TPTG BAB 11.

Aksa meninggalkan novotel seperempat jam sebelum Inara pulang dari rumah sakit. Baru saja Aksa memarkirkan motornya di depan gerbang, batang hidung Inara sudah muncul di hadapannya.

"Sore Ra, sudah pulang?" sapa Aksa dengan senyumnya yang menawan.

"Kau lagi, kau lagi." Inara mendengus kesal. "Kau ini sebenarnya siapa sih? Apa yang kau inginkan dariku? Kenapa membuntuti aku terus?" cerca Inara dengan beberapa pertanyaan.

Air muka Inara mendadak keruh, dia mulai kesal melihat pria itu lagi dan lagi. Kenapa dunia ini begitu sempit?

"Astaga," Aksa menepuk keningnya. "Sorry Ra, aku lupa memperkenalkan diriku padamu. Kenalkan, namaku Ak-" Aksa menghentikan ucapannya. "Akbar..." lanjut Aksa sambil mengulurkan tangannya.

Inara memukul tangan Aksa. "Aku tidak peduli. Yang aku tanyakan, kenapa kau selalu saja membuntutiku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengganggu orang?" Inara menajamkan tatapannya.

"Jangan galak-galak gitu Ra! Ingat, kebencian adalah awal dari sebuah perasaan!" seloroh Aksa sambil menahan tawanya.

"Kalau benci ya benci saja, jangan kegeeran! Aku tidak akan pernah memiliki perasaan padamu, kau pikir aku tidak tau bagaimana kelakuanmu. Kau itu pria bajingan, belum kenal saja sudah berani menciumku. Bagaimana kalau sudah kenal? Dasar pria mesum!"

Setelah mengatakan itu, Inara langsung berlalu meninggalkan Aksa yang masih bertengger di atas motor. Aksa melebarkan senyumannya, dia mulai gemas dengan penolakan adiknya itu.

"Kau benar-benar menguji kesabaranku Inara. Semakin kau menjauh, aku malah semakin tertantang untuk mendekatimu. Lihat saja apa yang bisa ku lakukan padamu!"

Aksa menyalakan motor dan segera menyusul Inara yang sudah menjauh darinya. Seperti tadi pagi, Aksa mengikuti Inara dari samping sambil memutar gas motornya dengan pelan.

"Temani aku makan dulu yuk!" ajak Aksa.

"Malas," ketus Inara sambil mempercepat langkahnya.

"Jangan keras kepala, aku janji tidak akan macam-macam padamu! Aku hanya ingin menceritakan apa yang terjadi malam itu, kau tidak ingin mengetahuinya?" terang Aksa.

"Tidak usah, semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, anggap saja kita tidak pernah melakukan itu!" jawab Inara.

Aksa mengerutkan keningnya. "Mana mungkin aku menganggap itu tidak pernah terjadi, kau sudah menciumku."

Inara menghentikan langkahnya dan menatap Aksa dengan intens. "Maaf, aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku. Malam itu aku tidak sadar, aku dibawah pengaruh obat. Tolong mengertilah!"

"Apa itu artinya ciuman itu tidak berarti apa-apa bagimu?" Aksa membalas tatapan Inara, matanya terlihat sayu.

"Tentu saja tidak, diantara kau dan aku tidak ada hubungan apa-apa. Kita hanya kebetulan bertemu disaat yang salah. Jika waktu itu aku tidak diculik, aku tidak akan mungkin menciummu." jelas Inara.

Mendengar itu, air muka Aksa mendadak gelap. Dia pikir akan ada bekas di hati Inara setelah kejadian itu tapi ternyata dia salah, Inara tak merasakan apa-apa setelah kejadian itu.

Aksa mengusap wajahnya dengan kasar, hembusan nafasnya terdengar berat. "Apa kau sudah biasa seperti ini? Setelah memberi harapan, lalu menghempaskan perasaan orang sesuka hatimu."

"Kau salah, aku bukan wanita seperti itu. Kejadian itu murni di bawah kesadaranku, aku tidak mungkin mencium orang sembarangan."

Setelah mengatakan itu, Inara membuang pandangannya ke arah lain lalu melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Aksa yang masih mematung di atas motor.

Kali ini Aksa terpaksa mengalah, dia membiarkan Inara lepas begitu saja dari pandangannya lalu memilih kembali ke novotel.

Terang berganti gelap, Aksa masih duduk di balkon kamar sambil menatap sepasang pegunungan yang menjulang tinggi di hadapannya. Lampu-lampu berkilauan menghiasi kedua gunung itu, terlihat indah dipandang mata.

Sayangnya pikiran Aksa tak seindah pemandangan itu, dia mulai galau memikirkan perasaannya sendiri. Entah apa yang terjadi dengannya? Sejak malam di kota Busan waktu itu, dia mulai merasakan ada yang salah dengan dirinya.

Perasaan yang dia miliki bukan lagi perasaan seorang kakak terhadap adiknya tapi sudah seperti perasaan seorang pria terhadap seorang wanita.

Aksa mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Apa dia salah menaruh perasaan ini kepada adiknya?

Dalam pemikiran yang tengah bercakak di benaknya, Aksa meraih ponsel yang ada di atas meja. Dia menghubungi nomor Inara yang tempo hari dia dapatkan dari Riska yang merupakan sahabat adiknya itu.

"Halo," Suara Inara terdengar jelas di telinga Aksa.

"Kau dimana?" Suara bariton Aksa membuat Inara tersentak kaget. Dari mana pria bajingan itu mendapatkan nomor teleponnya yang baru?

"Apa pentingnya bagimu? Ingat, aku sudah menuruti kemauanmu. Mulai detik ini tidak usah menghubungi aku lagi! Kau bukan kakakku, aku tidak punya kakak sepertimu. Kakakku sudah mati,"

Inara meninggikan suaranya, tak terasa air matanya mengalir begitu saja mengingat kejadian waktu itu. Tidak hanya menghinanya, Aksa bahkan sudah membuat harga dirinya hancur sehancur hancurnya.

Kakak seperti apa yang tega menghina adiknya sendiri? Kakak seperti apa yang tega memanfaatkan keterpurukan adiknya dan mengambil keuntungan dari itu? Inara benar-benar kehilangan muka dibuatnya.

"Kau dimana? Aku akan menjemputmu sekarang juga," Aksa berkata dengan penuh penekanan.

"Untuk apa menjemputku? Apa kau belum puas juga menghinaku? Kau bahkan sudah mengusirku, apa lagi yang kau inginkan dariku?" Inara terisak, hal itu terdengar jelas di telinga Aksa.

"Inara, cukup membuat drama seperti ini! Apa kau tidak punya otak? Bunda sangat mengkhawatirkan keadaanmu, begitu juga dengan Mama, Ayah dan juga Papa. Kau jangan kekanak-kanakan begini, ini-"

"Aku tau mereka semua mengkhawatirkanku, aku akan kembali setelah magang ku selesai dan aku akan membawa kedua orang tuaku pergi dari rumahmu. Kau tenang saja, aku tau siapa diriku dan dimana posisiku. Aku dan keluargaku tidak akan menyusahkan keluargamu lagi." potong Inara yang sama sekali tidak mau mengalah.

Sudah cukup dia menahan hati selama ini, dari kecil hingga saat ini Aksa selalu saja memperlihatkan kebencian pada dirinya. Inara tak habis pikir, entah kesalahan apa yang sudah dia perbuat di masa lalu.

"Tolong katakan pada semuanya bahwa aku baik-baik saja, aku akan kembali setelah waktunya tiba. Dan pada saat itu tiba, aku dan keluargaku tidak akan jadi benalu lagi di rumahmu."

Inara mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, dia sudah muak berdebat dengan pria iblis yang tidak punya hati itu. Kebenciannya sudah menggunung hingga tak ada lagi kata maaf untuk Aksa.

Inara pikir setelah mereka dewasa semuanya akan berubah, tapi ternyata dia salah. Sampai kapan pun Aksa tidak akan pernah menganggapnya sebagai seorang adik karena memang begitulah kenyataannya.

Aksa mengeratkan rahangnya, tangannya mengepal erat menggenggam ponsel yang ada di tangannya. Sudah cukup dia mengalah selama beberapa hari ini dengan wujud orang lain, dia bahkan sudah berusaha melunak untuk meluluhkan hati Inara. Tapi ternyata hati gadis itu lebih keras dari batu.

Aksa menajamkan tatapannya, dia masuk ke dalam kamar dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam lalu meninggalkan novotel dan menaiki sepeda motor menuju kosan Inara.

Sekitar pukul setengah delapan malam motor sport itu sudah terparkir di depan kosan Inara. Aksa meminta izin kepada ibu kos dan mengatakan bahwa dia adalah kakaknya Inara. Tentu saja pemilik kosan itu mengizinkannya masuk dan mengantarnya sampai pintu kamar yang ditempati gadis itu.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

mangkanya kalo ngomong itu dipikirkan dulu apa yg akan kita ucapkan, apa itu akan menyakiti org lain atau tdk, wanita itu sangat sensitif Aksa, apa lg kalau harga dirinya tlh dihancurkan, tdkkah kau sdr dgn ucapanmu yg dgt menyakitkan bg Inara

2022-11-20

5

lihat semua
Episodes
1 TPTG BAB 1.
2 TPTG BAB 2.
3 TPTG BAB 3.
4 TPTG BAB 4.
5 TPTG BAB 5.
6 TPTG BAB 6.
7 TPTG BAB 7.
8 TPTG BAB 8.
9 TPTG BAB 9.
10 TPTG BAB 10.
11 TPTG BAB 11.
12 TPTG BAB 12.
13 TPTG BAB 13.
14 TPTG BAB 14.
15 TPTG BAB 15.
16 TPTG BAB 16.
17 TPTG BAB 17.
18 TPTG BAB 18.
19 TPTG BAB 19.
20 TPTG BAB 20.
21 TPTG BAB 21.
22 TPTG BAB 22.
23 TPTG BAB 23.
24 TPTG BAB 24.
25 TPTG BAB 25.
26 TPTG BAB 26.
27 TPTG BAB 27.
28 TPTG BAB 28.
29 TPTG BAB 29.
30 TPTG BAB 30.
31 TPTG BAB 31.
32 TPTG BAB 32.
33 TPTG BAB 33.
34 TPTG BAB 34.
35 TPTG BAB 35.
36 TPTG BAB 36.
37 TPTG BAB 37.
38 TPTG BAB 38.
39 TPTG BAB 39.
40 TPTG BAB 40.
41 TPTG BAB 41.
42 TPTG BAB 42.
43 TPTG BAB 43.
44 TPTG BAB 44.
45 TPTG BAB 45.
46 TPTG BAB 46.
47 TPTG BAB 47.
48 TPTG BAB 48.
49 TPTG BAB 49.
50 TPTG BAB 50.
51 TPTG BAB 51.
52 TPTG BAB 52.
53 TPTG BAB 53.
54 TPTG BAB 54.
55 TPTG BAB 55.
56 TPTG BAB 56.
57 TPTG BAB 57.
58 TPTG BAB 58.
59 TPTG BAB 59.
60 TPTG BAB 60.
61 TPTG BAB 61.
62 TPTG BAB 62.
63 TPTG BAB 63.
64 TPTG BAB 64.
65 TPTG BAB 65.
66 TPTG BAB 66.
67 TPTG BAB 67.
68 TPTG BAB 68.
69 TPTG BAB 69.
70 TPTG BAB 70.
71 TPTG BAB 71.
72 TPTG BAB 72.
73 TPTG BAB 73.
74 TPTG BAB 74.
75 TPTG BAB 75.
76 TPTG BAB 76.
77 TPTG BAB 77.
78 TPTG BAB 78.
79 TPTG BAB 79.
80 TPTG BAB 80.
81 TPTG BAB 81.
82 TPTG BAB 82.
83 TPTG BAB 83.
84 TPTG BAB 84.
85 TPTG BAB 85.
86 TPTG BAB 86.
87 TPTG BAB 87.
88 TPTG BAB 88.
89 TPTG BAB 89.
90 TPTG BAB 90.
91 TPTG BAB 91.
92 TPTG BAB 92.
93 TPTG BAB 93.
94 TPTG BAB 94.
95 TPTG BAB 95.
96 TPTG BAB 96.
97 TPTG BAB 97.
98 TPTG BAB 98.
99 TPTG BAB 99.
100 TPTG BAB 100.
101 TPTG BAB 101.
102 TPTG BAB 102.
103 TPTG BAB 103.
104 TPTG BAB 104.
105 TPTG BAB 105.
106 TPTG BAB 106.
107 TPTG BAB 107.
108 TPTG BAB 108.
109 TPTG BAB 109.
110 TPTG BAB 110.
111 TPTG BAB 111.
112 TPTG BAB 112.
113 TPTG BAB 113.
114 TPTG BAB 114.
115 TPTG BAB 115.
116 TPTG BAB 116.
117 TPTG BAB 117.
118 TPTG BAB 118.
119 TPTG BAB 119.
120 TPTG BAB 120.
121 TPTG BAB 121.
122 TPTG BAB 122.
123 TPTG BAB 123.
124 TPTG BAB 124.
125 TPTG BAB 125.
126 TPTG BAB 126.
127 TPTG BAB 127.
128 TPTG BAB 128.
129 TPTG BAB 129.
130 TPTG BAB 130.
131 TPTG BAB 131.
132 TPTG BAB 132.
133 TPTG BAB 133.
134 TPTG BAB 134.
135 TPTG BAB 135.
136 TPTG BAB TERAKHIR
Episodes

Updated 136 Episodes

1
TPTG BAB 1.
2
TPTG BAB 2.
3
TPTG BAB 3.
4
TPTG BAB 4.
5
TPTG BAB 5.
6
TPTG BAB 6.
7
TPTG BAB 7.
8
TPTG BAB 8.
9
TPTG BAB 9.
10
TPTG BAB 10.
11
TPTG BAB 11.
12
TPTG BAB 12.
13
TPTG BAB 13.
14
TPTG BAB 14.
15
TPTG BAB 15.
16
TPTG BAB 16.
17
TPTG BAB 17.
18
TPTG BAB 18.
19
TPTG BAB 19.
20
TPTG BAB 20.
21
TPTG BAB 21.
22
TPTG BAB 22.
23
TPTG BAB 23.
24
TPTG BAB 24.
25
TPTG BAB 25.
26
TPTG BAB 26.
27
TPTG BAB 27.
28
TPTG BAB 28.
29
TPTG BAB 29.
30
TPTG BAB 30.
31
TPTG BAB 31.
32
TPTG BAB 32.
33
TPTG BAB 33.
34
TPTG BAB 34.
35
TPTG BAB 35.
36
TPTG BAB 36.
37
TPTG BAB 37.
38
TPTG BAB 38.
39
TPTG BAB 39.
40
TPTG BAB 40.
41
TPTG BAB 41.
42
TPTG BAB 42.
43
TPTG BAB 43.
44
TPTG BAB 44.
45
TPTG BAB 45.
46
TPTG BAB 46.
47
TPTG BAB 47.
48
TPTG BAB 48.
49
TPTG BAB 49.
50
TPTG BAB 50.
51
TPTG BAB 51.
52
TPTG BAB 52.
53
TPTG BAB 53.
54
TPTG BAB 54.
55
TPTG BAB 55.
56
TPTG BAB 56.
57
TPTG BAB 57.
58
TPTG BAB 58.
59
TPTG BAB 59.
60
TPTG BAB 60.
61
TPTG BAB 61.
62
TPTG BAB 62.
63
TPTG BAB 63.
64
TPTG BAB 64.
65
TPTG BAB 65.
66
TPTG BAB 66.
67
TPTG BAB 67.
68
TPTG BAB 68.
69
TPTG BAB 69.
70
TPTG BAB 70.
71
TPTG BAB 71.
72
TPTG BAB 72.
73
TPTG BAB 73.
74
TPTG BAB 74.
75
TPTG BAB 75.
76
TPTG BAB 76.
77
TPTG BAB 77.
78
TPTG BAB 78.
79
TPTG BAB 79.
80
TPTG BAB 80.
81
TPTG BAB 81.
82
TPTG BAB 82.
83
TPTG BAB 83.
84
TPTG BAB 84.
85
TPTG BAB 85.
86
TPTG BAB 86.
87
TPTG BAB 87.
88
TPTG BAB 88.
89
TPTG BAB 89.
90
TPTG BAB 90.
91
TPTG BAB 91.
92
TPTG BAB 92.
93
TPTG BAB 93.
94
TPTG BAB 94.
95
TPTG BAB 95.
96
TPTG BAB 96.
97
TPTG BAB 97.
98
TPTG BAB 98.
99
TPTG BAB 99.
100
TPTG BAB 100.
101
TPTG BAB 101.
102
TPTG BAB 102.
103
TPTG BAB 103.
104
TPTG BAB 104.
105
TPTG BAB 105.
106
TPTG BAB 106.
107
TPTG BAB 107.
108
TPTG BAB 108.
109
TPTG BAB 109.
110
TPTG BAB 110.
111
TPTG BAB 111.
112
TPTG BAB 112.
113
TPTG BAB 113.
114
TPTG BAB 114.
115
TPTG BAB 115.
116
TPTG BAB 116.
117
TPTG BAB 117.
118
TPTG BAB 118.
119
TPTG BAB 119.
120
TPTG BAB 120.
121
TPTG BAB 121.
122
TPTG BAB 122.
123
TPTG BAB 123.
124
TPTG BAB 124.
125
TPTG BAB 125.
126
TPTG BAB 126.
127
TPTG BAB 127.
128
TPTG BAB 128.
129
TPTG BAB 129.
130
TPTG BAB 130.
131
TPTG BAB 131.
132
TPTG BAB 132.
133
TPTG BAB 133.
134
TPTG BAB 134.
135
TPTG BAB 135.
136
TPTG BAB TERAKHIR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!