TPTG BAB 18.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa sudah tiga bulan saja Aksa menetap di kota itu. Seiring berjalannya waktu hubungan keduanya tampak semakin dekat meski Aksa sendiri sudah berusaha membatasi perasaannya.

Setiap pagi Inara selalu membuatkan sarapan untuk mereka berdua, sekilas terlihat seperti pasangan suami istri tapi hanya dari luarnya saja. Inara selalu melayani kebutuhan Aksa tapi tidak untuk masalah kamar. Aksa melarang keras Inara masuk ke dalam kamarnya karena tidak ingin Inara mencurigai dirinya.

"Tok Tok Tok"

"Akbar, sarapannya sudah siap. Keluarlah, aku pergi dulu. Pagi ini aku harus menangani pasien, aku tidak boleh telat." teriak Inara dari balik pintu yang tertutup dengan rapat.

Aksa yang baru saja selesai mandi langsung keluar dari kamar hanya menggunakan celana boxer penutup bagian sensitif nya. Dia kemudian menyusul Inara menuju pintu. "Ra, tunggu sebentar!"

Inara yang sudah tiba di teras rumah langsung berbalik sehingga manik mata keduanya saling bertemu dengan tatapan yang aneh. "Ada apa? Aku harus ke rumah sakit sekarang juga,"

"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu. Kepalaku pusing sekali, bisakah kamu memeriksaku sebentar?" pinta Aksa dengan air muka yang terlihat sedikit pucat.

"Kau sakit?" Inara menautkan alisnya dan berjalan menghampiri Aksa, lalu menempelkan punggung tangannya di kening Aksa.

"Kepalaku pusing sekali Ra, perutku rasanya tidak enak. Apa aku akan mati?" lirih Aksa dengan wajah lusuh yang terlihat sangat menyedihkan.

"Hahahaha... Dasar bodoh! Kamu hanya demam, mana mungkin bisa mati. Kecuali kalau ajalmu sudah tiba." Inara tertawa terbahak-bahak hingga membuat Aksa merasa tidak dipedulikan.

"Senang ya? Ya sudah pergilah, tidak usah memikirkan aku!" Aksa langsung berbalik dan melengos pergi begitu saja. Dia kembali masuk ke dalam kamar dan memilih berbaring di atas kasur.

Inara yang melihat itu hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya, lalu meninggalkan rumah karena merasa Aksa baik-baik saja. Lagian dia sudah dewasa pasti bisa menjaga dirinya sendiri.

Aksa memang jarang sekali sakit, tapi sekalinya demam dia bisa berubah seperti anak kucing yang selalu ingin dimanja. Sayangnya Inara tidak mengerti itu dan malah pergi meninggalkannya.

Sampai siang menjelang, Aksa tetap berbaring di atas kasur tanpa makan sedikit pun. Hal itu membuat tubuhnya semakin menggigil dan muntah-muntah beberapa kali. Kepalanya semakin pusing, dia memilih meringkuk di dalam selimut tanpa pergerakan sama sekali.

Pukul dua siang Inara sudah sampai di rumah setelah menyelesaikan tugasnya di rumah sakit. Saat memasuki rumah, matanya menggelinding liar menatap seluruh sudut tapi tak menemukan Aksa di mana-mana.

Inara kemudian berjalan ke arah meja makan dan mendapati makanan yang masih utuh di dalam tudung saji. Inara terperanjat dan mulai khawatir memikirkan keadaan Aksa. Apa dia salah karena sudah mengabaikan pria itu? Padahal dia sudah minta tolong pagi tadi.

Tanpa berpikir, Inara langsung berlari menuju pintu kamar Aksa dan membuang tasnya ke sembarang tempat.

"Tok Tok Tok"

"Akbar, buka pintunya! Ini aku," teriak Inara sambil menggedor pintu, air mukanya terlihat sangat panik.

Aksa yang masih meringkuk di atas kasur mencoba menyahut tapi suaranya tidak bisa dikeluarkan. Dia berusaha turun dari tempat tidur dan mencari dinding untuk berpegang mencapai pintu.

Setelah berhasil meraih kenop pintu, Aksa membukanya dan merebahkan tubuhnya ke pelukan Inara. "Ra..."

Inara tidak kuat menopang tubuh Aksa hingga keduanya tersungkur di dasar lantai. "Aww... Sakit sekali,"

Inara mengusap bokongnya yang baru saja membentur lantai. Sementara Aksa sendiri sudah terdiam di dalam pelukannya.

Inara menepuk-nepuk pipi Aksa tapi pria itu tak menyahut lagi. Tentu saja Inara semakin panik dibuatnya. "Akbar, kau kenapa? Bangun, jangan menakuti ku!" Sayang sekali Aksa masih tak merespon sama sekali.

Inara kemudian mencoba bangkit dan membaringkan Aksa di dasar lantai. Dia menempelkan punggung tangannya di kening Aksa dan membulatkan matanya dengan sempurna. Suhu tubuh Aksa benar-benar panas hingga membuat sekujur tubuh Inara menggigil ketakutan. "Akbar, kau baik-baik saja kan? Buka matamu! Ini aku,"

Karena Aksa tak merespon, Inara kemudian berlari menuju dapur dan mengambil kotak P3K. Tak lupa pula Inara mengambil handuk kecil dan merendamnya di dalam baskom.

Inara kembali menghampiri Aksa dan mengompres keningnya, lalu mengambil obat penurun panas dan memasukkannya ke mulut Aksa. Sayang sekali Aksa tidak bisa menelannya dalam kondisi seperti itu.

Mau tidak mau Inara terpaksa membantunya. Inara mengisi mulutnya dengan air dan membuka mulut Aksa, lalu menempelkan bibirnya dan mentransfer air tersebut ke mulut Aksa hingga berserakan ke mana-mana.

"Akbar, jangan membuatku takut! Telan obatnya!" lirih Inara dengan mata berkaca. Dia tidak sanggup melihat pria yang mengaku kekasihnya itu terbaring lemah tak berdaya seperti ini.

Lalu Inara kembali menempelkan bibirnya ke mulut Aksa, Inara menyelami rongga mulut kakaknya itu dan menekan obat itu dengan lidahnya. "Telan Akbar, telan!" batin Inara yang masih berusaha membantu Aksa menelan obatnya.

"Glug!"

Aksa terbatuk-batuk saat obat itu berhasil tertelan olehnya. Matanya terbuka perlahan dan membulat mendapati Inara yang seakan tengah melu*mati bibirnya.

"Akbar, kamu sudah sadar? Kamu menakuti ku, kamu hampir saja membuatku jantungan." Inara memukul dada Aksa dan merebahkan kepalanya di dada bidang kakaknya itu. "Hiks... Kamu jahat, aku pikir kamu benar-benar mati." Inara terisak di atas dada Aksa, hal itu membuat jantung Aksa berdegup kencang seakan ingin melompat dari tempatnya.

"Tidak sayang, aku belum mati. Aku masih ingin melihatmu," gumam Aksa sambil mendekap erat tubuh Inara.

Inara yang mendengar itu langsung meraung sejadi-jadinya. Tangisannya pecah memenuhi seisi ruangan. "Jangan seperti ini lagi! Aku tidak mau kehilangan kamu, aku hanya punya kamu di sini."

"Deg!"

Jantung Aksa kembali berdegup kencang seperti tengah lari maraton. Apa maksud ucapan Inara barusan? Apa gadis itu benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya? Apa mungkin Inara kini sudah mencintainya?

Tidak mungkin. Meski Aksa menginginkan itu, tapi Inara tidak boleh mencintainya. Jika hal itu sampai terjadi, apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka setelah ini? Aksa tidak ingin menyakiti perasaan Inara. Aksa juga tidak mungkin merusak kepercayaan yang sudah diberikan keluarganya.

Seketika bongkahan bening itu menetes di sudut mata Aksa. Dia senang jika memang Inara menaruh perasaan yang sama terhadap dirinya, tapi dia juga sedih karena takut hubungan mereka tidak akan mendapatkan restu dari orang tua mereka.

Apa yang harus Aksa lakukan? Dia bisa menahan perasaannya sendiri, tapi bagaimana dengan Inara? Gadis itu akan terluka jika tau identitas Aksa yang sebenarnya. Aksa tau Inara membenci dirinya, mana mungkin Inara sanggup menerima kenyataan ini?

Bersambung...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

kenapa pula ortumu harus marah,seharusnya mrk senang karena mereka lbh tau bgmn Inara, roh kalian bkn saudara kandung kecuali kalian saudara sa ASI

2022-11-23

2

lihat semua
Episodes
1 TPTG BAB 1.
2 TPTG BAB 2.
3 TPTG BAB 3.
4 TPTG BAB 4.
5 TPTG BAB 5.
6 TPTG BAB 6.
7 TPTG BAB 7.
8 TPTG BAB 8.
9 TPTG BAB 9.
10 TPTG BAB 10.
11 TPTG BAB 11.
12 TPTG BAB 12.
13 TPTG BAB 13.
14 TPTG BAB 14.
15 TPTG BAB 15.
16 TPTG BAB 16.
17 TPTG BAB 17.
18 TPTG BAB 18.
19 TPTG BAB 19.
20 TPTG BAB 20.
21 TPTG BAB 21.
22 TPTG BAB 22.
23 TPTG BAB 23.
24 TPTG BAB 24.
25 TPTG BAB 25.
26 TPTG BAB 26.
27 TPTG BAB 27.
28 TPTG BAB 28.
29 TPTG BAB 29.
30 TPTG BAB 30.
31 TPTG BAB 31.
32 TPTG BAB 32.
33 TPTG BAB 33.
34 TPTG BAB 34.
35 TPTG BAB 35.
36 TPTG BAB 36.
37 TPTG BAB 37.
38 TPTG BAB 38.
39 TPTG BAB 39.
40 TPTG BAB 40.
41 TPTG BAB 41.
42 TPTG BAB 42.
43 TPTG BAB 43.
44 TPTG BAB 44.
45 TPTG BAB 45.
46 TPTG BAB 46.
47 TPTG BAB 47.
48 TPTG BAB 48.
49 TPTG BAB 49.
50 TPTG BAB 50.
51 TPTG BAB 51.
52 TPTG BAB 52.
53 TPTG BAB 53.
54 TPTG BAB 54.
55 TPTG BAB 55.
56 TPTG BAB 56.
57 TPTG BAB 57.
58 TPTG BAB 58.
59 TPTG BAB 59.
60 TPTG BAB 60.
61 TPTG BAB 61.
62 TPTG BAB 62.
63 TPTG BAB 63.
64 TPTG BAB 64.
65 TPTG BAB 65.
66 TPTG BAB 66.
67 TPTG BAB 67.
68 TPTG BAB 68.
69 TPTG BAB 69.
70 TPTG BAB 70.
71 TPTG BAB 71.
72 TPTG BAB 72.
73 TPTG BAB 73.
74 TPTG BAB 74.
75 TPTG BAB 75.
76 TPTG BAB 76.
77 TPTG BAB 77.
78 TPTG BAB 78.
79 TPTG BAB 79.
80 TPTG BAB 80.
81 TPTG BAB 81.
82 TPTG BAB 82.
83 TPTG BAB 83.
84 TPTG BAB 84.
85 TPTG BAB 85.
86 TPTG BAB 86.
87 TPTG BAB 87.
88 TPTG BAB 88.
89 TPTG BAB 89.
90 TPTG BAB 90.
91 TPTG BAB 91.
92 TPTG BAB 92.
93 TPTG BAB 93.
94 TPTG BAB 94.
95 TPTG BAB 95.
96 TPTG BAB 96.
97 TPTG BAB 97.
98 TPTG BAB 98.
99 TPTG BAB 99.
100 TPTG BAB 100.
101 TPTG BAB 101.
102 TPTG BAB 102.
103 TPTG BAB 103.
104 TPTG BAB 104.
105 TPTG BAB 105.
106 TPTG BAB 106.
107 TPTG BAB 107.
108 TPTG BAB 108.
109 TPTG BAB 109.
110 TPTG BAB 110.
111 TPTG BAB 111.
112 TPTG BAB 112.
113 TPTG BAB 113.
114 TPTG BAB 114.
115 TPTG BAB 115.
116 TPTG BAB 116.
117 TPTG BAB 117.
118 TPTG BAB 118.
119 TPTG BAB 119.
120 TPTG BAB 120.
121 TPTG BAB 121.
122 TPTG BAB 122.
123 TPTG BAB 123.
124 TPTG BAB 124.
125 TPTG BAB 125.
126 TPTG BAB 126.
127 TPTG BAB 127.
128 TPTG BAB 128.
129 TPTG BAB 129.
130 TPTG BAB 130.
131 TPTG BAB 131.
132 TPTG BAB 132.
133 TPTG BAB 133.
134 TPTG BAB 134.
135 TPTG BAB 135.
136 TPTG BAB TERAKHIR
Episodes

Updated 136 Episodes

1
TPTG BAB 1.
2
TPTG BAB 2.
3
TPTG BAB 3.
4
TPTG BAB 4.
5
TPTG BAB 5.
6
TPTG BAB 6.
7
TPTG BAB 7.
8
TPTG BAB 8.
9
TPTG BAB 9.
10
TPTG BAB 10.
11
TPTG BAB 11.
12
TPTG BAB 12.
13
TPTG BAB 13.
14
TPTG BAB 14.
15
TPTG BAB 15.
16
TPTG BAB 16.
17
TPTG BAB 17.
18
TPTG BAB 18.
19
TPTG BAB 19.
20
TPTG BAB 20.
21
TPTG BAB 21.
22
TPTG BAB 22.
23
TPTG BAB 23.
24
TPTG BAB 24.
25
TPTG BAB 25.
26
TPTG BAB 26.
27
TPTG BAB 27.
28
TPTG BAB 28.
29
TPTG BAB 29.
30
TPTG BAB 30.
31
TPTG BAB 31.
32
TPTG BAB 32.
33
TPTG BAB 33.
34
TPTG BAB 34.
35
TPTG BAB 35.
36
TPTG BAB 36.
37
TPTG BAB 37.
38
TPTG BAB 38.
39
TPTG BAB 39.
40
TPTG BAB 40.
41
TPTG BAB 41.
42
TPTG BAB 42.
43
TPTG BAB 43.
44
TPTG BAB 44.
45
TPTG BAB 45.
46
TPTG BAB 46.
47
TPTG BAB 47.
48
TPTG BAB 48.
49
TPTG BAB 49.
50
TPTG BAB 50.
51
TPTG BAB 51.
52
TPTG BAB 52.
53
TPTG BAB 53.
54
TPTG BAB 54.
55
TPTG BAB 55.
56
TPTG BAB 56.
57
TPTG BAB 57.
58
TPTG BAB 58.
59
TPTG BAB 59.
60
TPTG BAB 60.
61
TPTG BAB 61.
62
TPTG BAB 62.
63
TPTG BAB 63.
64
TPTG BAB 64.
65
TPTG BAB 65.
66
TPTG BAB 66.
67
TPTG BAB 67.
68
TPTG BAB 68.
69
TPTG BAB 69.
70
TPTG BAB 70.
71
TPTG BAB 71.
72
TPTG BAB 72.
73
TPTG BAB 73.
74
TPTG BAB 74.
75
TPTG BAB 75.
76
TPTG BAB 76.
77
TPTG BAB 77.
78
TPTG BAB 78.
79
TPTG BAB 79.
80
TPTG BAB 80.
81
TPTG BAB 81.
82
TPTG BAB 82.
83
TPTG BAB 83.
84
TPTG BAB 84.
85
TPTG BAB 85.
86
TPTG BAB 86.
87
TPTG BAB 87.
88
TPTG BAB 88.
89
TPTG BAB 89.
90
TPTG BAB 90.
91
TPTG BAB 91.
92
TPTG BAB 92.
93
TPTG BAB 93.
94
TPTG BAB 94.
95
TPTG BAB 95.
96
TPTG BAB 96.
97
TPTG BAB 97.
98
TPTG BAB 98.
99
TPTG BAB 99.
100
TPTG BAB 100.
101
TPTG BAB 101.
102
TPTG BAB 102.
103
TPTG BAB 103.
104
TPTG BAB 104.
105
TPTG BAB 105.
106
TPTG BAB 106.
107
TPTG BAB 107.
108
TPTG BAB 108.
109
TPTG BAB 109.
110
TPTG BAB 110.
111
TPTG BAB 111.
112
TPTG BAB 112.
113
TPTG BAB 113.
114
TPTG BAB 114.
115
TPTG BAB 115.
116
TPTG BAB 116.
117
TPTG BAB 117.
118
TPTG BAB 118.
119
TPTG BAB 119.
120
TPTG BAB 120.
121
TPTG BAB 121.
122
TPTG BAB 122.
123
TPTG BAB 123.
124
TPTG BAB 124.
125
TPTG BAB 125.
126
TPTG BAB 126.
127
TPTG BAB 127.
128
TPTG BAB 128.
129
TPTG BAB 129.
130
TPTG BAB 130.
131
TPTG BAB 131.
132
TPTG BAB 132.
133
TPTG BAB 133.
134
TPTG BAB 134.
135
TPTG BAB 135.
136
TPTG BAB TERAKHIR

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!