Setelah kurang lebih setengah jam menunggu, Aksa mengukir senyum ketika melihat Inara keluar dari pintu kosan. Inara benar-benar terlihat cantik meski dengan wajah polos yang hanya berhiaskan lipstik dan sedikit eyeshadow tipis di mukanya. Jantung Aksa seketika berguncang seperti tengah lari maraton.
Dia mengakui bahwa Inara memiliki daya tarik tersendiri yang mampu meluluh lantakkan hatinya. Dada Aksa benar-benar ngilu dibuatnya. Apa arti dari semua ini? Apa Aksa sudah jatuh cinta pada adiknya itu?
Tidak, tidak, Aksa berusaha menepis perasaannya. Tidak mungkin dia jatuh cinta pada Inara, apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tua mereka nantinya?
Tapi Aksa tidak bisa membohongi perasaannya. Dia menyukai gadis itu, dia menginginkannya. Apa Aksa salah menyimpan rasa itu untuk Inara? Apalagi mengingat kejadian di hotel pagi ini, Aksa yakin dengan perasaannya. Dia tidak akan mudah tergoda jika tidak memiliki perasaan di hatinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Inara yang membuat lamunan Aksa buyar seketika.
"Cantik..." batin Aksa sambil meremas dadanya, rasa ngilu itu masih terasa seakan menyayat jantungnya.
"Hei, kenapa bengong saja? Aku bicara padamu," ketus Inara meninggikan suaranya.
"I-Iya sayang, kenapa?" Aksa tergugu hingga tanpa sadar telah memanggil Inara dengan sebutan sayang.
Inara menautkan alisnya, dia tak menampik bahwa barusan hatinya sedikit meleleh mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Aksa. Pipi Inara mendadak bersemu merah meski tanpa blush on sekali pun.
"Astaga, dia memanggilku sayang. Apa aku sedang bermimpi? Apa aku harus bahagia atau sedih mendengar ini?" Sungguh hal itu membuat Inara dilema.
"Sudah siap kan? Ayo, naik!" ajak Aksa sambil mengulurkan tangannya, dia masih belum sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.
Inara tersenyum kecil dan meraih tangan Aksa lalu naik ke atas motor. Tanpa disuruh, Inara langsung melingkarkan tangannya di pinggang kakaknya itu. Tentu saja hal itu membuat Aksa tersenyum penuh kebahagiaan.
Aksa kemudian menyalakan motor dan menarik gas dengan pelan, motor itu pun melaju meninggalkan kosan Inara.
"Kenapa pelan sekali? Kapan sampainya kalau begini?" tanya Inara sambil menopang dagunya di pundak Aksa.
"Kencang atau pelan, yang penting sampai kan?" jawab Aksa enteng, lalu menggenggam tangan Inara dengan sebelah tangannya.
"Akbar, jangan dilepas! Aku takut jatuh," keluh Inara dengan bibir mengerucut.
"Tidak akan jatuh, jangan takut! Peluk saja yang erat!" sahut Aksa sambil melirik Inara melalui kaca spion. Bibir manyun Inara itu membuatnya sangat gemas.
Inara mengangguk lemah dan mengencangkan pelukannya. Hal itu membuat Aksa makin gemas, dia sangat menyukai Inara yang penurut seperti ini.
Tidak lama, motor yang dikendarai Aksa berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Inara melepaskan pelukannya dan memegang bahu Aksa, lalu turun dari motor itu.
"Makasih ya," ucap Inara sambil tersenyum dengan manisnya.
"Kenapa cuma makasih doang? Cium kek, peluk kek pacarnya." goda Aksa hingga membuat pipi Inara merona merah.
"Jangan nakal, di sini banyak orang. Malu dikit ngapa," jawab Inara dengan mata membulat besar.
"Hehehe... Iya, iya, tapi kalau lagi berdua boleh kan?" Aksa tak hentinya menggoda Inara, dia sangat suka melihat kepolosan adiknya itu.
"Tidak boleh!" Inara menajamkan tatapannya. "Pulanglah, aku masuk dulu!" imbuh Inara sambil berbalik.
"Ra, tunggu sebentar!" seru Aksa yang membuat Inara tidak jadi melangkahkan kakinya.
"Apa lagi?" keluh Inara sembari berbalik.
Aksa merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah dompet, lalu mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan yang masih tersisa di dalamnya.
"Pegang ini!" Aksa menyodorkan uang itu ke tangan Inara. "Jangan menolak, simpan buat makan siang nanti!" imbuh Aksa sebelum Inara sempat menolaknya.
Inara menautkan alisnya, mau tidak mau dia terpaksa mengambil uang itu karena memang dia sangat membutuhkannya. Lagian dia tak pernah meminta, pria itu sendiri yang memberikannya.
"Oke, aku terima. Makasih," Inara mengambil alih uang itu dari tangan Aksa, dia tersenyum lalu berbalik dan meninggalkan Aksa begitu saja.
Aksa yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dibalik sikap keras kepala adiknya itu, ternyata Inara memiliki sisi lain yang selama ini tidak Aksa ketahui. Tentu saja hal itu membuat Aksa semakin penasaran.
Setelah punggung Inara menghilang dari pandangannya, Aksa kembali menyalakan motor dan melaju menuju novotel. Sepertinya dia harus menghubungi keluarganya untuk memberitahu keadaan Inara, Aksa tidak ingin semua orang terus-terusan mengkhawatirkan adiknya itu.
Sepuluh menit berselang, motor yang dikendarai Aksa sudah terparkir di depan novotel. Aksa turun dan melangkah masuk ke dalam sana, lalu memasuki lift menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Aksa melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan sebuah boxer yang menutupi bagian sensitif nya saja. Dia kemudian mengambil ponsel yang terletak di atas nakas lalu duduk di sofa sambil menghubungi nomor telepon Aina.
"Halo sayang, Aksa dimana Nak? Kenapa susah sekali menghubungi Aksa? Apa Aksa sudah menemukan Inara?"
Baru saja panggilan telepon itu terhubung, Aina sudah mencerca Aksa dengan berbagai macam pertanyaan yang membuat putranya itu bingung harus menjawab yang mana lebih dulu.
"Mama sayang, bicaranya pelan-pelan dong Ma! Aksa akan menjelaskannya satu persatu, tapi Mama tenang dulu ya!" ucap Aksa sambil tertawa kecil.
"I-Iya sayang, maafin Mama ya. Mama terlalu senang sehingga kehilangan kendali dibuatnya." sahut Aina yang kemudian berusaha menenangkan dirinya.
"Tidak apa-apa Ma, Aksa mengerti. Sekarang Mama panggil Bunda dulu ya, jangan lupa nyalain pengeras suaranya biar Bunda juga dengar apa yang mau Aksa bicarakan!" pinta Aksa.
"Iya sayang, tunggu sebentar ya!"
Aina langsung berhamburan dari dalam kamar dan berlari memasuki lift menuju lantai bawah. Kebetulan Nayla tengah berada di dapur, Aina menarik tangannya dan membawanya ke taman belakang.
"Aina, ada apa? Kenapa main tarik-tarik begini?" tanya Nayla yang tergopoh-gopoh mengikuti langkah Aina.
"Ikut saja! Kamu tidak mau bicara dengan putramu?" Aina terus saja menarik Nayla sampai gazebo yang ada di taman belakang.
Setelah keduanya duduk, Aina langsung menyalakan pengeras suara.
"Aksa, ini Mama sudah duduk sama Bunda. Aksa bicaralah!" pinta Aina yang sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang mau dibicarakan oleh putra sulungnya itu.
"Aksa, ini Bunda Nak. Bicaralah sayang! Apa Aksa sudah menemukan Inara?" sambung Nayla yang juga tidak sabar ingin mendengar penjelasan Aksa.
"Mama, Bunda, kalian berdua tenang dulu ya. Jangan panik begitu!" timpal Aksa sambil tertawa kecil.
"Tidak sayang, Bunda dan Mama tidak panik. Ayo, bicaralah!" sahut Nayla mencoba menenangkan diri.
"Mama dan Bunda tidak perlu khawatir, Inara sudah ada bersama Aksa. Gadis nakal itu baik-baik saja, tidak ada yang kurang dengan dirinya. Dia sedang fokus dengan magangnya, jadi untuk sementara waktu biarkan Inara menyendiri dulu." jelas Aksa.
"Aksa, kamu tidak bercanda kan Nak?" tanya Aina.
"Tidak Ma, Aksa berkata jujur. Aksa sudah menemukan Inara, katanya akan kembali setelah tiga atau enam bulan lagi. Sekarang Inara sedang bekerja di rumah sakit, Aksa sendiri yang mengantarnya pagi ini." terang Aksa.
"Tapi kenapa Inara mengganti nomor teleponnya Nak, rekeningnya juga tidak aktif." tanya Nayla.
"Nayla itu gadis yang cerdas Bun, dia tidak mau memanfaatkan keluarganya. Dia ingin mandiri dan mendapatkan gelar dokter karena kemampuannya sendiri, itu saja." jawab Aksa memberi alibi. Dia tidak ingin keluarganya tau alasan Inara pergi, Aksa lah yang bertanggung jawab untuk itu.
"Syukurlah kalau benar begitu. Sepulang dari rumah sakit nanti bisa kan Bunda bicara sama Inara? Bunda kangen," pinta Nayla yang membuat Aksa terperanjat kaget.
Bagaimana caranya mewujudkan itu, yang Inara tau dirinya bukanlah Aksa tapi orang lain.
"Bun, Inara masih ingin fokus dengan tugasnya. Bunda sabar dulu ya, pokoknya Aksa akan menjaga Inara selama berada di sini." Aksa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Bun sudah dulu ya, Aksa mau ke kamar mandi dulu. Perut Aksa tiba-tiba mules nih. Aww..."
Aksa mematikan panggilan itu secara sepihak dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sebenarnya tidak tega membodohi Aina dan juga Nayla, tapi semua sudah terjadi dan Aksa tidak mungkin berhenti di tengah jalan.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
awas dosa loh Aksa dah bohongin ortumu, puyeng kan kau Aksa mangkanya jgn kebanyakan boong, blm lg kalau Inara tau kalau Akbar dan Aksa adalah 1 org yg sm gmn perasaannya semoga setelah itu terjadi Inara sdh bnr2 cinta sm kamu biar dia ngak marah2 bgt gitu
2022-11-22
3
mom kayla rafis
gmn perasaan inara nanti yaa kalau tau akbar itu aksa 🤭🤭🤭
2022-11-22
1