Ini benar-benar aneh, Aksa justru semakin penasaran dengan adiknya itu.
"Jangan dilepas, begini saja terus!"
Setelah mengatakan itu, Aksa langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Cuaca yang dingin tak terasa sedikit pun karena pelukan hangat gadis itu.
Aksa tidak langsung membawa Inara pulang ke kosannya tapi malah membawa Inara jalan-jalan mengelilingi kota itu.
"Apa kau sudah makan?" tanya Aksa sambil melirik Inara dari kaca spion.
"Belum," jawab Inara jujur.
Tadi sore dia memang membeli nasi bungkus untuk makan malam, tapi belum sempat memakannya.
"Kalau begitu kita makan dulu. Kau mau makan apa?" tanya Aksa meminta pendapat Inara.
"Tidak usah, tadi aku sudah beli nasi bungkus saat pulang dari rumah sakit. Aku akan memakan itu nanti," tolak Inara.
"Apa kau sudah gila? Itu sudah hampir dua jam, pasti sudah basi." ucap Aksa sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa, aku tidak punya uang lagi untuk membeli makanan. Dompetku hilang, uangku yang tersisa semuanya ada di sana. Tolong turunkan aku di depan!" lirih Inara, lalu merenggangkan pelukannya.
Mendengar itu, Aksa mendadak menginjak rem hingga dada Inara kembali menempel di punggungnya.
"Aaaaaa..."
"Apa yang kau lakukan? Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ketus Inara, lalu menjauhkan diri dari Aksa.
"Hahahaha... Maaf, aku tidak sengaja." Aksa kembali melajukan motornya dan membawa Inara ke novotel.
Setelah memarkirkan motornya, Aksa menggenggam tangan Inara dan membawanya masuk ke dalam novotel. Dia sengaja meminta kamar lain agar identitas aslinya tidak diketahui oleh Inara. Dia juga memesan makanan dan menyuruh pegawai mengantarnya ke kamar.
"Kenapa membawaku ke sini?" tanya Inara sambil menarik tangannya dari genggaman Aksa, dia takut pria itu akan menjebaknya lagi untuk yang kedua kali. Inara bahkan tidak tau siapa namanya dan dari mana dia berasal.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu! Aku janji," Setelah mengatakan itu, Aksa membawa Inara ke dalam kamar.
Inara berusaha menolak dengan berbagai macam cara tapi Aksa tak mau mendengarnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Hilda Yanti
masa ngg kenal kk sendiri, dari suara , wajah , perawakan tubuh, ampun ampun bodoh amat gadis ini padahal dia calon n dokter ?
2024-09-20
1
MIKU CHANNEL
kau ini bikin pusing Inara saja Aksa, kalau inara cinta dgn sosok mu yg seperti ini bgmn, akan sulit utuk kau mendekati Inara dgn sosok aslimu
2022-11-19
2