Liara dan Delila berjalan santai memasuki kawasan kampus. Kedua gadis beda usia itu mengabaikan tatapan para mahasiswa yang secara terang terangan menatap ke arah mereka berdua. Bahkan ada yang tidak tahu malunya mengedip dan memberikan kecupan jauh pada Delila.
Gadis Prayoga itu bergidik ngeri, dia memang bukan gadis yang baru saja keluar dari rumah atau anak rumahan yang patuh dan taat. Tapi Delila bukan gadis yang gampang menyukai lawan jenis, dia adalah tipe pemilih.
"Well well well, liat siapa yang datang guys?! gimana kakinya udah sembuh belum? belum ya, aduh jadi lo gak bakalan bisa buat- HEH GUE BELUM SELESAI NGOMONG SAMA LO CEWEK LOSER!"
Dahliara mengabaikan teriakan dan ocehan gadis yang memang tidak pernah ingin berhenti mengganggunya. Bahkan gadis yang katanya dari keluarga konglomerat itu tidak pernah ingin ketinggalan satu langkah pun darinya.
"Dia siapa, Kak?"
Dahliara menoleh, kemudian tersenyum tipis pada Delila yang terlihat penasaran dengan Hyena.
"Hyena, dia cewek famous di kampus ini,"
Dahi Delila mengernyit, kemudian menoleh kebelakang gadis remaja itu menghentikan langkahnya lalu mengacungkan jari tengahnya pada geng Hyena dengan senyuman mengejek.
"Cewek pemakan ******!" serunya cukup kencang membuat orang orang bahkan geng Hyena menatap kearahnya.
"JANGAN SOK LO, KALO LO TAU SIAPA KAKAK GUE BISA SAWAN LO NANTI. DIA ITU BUKAN CEWEK LOSER, TAPI TU- EEMMPPHH!"
Delila membeliak kala Dahliara membekap mulutnya dan menyeret tubuhnya dari tempat itu. Terlebih saat melihat wajah Hyena merah padam karena menahan emosi. Liara yakin kalau Hyena pasti akan meledak sebentar lagi karena baru kali ini ada yang berani melawannya secara terang terangan, dan di hadapan semua orang.
Hyena akan merasa harga dirinya ternodai karena kejadian ini. Terlebih yang mengatainya adalah seorang bocah berseragam SMA yang baru saja lulus.
"CEWEK KEMBANG SIALAN LO YA! GUE BAKALAN BALES LEBIH PARAH DARI INI!"
Dahliara mengabaikan teriakan murka Hyena, dia bisa saja lebih bar bar dari Delila. Tapi itu bukan gayanya, dia lebih suka diam dan memperhatikan- setelah puas dan keterlaluan tindakan yang akan dia ambil jauh di luar nalar mereka.
"Kamu bakalan di kejar sama dia. Sebelum puas Hyena sama gengnya gak bakalan lepasin kamu Del," Liara tertawa kecil melihat adik sepupunya berdecak.
Dia paham apa yang tengah Liara rasakan sekarang. Dia pasti merasa panas karena ucapan Hyena yang secara langsung menghinanya.
"Emang ****** tuh cewek. Dia gak tau aja siapa Kak Ara, kalau dia sama geng pemakan bangkenya itu tahu- udah sawan mereka!"
Tawa Dahliara semakin kencang, tangannya terulur mengacak rambut Delila yang sedikit pirang karena di warnai. Dahliara merangkul gadis remaja itu dan melanjutkan langkah mereka.
"Kamu mau liat kampus ini kan? ayo Kakak antar kamu keliling, setelah itu kamu pulang!"
Delila menghela napas pelan, gadis remaja itu mengangguk lemas terpaksa mengikuti ucapan Dahliara. Keduanya mulai berkeliling, Dahliara memberitahukan satu persatu jurusan yang ada di kampusnya. Ruangan apa saja yang sering dia masuki, ektra kulikuler apa yang paling terkenal dan sering ditandingkan.
"Kak Ara ikut eskul apa?"
Delila memiringkan kepalanya, saat melihat kedua mata Dahliara menatap kearah parkiran kampus. Gadis remaja itu ikut menatap karena penasaran, dahinya mengernyit, kedua matanya menyipit saat melihat Hyena tengah berbicara dengan dua orang pria.
"Si ****** lagi ngomong sama si- KAK ARA!"
Delila berseru kala melihat Liara berjalan cepat. Kedua matanya menatap lurus dan tajam pada salah satu pria yang tengah berbicara dengan Hyena. Bahkan pria berkemeja hitam itu terlihat menunduk sopan pada Hyena yang tengah tersenyum manis.
"Baiklah Nona, saya permisi dulu. Tuan Lee yang akan menggantikan saya sebagai sopir dan pengawal anda yang baru," pria paruh baya itu membungkukkan sedikit tubuhnya pada Hyena. Lalu perlahan mundur, ekor matanya melirik pada pria muda yang di sewa oleh Tuan Besarnya.
"Ya ya! Pak Asep pulang aja. Dia aja udah cukup buat aku!" Hyena mengibaskan satu tangannya pada pria tua itu.
Kedua matanya menatap lekat pada pria berwajah tampan, tapi begitu datar dan dingin yang menjadi pengawal dan sopir barunya.
'Papa memang pinter banget nyari pengawal buat aku!' soraknya dalam hati.
Tidak jauh dari Hyena dan pengawalnya, Dahliara berdiri dengan wajah terlihat bingung. Satu alisnya terangkat, dia menatap lekat pada pria yang terlihat tidak asing di kedua matanya walaupun pria itu sudah memakai kacamatanya.
'Simba,' gumamnya dalam hati.
Kedua tangannya terkepal, rahangnya mengetat, kedua matanya menyorot dingin pada kedua manusia yang masih saling berhadapan itu.
"Kak Ara, astaga aku-, KAK ARA MAU KEMANA LAGI?" suara teriakan Delila yang cukup keras membuat Hyena dan pria itu menoleh.
Hyena terlihat berdecih pelan melihat kedua gadis yang tidak disukainya itu. Sementara sang pria yang ada di dekatnya hanya terdiam tanpa ekspresi, dengan kedua mata menatap lekat pada punggung Liara.
"Mereka adalah dua orang yang harus kamu beresin saat aku perintahkan, apa kamu mengerti!" cetus Hyena tanpa melihat pada pengawal barunya.
Sang pengawal menoleh, menatap datar dan memindai Hyena dari atas hingga bawah.
"Saya mengerti Nona, anda jangan khawatir dia akan saya tangani dengan senang hati!" sahutnya tenang.
"Bagus! aku suka cara kerja mu!" Hyena menepuk pipi pengawal barunya, lalu melangkah pergi meninggalkan pria itu. Selepas kepergian Hyena, sang pria merogoh sebuah sapu tangan berukir bunga Dahlia Putih di saku celana bahannya, lalu mengusap pipinya yang di sentuh oleh Hyena tadi tanpa ekspresi.
**BANG SIMBA TOLONG YA, JANGAN GEDE GENGSI ENTAR EMAK JODOHIN SI BUNGA SAMA COWOK LAEN, LO SAWAN 😏😏
SEE YOU TOMORROW MUUAACCHH😘😘😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
awesome moment
hyena dibungkam simba pake jalur lain yg g nyenggol liara
2024-09-23
0
HNF G
hayoh looo.......akankah terjadi perang dunia ke 3??? 😅😅😅😅
2024-08-23
0
Alexandra Juliana
Kita lihat reaksi Liara saat tau Simbanya jd pengawal di pamakan bangkai
2023-08-30
0