TPTG BAB 10.

Sesampainya di dalam kamar, Inara menatap Aksa dengan air muka memelas. Dia tidak ingin berada di dalam satu kamar dengan pria yang tidak dia kenal itu, dia juga tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi.

"Tolong biarkan aku pergi, aku mohon!" Inara mengatupkan kedua telapak tangan, memohon agar pria itu mau melepasnya.

"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" jawab Aksa enteng, lalu menekuk kakinya di sofa.

Inara menautkan alisnya dan bersandar pada permukaan dinding. "Sebenarnya kau siapa? Apa yang kau inginkan dariku? Waktu itu kita bertemu di luar negeri, sekarang bertemu lagi di sini. Apa kau sengaja mengikuti ku?" cerca Inara dengan berbagai macam pertanyaan yang membuatnya bingung.

"Jangan kepedean, ini hanya kebetulan karena aku ada keperluan di sini. Mana aku tau kalau kau juga ada di sini?" Aksa merentangkan tangan dan menyilang kan kakinya tanpa ekspresi.

Setelah mendengar jawaban Aksa, Inara tak berani bertanya lagi. Dia terdiam dan mematung di tempatnya berdiri tanpa pergerakan sama sekali. Dia masih takut dan trauma dengan kejadian malam itu. Jika pria itu melakukan hal yang sama lagi bagaimana? Hal itu membuat pikiran Inara jadi tak menentu.

Tidak lama, terdengar bunyi bel dari arah luar yang membuat Inara terperanjat. Aksa yang mendengar itu langsung bangkit dari duduknya dan segera membukakan pintu.

"Selamat malam Tuan, saya datang mengantarkan pesanan Anda." ucap seorang pegawai dengan ramah, lalu mendorong troli makanan ke hadapan Aksa.

"Terima kasih, biar aku saja." Aksa menarik troli dan memberikan tips pada pegawai itu. Setelah pegawai itu pergi, Aksa langsung menutup pintu dan mendorong troli itu ke arah sofa.

Lalu Aksa duduk dan menatap Inara sambil menyipitkan matanya. "Kemarilah, temani aku makan dulu!" pinta Aksa.

"Tidak usah, kau makan saja sendiri. Setelah itu tolong antar aku pulang!" tolak Inara yang masih setia berdiri di tempatnya.

Aksa mengukir senyum di bibirnya, dia berdiri dan berjalan menghampiri Inara lalu meraih tangannya. "Jangan takut, aku tidak akan kurang ajar padamu!"

"Iya, aku percaya. Kau makan saja, aku akan menunggumu di sini." Inara menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang.

"Makan dulu, kau pasti lapar kan?" bujuk Aksa, dia kemudian mengusap rambut Inara dan mengacak nya hingga kusut.

Kali ini dia benar-benar tidak tega menyaksikan wajah Inara yang terlihat gusar. Aksa tau semua ini salahnya, tapi dia tidak bisa menyudahi permainan ini. Dia ingin melihat sampai mana Inara sanggup bertahan dalam kondisi seperti ini.

Aksa kembali meraih tangan Inara dan membawanya ke sofa. Setelah Inara duduk, Aksa mengambil piring yang berisi makanan dan menaruhnya di tangan Inara. "Makanlah dulu!"

Inara mengangguk lemah. Mau tidak mau, dia terpaksa menurut dan langsung menyantap makanannya. Sebenarnya dia memang sudah sangat lapar sejak tadi, tapi dia malu mengakuinya.

"Siapa namamu?" tanya Aksa sambil mengunyah makanannya. Akting mulai dimainkan seolah-olah dia tidak mengenal Inara sama sekali.

"Inara," jawab gadis itu.

"Hmm... Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Aksa lagi.

"Magang," jawab Inara singkat.

"Oh, jadi kau masih kuliah. Jurusan apa?" tanya Aksa lagi.

"Kedokteran," sahut Inara.

"Dari mana asal mu?" Aksa bertanya lagi.

"Jakarta," jawab Inara.

"Wow, dari Jakarta tapi malah magang di kota kecil seperti ini. Kenapa tidak magang di pulau Jawa saja?" tanya Aksa lagi.

"Aku sengaja menjauh, gara-gara kejadian malam itu aku diusir dari rumah." jelas Inara.

"Siapa yang mengusir mu?" Aksa menyipitkan matanya.

"Kakakku... Eh, maksudku Kakak angkat. Aku tidak ingin kejadian itu diketahui oleh kedua orang tuaku. Kalau aku tetap tinggal di sana, dia akan menyebarkan video itu. Itulah sebabnya kenapa aku menjauh. Aku hanya ingin menyelesaikan kuliahku secepatnya. Jika nanti aku sudah mendapatkan gelar dokter, aku akan menyicil rumah dan membawa kedua orang tuaku pergi dari rumah itu. Kami tidak mungkin selamanya menumpang di sana." ungkap Inara dengan mata berkaca.

Aksa menghela nafas dan menghentikan suapannya. "Apa kau membenci Kakakmu itu?" Aksa penasaran dan langsung menanyakan itu.

"Sangat, aku sangat membencinya. Dari kecil sampai detik ini dia selalu membenciku tanpa alasan yang jelas, aku bahkan tidak tau salahku dimana. Mungkin karena aku jelek dan menumpang di rumahnya." lirih Inara.

Aksa langsung terdiam setelah mendengar itu. Sekejam itukah dirinya sehingga memupuk kebencian di hati Inara untuknya? Aksa sendiri bingung kenapa dia harus membenci gadis yang duduk di sampingnya itu.

"Terima kasih untuk makanannya, aku pulang dulu. Besok-besok tidak usah menemui aku lagi, aku sudah mengikhlaskan kejadian itu. Biarkan aku melanjutkan hidup dengan caraku sendiri!"

Inara menaruh piring kotor itu di atas troli, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

Setelah Inara menghilang dari pandangannya, Aksa terperangah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Entah kenapa dia merasa tidak rela melepas Inara pergi darinya. Aksa kemudian berdiri dan berlari menyusul adiknya itu.

"Inara, aku antar ya!" seru Aksa dengan nafas tersengal.

"Tidak perlu, aku jalan kaki saja." sahut Inara, lalu melanjutkan langkahnya.

Kali ini Aksa terpaksa mengalah dan membiarkan Inara berjalan sesuai keinginannya, tapi Aksa tetap membuntutinya dari belakang untuk memastikan Inara selamat sampai kosannya.

Setelah Inara masuk ke dalam kosan, Aksa langsung memutar motornya dan kembali ke novotel untuk beristirahat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam telah pergi, matahari mulai menyingsing menyinari seluruh alam. Sebelum pukul delapan pagi Aksa sudah standby di depan kosan Inara, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya saat gadis itu keluar dari balik pintu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Inara menautkan alisnya.

"Pagi Inara," sapa Aksa tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

"Iya, pagi. Apa yang kau lakukan di sini?" Inara bertanya lagi.

"Menjemputmu, memangnya tidak boleh?" Aksa menyipitkan matanya.

"Bukankah sudah ku bilang untuk tidak menemui ku lagi, kenapa tidak mendengar ku?" Inara mengayunkan kakinya. Hal itu membuat Aksa mendengus kesal, dia melompat turun dari motor dan meraih tangan Inara.

"Hei, jangan menyentuhku!" Inara menepis tangan Aksa dengan kasar.

"Kenapa kau ini keras kepala sekali sih? Aku hanya ingin mengantarmu, bukankah kemarin kau bilang sudah tidak punya uang lagi? Lalu bagaimana dengan makan mu?" ucap Aksa mengkhawatirkan keadaan adiknya itu.

"Tidak perlu memikirkan aku, aku bisa mencari pekerjaan sampingan sepulang dari rumah sakit nanti. Kau pergilah, jangan buang waktumu untuk hal yang tidak penting seperti ini!" Inara kembali melanjutkan langkahnya.

"Inara..." Aksa mengerutkan keningnya, lalu dengan cepat menaiki motor dan menyusulnya.

"Inara, jangan seperti anak-anak begini! Ayo, naiklah!" pinta Aksa sambil memepet langkah Inara.

"Kau..." Inara menghentikan langkahnya dan mengepalkan tangannya dengan erat.

"Bolehkah aku membunuhmu? Aku sudah muak melihat wajahmu," geram Inara sambil mengangkat tangannya ingin mencakar muka Aksa, tapi urung dia lakukan karena takut terkena pasal penganiayaan.

"Kenapa berhenti? Ayo, lakukan!" Aksa mengulum senyumannya.

"Aaaaaa..."

Inara benar-benar geram hingga akhirnya meremas lengan Aksa sekuat yang dia bisa.

"Kurang kencang Ra, tidak ada rasanya." ucap Aksa yang terlihat biasa-biasa saja, dia malah tersenyum saat Inara meremas dan memukul lengannya.

"Uhhhhh..."

Inara mendengus kesal dan melengos pergi begitu saja. Dia benar-benar kehilangan akal menghadapi sikap menjengkelkan pria itu.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

ini semua km yg telah menekan Inara Aksa sehingga dia mengambil keputusan yg membuat hidupnya Susah, harus jauh dr org tuanya, km tega bgt ya, giliran dia mengambil keputusan untuk jauh dr km dan kel mu km bingung aneh km

2022-11-19

2

Susana Ana

Susana Ana

maumu apa sih kakak aksa kasian inara nya

2022-11-19

1

lihat semua
Episodes
1 TPTG BAB 1.
2 TPTG BAB 2.
3 TPTG BAB 3.
4 TPTG BAB 4.
5 TPTG BAB 5.
6 TPTG BAB 6.
7 TPTG BAB 7.
8 TPTG BAB 8.
9 TPTG BAB 9.
10 TPTG BAB 10.
11 TPTG BAB 11.
12 TPTG BAB 12.
13 TPTG BAB 13.
14 TPTG BAB 14.
15 TPTG BAB 15.
16 TPTG BAB 16.
17 TPTG BAB 17.
18 TPTG BAB 18.
19 TPTG BAB 19.
20 TPTG BAB 20.
21 TPTG BAB 21.
22 TPTG BAB 22.
23 TPTG BAB 23.
24 TPTG BAB 24.
25 TPTG BAB 25.
26 TPTG BAB 26.
27 TPTG BAB 27.
28 TPTG BAB 28.
29 TPTG BAB 29.
30 TPTG BAB 30.
31 TPTG BAB 31.
32 TPTG BAB 32.
33 TPTG BAB 33.
34 TPTG BAB 34.
35 TPTG BAB 35.
36 TPTG BAB 36.
37 TPTG BAB 37.
38 TPTG BAB 38.
39 TPTG BAB 39.
40 TPTG BAB 40.
41 TPTG BAB 41.
42 TPTG BAB 42.
43 TPTG BAB 43.
44 TPTG BAB 44.
45 TPTG BAB 45.
46 TPTG BAB 46.
47 TPTG BAB 47.
48 TPTG BAB 48.
49 TPTG BAB 49.
50 TPTG BAB 50.
51 TPTG BAB 51.
52 TPTG BAB 52.
53 TPTG BAB 53.
54 TPTG BAB 54.
55 TPTG BAB 55.
56 TPTG BAB 56.
57 TPTG BAB 57.
58 TPTG BAB 58.
59 TPTG BAB 59.
60 TPTG BAB 60.
61 TPTG BAB 61.
62 TPTG BAB 62.
63 TPTG BAB 63.
64 TPTG BAB 64.
65 TPTG BAB 65.
66 TPTG BAB 66.
67 TPTG BAB 67.
68 TPTG BAB 68.
69 TPTG BAB 69.
70 TPTG BAB 70.
71 TPTG BAB 71.
72 TPTG BAB 72.
73 TPTG BAB 73.
74 TPTG BAB 74.
75 TPTG BAB 75.
76 TPTG BAB 76.
77 TPTG BAB 77.
78 TPTG BAB 78.
79 TPTG BAB 79.
80 TPTG BAB 80.
81 TPTG BAB 81.
82 TPTG BAB 82.
83 TPTG BAB 83.
84 TPTG BAB 84.
85 TPTG BAB 85.
86 TPTG BAB 86.
87 TPTG BAB 87.
88 TPTG BAB 88.
89 TPTG BAB 89.
90 TPTG BAB 90.
91 TPTG BAB 91.
92 TPTG BAB 92.
93 TPTG BAB 93.
94 TPTG BAB 94.
95 TPTG BAB 95.
96 TPTG BAB 96.
97 TPTG BAB 97.
98 TPTG BAB 98.
99 TPTG BAB 99.
100 TPTG BAB 100.
101 TPTG BAB 101.
102 TPTG BAB 102.
103 TPTG BAB 103.
104 TPTG BAB 104.
105 TPTG BAB 105.
106 TPTG BAB 106.
107 TPTG BAB 107.
108 TPTG BAB 108.
109 TPTG BAB 109.
110 TPTG BAB 110.
111 TPTG BAB 111.
112 TPTG BAB 112.
113 TPTG BAB 113.
114 TPTG BAB 114.
115 TPTG BAB 115.
116 TPTG BAB 116.
117 TPTG BAB 117.
118 TPTG BAB 118.
119 TPTG BAB 119.
120 TPTG BAB 120.
121 TPTG BAB 121.
122 TPTG BAB 122.
123 TPTG BAB 123.
124 TPTG BAB 124.
125 TPTG BAB 125.
126 TPTG BAB 126.
127 TPTG BAB 127.
128 TPTG BAB 128.
129 TPTG BAB 129.
130 TPTG BAB 130.
131 TPTG BAB 131.
132 TPTG BAB 132.
133 TPTG BAB 133.
134 TPTG BAB 134.
135 TPTG BAB 135.
136 TPTG BAB TERAKHIR
Episodes

Updated 136 Episodes

1
TPTG BAB 1.
2
TPTG BAB 2.
3
TPTG BAB 3.
4
TPTG BAB 4.
5
TPTG BAB 5.
6
TPTG BAB 6.
7
TPTG BAB 7.
8
TPTG BAB 8.
9
TPTG BAB 9.
10
TPTG BAB 10.
11
TPTG BAB 11.
12
TPTG BAB 12.
13
TPTG BAB 13.
14
TPTG BAB 14.
15
TPTG BAB 15.
16
TPTG BAB 16.
17
TPTG BAB 17.
18
TPTG BAB 18.
19
TPTG BAB 19.
20
TPTG BAB 20.
21
TPTG BAB 21.
22
TPTG BAB 22.
23
TPTG BAB 23.
24
TPTG BAB 24.
25
TPTG BAB 25.
26
TPTG BAB 26.
27
TPTG BAB 27.
28
TPTG BAB 28.
29
TPTG BAB 29.
30
TPTG BAB 30.
31
TPTG BAB 31.
32
TPTG BAB 32.
33
TPTG BAB 33.
34
TPTG BAB 34.
35
TPTG BAB 35.
36
TPTG BAB 36.
37
TPTG BAB 37.
38
TPTG BAB 38.
39
TPTG BAB 39.
40
TPTG BAB 40.
41
TPTG BAB 41.
42
TPTG BAB 42.
43
TPTG BAB 43.
44
TPTG BAB 44.
45
TPTG BAB 45.
46
TPTG BAB 46.
47
TPTG BAB 47.
48
TPTG BAB 48.
49
TPTG BAB 49.
50
TPTG BAB 50.
51
TPTG BAB 51.
52
TPTG BAB 52.
53
TPTG BAB 53.
54
TPTG BAB 54.
55
TPTG BAB 55.
56
TPTG BAB 56.
57
TPTG BAB 57.
58
TPTG BAB 58.
59
TPTG BAB 59.
60
TPTG BAB 60.
61
TPTG BAB 61.
62
TPTG BAB 62.
63
TPTG BAB 63.
64
TPTG BAB 64.
65
TPTG BAB 65.
66
TPTG BAB 66.
67
TPTG BAB 67.
68
TPTG BAB 68.
69
TPTG BAB 69.
70
TPTG BAB 70.
71
TPTG BAB 71.
72
TPTG BAB 72.
73
TPTG BAB 73.
74
TPTG BAB 74.
75
TPTG BAB 75.
76
TPTG BAB 76.
77
TPTG BAB 77.
78
TPTG BAB 78.
79
TPTG BAB 79.
80
TPTG BAB 80.
81
TPTG BAB 81.
82
TPTG BAB 82.
83
TPTG BAB 83.
84
TPTG BAB 84.
85
TPTG BAB 85.
86
TPTG BAB 86.
87
TPTG BAB 87.
88
TPTG BAB 88.
89
TPTG BAB 89.
90
TPTG BAB 90.
91
TPTG BAB 91.
92
TPTG BAB 92.
93
TPTG BAB 93.
94
TPTG BAB 94.
95
TPTG BAB 95.
96
TPTG BAB 96.
97
TPTG BAB 97.
98
TPTG BAB 98.
99
TPTG BAB 99.
100
TPTG BAB 100.
101
TPTG BAB 101.
102
TPTG BAB 102.
103
TPTG BAB 103.
104
TPTG BAB 104.
105
TPTG BAB 105.
106
TPTG BAB 106.
107
TPTG BAB 107.
108
TPTG BAB 108.
109
TPTG BAB 109.
110
TPTG BAB 110.
111
TPTG BAB 111.
112
TPTG BAB 112.
113
TPTG BAB 113.
114
TPTG BAB 114.
115
TPTG BAB 115.
116
TPTG BAB 116.
117
TPTG BAB 117.
118
TPTG BAB 118.
119
TPTG BAB 119.
120
TPTG BAB 120.
121
TPTG BAB 121.
122
TPTG BAB 122.
123
TPTG BAB 123.
124
TPTG BAB 124.
125
TPTG BAB 125.
126
TPTG BAB 126.
127
TPTG BAB 127.
128
TPTG BAB 128.
129
TPTG BAB 129.
130
TPTG BAB 130.
131
TPTG BAB 131.
132
TPTG BAB 132.
133
TPTG BAB 133.
134
TPTG BAB 134.
135
TPTG BAB 135.
136
TPTG BAB TERAKHIR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!