"Sepertinya batu ini bisa disatukan," ucap Rahul saat memperhatikan bentuk batu itu.
"Ah iya, sepertinya begitu, coba kita satukan," balas Nikki. Ketiganya sontak melepas kalung mereka dan menyatukan batu itu. Mata mereka sontak membulat saat batu itu benar benar menyatu dengan pas.
"Kenapa bisa pas begini? Apa batu ini ada hubungannya dengan pulau ini?"
Mereka begitu terkejut dengan apa yang mereka lihat. Batu berwarna ungu itu benar benar menempel satu dengan yang lainya. Rasa penasaran mereka semakin menyeruak dengan ditemukannya satu lagi keanehan. Namun sayang, di saat batu itu hendak mengeluarkan sinarnya, sebuah suara mengagetkan mereka hingga ketiga pemuda itu melepas batu itu dan segera menyembunyikan.
"Kalian lagi pada ngapain? Kirain lagi cuci muka?" tanya wanita yang belum tahu namanya itu.
"Eh ... itu ... kita lagi kagum aja sama aliran air ini, jernih banget," jawab Jack asal dengan gugupnya.
"Iya, benar, airnya sangat jernih, kayaknya enak untuk mandi," Rahul ikut menimpali.
Kening wanita itu berkerut dan memicingkan mata ke arah ketiga pemuda di hadapannnya. "Apa kalian baru tinggal disini? Kok baru tahu ada sungai di belakang tempat tinggap kalian?"
Jack dan dua pemuda yang lain sontak terkesiap. Pertanyaan si wanita membuat mereka bingung mau menjawab apa. Tapi beberapa saat kemudian mereka merasa lega saat si wanita malah menyuruh mereka cepat cuci muka karena takut hidangannya keburu dingin. Ketiga pemuda nampak lega dan mereka langsung turun ke sungai.
Sementara itu ditempat yang sangat jauh, naga betina yang sedang menjelma sebagai wanita tiba tiba merasakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dadanya mendadak bergemuruh dan wajahnya terlihat sangat gelisah.
"Kamu kenapa, Istriku?" tanya Naga Jantan yang merasa aneh melihat perubahan sikap istrinya.
"Tidak tahu, Suamiku, sepertinya aku merasa bola api ungu telah kembali," jawab Naga Betina.
"Apa!" pekik Naga Jantan dengan mata membelalak. "Apa kamu yakin, istriku?"
"Entah, Suamiku, tapi aku merasakannnya."
Naga Jantan langsung memeluk Naga Betina dengan wajah terlihat bahagia. "Baiklah, Istiku, aku akan mencoba mencarinya."
"Terima kasih, Suamiku," Naga Betina membalas pelukan erat sang suami dengan rasa yang tidak kalah bahagia. Dengan adanya bola api ungu, kekuatan Naga Betina akan segera pulih dan dia bisa memiliki keturunan kembali.
Sementara itu, masih di area rumah bekas dalam hutan, setelah selesai sarapan, tiga pemuda dan satu wanita memilih duduk di bawah pohon besar dekat sungai kecil. Mereka masih bingung harus bagaimana saat ini. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan selain mencari informasi.
"Oh iya, boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Nikki disela sela obrolan mereka. Padahal sudah lumayan lama mereka bercengkrama, tapi bisa bisanya baru kepikiran untuk menanyakan nama.
"Namaku Insana," jawab si wanita dengan senyum manisnya. Tapi ketiga pemuda seketika malah terbahak hingga kening wanita bernama Insana itu mengerutkan kening. "Kenapa? Ada yang lucu?"
"Yakin nama kamu Insana?" tanya Rahul memastikan. Wanita itu sontak mengangguk. "Nama kamu kayak nama obat penurun panas untuk anak anak."
Kening Insana semakin berkerut, tapi tak lama kemudian dia berdecih, "cihh, nggak lucu tahu!"
Eh, beneran ... kalau aku tahu jalan pulang, aku pasti akan tunjukin bentuknya deh," balas Rahul lagi.
Tanpa mereka sadari, suara tawa ketiga pria itu mengundang penasaran dua orang yang kebetulan sedang mencari kayu bakar dan bahan makanan di dalam hutan. Dua orang yang pastinya adalah wanita itu, sontak saja langsung kaget.
Seperinya aku mendengar suara laki laki?" ucap salah satu dari wanita itu dengan mengedarkan pandangannya.
"Sama, aku juga. Apa mungkin di dalam hutan masih ada sisa laki laki?" ucap wanita yang satunya penasaran.
"Sebaiknya kita selidiki dulu."
Kedua wanita itu sontak melangkah perlahan dan mengendap endap ke arah sumber suara. Mata mereka seketika membelalak saat mereka berhasil menenumkan sumber suara dan melihat ada tiga pria dan satu wanita sedang bercengkrama sambil bercanda di bawah pohon.
"Bukankah itu Insana? Kenapa dia masih hidup? Pantas kita cari jasadnya nggak ketemu."
"Apa mungkin pemuda itu yang menolong Insana, dan sepertinya tiga pemuda itu bukan orang kita."
"Benar! Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita langsung menyergapnya atau kita mendatangi sang ratu dan memberi tahu semuanya?"
"Lebih baik kita memberi tahu sang ratu, pasti nanti ratu mengambil tindakan untuk mereka."
"Baiklah, Ayo!"
Kedua wanita itu perlahan menjauh dan segera pulang untuk memberi kabar yang mungkin akan menggemparkan semua penduduk disana.
...@@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
S H 10
hahaha /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2025-01-20
0
Tiffany_Afnan
lagi mam bubur auto nyembur thor,dr sekian banyak nama. insana ceunah. 🤣🤭
2024-10-07
0
Dwisur
Insana oeeee...
2024-09-18
0