Keesokan harinya, Inara terbangun sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Dia memijat dahinya, mata anggurnya tiba-tiba menyipit. Bayangan semalam mendadak terlintas di benaknya, dia ingat betul ada seorang pria yang datang dan mendekatinya.
Jelas terlihat bahwa pria itu sangat tampan dengan mata tajamnya yang berwarna biru terang, tubuh kekar pria itu dipenuhi tato sampai punggung tangannya.
Inara kemudian menatap sekelilingnya dengan seksama tapi tak melihat siapapun di sana, dia justru terperanjat menyaksikan tubuhnya yang sudah separuh telanjang. Inara menautkan alisnya bingung.
Apa yang terjadi dengannya? Kenapa tubuhnya hanya menyisakan bra saja? Dia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Apa yang terjadi semalam? Lalu kemana pria itu? Siapa dia?
Pertanyaan demi pertanyaan membelit di benak Inara. Dia kemudian memeriksa setiap inci tubuhnya, tidak ada yang kurang dari dirinya.
"Braaak!"
Inara terlonjak saat mendengar suara benturan pintu yang sangat keras. Dia bergegas meraih bajunya dan mengenakannya terburu-buru.
Seorang pria tampan berdiri di hadapannya dengan tubuh tegap dan tatapan mata yang sangat tajam seperti mata elang. Sekilas terlihat mirip dengan pria yang dia lihat semalam, tapi memiliki mata dan model rambut yang berbeda. Manik mata pria itu berwarna biru terang, sedangkan pria ini memiliki manik mata berwarna coklat terang. Pria ini tidak memiliki tato di punggung tangannya, berbeda dengan pria semalam. Kulitnya juga terlihat bersih, jelas mereka berdua bukanlah orang yang sama.
"Apa yang kau lakukan di sini hah? Apa kau ingin menjadi wanita murahan, atau ingin menjual diri di klub malam seperti ini?" hina pria itu dengan suaranya yang lantang dan tegas.
Inara menautkan alisnya, dia sangat mengenali suara itu. "Kak Aksa, apa ini kamu Kak?"
Inara ingin mendekat tapi tatapan binatang buas yang diperlihatkan Aksa membuat nyalinya menciut, dia takut karena tau Aksa memiliki watak yang keras dan sukar sekali dijinakkan.
"Jawab pertanyaan ku, jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Aksa hingga membuat Inara terpaku di tempat duduknya.
"Kakak salah paham. Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan. Aku diculik dan dibawa ke sini, aku juga tidak ingin berada di tempat ini." jawab Inara dengan suara tak kalah lantangnya. Dia tidak rela dituduh seperti itu, dia bukan wanita murahan seperti yang dituduhkan Aksa padanya.
"Tidak perlu membela diri di depanku! Kau pikir aku ini bodoh, aku punya buktinya. Kau sudah bermalam dengan seorang pria dan hal itu sudah tersebar di media sosial. Apa kau tidak punya rasa malu? Bagaimana kalau Ayah dan Papa tau tentang ini? Kau sudah mencoreng nama baik mereka dengan kelakuan menjijikkan mu itu." geram Aksa sambil melemparkan sebuah ponsel ke muka Inara hingga membuat gadis itu terkejut dan menitikkan air matanya.
Inara bergeming beberapa detik, tangannya tiba-tiba bergetar saat meraih ponsel itu. Ketika membukanya, mata Inara membulat dengan sempurna. Dia tergugu tanpa sanggup berkata-kata.
Kenapa ada video seperti itu di tangan Aksa? Apa pria semalam menjebaknya? Itu artinya pria itu sudah mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi.
Inara kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia sama sekali tidak menyangka, sejak kapan dia bisa bertingkah liar seperti di video itu?Sungguh menjijikkan menurutnya.
"Kak..."
Inara mencoba menjelaskan, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Aksa lalu berlutut di kakinya.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Aksa sambil mundur satu langkah ke belakang.
"Kak, ini tidak seperti yang Kakak pikirkan. Aku tidak sadar, aku tidak ingat apa-apa. Aku benar-benar diculik dan tidak tau kenapa bisa berada di sini. Aku bisa jamin bahwa aku tidak melakukan itu, aku masih perawan Kak. Tolong percaya padaku!" jelas Inara terisak sambil menekuk wajahnya, air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung.
"Apa yang membuatmu sangat yakin bahwa kau masih perawan?" tanya Aksa dengan senyuman liciknya.
"Aku yakin karena aku tidak melakukannya, bawa saja aku ke rumah sakit kalau Kakak tidak percaya! Aku tidak merasa ada yang kurang dari diriku." terang Inara penuh keyakinan.
"Lalu bagaimana dengan video itu? Di sana terlihat jelas bahwa kau sedang bercumbu dengan pria asing itu. Kalian saling-"
"Kak, aku minta maaf. Video itu benar dan hanya sebatas itu, tolong percaya padaku! Sekarang juga kita ke rumah sakit untuk membuktikannya, aku tidak merasakan apa-apa. Bukankah kata orang kehilangan keperawanan itu rasanya sangat menyakitkan?" terang Inara dengan polosnya. Dia sangat yakin bahwa dirinya masih perawan, dia tidak takut membuktikannya.
Mendengar itu, pipi Aksa tiba-tiba menggembung menahan tawa. Sungguh adik yang sangat bodoh, mana mungkin Aksa melakukan itu padanya. Selain ada ikatan keluarga diantara mereka, Aksa juga tidak mungkin melakukan hal tak senonoh itu sebelum waktunya. Selama ini dia selalu menjaga diri untuk hal yang satu itu.
"Aku harus menceritakan ini pada Ayah," Aksa merogoh kantong celananya, dia berniat menghubungi Hendru untuk menakut-nakuti Inara. Saat Aksa menekan tombol ponselnya, Inara langsung bangkit dan melingkarkan tangannya di lengan Aksa hingga tangan kakaknya itu terkunci di dalam pelukannya.
"Jangan Kak, aku mohon. Mereka tidak boleh tau tentang ini, tolong kasihanilah aku!" pinta Inara dengan air muka memelas.
Disaat bersamaan, rambut Inara menempel di wajah Aksa sehingga membuat dadanya berdenyut ngilu. Ada yang aneh dengan hati dan perasaannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?
"Kak, aku siap melakukan apa saja asal Kakak tidak menceritakan ini pada Ayah atau pun yang lain. Tolong ya Kak, cukup kita saja yang tau!" imbuh Inara memohon, suaranya terdengar lembut hingga mampu menggetarkan hati Aksa.
Inara kemudian mendongakkan kepalanya, tatapan keduanya saling bertemu dan saling terpaku untuk beberapa saat.
"Kau yakin mau melakukan apa saja?" tanya Aksa memastikan, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya.
Inara mengangguk lemah pertanda siap melakukan apa saja agar Aksa tidak memberitahu kejadian itu pada keluarga mereka. "Iya, bahkan jika Kakak mau aku mencium kaki Kakak, aku akan melakukannya sekarang juga."
"Kau sungguh mau mencium kakiku?" Aksa mengerutkan keningnya.
"Iya Kak, aku juga siap jadi budak Kakak asal kejadian ini tidak tersebar di keluarga kita." angguk Inara pasrah.
"Tapi sayangnya aku tidak menginginkan itu darimu," Aksa mengukir senyuman miring di bibirnya.
"Lalu apa yang Kakak inginkan? Katakan saja padaku!" Inara menautkan alisnya.
"Aku ingin kau melakukan hal yang sama padaku, jadikan aku model pria nya!" pinta Aksa dengan santainya.
Entah kenapa sejak kejadian semalam otaknya mendadak eror dan ingin sekali melu*mat bibir adiknya itu. Baru kali ini Aksa menyentuh bibir seorang gadis dan itu membuatnya sangat candu. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Apa...?" Inara menautkan alisnya hingga membuat matanya menyipit. "Kak, jangan gitu juga. Mana mungkin aku mencium Kakak, kita berdua tidak boleh melakukan itu." tolak Inara.
Dia kemudian melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.
"Kenapa tidak boleh? Kau bukanlah adik kandungku dan kita tidak memiliki ikatan darah sama sekali, lalu dimana salahnya?" ucap Aksa enteng dengan seringai tipis yang melengkung di sudut bibirnya.
"Pokoknya aku tidak mau, Kakak boleh meminta apa saja tapi jangan hal sensitif seperti itu. Aku bukan wanita murahan yang harus cium sana cium sini. Cukup bajingan itu saja yang mencuri ciuman pertamaku, aku tidak mau lagi melakukan kesalahan itu." Inara berbalik dan melangkah ke kamar mandi.
Aksa menggertakkan giginya setelah mendengar ucapan Inara barusan. Berani sekali gadis bodoh itu mengatai dirinya bajingan. Padahal dia sendiri yang menggoda Aksa hingga terjebak dalam kegilaannya semalam.
Jika saja Aksa tidak bisa mengendalikan diri, jelas Aksa sudah merenggut keperawanan Inara saat itu juga. Beruntung Aksa bukan penjahat kelamin yang mudah coblos sana coblos sini.
Tapi sayangnya Aksa sudah terlanjur candu dengan bibir Inara yang menurutnya sangat manis dan menggoda. Apapun alasannya, Aksa ingin mencicipinya lagi. Terserah Inara bersedia atau tidak, Aksa tidak akan pernah membiarkan gadis itu lepas dari genggamannya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Fela
lanjut dong
2022-11-16
6
Rea Rea
kocak nih kek nya,satu orang dua kepribadian
2022-11-16
7
MIKU CHANNEL
wah ini mah akal2an km Aja Aksa, kesemputan didlm kesempatan, bilang aja mau ngak usah ngancem2 mau laporin segalah, hadeh modus2 kn Aksa
2022-11-16
6