Hari ini Inara tampak begitu kelelahan. Dia harus berjibaku bersama dokter Melia karena ada dua pasien yang harus dioperasi di waktu yang begitu dekat. Inara bahkan diberi kepercayaan untuk menangani pasien tersebut. Salah satu pasien adalah korban kecelakaan dan satunya lagi korban KDRT. Meski masih canggung tapi Inara berhasil menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik dan sangat profesional.
Sedangkan Aksa sendiri masih sibuk mencari tempat tinggal untuk mereka berdua. Aksa tidak mungkin seterusnya menginap di hotel dan membawa Inara ke hotel setiap harinya. Dia tidak ingin membuat Inara salah paham dan berpikiran buruk terhadap dirinya. Dia ingin memperbaiki hubungan mereka meski dalam wujud orang lain sekalipun, setidaknya dia bisa berada di dekat adiknya itu untuk sementara waktu.
Setelah menemukan sebuah kontrakan yang cukup nyaman dan berada di tengah kota, Aksa segera mengambil barang-barangnya dan checkout dari novotel.
Kemudian Aksa menghubungi pemilik motor dan memperpanjang sewa motor tersebut. Aksa langsung mentransfer uang untuk satu bulan ke depan.
Setelah memindahkan barang-barangnya ke kontrakan, Aksa kemudian membersihkan diri dan mengenakan pakaian santai lalu meninggalkan kontrakan itu dan menjemput Inara ke rumah sakit.
Kebetulan sekali Inara baru keluar dari ruangan dokter Melisa dan melangkah menuju pintu utama.
Baru saja wajah Inara tertangkap oleh indera penglihatannya, Aksa langsung melambaikan tangan dan segera menghampiri gadis itu.
"Sore sayang, capek ya?" sapa Aksa sambil tersenyum dan mengusap kepala Inara dengan lembut.
Inara membulatkan matanya saat mendengar itu. "Lebay ih, sayang apanya? Jangan berlebihan!"
"Berlebihan dari mana? Wajar kan seorang pria memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang?" Aksa menyipitkan matanya.
"Iya, wajar untuk sepasang kekasih yang nyata. Ingat, diantara kita tidak ada hubungan apa-apa!" tegas Inara menajamkan tatapannya.
Aksa mendengus kesal dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Ra, kamu kenapa sih sebenarnya? Kenapa selalu saja menganggap ku seperti orang asing? Apa semua yang sudah kita lewati tidak ada artinya sama sekali bagimu?"
Inara tersenyum kecut. "Tentu saja tidak, memangnya kau siapa?"
Inara membuang pandangannya dan melengos pergi begitu saja. Hal itu membuat rahang Aksa mengerat kuat. Apa harus dia melakukan sesuatu yang salah agar Inara mau menerimanya? Tapi Aksa tidak ingin merusak adiknya itu.
"Ayo cepat! Kenapa masih berdiri di sana?" sorak Inara yang sudah berdiri di samping motor Aksa.
"I-iya," jawab Aksa terbata-bata.
Aksa mengayunkan langkah besarnya dan naik ke atas motor. Setelah Inara ikut naik dan memeluk pinggangnya, Aksa menarik gas dan melajukan motor itu menuju kontrakan yang ada di kawasan elit.
Setelah Aksa memarkirkan motornya, Inara menggulingkan manik matanya ke segala arah. Tempat asing itu membuat Inara bertanya-tanya, kemana lagi pria itu membawanya? Dia benar-benar bingung memikirkan apa yang direncanakan pria itu sebenarnya.
"Ayo turun!" ajak Aksa setelah menapakkan kakinya di atas ubin.
"Kenapa membawaku kemari? Ini rumah siapa?" Inara mematung sambil menautkan alisnya.
"Rumah kita, ayo cepat turun! Atau mau aku gendong?" tawar Aksa sambil tersenyum licik.
Seketika mata Inara membulat dengan sempurna, dia benar-benar bingung memikirkan keanehan pria itu. "Apa kau sudah gila? Kau mau mengajakku tinggal bersamamu? Ini tidak mungkin, lebih baik antar saja aku ke kosan!"
Aksa menggertakkan gigi saat mendengar penolakan Inara. Dia kemudian menggendong gadis itu dari motor dan membawanya masuk ke dalam rumah lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Akbar, cepat turunin aku! Kau benar-benar sudah gila, kau tidak bisa memaksaku jika aku tidak mau. Aku bisa melaporkan mu kepada pihak berwajib." ancam Inara sambil berteriak dengan lantang.
"Laporkan saja, aku tidak takut!" jawab Aksa enteng, lalu menjatuhkan Inara di atas ranjang empuk yang ada di dalam kamar.
Inara segera duduk dan turun dari ranjang, dia ingin pergi tapi Aksa dengan sigap menahan tangannya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Tolong turuti apa yang aku katakan, jangan sampai aku memperkosa mu saat ini juga!" ancam Aksa tepat di telinga Inara.
Inara tersentak kaget dan membatu di dalam pelukan Aksa. Jangankan untuk melawan, berbicara saja dia sudah tidak berani.
"Sudah aku bilang aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin menjagamu selama berada di kota ini. Tolong dengarkan aku, jangan membantah lagi!" tegas Aksa penuh penekanan.
Aksa melepaskan pelukannya dan menangkup tangannya di pipi Inara lalu mengecup kening gadis itu dengan lembut. "Sekarang istirahat saja dulu, kamu pasti lelah kan? Nanti malam kita ke kosan untuk mengambil barang-barang mu."
Inara mengangguk lemah, dia tidak punya kekuatan lagi untuk menolak.
"Bagus, kalau begitu tidurlah. Aku di kamar sebelah, kalau ada apa-apa panggil saja kekasihmu ini!"
Setelah mengatakan itu, Aksa mengangkat dagu Inara dan mengesap bibir mungil adiknya itu. Aksa melu*matnya dengan penuh kelembutan hingga membuat jantung Inara berguncang hebat.
"Ak-"
Aksa tak memberi kesempatan Inara untuk berucap, dia semakin gencar melu*mati bibir adiknya itu dan menghisap lidah nya dengan rakus. Saat sesuatu mulai bangun, Aksa segera melepaskan pagutan nya dan menatap manik mata Inara dengan intim. Deru nafasnya terdengar kian memburu.
Ingin sekali Aksa mengungkapkan segala rasa yang tertanam di hatinya, tapi tidak bisa dia lakukan. Aksa takut dengan kemungkinan yang akan terjadi jika Inara tau kebenarannya, tapi Aksa sendiri sudah tidak bisa mengendalikan perasaannya. Hal itu membuatnya sangat tersiksa.
"Istirahatlah, aku keluar dulu!" Aksa membuang pandangannya dan bergegas menuju pintu. Lama-lama dia bisa gila jika terus-terusan berada di hadapan adiknya itu. Aksa takut lepas kendali, itu akan merugikan Inara dan tentunya akan menjadi masalah di keluarga mereka nantinya.
Setelah sampai di kamar sebelah, Aksa mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Kepalanya benar-benar pusing serasa ingin pecah. Jika saja dia tau kejadiannya akan seperti ini, dia tidak mungkin menemui Inara sebagai orang lain waktu itu.
Tapi sekarang semuanya sudah terlambat, mau tidak mau Aksa terpaksa mengikuti permainan yang sudah dia ciptakan sendiri.
Biar saja seperti ini sampai waktu sendiri yang akan menjawabnya. Tujuan utama Aksa sekarang hanya ingin melindungi adiknya itu sampai magangnya selesai.
Setelah itu mereka berdua akan kembali ke Jakarta dan melanjutkan kehidupan masing-masing. Lagian Inara juga sudah mengatakan bahwa setelah kembali nanti mereka berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dan Aksa pun sudah menyetujuinya.
Kini Aksa hanya perlu bersabar sampai waktunya tiba. Dia akan berusaha menjaga jarak dengan Inara untuk menyakinkan dirinya bahwa perasaan yang dia rasakan saat ini tidak benar.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
ayo kita lihat sekuat apa kau menyangkal perasaanmu terhadap Inara, ntar yg ada rasa cintamu semakin besar dan kau tdk bisa menjauh dr Inara
2022-11-23
3