"Gawat! Mayatnya tidak ada!"
"Apa! Bagaiman bisa!"
"Benar, tidak ada jejaknya sama sekali!"
"Sial! Cari sampai ketemu!"
Para wanita yang berpakaian seperti prajurit langsung berpencar di daerah dasar lembah. Mereka mencari sosok yang baru saja mereka korbankan untuk memohon ampunan. Tapi sayang, korban itu malah menghilang, bahkan tidak ada jejak satu pun yang ditinggalkan.
Seperti biasa, jika ritual telah selesai, jasad yang telah menjadi korban akan mereka bakar lalu abunya mereka buang ke laut. Tapi kali ini nampaknya hal itu tidak akan terjadi, sebab korban menghilang entah kemana.
Rasa khawatir tentu saja langsung menyeruak dalam pikiran penduduk. Mereka takut akan kembali mendapat kemalangan jika tidak memberi persembahan. Menjadi wanita yang tidak bisa disentuh oleh laki laki saja mereka sangat tersiksa, apa lagi jika ada kemalangan baru.
"Bagaimana ini ketua? Korban benar benar menghilang," ucap salah satu prajurit pada pimpinannya.
"Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan, cari sampai kemanapun, bila perlu hingga ke dalam hutan!"
Sementara itu, orang yang mereka cari kini sedang tidur nyenyak. Tapi sebelum tidur wanita itu memberi tahu agar rumah lebih baik dalam keadaan gelap seperti rumah kosong yang lain. Karena wanita itu yakin, penduduk pasti akan mencarinya hingga sampai ke hutan.
Ternyata benar juga, beberapa prajurit memang menyambangi tempat tersebut. Beruntungnya, mereka hanya melewatinya saja tanpa mau mengecek ke dalam. Di sekitar rumah itu memang ada sekitar tiga rumah yang ditinggal pemiliknya. Tanpa mereka sadari juga, dari salah satu rumah itu ada cahaya biru dari salah satu kamar.
Hingga pagi menjelang korban yang mereka cari tak kunjung ditemukan. Sang pemimpin semakin frustasi. Tapi dia tidak bisa berbuat apa apa untuk masalah ini. Karena mereka menganut paham kepercayaan, para penduduk percaya kalau hari sudah berganti, berarti waktu upacara untuk persembahan telah habis. Mereka harus menunggu bulan purnama berikutnya.
Berbeda dengan keadaan tiga pemuda yang baru saja terbangun dari tidurnya. Mereka terbangun karena mencium sesuatu yang sangat nikmat. Sontak saja mata mereka langsung terbuka dan dengan segera mereka keluar dari satu kamar yang dipakai bersama.
Rasa kantuk mereka seketika hilang saat mata mereka melihat beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas dipan. Tanpa pikir panjang, mereka langsung saja duduk di tepi dipan mengelilingi hidangan yang telah tersaji.
"Apa kalian tidak cuci muka dulu?" suara seorang wanita keluar dari arah dapur hingga ketiga pemuda itu menoleh.
"Darimana kamu dapat bahan makanan ini?" bukannya menjawab, Nikki malah melempar pertanyaan. Tentu saja Nikki heran, karena selama dia berada disini, kesehariannya Nikki hamya makan umbi umbian ataupun buah yang dia temukan di hutan.
"Di hutan banyak bahan makanan, soal beras, aku dapat dari rumah kosong sebelah sana," jawab si wanita menunjuk arah dengan mengangkat dagunya. "Begitu juga dengan gula dan garam."
"Kamu pagi pagi sekali udah keluyuran ke hutan?" tanya Rahul dengan wajah terkejut.
Wanita itu mengangguk seraya tersenyum manis. "Bagi kami, ke hutan adalah hal biasa, apa lagi sejak tidak ada penghuni laki laki disini, mau tidak mau semua pekerjaan lelaki, kami yang mengerjakan."
Ketiga pasang mata itu menatap si wanita dengan perasaan kagum. Mereka berpikir, pasti wanita itu sebenarnya sangat sedih dengan keadaan yang seperti ini.
"Kalian lebih baik cuci muka dulu, masa bangun tidur langsung makan," oceh si wanita hingga membuyarkan pikiran Jack dan dua pria lainnya.
Mereka kompak beranjak menuju tempat dimana ada air yang mengalir seperti sungai dengan air yang sangat jernih. Mereka serentak melepas baju yang berbentuk rompi agar tidak basah karena mereka akan turun ke dasar sungai.
"Eh, kalian punya batu itu juga?" ucap Jack saat melihat Nikki dan Rahul memakai kalung dengan bantul batu berwarna ungu. Bentuknya pun sama, seperti irisan buah jeruk. Nikki dan Rahul merasakan keterkejutan yang sama saat melihat kalung Jack.
"Loh, kamu punya juga?" Nikki balik bertanya. Mana bentuknya sama lagi."
Mereka yang niat awal mau cuci muka malah mendadak lupa karena teralihkan perhatiannya kepada kalung yang mereka pakai. Mereka pun saling memperhatikan kalung tersebut sambil menceritakan sejarah mendapatkan batu itu.
Nikki mendapatkannya saat sedang bermain di pantai. Batu itu berada di antara karang ketika dia terjatuh karena mengambil foto. Sedangkan Rahul mendapatkan batu itu ketika sedang berwisata ke sebuah danau. Rahul pun menemukan batu itu saat sepeda yang dikendarai dia terpeleset dan jatuh di tepi jalan.
"Sepertinya batu ini bisa disatukan," ucap Rahul saat memperhatikan bentuk batu itu.
"Ah iya, sepertinya begitu, coba kita satukan," balas Nikki. Ketiganya sontak melepas kalung mereka dan menyatukan batu itu. Mata mereka sontak membulat saat batu itu benar benar menyatu dengan pas.
"Kenapa bisa pas begini? Apa batu ini ada hubungannya dengan pulau ini?"
...@@@@@...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
S H 10
ada kemungkinan batu itu ada kaitan sama pulau juga sihh..
2025-01-20
0
Juwanto
JACK, Nikki, Rahul Mau Cuci Muka Ke3 nya Kaget Kok Punya Batu Biru Semua Ber 3 Ngobrol Batu Coba di Satukan .... Hasil Nya Apa
2023-05-01
0
Bunda windi❤ 💚
jelas ada hubungannya wong batu itu asalnya juga dari situ..
2022-11-30
1