Menjelang dini hari, Aksa terbangun dari tidurnya. Dia membuka mata perlahan dan bergeming ketika melihat Inara yang sudah berputar arah menghadap dirinya.
Hembusan nafas gadis itu terasa hangat menerpa wajahnya, sementara sebelah tangan Inara melingkar erat di pinggangnya.
Aksa menghela nafas berat, jantungnya berdenyut ngilu dan berdetak secepat lari maraton. Dia seakan terjebak dalam kehangatan yang diciptakan Inara untuknya.
Baru kali ini Aksa sedekat ini dengan seorang wanita, hal itu membuatnya gugup dan kelimpungan sendiri. Entah apa yang terjadi dengannya sehingga begitu ingin berada di sisi gadis itu?
Wajah polos Inara benar-benar menggetarkan hatinya, belum lagi bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda yang mampu mendorong Aksa untuk segera melu*matnya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku? Gadis ini benar-benar mengujiku," Aksa mencoba beringsut, tapi Inara malah mempererat pelukannya sehingga Aksa tak bisa menjauh darinya.
"Gadis bodoh, apa kau sengaja ingin memancingku?" Aksa menggertakkan gigi dan menatap lekat bibir mungil Inara yang terlihat begitu menggoda.
Tanpa pikir, Aksa langsung mengecupnya dan melu*matnya dengan penuh kelembutan. Sungguh Aksa sudah tergila-gila dengan bibir itu, rasanya begitu lezat dan manis. Aksa tidak bisa berhenti mengesap nya.
"Aakhh..."
Tiba-tiba Inara melenguh saat merasakan sesak di dadanya. Aksa dengan sigap melepasnya dan kembali menutup mata. Dadanya berdetak kencang seperti maling yang hampir tertangkap basah.
Inara membuka mata dan terkejut mendapati posisi tidur mereka yang begitu dekat, nyaris tak ada jarak diantara keduanya.
Lalu Inara beringsut dan menjauh dari Aksa. Dia sendiri bingung kenapa bisa memeluk pria itu dan tidur dengan nyenyak nya.
Saat Inara hendak turun dari tempat tidur, Aksa menahan tangannya dan menarik Inara hingga terjatuh di atas dadanya.
"Akbar, lepasin aku! Jangan seperti ini!" pinta Inara sembari menggeliat.
"Sssttt... Jangan bergerak, kau bisa saja membangunkan sesuatu!" bisik Aksa tepat di telinga Inara.
Inara membulatkan matanya dengan sempurna. "Makanya lepasin aku!"
"Janji dulu!" Aksa tersenyum kecil sambil menahan pinggang Inara.
"Janji apa?" Inara menautkan alisnya.
"Jadi pacarku ya!" pinta Aksa dengan entengnya.
"Hah?" Mata Inara kembali membulat mendengar itu. "Aku tidak mau," geleng Inara.
"Harus mau," paksa Aksa.
"Tidak mau," balas Inara.
"Harus mau Ra, jika tidak aku tidak akan melepas mu!" ancam Aksa sembari menajamkan tatapannya.
"Kau ini kenapa sih? Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau," ketus Inara kesal.
"Kenapa tidak mau? Apa aku kurang tampan?" Aksa mengerutkan keningnya.
"Tidak, kau tampan." jawab Inara jujur.
"Lalu kenapa?" Aksa mempererat pelukannya.
"Aku tidak mau berpacaran, aku ingin fokus dengan kuliahku dulu. Aku ingin sukses dan membungkam mulut manusia batu yang sudah merendahkan ku." jelas Inara.
"Apa hubungannya?" Aksa menyipitkan matanya. "Aku tidak akan mengganggu kuliahmu, pikir dulu baik-baik! Jika kau mau jadi pacarku, setidaknya kau tidak akan pusing memikirkan biaya hidupmu sehari-hari. Aku akan mengantar jemput mu setiap pagi dan sore, aku juga akan menanggung biaya hidupmu selama di sini."
Inara bergeming dan menilik mata Aksa dengan intim. "Kau serius?"
"Tentu saja," Aksa tersenyum kecil.
"Berarti pacarannya selama aku di sini saja kan? Kalau aku kembali ke Jakarta berarti hubungan kita berakhir." imbuh Inara.
Mendadak Aksa terdiam mendengar ucapan Inara barusan. Putus? Itu artinya Inara hanya akan memanfaatkannya saja selama magang di kota ini.
"Boleh, tapi aku punya syarat yang harus kau penuhi." ucap Aksa menyetujui permintaan Inara.
"Syarat apa?" Inara menautkan alisnya.
"Selama aku jadi pacarmu, aku berhak atas bibir ini." Aksa mengusap permukaan bibir Inara dengan ujung jarinya.
"Enak saja, aku tidak mau. Kau pikir aku ini wanita apaan? Kau sudah menghancurkan hidupku dan sekarang mau memanfaatkan aku. Sorry," Inara menepuk tangan Aksa dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh darinya.
Inara membuka pintu balkon dan duduk di luar sana sendirian. Seakan sudah jatuh dan tertimpa tangga, hati Inara sangat hancur dibuatnya. Dia seperti terjebak di dalam gua yang kelam dan tak tau kemana harus melangkah.
Inara berdiri di sisi pagar dan menoleh ke arah bawah. Haruskah dia memilih jalan pintas agar hidupnya terbebas dari penderitaan ini. Tapi jika dia melompat, belum tentu mati juga bila terjatuh ke bawah sana. Ketinggiannya hanya beberapa meter saja, kalau cuma patah tulang bagaimana? Tentu saja dia akan semakin menderita dibuatnya.
"Kenapa dunia ini begitu kejam? Apa aku tidak pantas untuk bahagia?" gumam Inara dengan mata berkaca.
"Kau pantas bahagia," sahut Aksa yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Lepasin aku Akbar!" pinta Inara sambil menggeliat membebaskan diri.
"Sssttt... Biarkan aku memelukmu!" Aksa mengencangkan pelukannya dan menumpukan dagunya di pundak Inara. "Jadilah pacarku, aku janji akan membuatmu bahagia!" imbuh Aksa.
"Tidak usah, biarkan aku hidup dengan caraku sendiri! Kau tidak perlu repot-repot membantuku lagi." lirih Inara menitikkan air matanya.
"Ra..." Aksa membalikkan tubuh Inara dan menatapnya dengan intim, lalu menyapu jejak air mata yang mengalir di pipi Inara dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.
Aksa mulai tidak tega melihat penderitaan adiknya itu. Ingin sekali dia jujur tapi dia belum sanggup mengatakannya.
"Jangan nangis, aku hanya bercanda tadi!" ucap Aksa, lalu mengecup kening Inara dengan sayang.
"Kenapa hidupku jadi hancur seperti ini? Apa salahku? Kenapa semua orang menjahatiku? Aku hanya ingin hidup dengan tenang." isak Inara menumpahkan air matanya.
"Sssttt... Sudah, jangan cengeng! Ada aku di sini, aku janji akan membahagiakan mu sebisa ku." Aksa mengusap punggung Inara dan kembali mengecup keningnya.
Air mata Inara semakin mengalir deras mendengar itu. Baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu padanya.
"Kenapa kau begitu ngotot ingin membahagiakan ku? Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Apa kau ingin mempermalukan aku lagi? Dimana kau menaruh kamera nya? Mau disebar kemana lagi?" cerca Inara dengan berbagai macam pertanyaan, lalu menjauhkan diri dari Aksa.
"Tidak ada kamera, kali ini aku serius." Aksa kembali mendekati Inara dan menangkup tangannya di pipi gadis itu.
"Lihat aku! Aku suka padamu sejak pertama kali kita bertemu, mau ya jadi pacarku!" bujuk Aksa sambil tersenyum kecil.
"Tidak..." geleng Inara dengan bibir mengerucut.
"Harus mau!" desak Aksa.
"Tidak mau!" ketus Inara.
"Kalau begini mau kan?" Aksa langsung mengecup bibir Inara dan menggerakkan lidahnya di permukaan bibir mungil itu, lalu melu*matnya perlahan.
"Mmm... Jangan!"
"Sssttt... Diam dan nikmati, tidak usah malu sama pacar sendiri!" gumam Aksa.
"Pacar?" Inara menautkan alisnya.
"Iya, mulai sekarang aku adalah pacarmu." Aksa tersenyum sumringah.
"Tapi-"
"Mmm..."
Kembali Aksa melu*mat bibir mungil Inara dan masuk menyelami rongga mulut gadis itu. Kali ini Inara dibuat tak berdaya saking lembut dan hangatnya bibir kakaknya itu. Inara sampai terhanyut dan memejamkan matanya.
Aksa meremas bokong Inara dan mengangkatnya, lalu menggendongnya ke dalam kamar dan membaringkannya di atas kasur. Aksa ikut berbaring di sampingnya dan membawa Inara ke dalam dekapan dadanya.
"Tidurlah, aku janji tidak akan melewati batasanku!" Aksa mengusap rambut Inara ke belakang, lalu mengecup kening adiknya itu dengan sayang.
"Janji!" Inara mencoba memastikan.
"Iya, janji!" Aksa mengacungkan kelingkingnya dan mengaitkannya dengan kelingking Inara. "Aku janji tidak akan macam-macam. Tapi untuk bibir ini, aku tidak janji." Setelah mengatakan itu, Aksa langsung tersenyum dan mengecup bibir Inara dengan lembut.
"Cukup, nanti bibirku bisa dower kalau dikecup terus!" ketus Inara menajamkan tatapannya.
"Bagus dong, semakin dower rasanya pasti semakin nikmat." seloroh Aksa sambil tertawa terbahak-bahak.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
kang modus bisa2 km memanfaatkan kelemahan Inara, Aksa2 sok2an ngamcem eh dirinya sendiri yg terjebak sm permainannya sendiri, km br nyadar kalau Inara sgt menarik, km yg membuat dia sengsara tp kn jg yg sakit melihat dia susah
2022-11-21
3