Tak terasa sudah satu minggu Inara berada di kota itu. Dia juga sudah mulai magang sejak hari pertama tiba di sana. Karena keterbatasan dana, Inara terpaksa menyewa sebuah kos putri yang tidak jauh dari rumah sakit tempatnya magang. Setiap hari dia selalu jalan kaki saat pergi dan pulang dari rumah sakit.
Hari-hari Inara lalui dengan penuh semangat, beruntung dia mendapatkan teman-teman yang baik dan juga pengertian. Warga di sana juga sangat ramah meski pun Inara terkendala dengan bahasa. Tapi Inara cukup pintar dan cepat berbaur dengan mereka. Inara mulai mengerti bahasa di sana tapi sedikit kesulitan dalam melafazkan nya. Bibirnya terasa kaku, tapi teman-teman Inara mengajarinya dengan sungguh-sungguh.
Inara terperangah dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan dokter Melisa. Keringatnya masih mengalir setelah menangani pasien barusan. Baru kali ini dokter Melisa melepaskan tanggung jawabnya kepada Inara hingga membuat gadis itu hampir saja terkena serangan jantung.
"Bagaimana rasanya?" tanya dokter Melisa sambil tersenyum menatap Inara.
"Bikin spot jantung saja, lain kali jangan begini ya Dok! Aku belum siap menangani pasien sendirian," keluh Inara sambil mengusap keringat yang masih menetes di dahinya.
"Hahahaha... Siapa suruh mengambil jurusan kedokteran? Sekarang tanggung sendiri akibatnya!" seloroh dokter Melisa sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dokter ih, kok malah ketawa sih? Aku hampir mati gemetaran loh Dok. Bagaimana kalau sampai gagal tadi? Aku tidak mau dipenjara," gerutu Inara dengan bibir mengerucut.
"Itu kan kalau gagal, tapi kenyataannya kamu berhasil kan? Berarti kamu sukses menghadapi ujian pertama ini. Ingat Inara, masa depanmu ada di tanganku! Jika magang ini gagal, bersiaplah mengulangi kuliahmu beberapa tahun lagi!" tegas dokter Melisa sambil memegangi perutnya.
"Jangan gitu dong Dok, kasih nilai yang baik-baik saja biar aku cepat lulus. Dengan begitu aku bisa dapat gelar seperti dokter. Hehe..." Inara mengukir senyum di bibirnya.
"Maunya," cibir dokter Melisa.
"Hehe..." Inara tersipu malu.
Meski baru seminggu menjadi asisten dokter Melisa, tapi keduanya nampak begitu dekat seperti sudah lama saling mengenal. Inara yang periang memang sangat mudah bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan pasien di rumah sakit sekali pun.
Saat jam pulang tiba, Inara berpamitan dan tak lupa mencium punggung tangan dokter Melisa. Hal itulah yang membuat dokter itu sangat menyukai Inara, tidak hanya cantik dan pintar tapi juga memiliki attitude yang bagus.
Setelah berpamitan, Inara meninggalkan rumah sakit dan berjalan seperti biasanya. Dia kemudian mampir di rumah makan dan membeli nasi bungkus lalu melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di kosan, Inara langsung membersihkan diri dan menyantap nasi bungkus yang dibelinya tadi. Kemudian dia duduk di teras sambil sesekali membuka layar ponsel dan menatap foto keluarganya. Seketika mata Inara berkaca menolak rasa rindu yang teramat sangat, sekuat hati dia berusaha menahannya agar perasaannya tidak lemah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ibukota, seorang pria tampan keluar dari bandara dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Seorang pria tampan lainnya menyusul di belakang, kemudian keduanya menghampiri mobil yang sudah menunggu di depan pintu.
"Selamat datang Tuan muda Aksa," sapa Pak Anang sambil membungkukkan punggungnya.
"Iya Pak, terima kasih." jawab Aksa, dia kemudian masuk ke dalam mobil tersebut bersama Rai.
Setelah Pak Anang memasukkan koper Aksa dan Rai ke dalam bagasi, dia menyusul masuk dan duduk di bangku kemudi.
"Mau kemana dulu Tuan?" tanya Pak Anang sambil menoleh ke arah belakang.
"Pulang saja Pak," jawab Aksa dengan gaya cool nya yang mempesona.
Pak Anang menganggukkan kepalanya, lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Airlangga.
Setengah jam kemudian, mobil yang dikendarai Pak Anang berhenti tepat di halaman rumah. Aksa turun bersama Rai lalu melangkah masuk ke dalam.
"Malam semuanya," sapa Aksa dengan suara baritonnya yang khas.
Hal itu tentu saja membuat semua orang yang ada di ruang keluarga terkejut dan menoleh ke arahnya. Semua mata memelototinya seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Aksa..."
Aina berseru lebih dulu dan berhamburan dari tempat duduknya. Dia berlari mengejar Aksa dan memeluk putra sulungnya itu dengan erat. Terakhir kali mereka bertemu sekitar dua tahun yang lalu saat Aina dan Arhan jalan-jalan ke kota Seoul.
"Kok pulangnya gak bilang-bilang sih Nak? Tau gitu Mama kan bisa jemput," lirih Aina dengan mata berkaca, dia kemudian menciumi pipi Aksa tanpa henti.
"Kalau bilang gak surprise dong Ma," seloroh Aksa, lalu mengecup kening sang mama dengan sayang.
Setelah Aina beranjak, kini giliran Arhan yang memeluk Aksa.
"Selamat datang jagoan Papa," ucap Arhan yang ikut berkaca melihat putra sulungnya itu.
"Makasih Pa," sahut Aksa, lalu memeluk Arhan dan mengusap punggungnya.
Setelah Arhan melepaskan pelukannya, kini giliran Hendru dan Nayla yang menghampiri Aksa dan memeluknya bersamaan.
"Putra Ayah dan Bunda akhirnya pulang juga," ucap keduanya dengan suara lirih.
"Iya, putra Ayah dan Bunda sudah pulang." jawab Aksa sambil memeluk keduanya.
Setelah itu giliran Baron dan Inda yang memeluk Aksa.
"Jagoan tampan Kak Baron nih," ucap Baron penuh haru.
"Bukan Kak Baron lagi, tapi Om. Sudah tua juga," seloroh Aksa, lalu memukul lengan Baron seperti yang biasa dia lakukan waktu kecil. Hal itu membuat Baron mendengus kesal.
Setelah semuanya mendapat giliran memeluk Aksa, kini waktunya Avika, Aryan dan Bara yang mendekati kakaknya itu. Ketiganya memeluk Aksa dengan erat saking rindunya dengan kakak sulung mereka.
"Yeay, Kak Aksa akhirnya pulang juga." Suara Bara yang sangat lantang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak karena merasa sakit di telinga mereka.
Aksa mengerutkan keningnya saat tak melihat Inara dimana-mana. Tentu saja hal itu membuatnya bertanya-tanya.
"Inara mana Bun?" tanya Aksa setelah pelukannya terlepas.
Mendengar itu, semua orang akhirnya terdiam tanpa tau harus menjawab apa.
"Inara pergi Kak, awalnya pamit mau magang di Bali. Tapi sampai hari ini tidak ada kabar sama sekali. Om Baron baru saja pulang dari sana, tapi tidak menemukan Inara di rumah sakit manapun." jawab Avika.
Nayla yang mendengar itu langsung menitikkan air matanya, begitu pun dengan Aina. Keduanya merasa bersalah karena melepaskan Inara pergi waktu itu.
"Bun, apa yang terjadi?" Aksa menghampiri Nayla dan memeluknya dengan erat.
"Bunda juga tidak tau Nak. Pulang dari Busan waktu itu Inara hanya mampir sebentar mengambil barangnya, katanya mau magang di Bali. Tapi kenyataannya dia tidak ada di sana, Bunda tidak tau dimana Inara sekarang. Nomornya tidak bisa dihubungi, rekeningnya pun sudah di non aktifkan. Entah bagaimana nasibnya di luar sana. Apakah dia sudah makan atau belum Bunda tidak tau?" isak Nayla berlinangan air mata.
Mendengar itu, dada Aksa mendadak ngilu. Dia teringat dengan ucapannya tempo hari kepada Inara. Apa Inara benar-benar menganggap serius ucapannya sehingga memilih pergi dari rumah itu?
"Bunda jangan sedih lagi ya! Aksa janji akan mencari Inara sampai ketemu, Aksa pasti akan membawa Inara pulang ke rumah ini!"
Aksa mengusap punggung sang bunda dan menoleh ke belakang sambil mengedipkan matanya. Rai yang memahami itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Ayah, tolong tenangkan Bunda dulu! Aksa mau keluar sebentar,"
"Kamu mau kemana lagi Nak? Kamu kan baru sampai," tanya Hendru.
"Aksa akan melakukan tugas Aksa sebagai seorang Kakak, sekarang kalian semua masuk dan istirahat! Aksa akan membawa Inara kembali secepatnya."
Setelah mengatakan itu, Aksa langsung berbalik dan berjalan meninggalkan semua orang.
Rai menyatukan kedua telapak tangannya sambil membungkukkan punggung. "Permisi Om, Tante," Lalu Rai menyusul Aksa ke luar.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Susana Ana
makanya mulut nya di filter ya aksa
2022-11-17
3
MIKU CHANNEL
makanya kalo ngomong itu difilter dulu, km itu ngomong sm cewek bkn ank buahmu, Inara ngak salah kalo dia pergi dr rmh wong km yg nyuruh dia pergi mana ngomongnya pakek bentak2 lg kan dipikiran Inara itu beneran, perempuan itu sensitif
2022-11-17
2
mom kayla rafis
🥺🥺🥺🥺 tu kan.. rasain kamu aksa.. salah sendiri ngomong g dijaga.. kelimpungan kan kamu nyariin inara..
2022-11-17
1