TPTG BAB 4.

Pukul satu siang, Inara tersentak dari tidurnya. Matanya tiba-tiba memerah, bibirnya pucat pasi setelah mengalami mimpi buruk yang cukup menakutkan.

Di mimpi itu jelas terlihat ada seorang pria bertato mendekatinya, sama persis dengan pria yang dia lihat di klub semalam. Meski malam tadi dia dalam pengaruh obat, tapi dia yakin sekali bahwa itu adalah pria yang sama.

Mendadak jantung Inara berdegup kencang, dia menatap sekelilingnya dan hanya melihat Aksa yang tengah terlelap di atas sofa. Inara kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, sekilas Aksa terlihat mirip dengan pria tersebut. Hidungnya, rahangnya, bahkan bulu-bulu halus di pipinya itu.

Apa mungkin pria itu adalah Aksa? Tapi manik mata mereka jelas berbeda, Aksa tidak memiliki tato di punggung tangannya. Mana mungkin mereka berdua merupakan pria yang sama?

Inara memalingkan pandangannya, kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Aksa membuka matanya perlahan, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya melihat air muka Inara yang sangat membagongkan. Sejak tadi dia sama sekali tidak bisa tidur, matanya terus memandangi Inara tanpa henti. Saat Inara terbangun, disitulah dia bergegas menutup matanya.

Inara turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia segera membersihkan diri tanpa sadar dirinya tidak membawa pakaian ganti. Selesai mandi, barulah dia tersadar dan menepuk keningnya dengan kasar.

"Dasar gadis bodoh, bagaimana cara keluar kalau begini?" gumam Inara merutuki kebodohannya sendiri, bibirnya seketika mengerucut.

"Semoga saja bajingan itu belum bangun," imbuh Inara, kemudian membuka pintu dengan pelan.

Inara meninjitkan kaki agar langkahnya tidak terdengar oleh Aksa. Lagi-lagi dia harus menepuk jidatnya saat menyadari bahwa dirinya tidak memiliki pakaian sama sekali. Lalu bagaimana mungkin dia berpenampilan seperti itu di hadapan Aksa? Hanya bermodalkan handuk tentu saja membuatnya merasa sangat malu.

Tanpa Inara sadari, ternyata Aksa tengah membulatkan matanya dengan sempurna. Benar-benar pemandangan indah hingga membuat dada Aksa berdenyut ngilu. Keringat di dahinya mengucur deras memandangi kulit dada Inara yang putih dan mulus, belahan dada gadis itu membuat Aksa kesulitan meneguk air liurnya.

Ditambah lagi kaki jenjang Inara yang ramping dengan kedua paha yang benar-benar mulus tanpa cacat, pinggulnya yang berisi melekat erat pada handuk yang membelit di tubuhnya. Hal itu membuat sekujur tubuh Aksa merinding, baru kali ini dia dihadapkan dengan situasi sesulit ini.

Aksa memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafas, sekuat hati dia mencoba menahan diri agar tidak terpancing melihat pemandangan itu.

"Tenang Aksa, jangan terpancing! Ingat, dia itu adikmu! Mana mungkin kalian boleh melakukan itu?" Aksa mencoba menenangkan diri, sungguh situasi yang sangat rumit baginya. Dia lebih memilih dihadapkan dengan seratus orang musuh dari pada harus dihadapkan dengan gadis itu.

Inara yang sudah kelimpungan akhirnya memilih naik ke atas kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut, kemudian menatap Aksa yang masih meringkuk di atas sofa.

"Kak..."

"Kak Aksa..."

"Kak, bangun Kak!"

Inara terpaksa membangunkan Aksa, tidak ada cara lagi selain meminta bantuan pada kakaknya itu karena pergerakannya benar-benar terbatas dalam keadaan seperti ini.

"Kak..." panggil Inara lagi.

Aksa merentangkan tangannya sembari menggeliat seolah-olah dia baru terbangun dari tidurnya. "Apaan sih? Berisik aja dari tadi," Lalu Aksa membuka matanya. "Kenapa tubuhmu dibungkus begitu?" imbuhnya dengan kening mengkerut.

"Kak, tolong bantu aku! Aku tidak punya pakaian," keluh Inara di dalam balutan selimut tersebut.

"Hah..." Aksa pura-pura terkejut dan membulatkan matanya dengan sempurna. "Kau tidak pakai baju?" tanyanya.

Inara menganggukkan kepalanya, pipinya merona merah menatap wajah sang kakak. Sebenarnya dia sangat malu mengatakan itu, tapi apa yang bisa dia lakukan. Kepada siapa lagi dia meminta tolong kalau bukan pada Aksa.

"Dasar gadis bodoh! Apa kau tidak punya otak? Apa kau tidak malu seperti itu di depanku, atau kau malah sengaja ingin menggodaku?" hina Aksa meninggikan nada bicaranya.

Mendengar itu, air mata Inara langsung berguguran membasahi pipinya. "Kau benar, aku memang bodoh. Aku tidak punya otak dan aku juga tidak punya malu. Dan satu hal lagi yang perlu kau tau, aku juga tidak punya harga diri."

Setelah mengatakan itu, Inara membuang selimut yang menutupi tubuhnya, dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.

"Hei, kau mau kemana? Apa kau tidak malu keluar hotel menggunakan handuk seperti itu?" sorak Aksa.

"Kenapa harus malu? Otak dan rasa malu ku sudah tidak ada lagi, biar saja orang-orang melihatku seperti ini. Bila perlu, aku akan menjual diri untuk membuktikan kata-katamu itu!" bentak Inara sambil menekan kenop pintu.

Aksa mengeratkan rahang dan mengepalkan tangannya setelah mendengar itu. Bisa-bisanya Inara bicara seperti itu di hadapannya.

Saat pintu terbuka, Inara melangkahkan kakinya ke luar. Aksa dengan sigap mengejarnya dan segera menarik tangannya, lalu membawanya ke dalam dan membantingnya ke kasur.

"Aaaaaa..."

Inara menjerit kesakitan, handuknya nyaris terlepas. Beruntung dia cepat sadar dan menahan dadanya, lalu menarik selimut dan segera membungkus tubuhnya.

"Kau yakin mau menjual diri?" geram Aksa dengan tatapan mematikan, dia merangkak ke kasur dan mengunci Inara di bawah kungkungan nya.

Inara tak menyahut. Sejak awal bertemu, Aksa sudah menghinanya. Lalu untuk apa dia menjawab pertanyaan kakaknya itu. Inara kemudian memalingkan wajahnya, lalu menutup mata hingga bongkahan bening itu menggelinding di pipinya.

Melihat kesedihan di wajah Inara, Aksa jadi kelimpungan sendiri. Dia tidak tega mengerjai gadis itu lagi.

"Tolong menjauhlah dariku! Aku harus pergi dari sini." Inara membuka matanya dan menatap Aksa dengan tatapan sendu. "Besok-besok jika sesuatu terjadi padaku, maka tidak usah membantuku."

Inara kemudian mendorong Aksa dan berjalan menuju kamar mandi membawa selimut itu. Mau tidak mau, dia terpaksa mengenakan baju kotornya kembali, walaupun lembab Inara tidak mempermasalahkannya sedikit pun.

Setelah mengenakan pakaian, Inara keluar dan menaruh selimut itu di atas kasur. Dia berjalan menuju pintu tanpa menatap Aksa sama sekali. Percuma juga berpamitan kalau ujung-ujungnya Inara harus mendengar penghinaan dari mulut kakaknya itu.

"Mau kemana?" tanya Aksa dingin.

"Pulang ke Jakarta, tugasku di sini sudah selesai." Inara menekan kenop pintu dan melangkah meninggalkan kamar.

Aksa mengepalkan tangan dan melayangkan tinjunya pada permukaan meja. Setelah bergelut dengan pemikirannya, dia berlari menyusul Inara dan kembali meraih tangannya.

"Jangan sentuh aku!" ketus Inara dengan suara sangat lantang. Tentu saja hal itu membuat Aksa geram dan ingin sekali menamparnya.

"Jangan menguji kesabaran ku Inara, atau-"

"Atau apa hah? Ingat, kau bukanlah siapa-siapa bagiku. Dari kecil sampai sekarang, kau hanyalah orang asing di mataku." Mata Inara memerah mengatakan itu. "Aku berterima kasih pada keluargamu karena sudah memberi tempat untukku dan keluargaku di rumahmu. Setelah sampai di Jakarta nanti, aku akan mengajak mereka pergi dari rumah itu. Kau tenang saja, kau tidak akan pernah melihat wajah wanita murahan ini lagi."

Air mata Inara mengucur deras setelah mengatakan itu. Entah dia bisa melakukan itu atau tidak, dia juga tidak tau. Setahunya Arhan dan Hendru sudah seperti saudara, begitupun dengan Aina dan Nayla. Inara tidak mempunyai kekuatan untuk memisahkan mereka.

Aksa benar-benar marah mendengar itu, dia mencengkram lengan Inara dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu, dia menekan tubuh Inara hingga tersandar di dinding lalu meremas rahang Inara hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Kau pikir kau siapa hah?" Aksa menggertakkan giginya. "Sebelum kau terlahir ke dunia ini, aku sudah lebih dulu jadi anak Ayah dan juga Bunda. Mereka tidak akan kemana-mana tanpa seizin ku!"

"Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang pergi!" lirih Inara yang kesulitan berbicara.

"Bagus, kalau begitu pergilah! Jangan menginjakkan kakimu lagi di rumahku! Jika itu terjadi, aku akan menyebarkan video itu kepada semua orang!" tegas Aksa, lalu melepaskan tangannya dari rahang Inara.

Inara menekan kenop pintu sambil terisak, lalu memutar lehernya ke arah Aksa. Air muka kebencian nampak begitu jelas di matanya saat menilik manik mata Aksa. Dia kemudian membuka pintu dan berlari sekencangnya meninggalkan tempat itu.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

mulutmu Aksa, pedes bgt lk2 tp kyk ibu2, jgn terlalu kasar kepada perempuan

2022-11-16

2

mom kayla rafis

mom kayla rafis

pergilah inara.. setelah kamu pergi pasti tuan galak aksa kelimpungan tu nyariin kamu 🤭🤭

2022-11-16

2

Mama Muda

Mama Muda

huft, kok aku yang sesak ya 😏

2022-11-16

6

lihat semua
Episodes
1 TPTG BAB 1.
2 TPTG BAB 2.
3 TPTG BAB 3.
4 TPTG BAB 4.
5 TPTG BAB 5.
6 TPTG BAB 6.
7 TPTG BAB 7.
8 TPTG BAB 8.
9 TPTG BAB 9.
10 TPTG BAB 10.
11 TPTG BAB 11.
12 TPTG BAB 12.
13 TPTG BAB 13.
14 TPTG BAB 14.
15 TPTG BAB 15.
16 TPTG BAB 16.
17 TPTG BAB 17.
18 TPTG BAB 18.
19 TPTG BAB 19.
20 TPTG BAB 20.
21 TPTG BAB 21.
22 TPTG BAB 22.
23 TPTG BAB 23.
24 TPTG BAB 24.
25 TPTG BAB 25.
26 TPTG BAB 26.
27 TPTG BAB 27.
28 TPTG BAB 28.
29 TPTG BAB 29.
30 TPTG BAB 30.
31 TPTG BAB 31.
32 TPTG BAB 32.
33 TPTG BAB 33.
34 TPTG BAB 34.
35 TPTG BAB 35.
36 TPTG BAB 36.
37 TPTG BAB 37.
38 TPTG BAB 38.
39 TPTG BAB 39.
40 TPTG BAB 40.
41 TPTG BAB 41.
42 TPTG BAB 42.
43 TPTG BAB 43.
44 TPTG BAB 44.
45 TPTG BAB 45.
46 TPTG BAB 46.
47 TPTG BAB 47.
48 TPTG BAB 48.
49 TPTG BAB 49.
50 TPTG BAB 50.
51 TPTG BAB 51.
52 TPTG BAB 52.
53 TPTG BAB 53.
54 TPTG BAB 54.
55 TPTG BAB 55.
56 TPTG BAB 56.
57 TPTG BAB 57.
58 TPTG BAB 58.
59 TPTG BAB 59.
60 TPTG BAB 60.
61 TPTG BAB 61.
62 TPTG BAB 62.
63 TPTG BAB 63.
64 TPTG BAB 64.
65 TPTG BAB 65.
66 TPTG BAB 66.
67 TPTG BAB 67.
68 TPTG BAB 68.
69 TPTG BAB 69.
70 TPTG BAB 70.
71 TPTG BAB 71.
72 TPTG BAB 72.
73 TPTG BAB 73.
74 TPTG BAB 74.
75 TPTG BAB 75.
76 TPTG BAB 76.
77 TPTG BAB 77.
78 TPTG BAB 78.
79 TPTG BAB 79.
80 TPTG BAB 80.
81 TPTG BAB 81.
82 TPTG BAB 82.
83 TPTG BAB 83.
84 TPTG BAB 84.
85 TPTG BAB 85.
86 TPTG BAB 86.
87 TPTG BAB 87.
88 TPTG BAB 88.
89 TPTG BAB 89.
90 TPTG BAB 90.
91 TPTG BAB 91.
92 TPTG BAB 92.
93 TPTG BAB 93.
94 TPTG BAB 94.
95 TPTG BAB 95.
96 TPTG BAB 96.
97 TPTG BAB 97.
98 TPTG BAB 98.
99 TPTG BAB 99.
100 TPTG BAB 100.
101 TPTG BAB 101.
102 TPTG BAB 102.
103 TPTG BAB 103.
104 TPTG BAB 104.
105 TPTG BAB 105.
106 TPTG BAB 106.
107 TPTG BAB 107.
108 TPTG BAB 108.
109 TPTG BAB 109.
110 TPTG BAB 110.
111 TPTG BAB 111.
112 TPTG BAB 112.
113 TPTG BAB 113.
114 TPTG BAB 114.
115 TPTG BAB 115.
116 TPTG BAB 116.
117 TPTG BAB 117.
118 TPTG BAB 118.
119 TPTG BAB 119.
120 TPTG BAB 120.
121 TPTG BAB 121.
122 TPTG BAB 122.
123 TPTG BAB 123.
124 TPTG BAB 124.
125 TPTG BAB 125.
126 TPTG BAB 126.
127 TPTG BAB 127.
128 TPTG BAB 128.
129 TPTG BAB 129.
130 TPTG BAB 130.
131 TPTG BAB 131.
132 TPTG BAB 132.
133 TPTG BAB 133.
134 TPTG BAB 134.
135 TPTG BAB 135.
136 TPTG BAB TERAKHIR
Episodes

Updated 136 Episodes

1
TPTG BAB 1.
2
TPTG BAB 2.
3
TPTG BAB 3.
4
TPTG BAB 4.
5
TPTG BAB 5.
6
TPTG BAB 6.
7
TPTG BAB 7.
8
TPTG BAB 8.
9
TPTG BAB 9.
10
TPTG BAB 10.
11
TPTG BAB 11.
12
TPTG BAB 12.
13
TPTG BAB 13.
14
TPTG BAB 14.
15
TPTG BAB 15.
16
TPTG BAB 16.
17
TPTG BAB 17.
18
TPTG BAB 18.
19
TPTG BAB 19.
20
TPTG BAB 20.
21
TPTG BAB 21.
22
TPTG BAB 22.
23
TPTG BAB 23.
24
TPTG BAB 24.
25
TPTG BAB 25.
26
TPTG BAB 26.
27
TPTG BAB 27.
28
TPTG BAB 28.
29
TPTG BAB 29.
30
TPTG BAB 30.
31
TPTG BAB 31.
32
TPTG BAB 32.
33
TPTG BAB 33.
34
TPTG BAB 34.
35
TPTG BAB 35.
36
TPTG BAB 36.
37
TPTG BAB 37.
38
TPTG BAB 38.
39
TPTG BAB 39.
40
TPTG BAB 40.
41
TPTG BAB 41.
42
TPTG BAB 42.
43
TPTG BAB 43.
44
TPTG BAB 44.
45
TPTG BAB 45.
46
TPTG BAB 46.
47
TPTG BAB 47.
48
TPTG BAB 48.
49
TPTG BAB 49.
50
TPTG BAB 50.
51
TPTG BAB 51.
52
TPTG BAB 52.
53
TPTG BAB 53.
54
TPTG BAB 54.
55
TPTG BAB 55.
56
TPTG BAB 56.
57
TPTG BAB 57.
58
TPTG BAB 58.
59
TPTG BAB 59.
60
TPTG BAB 60.
61
TPTG BAB 61.
62
TPTG BAB 62.
63
TPTG BAB 63.
64
TPTG BAB 64.
65
TPTG BAB 65.
66
TPTG BAB 66.
67
TPTG BAB 67.
68
TPTG BAB 68.
69
TPTG BAB 69.
70
TPTG BAB 70.
71
TPTG BAB 71.
72
TPTG BAB 72.
73
TPTG BAB 73.
74
TPTG BAB 74.
75
TPTG BAB 75.
76
TPTG BAB 76.
77
TPTG BAB 77.
78
TPTG BAB 78.
79
TPTG BAB 79.
80
TPTG BAB 80.
81
TPTG BAB 81.
82
TPTG BAB 82.
83
TPTG BAB 83.
84
TPTG BAB 84.
85
TPTG BAB 85.
86
TPTG BAB 86.
87
TPTG BAB 87.
88
TPTG BAB 88.
89
TPTG BAB 89.
90
TPTG BAB 90.
91
TPTG BAB 91.
92
TPTG BAB 92.
93
TPTG BAB 93.
94
TPTG BAB 94.
95
TPTG BAB 95.
96
TPTG BAB 96.
97
TPTG BAB 97.
98
TPTG BAB 98.
99
TPTG BAB 99.
100
TPTG BAB 100.
101
TPTG BAB 101.
102
TPTG BAB 102.
103
TPTG BAB 103.
104
TPTG BAB 104.
105
TPTG BAB 105.
106
TPTG BAB 106.
107
TPTG BAB 107.
108
TPTG BAB 108.
109
TPTG BAB 109.
110
TPTG BAB 110.
111
TPTG BAB 111.
112
TPTG BAB 112.
113
TPTG BAB 113.
114
TPTG BAB 114.
115
TPTG BAB 115.
116
TPTG BAB 116.
117
TPTG BAB 117.
118
TPTG BAB 118.
119
TPTG BAB 119.
120
TPTG BAB 120.
121
TPTG BAB 121.
122
TPTG BAB 122.
123
TPTG BAB 123.
124
TPTG BAB 124.
125
TPTG BAB 125.
126
TPTG BAB 126.
127
TPTG BAB 127.
128
TPTG BAB 128.
129
TPTG BAB 129.
130
TPTG BAB 130.
131
TPTG BAB 131.
132
TPTG BAB 132.
133
TPTG BAB 133.
134
TPTG BAB 134.
135
TPTG BAB 135.
136
TPTG BAB TERAKHIR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!