Setelah Inara keluar dari kamar mandi, Aksa menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari klub malam itu. Beruntung kondisi di tempat itu sangat sepi karena pagi hari klub itu belum beroperasi.
Rai mengendarai mobil mewahnya menuju hotel berbintang yang tak jauh dari tempat itu. Setelah Aksa dan Inara turun, keduanya melangkah masuk dan Rai pun mengikuti mereka dari belakang.
"Kenapa membawaku ke sini, Kak?" tanya Inara sambil menautkan alisnya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Aksa terus saja menggenggam tangannya dengan erat.
"Jangan banyak tanya!" ketus Aksa dengan tatapan dingin, lalu mendorong Inara ke dalam lift.
Aksa membawa Inara ke lantai delapan belas, di sana ada kamar yang biasa dia tempati saat berada di kota itu. Aksa tidak suka tidur di kamar lain dan selalu memilih kamar itu. Sementara Rai sendiri akan menempati kamar yang ada di sebelahnya.
"Selamat bersenang-senang," ucap Rai sambil tersenyum kecil lalu melangkah menuju pintu kamarnya.
"Bersenang-senang apanya? Tolong jaga bicaramu! Kau pikir aku ini wanita apaan?" bentak Inara dengan tatapan membunuhnya.
"Hei, jangan berani bicara seperti itu padanya! Kau itu belum tau siapa dia?" timpal Aksa yang tidak suka mendengar Inara membentak sahabat sekaligus asistennya itu.
"Huh, kenapa Kakak malah memarahiku? Harusnya Kakak marah sama dia, bicara seenak jidatnya saja. Apa kalian-?" Inara menutup mulutnya dengan cepat, hampir saja dia keceplosan dan mengatakan bahwa mereka berdua merupakan pecinta sesama jenis.
"Kalian apa hah?" tanya Aksa penasaran dengan kening sedikit mengkerut.
"Tidak apa-apa, aku pikir kalian berdua adalah pasangan kekasih. Hahaha... Kenapa kalian tidak tidur di kamar yang sama saja? Biar aku yang di sini sendirian," Inara malah tertawa terbahak-bahak melihat tatapan kedua pria itu.
Aksa menggertakkan gigi mendengar itu, dia kemudian membuka pintu dengan kasar. Tatapannya sangat tajam seperti mata elang yang tengah mengintai anak ayam. Berani sekali Inara menuduhnya menyukai sesama jenis, apa dia ingin melihat pembuktian?
Lalu Aksa menarik Inara ke dalam kamar. Setelah menutup pintu, dia mendorong Inara hingga terjatuh di atas kasur. Tentu saja hal itu membuat Inara panik dan segera bangkit untuk menjauhkan diri, tapi gerakannya kalah cepat dengan Aksa.
"Berani sekali kau menuduhku seperti itu, apa kau butuh pembuktian dariku?" geram Aksa dengan tatapan mematikan, lalu menekan Inara hingga tak sanggup bergerak di bawah kungkungan nya.
Inara membulatkan mata anggurnya, lalu meneguk ludahnya dengan susah payah. "Lepaskan aku, Kak! Aku hanya bercanda, masa' begitu saja marah?" pinta Inara dengan air muka memelas.
Seringai tipis melengkung di sudut bibir Aksa saat menatap mata Inara yang membuat jantungnya berdegup kencang. Benar-benar aneh, sejak semalam gadis itu selalu saja membuatnya ingin mendekat. Susuk apa yang dia pasang di wajahnya sehingga membuat Aksa sangat tertarik padanya.
"Apa kau tidak ingat dengan apa yang aku katakan di klub tadi?" Aksa mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas keduanya saling menyatu.
"Aku ingat, tapi aku tidak mau melakukannya. Ingat Kak, aku ini adikmu." jawab Inara yang tidak mau mencium kakaknya itu.
"Kalau begitu aku akan menelepon Ayah sekarang juga," Aksa menjauhkan diri dari Inara dan segera mengeluarkan ponselnya.
Awalnya Inara terlihat biasa saja, dia yakin bahwa Aksa hanya menggertak nya. Tapi saat telepon itu tersambung, mata Inara membulat ketika mendengar suara sang ayah yang terdengar jelas saat Aksa menyalakan pengeras suara.
"Halo Aksa, bagaimana Nak? Apa kamu sudah menemukan Inara?" tanya Hendru dari seberang sana. Tentu saja hal itu membuat Inara panik bukan main, dia langsung berlari menghampiri Aksa.
"Sudah Yah, Ayah tidak perlu khawatir. Tapi sayang sekali putri Ayah sudah-"
Mendadak ucapan Aksa terhenti saat Inara membungkam mulutnya. Aksa terpaku merasakan lembutnya sentuhan bibir adiknya itu. Tidak hanya melu*mat, Inara bahkan dengan leluasa memainkan lidahnya dan menyelami rongga mulut Aksa. Keduanya asik membelit lidah saat telepon tersebut masih tersambung. Untung saja Aksa cepat sadar dan segera mematikannya.
"Puas," bentak Inara setelah melepaskan tautan bibir mereka. Mata anggurnya mengeluarkan cairan bening, dia merasa hina di depan kakaknya itu.
"Gitu dong, itu baru namanya adik yang penurut. Kapan aku memintanya, jangan pernah berani menolak ku! Atau video tadi akan sampai ke tangan Ayah dan juga Papa." Aksa tertawa penuh kemenangan lalu meninggalkan Inara begitu saja.
Inara menggembungkan pipinya dengan tangan mengepal erat. Matanya menyala merah berapi-api. "Dasar bajingan, Kakak tidak punya hati. Lain kali aku akan membunuhmu agar kau tidak semena-mena lagi terhadapku." teriak Inara penuh kemarahan, giginya menggertak kuat merutuki sikap kurang ajar kakaknya itu.
Di luar sana, Aksa kembali menghubungi Hendru. Dia kemudian memberitahu ayahnya itu bahwa Inara sudah ditemukan tanpa kurang satu apapun jua. Dia juga mengatakan bahwa Inara sudah aman bersamanya. Tentu saja hal itu membuat Hendru dan Nayla bisa bernafas dengan lega. Begitu juga dengan Arhan dan Aina.
Setengah jam berlalu, Aksa kembali masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum saat mendapati Inara yang tengah meringkuk di atas kasur.
"Ini belum seberapa, lain kali aku akan membuatmu lebih menderita lagi dari ini. Siapa suruh menggodaku lebih dulu? Sekarang, tanggung sendiri akibatnya." batin Aksa penuh kemenangan. Entah kenapa sikap jahilnya muncul lagi setelah kejadian tadi malam.
Saat masih kecil, Aksa memang suka sekali mengganggu Inara hingga membuat gadis itu selalu menangis. Hal itu Aksa lakukan karena dia tidak menyukai Inara yang terlalu cengeng menurutnya. Selain itu dia juga tidak suka mempunyai adik yang memiliki tubuh gendut dan berkulit hitam seperti Inara.
Inara kecil dan Inara sekarang memang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Aksa akui dia sangat tertarik dengan gadis itu. Enam tahun tak bertemu membuatnya rindu akan masa kecil dulu, gara-gara Inara dia selalu dimarahi oleh Aina. Dan kini, tidak akan ada yang membela gadis itu.
Aksa membuka pakaian yang melekat di tubuhnya dan hanya menyisakan manset yang setia menutupi tato nya, lalu dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Aksa mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna kuning dan celana pendek berwarna hitam. Tak lupa pula dia mengenakan sarung tangan untuk menutupi tato yang terukir di punggung tangannya. Sarung tangan tersebut di desain sama persis seperti kulit, tidak ada yang tau bahwa itu hanyalah sebuah sarung tangan. Sekilas terlihat persis seperti kulit asli.
Aksa kemudian memilih berbaring di atas sofa sambil menatap wajah polos Inara yang tengah terlelap.
Seketika tatapan mata Aksa berubah aneh, jantungnya tiba-tiba berdegup secepat kilat. Ada apa dengannya? Dia sendiri tidak mengerti dengan perubahan sikapnya.
Sejak tadi malam otaknya jadi bergeser hingga selalu saja memikirkan Inara, dia sampai tidak bisa tidur semalaman. Seumur-umur baru kali ini bibir Aksa tersentuh oleh seorang wanita dan yang mendapatkannya pertama kali adalah adiknya sendiri. Apa ini salah? Tapi bukankah mereka tidak punya ikatan darah? Seharusnya tidak salah bukan?
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
ya tek salah, tp yg salah adl cara mendapatkan nya, kau telah menekannya, dgn sgt tetpaksa dia melakukannya, kamu itu ketua mafia tp bodoh dlm urusan perasaan, itu nmnya cinta dodol
2022-11-16
1
Mama Muda
astaga aksa, ente kadang-kadang ya
2022-11-16
5