Jangan lupa koment ya. Bagi yang
masih punya vote silahkan
berikan buat Silvana dan Gerald.
Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat,
pisau, nonton iklan sangat disarankan.
terima kasih sudah membaca karyaku.
senyum sayang untuk kalian semua :)
***
Valir dan Eudora mengikuti Silvana dan Luci ke kantin. Namun, perhatiannya tertuju pada seorang pria yang duduk di sudut kantin. Silvana yang melihat Valir terus menatap Pria itu pun menepuk pelan lengannya.
“Itu Leo, dia jurusan Teknik. Mahasiswa tertampan dan populer di kampus ini.
Valir menaikkan sebelah alisnya. “Tertampan?” Valir menatap gadis di sampingnya, sedangkan yang di tatap menganggukkan kepalanya.
“Aku rasa Gerald harus tahu perkataanmu barusan.” Silvana yang mendengar perkataan Valir mengerutkan alisnya menatap bingung.
“Kenapa dengan perkataanku?”
“Mungkin Yang mulia akan membunuhnya.” Bukan Valir yang menjawab, melainkan Eudora dengan tatapan dingin siap menghunus lawannya.
“mengerikan sekali kalian ini. Selalu bilang bunuh, melenyapkan.” Silvana bergidik ngeri.
“Kalian seperti bukan manusia saja. Tak punya Perasaan.” sungut Silvana
“Kami memang bukan manusia.” Valir menjawab ringan.
Silvana tersadar akan ucapannya. Ia memandang keduanya, kanan dan kiri. “Aku lupa kalau mereka bukan manusia” batin Silvana dan tersenyum kecil.
Luci datang membawa nampan berisi makanan, ia duduk di sebelah kiri Silvana menggeser Valir.
“Kau tidak makan?” tanya Luci. Melihat Eudora dan Valir hanya duduk diam tanpa makan dan minum.
“Apa kau ingin makan sesuatu?” tanya gadis itu kembali karena Valir tak menjawabnya.
“Diamlah !” sentak Valir dengan nada dingin. Gadis itu terdiam dan melanjutkan makanannya. Silvana mengelus punggung gadis di sebelahnya.
“Jangan dimasukkan kehati ya.” Silvana berucap lembut dan di balas anggukan.
Valir beranjak saat melihat Leo meninggalkan kantin.
“Mau kemana kak?” tanya Silvana melihat Valir yang beranjak dari tempat duduknya, Luci ikut mengalihkan pandangannya.
“Mau ke toilet.” jawab Pria itu segera meninggalkan mereka.
Valir berjalan mengikuti Leo, pria itu terus melangkah hingga tiba di taman belakang kampus. Leo duduk di bawah pohon yang cukup rindang.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Leo. Ketika Valir sudah ada tepat di hadapannya.
“Melenyapkan mu.” Jawab Valir tajam
Kedua sudut bibir Leo terangkat membentuk senyuman. “Kau memang tidak berubah.” ucap pria itu.
Valir sudah membentangkan sayap putihnya. Sedangkan pria di hadapannya juga ikut membentangkan sayapnya. Mereka berdua saling menyerang satu sama lain.
PLASHHH !
Valir menebaskan pedangnya, pria itu berhasil melukai Leo tepat di sayap sehingga Leo jatuh tersungkur. Leo mengerang kesakitan merasakan sayap kirinya terpotong.
Valir kembali menebaskan pedangnya ke sayap kanan milik Leo. Rasa sakit menghujam tubuh Leo.
“Kau akan menyusulnya ke neraka!” Valir berkata dengan tatapan tajamnya.
“Ku pastikan pedang ini akan menusukmu tepat di jantung!” Valir mengangkat pedang itu ingin menusuk tepat di jantung Leo. Namun, pedang di tangannya terpental, karena sebuah tombak menghantam pedang itu.
“Hentikan!” teriak Eudora, wanita itu berjalan mendekati keduanya.
“Kau, apa yang kau lakukan disini?” tanya Valir. Wanita itu mengabaikannya dan berjongkok di hadapan Leo.
“Maaf” ucap Leo pelan, pria itu sudah sekarat kedua sayapnya sudah terpotong, bahkan rambut Leo yang coklat sudah mulai berubah abu. Eudora mendekap tubuh pria itu, airmata sudah menggenang di kedua pelupuk matanya.
“Maaf” ucap Leo dengan suara parau. Luruh sudah airmata Eudora.
“Bodoh! Memang seharusnya kau mati.” ucap wanita itu masih mendekap tubuh Leo.
“Lepaskan dia, Eudora!” bentak Valir
“Hentikan Valir!” wanita itu menatap Valir, sayap coklat dari balik punggung wanita itu perlahan muncul dan membentang lebar. Perlahan Eudora merebahkan tubuh Leo ke tanah. Sorot matanya menukik tajam pada Valir.
“kau, ingin kita-” Belum selesai Valir berucap. Leo sudah memotong. “Jangan, Eudora.”
Airmata Eudora kembali menetes melihat Leo yang berusaha bangkit. Amarah masih menyelimutinya.
“Aku juga akan membunuhmu, jika kau menolongnya!” ancam Valir pada Eudora.
“Aku yang akan membunuhmu!” tangan kanan wanita itu terulur keatas , sebuah tombak biru muncul dan sudah berada di genggamannya.
“Hentikan, Eudora. Ku mohon!” Pekik Leo
“Hentikan, Valir. Clara masih hidup!” perkataan pria tersebut berhasil membuat Eudora dan Valir terdiam.
“Kau kira aku percaya!” jawab Valir tak ingin terpengaruh. Namun, melihat tombak yang ada di tangan Eudora menghilang membuat pria itu terdiam.
“Benar. Clara masih hidup.” jawab Leo dengan suara yang mulai hilang.
“Dia ada di …” belum selesai pria itu berucap, kesadarannya sudah hilang.
“LEO!” teriak Eudora memeluk tubuh lemah pria itu. “ku mohon jangan mati.”
Valir membawa Leo ke kerajaan Vinhart. Pria itu segera masuk ke dalam ruangan Raja berharap Gerald ada di dalam sana. Namun, ia tidak dapat menemukannya. Valir berjalan menuju taman yang ada di dalam kerajaan. Begitu ia tahu dari pengawal bahwa Gerald berada di taman kerajaan.
****
terima kasih yang sudah membaca. jangan lupa like dan komen ya. terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Thata Chan
tegang kak, kasian LEO, sayap keduanya di tebas🤧
2022-11-11
0
Nia sumania
selalu tegang dengan ceritanya
2022-11-10
1
Bhebz
Seru lanjut
2022-11-09
1