TPTG BAB 8.

Gelap berganti terang. Suara kokok ayam membuat Inara tersentak dari tidurnya dan membuka mata perlahan, Inara kemudian meraih ponsel yang ada di atas kepala dan melihat jam yang baru menunjukkan pukul enam pagi.

Inara menarik selimut dan membungkus tubuhnya kembali, cuaca yang begitu dingin membuatnya sangat enggan untuk bangun. Apalagi masih butuh dua jam untuk datang ke rumah sakit.

Setengah jam kemudian, Inara akhirnya turun dari ranjang berukuran 90×200 cm itu. Dia membuka pintu jendela dan berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Hembusan nafasnya menyatu dengan desiran angin yang menerpa sekujur tubuhnya.

"Pagi Inara," sapa seorang ibu-ibu yang tengah menyapu halaman.

"Pagi Bu Yanti," sahut Inara sambil tersenyum.

"Tidak dinas?" tanya Bu Yanti yang tak lain adalah pemilik kos yang ditempati Inara.

"Iya Bu, sebentar lagi. Inara pamit mandi dulu ya." sahut Inara dengan ramah, lalu berbalik dan melangkah ke kamar mandi.

Seperti biasa, Inara harus mengantri dulu karena kamar mandi yang ada di kosan itu cuma tiga. Sementara yang tinggal di sana ada sekitar lima belas orang. Sudah menjadi rutinitas mereka setiap pagi mengantri sambil bercengkrama.

Diantara para gadis yang kos di tempat itu, ada beberapa orang yang juga kerja di rumah sakit dan ada yang kerja di tempat lain seperti swalayan, ramayana dan toko pakaian serta konter hp.

Selesai mandi Inara langsung bersiap-siap dan mengenakan pakaian dinas, lalu meninggalkan kosan bersama dua orang temannya yang juga bekerja di rumah sakit. Mereka bertiga berjalan kaki di atas trotoar.

Sebelum tiba di rumah sakit, ketiganya mampir di warung sarapan pagi untuk mengisi perut. Seperti biasa Inara memesan ketupat pical yang menjadi makanan favoritnya. Selain murah meriah, makanan tersebut mampu mengganjal perut sampai jam makan siang tiba.

Usai sarapan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Inara masuk ke ruangan dokter Melisa sedangkan kedua temannya masuk ke ruangan perawat.

Sebelum dokter Melisa datang, Inara segera membersihkan ruangan itu dan menatanya dengan sangat rapi. Inara ingin secepatnya menyelesaikan magang ini dan mendapatkan gelar sebagai seorang dokter. Dengan begitu, dia bisa mencicil rumah dan membawa kedua orang tuanya pindah dari kediaman Airlangga.

Setelah membersihkan ruangan dokter Melisa, Inara melanjutkan tugasnya memeriksa satu persatu pasien yang berada di bawah tanggung jawabnya. Begitulah pekerjaan yang harus dia lakukan setiap hari sebelum dokter Melisa tiba di rumah sakit.

Di tempat lain, seorang pria bertato turun dari kamar novotel. Manik matanya bersinar terang secerah langit nan biru, nampak lukisan indah terukir di balik dadanya yang sedikit menganga dan menjalar hingga punggung tangan. Sambil berjalan, dia pun membungkus tubuhnya dengan jaket levis berwarna hitam.

Pria itu melenggang menghampiri seorang petugas yang sudah menunggu di area lobby, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya saat berjabat tangan dengan petugas itu.

"Bagaimana?" tanya Aksa dengan suara bariton nya.

"Ada Tuan, motornya sudah ada di parkiran. Tuan boleh memeriksanya terlebih dahulu. Pemiliknya juga masih menunggu di sana." jawab petugas itu.

"Oke, kita keluar sekarang."

Setelah mengatakan itu, Aksa langsung keluar dari novotel dan berjalan menuju parkiran. Matanya langsung menangkap sebuah sepeda motor Ninja H2 Carbon yang terlihat masih sangat baru.

"Ini motor yang mau disewakan?" tanya Aksa sambil memperhatikan sepeda motor itu dengan seksama.

"Iya Ndan, itupun kalau Mandan suka. Kami cuma punya dua moge dan yang satunya dipakai pelanggan. Hanya inilah yang tersisa. Tapi kalau matic banyak, Mandan tinggal pilih saja." jawab pria itu.

"Maaf, tolong panggilannya diralat. Saya bukan abdi negara, kenapa dipanggil Ndan Ndan begitu?" Aksa mengerutkan keningnya.

"Hahahaha..." Pria itu tertawa terbahak-bahak. "Maaf, ini Bukittinggi bos, bukan Jakarta. Ndan itu adalah panggilan gaul untuk sesama laki-laki, bisa juga kepada teman-teman satu tongkrongan." jelas pria itu.

"Oh..." Aksa manggut-manggut sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Dia sama sekali tidak tau karena dia sendiri cuma pendatang di kota itu.

Setelah bernegosiasi, Aksa pun setuju untuk menyewa motor itu. Dia kemudian mentransfer uang muka untuk seminggu dan memberikan jaminan berupa KTP. Sebagai gantinya, pria itu memberikan kunci dan STNK motor itu kepada Aksa lalu mereka berdua berjabat tangan.

Sore hari, Aksa keluar dari novotel dan mengenakan helm untuk menutupi kepalanya. Dia kemudian melajukan motor sport itu menuju rumah sakit yang sudah dia ketahui alamatnya.

Belum sempat Aksa menghentikan laju motornya, matanya sudah menangkap keberadaan seorang gadis cantik yang tengah berjalan meninggalkan rumah sakit. Dada Aksa seketika bergemuruh menyaksikan wajah polos yang sangat meneduhkan itu.

Inara terus saja berjalan menuju kosan yang dia tempati, dia bahkan tidak sadar bahwa ada seseorang yang tengah mengikutinya dengan sepeda motor. Saat Inara mampir di rumah makan langganannya, Aksa ikut berhenti tak jauh dari tempat itu. Dan saat Inara keluar dari rumah makan itu, Aksa kembali mengikutinya.

Ada banyak pertanyaan yang mengganjal di benak Aksa saat ini, tapi dia berusaha tenang agar tak kehilangan jejak Inara. Dia harus tau dimana Inara tinggal dan bagaimana keadaannya.

Cukup jauh Inara berjalan hingga akhirnya sampai juga di kosan, Inara segera masuk dan langsung membersihkan diri seperti biasanya.

Dari kejauhan, Aksa memandangi kosan yang ditempati Inara itu dengan seksama. Sangat jauh dari kata mewah, suasananya terlihat biasa saja seperti kosan lain pada umumnya.

"Apa yang kau lakukan di tempat ini? Kau itu anak seorang konglomerat, kenapa memilih tinggal di tempat seperti ini?" gumam Aksa yang masih mangkal di ujung jalan sambil mengamati kosan itu.

Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Inara. Apa semua itu karena kata-kata yang dia lontarkan tempo hari? Apa ucapannya se menyakitkan itu sehingga Inara memilih jalan ini untuk menjauh darinya?

Setelah puas memandangi tempat tinggal Inara, Aksa memutuskan untuk kembali ke novotel. Saat memutar motor, Aksa tak sengaja melihat Inara yang tengah keluar dari pintu kosan. Air muka gadis itu terlihat lesu sambil berjalan menuju jalan raya.

Kali ini Aksa tak bisa tinggal diam, dia menyusul gadis itu dan sengaja menghadang langkah Inara dengan motor yang dikendarainya.

"Aaaaaa..."

Inara berteriak sambil memegangi dadanya, hampir saja jantungnya copot melihat kelakuan pengendara yang menurutnya ugal-ugalan di jalan raya.

"Maaf, maaf, saya tidak sengaja." Aksa turun dari motor dan menyatukan kedua telapak tangannya memohon maaf.

"Deg!"

Inara terlonjak dengan mata membulat sempurna, bibirnya mendadak gagap saat ingin berbicara. Sulit sekali mengeluarkan sepatah dua patah kata saat menyadari bahwa dirinya pernah melihat orang itu sebelumnya. Apalagi saat melihat tato yang terlukis di punggung tangannya.

Beberapa detik kemudian, Inara meraih helm yang terpasang di kepala pria itu dan menariknya secara paksa.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Aksa berusaha keras menahan helmnya.

"Diam, atau aku akan berteriak agar orang-orang memukuli mu!" ancam Inara dengan tatapan mematikan, hal itu membuat Aksa terdiam dan pasrah saat Inara mengangkat helm yang terpasang di kepalanya.

"Deg!"

Lagi-lagi jantung Inara hampir copot saat melihat wajah pria itu dengan seksama. Tidak salah lagi, ternyata pria yang dilihatnya itu adalah orang yang sama. Pria bajingan yang sudah menghancurkan hidupnya.

Manik matanya yang biru dan tato yang sama di punggung tangannya sudah cukup menjadi acuan bagi Inara. Dia tidak mungkin salah mengenali orang.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

bohong sekali kalau org tuamu tdk mampu membeli rmh, hampir separuh hidupnya dia dedikasikan kpd Papa Aksa, ya jd ketahuan lgan ngapain km keluar dgn penampilan seperti itu Aksa, km bikin Inara naik darah aja, mengingat kejadian oi

2022-11-18

3

lihat semua
Episodes
1 TPTG BAB 1.
2 TPTG BAB 2.
3 TPTG BAB 3.
4 TPTG BAB 4.
5 TPTG BAB 5.
6 TPTG BAB 6.
7 TPTG BAB 7.
8 TPTG BAB 8.
9 TPTG BAB 9.
10 TPTG BAB 10.
11 TPTG BAB 11.
12 TPTG BAB 12.
13 TPTG BAB 13.
14 TPTG BAB 14.
15 TPTG BAB 15.
16 TPTG BAB 16.
17 TPTG BAB 17.
18 TPTG BAB 18.
19 TPTG BAB 19.
20 TPTG BAB 20.
21 TPTG BAB 21.
22 TPTG BAB 22.
23 TPTG BAB 23.
24 TPTG BAB 24.
25 TPTG BAB 25.
26 TPTG BAB 26.
27 TPTG BAB 27.
28 TPTG BAB 28.
29 TPTG BAB 29.
30 TPTG BAB 30.
31 TPTG BAB 31.
32 TPTG BAB 32.
33 TPTG BAB 33.
34 TPTG BAB 34.
35 TPTG BAB 35.
36 TPTG BAB 36.
37 TPTG BAB 37.
38 TPTG BAB 38.
39 TPTG BAB 39.
40 TPTG BAB 40.
41 TPTG BAB 41.
42 TPTG BAB 42.
43 TPTG BAB 43.
44 TPTG BAB 44.
45 TPTG BAB 45.
46 TPTG BAB 46.
47 TPTG BAB 47.
48 TPTG BAB 48.
49 TPTG BAB 49.
50 TPTG BAB 50.
51 TPTG BAB 51.
52 TPTG BAB 52.
53 TPTG BAB 53.
54 TPTG BAB 54.
55 TPTG BAB 55.
56 TPTG BAB 56.
57 TPTG BAB 57.
58 TPTG BAB 58.
59 TPTG BAB 59.
60 TPTG BAB 60.
61 TPTG BAB 61.
62 TPTG BAB 62.
63 TPTG BAB 63.
64 TPTG BAB 64.
65 TPTG BAB 65.
66 TPTG BAB 66.
67 TPTG BAB 67.
68 TPTG BAB 68.
69 TPTG BAB 69.
70 TPTG BAB 70.
71 TPTG BAB 71.
72 TPTG BAB 72.
73 TPTG BAB 73.
74 TPTG BAB 74.
75 TPTG BAB 75.
76 TPTG BAB 76.
77 TPTG BAB 77.
78 TPTG BAB 78.
79 TPTG BAB 79.
80 TPTG BAB 80.
81 TPTG BAB 81.
82 TPTG BAB 82.
83 TPTG BAB 83.
84 TPTG BAB 84.
85 TPTG BAB 85.
86 TPTG BAB 86.
87 TPTG BAB 87.
88 TPTG BAB 88.
89 TPTG BAB 89.
90 TPTG BAB 90.
91 TPTG BAB 91.
92 TPTG BAB 92.
93 TPTG BAB 93.
94 TPTG BAB 94.
95 TPTG BAB 95.
96 TPTG BAB 96.
97 TPTG BAB 97.
98 TPTG BAB 98.
99 TPTG BAB 99.
100 TPTG BAB 100.
101 TPTG BAB 101.
102 TPTG BAB 102.
103 TPTG BAB 103.
104 TPTG BAB 104.
105 TPTG BAB 105.
106 TPTG BAB 106.
107 TPTG BAB 107.
108 TPTG BAB 108.
109 TPTG BAB 109.
110 TPTG BAB 110.
111 TPTG BAB 111.
112 TPTG BAB 112.
113 TPTG BAB 113.
114 TPTG BAB 114.
115 TPTG BAB 115.
116 TPTG BAB 116.
117 TPTG BAB 117.
118 TPTG BAB 118.
119 TPTG BAB 119.
120 TPTG BAB 120.
121 TPTG BAB 121.
122 TPTG BAB 122.
123 TPTG BAB 123.
124 TPTG BAB 124.
125 TPTG BAB 125.
126 TPTG BAB 126.
127 TPTG BAB 127.
128 TPTG BAB 128.
129 TPTG BAB 129.
130 TPTG BAB 130.
131 TPTG BAB 131.
132 TPTG BAB 132.
133 TPTG BAB 133.
134 TPTG BAB 134.
135 TPTG BAB 135.
136 TPTG BAB TERAKHIR
Episodes

Updated 136 Episodes

1
TPTG BAB 1.
2
TPTG BAB 2.
3
TPTG BAB 3.
4
TPTG BAB 4.
5
TPTG BAB 5.
6
TPTG BAB 6.
7
TPTG BAB 7.
8
TPTG BAB 8.
9
TPTG BAB 9.
10
TPTG BAB 10.
11
TPTG BAB 11.
12
TPTG BAB 12.
13
TPTG BAB 13.
14
TPTG BAB 14.
15
TPTG BAB 15.
16
TPTG BAB 16.
17
TPTG BAB 17.
18
TPTG BAB 18.
19
TPTG BAB 19.
20
TPTG BAB 20.
21
TPTG BAB 21.
22
TPTG BAB 22.
23
TPTG BAB 23.
24
TPTG BAB 24.
25
TPTG BAB 25.
26
TPTG BAB 26.
27
TPTG BAB 27.
28
TPTG BAB 28.
29
TPTG BAB 29.
30
TPTG BAB 30.
31
TPTG BAB 31.
32
TPTG BAB 32.
33
TPTG BAB 33.
34
TPTG BAB 34.
35
TPTG BAB 35.
36
TPTG BAB 36.
37
TPTG BAB 37.
38
TPTG BAB 38.
39
TPTG BAB 39.
40
TPTG BAB 40.
41
TPTG BAB 41.
42
TPTG BAB 42.
43
TPTG BAB 43.
44
TPTG BAB 44.
45
TPTG BAB 45.
46
TPTG BAB 46.
47
TPTG BAB 47.
48
TPTG BAB 48.
49
TPTG BAB 49.
50
TPTG BAB 50.
51
TPTG BAB 51.
52
TPTG BAB 52.
53
TPTG BAB 53.
54
TPTG BAB 54.
55
TPTG BAB 55.
56
TPTG BAB 56.
57
TPTG BAB 57.
58
TPTG BAB 58.
59
TPTG BAB 59.
60
TPTG BAB 60.
61
TPTG BAB 61.
62
TPTG BAB 62.
63
TPTG BAB 63.
64
TPTG BAB 64.
65
TPTG BAB 65.
66
TPTG BAB 66.
67
TPTG BAB 67.
68
TPTG BAB 68.
69
TPTG BAB 69.
70
TPTG BAB 70.
71
TPTG BAB 71.
72
TPTG BAB 72.
73
TPTG BAB 73.
74
TPTG BAB 74.
75
TPTG BAB 75.
76
TPTG BAB 76.
77
TPTG BAB 77.
78
TPTG BAB 78.
79
TPTG BAB 79.
80
TPTG BAB 80.
81
TPTG BAB 81.
82
TPTG BAB 82.
83
TPTG BAB 83.
84
TPTG BAB 84.
85
TPTG BAB 85.
86
TPTG BAB 86.
87
TPTG BAB 87.
88
TPTG BAB 88.
89
TPTG BAB 89.
90
TPTG BAB 90.
91
TPTG BAB 91.
92
TPTG BAB 92.
93
TPTG BAB 93.
94
TPTG BAB 94.
95
TPTG BAB 95.
96
TPTG BAB 96.
97
TPTG BAB 97.
98
TPTG BAB 98.
99
TPTG BAB 99.
100
TPTG BAB 100.
101
TPTG BAB 101.
102
TPTG BAB 102.
103
TPTG BAB 103.
104
TPTG BAB 104.
105
TPTG BAB 105.
106
TPTG BAB 106.
107
TPTG BAB 107.
108
TPTG BAB 108.
109
TPTG BAB 109.
110
TPTG BAB 110.
111
TPTG BAB 111.
112
TPTG BAB 112.
113
TPTG BAB 113.
114
TPTG BAB 114.
115
TPTG BAB 115.
116
TPTG BAB 116.
117
TPTG BAB 117.
118
TPTG BAB 118.
119
TPTG BAB 119.
120
TPTG BAB 120.
121
TPTG BAB 121.
122
TPTG BAB 122.
123
TPTG BAB 123.
124
TPTG BAB 124.
125
TPTG BAB 125.
126
TPTG BAB 126.
127
TPTG BAB 127.
128
TPTG BAB 128.
129
TPTG BAB 129.
130
TPTG BAB 130.
131
TPTG BAB 131.
132
TPTG BAB 132.
133
TPTG BAB 133.
134
TPTG BAB 134.
135
TPTG BAB 135.
136
TPTG BAB TERAKHIR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!