“Pantas dan tidak pantas, tidak ada hubungannya denganmu! Karena yang memilih dan berkuasa disini adalah Raja Gerald Duton Pattius!”
Semua orang menatap tajam pada Leo yang berani berbicara kepada mereka semua. Bahkan, di antara orang-orang itu ada yang menatap dengan tatapan membunuh pada Leo. Ada juga menatap dan tersenyum mengejek pada pria itu.
"Kau sebaiknya diam saja! Karena Kau sudah tidak di terima lagi di sini!" Raja Alexander klan Lucifer itu berbicara dengan nada marah pada Leo.
"Diam kau!" bentakkan keluar dari bibir Roland raja dari klan Wolves sekaligus paman Leo. Roland tidak terima Raja Alexandre berbicara kasar pada keponakannya.
Ruangan utama itu menjadi tampak tegang akibat perselisihan antara klan Lucifer dan Wolves.
Crattss
Petir menyambar di iringi dengan sebuah penghalang yang mengelilingi seluruh klan.
"Tenanglah kalian semua! Apakah kalian semua ingin kita menjadi abu saat ini juga?" suara lantang Esmeralda yang terdengar gemetar, membuat Raja Alexandre dan Roland menoleh padanya. "Kalian lihat itu!" Emeralda menunjuk penghalang yang sudah mengintari area sekitar.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Mereka tahu jika Gerald sudah mengeluarkan penghalang, pasti akan ada kemusnahan.
"Tenanglah. Kita bisa membalas mereka nanti," ucap Raven Raja klan penyihir pelan saat dirinya sudah berada dekat dengan raja Klan Lucifer.
"Tujuan kita sama." Lanjut raja Raven kepada Alexandre.
Semua menunduk hormat saat Gerald sudah berada di dalam ruang utama.
"Sudah aku katakan, pertemuan hari ini sudah selesai!" tegas Gerald dengan tangannya yang terulur ke atas dan seketika keluar petir yang menggelegar dan menyambar.
"Ampunin kami, Yang Mulia." Mereka semua berucap bersamaan.
Akhirnya Gerald pun melepaskan penghalang yang di buatnya.
***
Sudah 2 hari Silvana berada di kerjaan Vinhart. Dan kini, sudah saatnya wanita itu kembali dan menjalani aktivitas normalnya di dunia nyata.
Kini Silvana sudah kembali ke rumah. Gadis itu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Ibu Lyna. Sejak tiba di rumah, Silvana belum sekali pun melihat keberadaan Carrie.
Silvana berjalan menuju halte bus. Seratus meter lagi dirinya akan tiba. Namun, ia menghentikan langkahnya karena sebuah klakson mobil yang terus menerus di bunyikan. Wanita itu mengalihkan pandangannya menatap 2 mobil Bugatti Veyron mewah menepi di dekatnya.
Silvana menautkan kedua alisnya menatap heran pada mobil tersebut. Eudora keluar dari dalam mobil Buggati berwarna biru dan di pintu lainnya Leo ikut turun.
Sementara di mobil Buggati Hitam keluar Gerald dengan pakaian casualnya ditambah rambut berwarna abu" yang menambah ketampanannya. Di sisi lainnya Luis juga ikut turun dari mobil dan menunduk hormat.
Gerald berjalan mendekati Silvana.
"Pagi, ratuku." Gerald berucap sembari mengecup kening Silvana. Hingga membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Tu-tu-tuan, sedang apa Tuan di sini?" tanya Silvana sembari mundur dari posisinya.
"Aku akan mengantarmu ke kampus." balas Gerald sembari mendekat dan menggenggam jemari Silvana dan membawa wanitanya menuju kursi penumpang.
"Tunggu Tuan, bagaimana dengannya?" Silvana menunjuk Luis yang berdiri tidak jauh darinya.
"Tidak perlu pikirkan itu, semua sudah ku atur." jawab Gerald sembari mengulas senyum.
Luis bertukar tempat dengan Leo. Luis pergi bersama Eudora menggunakan mobil Buggati Biru, sedangkan Leo sudah berlari dan menghilang meninggalkan tempatnya.
Mereka tiba di kediaman Layla. Silvana terlihat bingung mengapa dirinya di bawa ke rumah Layla bibi Leo bukan ke kampusnya.
"Kita mau apa ke sini Tuan?" tanya Silvana menatap Gerald bingung.
"Tenanglah, ratuku. Aku hanya ingin mengubahmu sedikit!" sahut Gerald sembari menggenggam tangan Silvana lalu mencium punggung tangan wanitanya.
Tak beberapa lama kemudian, Layla dan dua orang pelayan di rumahnya datang dan meminta izin membawa Silvana ke dalam sebuah ruangan.
Silvana tertegun saat melihat dirinya kini sudah berubah menjadi gadis cantik dan modisu. Karena Layla dan dua orang pelayan tersebut. Gerald tersenyum saat melihat tampilan Silvana yang terlihat begitu cantik.
Silvana, Gerald, Luiz, dan Eudora tiba di kampus. Kampus menjadi heboh saat kedatangan 2 mobil Bugatti Veyron. Tak lama Eudora keluar dari dalam mobil Bugatti berwarna biru dan diikuti Luiz yang turun dari pintu satunya. Semua mata gadis yang ada di sana menatap penuh kagum pada ketampanan Luiz.
Di mobil Buggati berwarna hitam turun Gerald yang langsung mendapat teriakan histeris para wanita yang melihatnya. Karena ketampanannya bahkan seperti seorang dewa. Bukan hanya tampan tapi sangat-sangat tampan. Gerald mengitari mobil dan membukakan pintu penumpang sembari mengulurkan tangannya. Silvana menerima uluran tangan Gerald dan tersenyum canggung.
Semua mahasiswa yang melihat itu tercengang melihat Silvana keluar dari dalam mobil bersama pria tampan dan dengan tampilan cantiknya.
Gerald tersenyum melihat Silvana, tangannya terulur mengelus rambut Silvana.
"Masuklah. Aku akan pergi sebentar mengurus sesuatu bersama Luis." ucap Gerald tersenyum manis.
"Hati-hati." balas Silvana dengan senyum manisnya.
Silvana dan Eudora pun masuk ke dalam kampus setelah Gerald dan Luis pergi.
Di depan kelas ternyata sudah ada Leo yang menyandarkan punggungnya pada dinding di dekat pintu kelas.
"Apa yang kamu lakukan di sini. Ini bukan fakultas Teknik," ucap Silvana menatap Leo.
"Aku baru selesai membereskan masalah." jawab Leo tersenyum sembari menunduk hormat pada Silvana.
"Ingat kita di dunia manusia, tak perlu sopan padaku." ujar Silvana takut ada mahasiswa yang melihat apa yang baru saja Leo lakukan.
"Baik. Kalau begitu saya permisi!" sahut Leo dan meninggalkan Silvana.
"Eehh...." Silvana tidak melanjutkan perkataannya karena Leo sudah menjauh.
"Masalah apa yang dimaksudnya? dan kenapa di kelasku?" gumam Silvana setelah duduk di bangkunya.
"Hanya masalah kecil Yang Mulia tidak perlu dipikirkan."
"Kak, sudah aku katakan jangan panggil aku Yang Mulia atau apa pun itu. Di sini aku Silvana gadis biasa oke!" sungut Silvana sedikit kesal.
"Tapi-" belum sempat Eudora melanjutkan perkataannya Silvana sudah memotong.
"Patuhi aku. Aku ratu dan kakak harus mematuhi semua permintaanku!" Perintah Silvana dengan suara pelan dan mendapat anggukan kepala dari Eudora.
"Huft... Harus menggunakan ancaman dengan kata ratu dulu baru mereka mendengarkan aku." Silvana mendesah pelan.
Sementara di taman seorang gadis menangis setelah melihat Gerald dan Luis yang baru saja mengantar Silvana. Mata gadis itu merah dan terlihat kebencian di matanya.
*Bersambung.
hai readers jangan lupa like dan komen ya ...
terus dukung aku ya. terimakasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
rya22
mana visual Leo thor
2022-11-24
0
Nia sumania
visual mereka donk Thor ...
2022-11-21
3
Bhebz
bunga untuk babang Leo
2022-11-19
2