Tangan berurat dan bertato itu terlihat lincah memainkan beberapa kartu di tangannya. Mata Elangnya menatap secara bergantian beberapa pria bermata sipit yang terlihat tenang sembari menyesap cerutunya.
"Kau sudah menyelesaikannya?"
Salah satu dari mereka bertanya dalam bahasa mandarin, ekor matanya yang sipit melirik pada pria berwajah Eropa yang tengah memainkan kartu remi di tangannya.
"Hm- itu tugas terakhirku bukan?"
Pria sipit itu terkekeh lalu mengangguk pelan, dia melemparkan satu kartu AS yang ada di tangannya ke atas meja permainan.
"Sepertinya kau sudah tidak tahan lagi untuk bertemu dengan dia," cetusnya dengan nada mengejek.
"Benar bukan?" imbuhnya.
Pria bertato ular itu tidak merespon, bahkan melirik pun tidak- dia lebih memilih bangkit dan meninggalkan meja permainan dari pada harus mendengarkan celotehan pria itu.
"HEI! KAU BELUM MENJAWAB PERTANYAAN KU. AKU PENASARAN BAGAIMANA RUPA DIA, HINGGA MEMBUAT MU TAKUT UNTUK MEMBAGINYA DENGAN KAMI!" teriakan pria bermata sipit itu masih diabaikan, pria bertato ular itu malah mengacungkan jari tengahnya ke arah belakang tanpa menoleh- dan tidak lama setelah dia pergi dari tempat itu tawa beberapa rekannya menggema.
Kedua kaki kokohnya menyusuri jalanan, bibirnya terus saja mengepulkan asap dari cerutu yang di hisapnya. Sesekali kedua matanya melirik ke area sekitar, memperhatikan orang orang yang lalu lalang seperti robot.
Pyiuuh!
Dia membuang cerutunya, lalu menginjaknya hingga hancur. Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan Macau, tangannya merogoh ponsel yang ada di dalam saku celana jeans lusuh yang di pakainya.
Dahinya mengernyit kala melihat sebuah pesan masuk dan sebuah video singkat di layar ponselnya.
'Gadis mu cantik juga. Lihat, dia sudah tumbuh menjadi bunga yang sangat indah dan ranum.'
Tulisan yang ada di layar ponselnya membuat raut wajahnya berubah drastis. Rahangnya mengetat, kedua matanya menatap dingin pada nomor tidak di kenal yang mengirimkan pesan sialan itu padanya.
Kepalan tangannya semakin mengerat kala video singkat itu dia putar. Seorang gadis berwajah campuran tengah berjalan di atas catwalk, hanya beberapa detik setelah itu selesai.
"Sh*it!" umpatnya.
Napasnya naik turun, dengan kasar dia menyugar rambutnya sembari menendang kaleng kosong yang tidak jauh darinya. Salah satu tangannya mengotak atik layar ponsel, memanggil nomor yang tadi mengiriminya sebuah pesan dan video singkat.
Tapi dia kembali mengumpat kasar, bahkan membanting ponselnya ke jalanan kala nomor sialan itu tidak lagi aktif. Bertahun tahun dia menyembunyikan identitas dan dari mana dirinya berasal, siapa saja yang pernah berinteraksi dengannya sebelum memutuskan untuk pergi ke tempat ini, ternyata bisa terbongkar.
Kedua kakinya melangkah cepat, setelah memungut bangkai ponsel yang sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Pria itu terlihat gelisah, raut wajahnya yang selalu tidak bersahabat semakin tidak enak di pandang.
Dengan berjalan kaki akhirnya dia sampai di sebuah apartemen kecil yang jauh dari kata mewah, kedua kaki panjangnya segera bergerak cepat menaiki anak tangga- kepalan tangannya masih terlihat, bahkan saat ada beberapa tetangga apartemen yang menyapanya terpaksa dia abaikan.
Braak!
Dengan kasar dia membuka pintu apartemennya, mungkin kalau pria bertato itu melakukannya sekali lagi, pintu alumunium itu akan lepas dari engselnya.
Jangan berharap keadaan apartemen yang dia tempati rapih dan bersih. Kamar apartemen itu terlihat cukup berantakan, pakaian berserakan di soda dan di tempat tidur. Bahkan beberapa dalaman ikut tercecer di sana.
Pria itu kembali mengumpat kala mendapati dua orang manusia tengah bergumul di atas karpet bulunya.
"LEY! SIALAN KAU. GUNAKAN RUMAH MU SENDIRI SAAT KAU BERCINTA DENGAN PARA ******* MU!"
Teriakan itu tidak mampu membuat dua orang berbeda gender itu terganggu, pria yang bernama Ley itu malah semakin menunjukan kebrutalannya pada sang teman.
Sedangkan pria bertato ular yang melingkar di lehernya itu menghela napas kasar, dan segera meraih tas punggung serta surat surat berharganya dari lemari pakaian, mengabaikan desa*han gila kedua manusia laknat di bawah sana.
"Lee! kau tidak ingin bergabung?!"
Pria yang tengah memompa wanita bi*nal di bawah kukungannya itu terkekeh kala melihat mata tajam menusuk yang di layangkan oleh teman kerjanya. Dia memang sengaja meminjam apartemen sang teman agar kekasihnya tidak mengetahui kalau dirinya sedang menggempur seorang ******.
Sementara pria bertato yang di panggil Lee itu, segera mendudukkan dirinya di sofa. Kedua tangannya sibuk membongkar isi tas punggung yang di bawanya, dan beberapa kertas yang baru saja dia keluarkan.
Pasport, Visa, buku tabungan, ATM bahkan sebuah foto usang seorang gadis kecil yang selalu dia bawa. Terlebih saat dirinya memutuskan untuk pergi dari kediaman orang tua sang gadis, setelah Sang Tuan memberikan kebebasan hidup padanya.
Dan sekarang disinilah dirinya, menetap di Macau beberapa tahun- untuk menuntaskan pekerjaan yang dia ambil sebelum memutuskan semua ini. Menanggung segala resikonya, bahkan menyembunyikan identitas asli serta negara asal yang pernah dia tempati.
Tapi dia tidak mengerti kenapa, setelah bertahun tahun menutup rapat semua tentangnya- kenapa sekarang semua itu perlahan di usik oleh seseorang yang tidak dia ketahui.
Siapa orang itu?
Apa mereka pernah memiliki masalah sebelumnya? atau orang itu adalah salah satu manusia yang di kenalnya?
Musuh dalam selimut!
Braak!
Lamunannya buyar kala mendengar sebuah suara dari arah kamarnya. Pria itu memasukan semua barang barang berharganya kedalam tas punggung hitamnya, lalu segera membawa benda itu.
Tapi sebelum dia keluar dari apartemennya, ekor matanya melirik sebuah ponsel mahal yang tergeletak di atas sebuah tas wanita. Dia yakin kalau ponsel itu milik Ley, atau wanita sialan yang tengah menjual tubuhnya pada pria itu.
"Maaf Ley, sepertinya kali ini Lucia harus tau apa yang sedang kau lakukan saat ini, di apartemen ku. Anggap saja ini adalah bayarkan yang harus kalian berikan padaku karena berani mengotori tempat ini!"
Kedua tangannya sibuk mengetik beberapa kata, dan bersiap untuk dia kirimkan pada seorang wanita yang menjadi kekasih pria sialan yang tengah bercinta di kamarnya.
'Ley bermain ******, datanglah ke apartemen ku. Bila perlu bawa suntikan mati untuk memberi pelajaran pada jantan mu itu!'
Dari Lee.
Begitulah kira kira pesan yang di kirimkan olehnya pada wanita yang bernama Lucia. Setelah selesai, dia segera pergi membawa ponsel milik salah satu manusia sialan itu. Kedua kaki kokohnya melangkah lebar, kedua matanya menatap ke arah jalanan mencari kendaraan umum yang akan membawanya ke suatu tempat.
Hari ini dia akan meminta kesepakatan yang sudah berakhir, dan menuntut perjanjian yang dulu pernah mereka setujui. Mengirimnya ke Indonesia dengan cara apa pun, bahkan akan menerima pekerjaan apa pun dan pada siapa pun asal dia bisa berada di negara itu tanpa halangan.
**GERAH BANG, BERENDEM YUK😘😘😘😘
SEE YOU TOMORROW MUUAAAACCHHH😘😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
YuWie
bayanginnya maximo
2024-02-22
0
Alexandra Juliana
Simba mau nyamperin bunganya ke Indonesia
2023-08-30
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘪𝘮𝘣𝘢 𝘯𝘪𝘩
2023-04-28
0