Part 3 hutan hylius

Gerald berada di antara dua patung putih dan menyentuh ujung sayap patung tersebut perlahan sayap yang disentuhnya itu berubah sedikit demi sedikit  mejadi bulu-bulu halus. Gerald melepaskan sentuhannya dan mundur satu langkah. Kedua patung putih itu berubah dengan cepat. Kedua sayapnya kini mengepak dengan nyata. Lalu di detik berikutnya patung itu berubah menjadi seorang pria yang sangat tampan tak jauh berbeda dengn Gerald.

Kedua Pria itu kini tertunduk dan bersujud di depan Gerald.

“Salam saya Hydan. Yang Mulia” Ucap salah satu pria yang bernama Hydan itu

“Salam saya Elyus. terima kasih karena sudah membuka segel kami Yang mulia.” Pria yang bernama Elyus pun memberikan hormat pada Gerald.

“Bangunlah. Terima kasih karena kalian sudah mau membuktikan kesetiaan kalian padaku dan mau menjagaku hingga kalian ikut di segel. Aku percaya pada kalian.

“Terima kasih yang mulia. Itu sudah jadi tugas kami dan suatu kehormatan bisa menjadi orang kepercayaan serta melindungi Yang mulia.” Hydan  membungkukkan badannya.

“Benar Yang mulia kami merasa sangat terhormat bisa melindungi Yang mulia.” Elyus ikut melakukan hal seperti Hydan.

Gerald memejamkan matanya dan membentangkan tangannya selang beberapa detik sayap berwarna emas muncul dari balik punggungnya. Perlahan tubuh Gerald melayang terbang dan membuka matanya kini warna matanya berubah menjadi seperti warna sayapnya.

“Sekarang hutan ini adalah hutan kekuasaan kalian hutan Hylius, Hutan yang akan memberikan kalian kekuatan hingga tak ada satu pun yang mampu menghancurkan hutan ini baik dari Klan Valk dan klan penyihir.” Gerald mengepakkan sayapnya hingga muncul kilauan cahaya seperti gelombang mengelilingi hutan ini.

“Terima kasih Yang mulia.” kedua pria itukembali bersujud berterima kasih, karena Hutan ini adalah hutan kehidupan perbatasan antara Kaum Valk dan kaum penyihir ataupun kaum iblis seperti Gerald dimana Hutan ini selalu menjadi rebutan diantara kaum tersebut.

“Jagalah pohon kehidupan yang ada di hutan ini suatu saat aku akan mengambilnya.” Gerald sudah menjadi manusia biasa sekarang.

“Baik Yang mulia.” Balas Hydan dan Elyus.

Gerald berada disebuah patung berwarna coklat dekat dengan pohon kehidupan. Gerald menggigit tangannya hingga mengeluarkan darah dan tetesan darah itu di dekatkan ke mulut patung di depannya. Sama seperti Hydan dan Elyus patung itu berubah menjadi seorang Wanita cantik bahkan sangat Cantik.

“Terima kasih Yang mulia, sudah membebaskan hamba.” Ucap wanita itu.

“Aku yang berterima kasih karena kau sudah mau menjaga pohon ini dengan hidupmu.” Gerald menepuk bahu wanita itu.

“Akan aku lakukan apapun untuk Yang mulia.”

“Aku senang karena kesetiaanmu itu. Sekarang mari kita pulang ke kerajaan kita di sana sudah ada yang lainnya.” Gerald telah mengeluarkan sayap emasnya.

“Baik Yang mulia.” Wanita itu pun mengeluarkan sayap coklatnya  lalu terbang dan menghilang mengikuti  Gerald.

*

Silvana turun dari bis dan berjalan Cepat masuk ke dalam gedung kampusnya. Semua mata menatap tajam kearahnya. Memang hampir di semua murid di kampusnya tak suka padanya.Silvana mengabaikan semua tatapan tak suka padanya ia menyusuri lorong kampus.

Bugh!..

Silvana jatuh akibat tersandung kaki seseorang, dan menjadi bahan tertawaan para murid lainnya.

“kalau jalan tuh lihat-lihat. Percuma matamu ada 4 tapi tidak berfungsi.” Ucap orang itu dengan tawa mengejek di iringin tawa yang lainnya.

Luci yang baru tiba langsung menghampiri Silvana saat melihatnya terjatuh.

“kau tidak apa-apa?” Luci membantu Silvana berdiri.

“Aku baik-baik saja.” Silvana membalas dengan senyum lebar

“ mereka memang cocok sama-sama pembawa sial.” Ujar salah satu wanita yang ada di sana

“Kau benar stef.” Balas teman yang ada disebelahnya yang merupakan teman gadis bernama Stef.

“Sudahlah Stefanie berhenti mengganggu kami, kami sama sekali tidak pernah menggangumu.” Silvana berani membalas perkataan wanita bernama Stefanie itu. Hingga membuat yang ada disitu bingung karena baru ini melihat seorang Silvana berani membantah.

Silvana dan Luci meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kelas. Luci mengamati wajah Silvana dengan seksama.

“Kamu tadi sungguh hebat Sil.” Akhirnya perkataan yang mengandung kata pujian itu terlontar dari mulut Luci.

“Hebat dari mana? Kau tidak tahu aku sekarang gemetar, bagaimana bisa aku mengucapkan kata-kata seperti itu.”

Silvana merasa aneh dengan dirinya sendiri.

“Hahha… tapi tadi memang hebat. Kau lihat ekspresi wajah Stefanie dia sampai takut begitu.” Luci bersemangat

sekali.

“Aku tidak tau Luc.” Silvana memegang Bandul kalung yang ada dilehernya itu. Ia merasa darahnya tadi

berdesir dan dadanya berdebar sangat kencang hingga membuat ia berkata seperti itu, hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

“kalungmu sangat cantik Sil, dimana kamu membelinya?” Luci baru menyadari kalung yang dipakai Silvana saat gadis itu memegang bandul kalungnya.

“Eeh… ini aku di beri oleh seseorang.” Silvana mengucapkan dengan senyum malu dan wajahya menjadi merah.

“Pasti dari kekasih mu ya.” Luci memegang kedua tangan Silvana

“Bisa dikatakan begitu. hehe” senyum diwajah Silvana semakin terlihat membuat Luci semakin antusias

mendengarnya.

“ Siapa pria itu dan bagaimana rupanya?” Luci sangat bersemangat ingin tau pria yang di sukai oleh sahabatnya

itu.

“kamu pasti akan terkejut jika tau. Dan dia sangat-sangat tampan.” Silvana menjawab semua pertanyaan Luci.

*

Kelas sudah bubar setengah jam yang lalu, mata kuliah hari ini dapat diikuti dengan baik tanpa ganguan Carrie dan gengnya. Sebab mata kuliah yang berbeda.

Kini Silvana dan Luci duduk di perpustakaan mengerjakan tugas yang diberikan pak albert, sebenarnya tugas mereka sudah selesai hanya saja Silvana mengerjakan tugas milik Carrie dan gengnya dan Luci sebagai sahabatnya turut membantu.

“Minum ini, dan kerjakan tugasku dengan baik jangan sampai membuat kesalahan.” Carrie tiba-tiba muncul dan memberikan sebotol minuman pada Silvana membuat Silvana mengerutkan kedua alisnya.

“kenapa kau takut aku racuni?’’ lanjut Carrie karena Silvana terlihat enggan menerima minuman itu.

“Tidak carr. Terima kasih banyak.” Sahut silvana mengambil minuman di depannya.

“Tidak perlu berterima kasih, anggap saja itu upah karena kau sudah mengerjakan tugasku.” Setelah mengatakan itu Carrie meninggalkan Silvana dan Luci.

Carrie keluar dengan senyum lebar diwajahnya menghampiri teman-temannya.

“Bagaimana berhasil?” Tanya Livia

“Tentu saja, Carrie tidak akan pernah gagal.” Balas Carrie bangga.

“Kau memang terbaik.hahha….” Vanessa memberikan 2 jempol dan tawa yang di ikuti teman-teman lainnya.

Sementara Silvana sudah selesai mengerjakan semua tugas Carrie dan teman-temannya ia mulai merasa haus dan mengambil minum yang diberikan oleh Carrie dan meminumnya. Sebelumnya Luci sudah mencegah takut minuman itu sudah di berikan sesuatu oleh Carrie dan teman-temannya. Namun Silvana tetap meminum. Mungkin benar ini hanya sebagai upah dari tugas yang dikerjakan Silvana.

“Apa kau merasa baik-baik saja Sil?” Luci memastikan keadaan Silvana.

“Tenanglah Luc. Aku baik-baik saja.”

“Luc, aku ingin ke toilet sebentar ya.” Lanjut Silvana beranjak dari duduknya.

“Aku ikut, aku juga ingin ke toilet.”

Silvana dan Luci sudah kembali ke dalam kelas dan memberikan tugas yang sudah dikerjakan kepada Carrie. Carrie mengambil buku tersebut dan berkumpul pada teman-temannya.

“Kau yakin berhasil?” Tanya Livia

“Tenanglah, sudah ku pastikan berhasil.” Jawab Carrie yakin

“Reaksinya memang sedikit lama jadi kita tunggu saja.” Lanjut Carrie dan di angguki oleh teman-temannya.

Hingga mata kuliah berakhir pun Silvana terlihat masih baik-baik saja. Carrie dan kedua temannya itu saling pandang namun tidak berselang lama setelah Silvana dan Luci beranjak dari tempatnya tiba-tiba saja Silvana mengerang kesakitan memegang perutnya.

“Aakkkh… perutku sakit sekali.” Silvana merintih kesakitan

“kamu kenapa,Sil?” Luci tampak panic melihat sahabatnya itu merintih kesakitan.

Sedangkan Carrie dan kedua temannya saling bertos Ria karena rencananya sudah berhasil. Mereka meninggalkan kelas berjalan santai dengan suara tawa yang keras.

“Sudahku bilang jangan di minum.” Luci kesal sendiri tapi berusaha membopong Silvana untuk keruang UKS.

“Maaf…” hanya itu yang bisa di katakan Silvana

“ Ya tuhan. Sakit sekali rasanya.” Silvana berbicara dalam hati, tangan kirinya menggenggam kalung di lehernya berharap keajaibanan datang. Kalung yang digenggam Silvana itu tiba-tiba terasa panas hingga Silvan melepaskan genggaman tangannya dari kalung itu.

Kalung itu berubah berwana merah dan mengeluarkan sinar, baik Silvana dan Luci pun melihat apa yang terjadi pada kalung itu. Sedetik kemudian sakit yang di rasakan Silvana lenyap tak tersisa.

“ Sil, kalungmu.” Luci menunjuk kearah kalung Silvana

“Iya Luc.” Namun Luci kembali fokus pada Silvana, mencoba membopong kembali.

“Luc, aku sudah baik-baik saja. Aku sudah tidak sakit.” Silvana menatap wajah temannya itu.

“Jangan bercanda.” Tegas Luci tak percaya karena tadi Silvana terlihat seperti orang sekarat.

“Aku sungguh-sungguh.” Silvana berusaha meyakinkan temannya.

“Apa itu karena…” Luci tiak melanjutkan perkataannya namun matanya mengarah kearah kalung Silvana.

“Kurasa juga begitu.” mengerti arah pembicaraan Luci.

Silvana dan Luci duduk di bangku taman yang berada di kampus, Silvana menceritakan semua kepada Luci. Sedangkan Luci tiba-tiba berdiri dan berteriak.

“Kau sangat beruntung Sil, andai aku juga punya kekasih seperti kekasih mu itu.” Luci sangat senang bahwa temannya itu memiliki kekasih yang kini bisa melindungi temannya itu.

“Kau ini ada-ada saja Luc, bagaimana dengan Richard.” Sanggah Silvana melihat kelakuan temannya ini

“Kau tau aku baru saja putus dengannya. Dia hanya memanfaatkanku selama ini.” Luci kini duduk kembali dikursi dengan wajah yang mulai berubah sendu.

“Bukankah aku sudah bilang padamu. Kau saja yang tidak percaya.” Sahut Silvana karena memang dirinya sudah pernah mengingatkan temannya itu.

“Sama sepertimu susah di beri tahu.” Kelakar Luci.

“Sil, apakah Carrie tidak meminta kalung itu?” LUci bertanya demikian karena tau bahwa apa yang di miliki oleh sahabatnya itu pasti akan di rebutnya.

“Tidak, aku juga bingung padahal kalung ini sangat cantik. Tapi dia tidak memintanya”

“Lebih tepatnya di rebut. Hahah…” Luci membenarkan ucapan Silvana

Sementara di sisi lain seorang pria memperhatikan dari jauh “ dari mana dirinya mendapatkan kalung itu.” Tanya pada diri sendiri tak berapa lama seorang wanita menghampirinya.

“Sedang apa kau disini, Leo?” wanita itu bertanya pada pria yang bernama Leo itu. Dia pun mengalihkan Pandangannya ke arah di mana sang pria melihat.

“Kalung itu sangat cantik dan bersinar.” Ucap wanita itu.

“Kau benar.” Pria bernama Leo itu membenarkan

“Aku harus memilikinya.” wanita itu tersenyum miring

“ Coba saja, jika kau ingin kehilangan nyawamu.”

“Kita lihat saja, aku pasti memilikinya.” Ucap wanita itu penuh keyakinan.

“Haha.. dan aku akan menantikannya. Menunggu kematianmu itu. Lorren.” Leo pun menghilang.

“Itu tidak akan terjadi.” wanita bernama Loreen itu ikut menghilang.

Terpopuler

Comments

Jesi Jasinah

Jesi Jasinah

mampir kak dikaryaku cintaku yang tak direstui

2023-04-29

1

Suarni

Suarni

lanjut

2022-11-03

2

Nia sumania

Nia sumania

aduuhh tegang aku bacanya... banyak x orang jahatnya

2022-11-03

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!