PART 4

Gerald sampai di kerjaaan yang megah nan tinggi, ia masuk ke dalam Aula Kerajaan yang sudah sangat kacau , terlihat sekali habis terjadi pertempuran di sini. Di sudut lainnya sudah ada Valir, Luis dan yang lainnya.

“Apa kau sudah membereskan yang lainnya?” Gerald menepuk pundak kakaknya,Valir.

“Tentu saja.aku melakukan yang terbaik.”

“Sayang sekali aku tidak bisa ikut berperang.” suara wanita mengalihkan perhatian mereka semua terkecuali Gerald karena ia yang membawanya.

“Kau. Ku kira kau sudah mati menjadi abu.” Setelah mengatakan itu Valir pergi meninggalkan  Aula.

“Aku tidak akan semudah itu mati ditangan mereka.bodoh!” teriak wanita itu berharap sang pe-nanya mendengarnya.

“Sudah lah, Dia tidak akan mendengarkan suara nyaringmu itu Eudora.” Gerald berjalan mendekati kursi kebesarannya.

Gerald menatap tajam wajah para kaum valk yang tersisa dalam keadaan hidup sisa perperangan yang dilakukan Valir. Para kaum valk yang terdiri dari 5 orang itu menelan ludah mereka karena sudah di pastikan nyawa mereka pun tidak akan selamat, bahkan lebih baik mereka mati di pertempuran sebelunmnya.

“Dimana Gussion dan Fanny berada?” tidak ada jawaban yang keluar dari mulut kaum Valk itu.

“Baiklah aku akan mencari tau sendiri.” Gerald mendekati salah seorang kaum Valk dan langsung mematahkan lehernya.  Jari telunjuk gerak mengeluarkan api biru dan langsung mengarahkan ke arah kepala kaum valk tersebut. Hingga darah bercampur salah satu inti memori otak itu keluar dan di telan oleh Gerald.

“Sial, lagi-lagi aku harus melakukan ini.” ya untuk mengetahui memori dari para kaum Valk Gerald harus meminum darah yang berisi inti memori otak Valk itu.

Dan itu terjadi kali ini karena Gussion dan Fanny Raja dan Ratu kaum Valk berhasil kabur. Kaum Valk adalah kaum Vampire yang berhasil merebut kerajaannya karena kelicikan mereka.

Gerald tersenyum miring setelah mendapatkan informasi yang di inginkannya. Gerald membantangkan sayap emasnya dari balik punggungnya, kini matanya sudah berubah merah.

Dirinya terbang dengan mengepakkan kedua sayapnya, sambaran petir muncul dengan langit yang menggelap. Gerald menjentikkan jarinya , bola api muncul dari tangannya dan mengarahkan ke arah kaum valk yang tersisa.

“terbakarlah kalian hingga menjadi abu.” Gerald melemparkan bola api dari tangannya di iringin sambaran petir ke arah kaum Valk. Dalam sekejap mereka menjadi abu.

Gerald mengeluarkan sebuah buku entah dari mana lalu keluar seekor burung dari buku itu. Gerald mengulurkan tangannya dan burung it langsung hinggap di tangan Gerald.

“Cournut Pergi dan sampaikan pada mereka semua bahwa Raja dari seluruh Klan sudah kembali.” usai mengatakan itu burung tersebut terbang menjauh.

Selama Gerald di segel banyak klan yang mempertahankan pendapatnya merka masing-masing. Sebenarnya di kerajaan ini Gerald memiliki ratu bernama Rossaline namun ia berkhianat dan malah ikut membantu klan valk menyegel dirinya. Dan kini Rossaline berhasil kabur bersama raja dan ratu klan valk

*

Silvana duduk di kursi taman dekat rumahnya, dirinya baru saja pulang bekerja. Silvana sesekali mendesah sesekali memandang langit yang tampak mendung.

“Kapan aku bisa terbebas dari mereka.” keluh Silvana

“Kamu kenapa sedih?” Silvana menoleh ke sumber suara tersebut karena dirinya tadi hanya sendiri.

“tidak.” Silvana menatap wanita di sampingnya. Entah sejak wanita itu duduk di sampingnya.

“kenalkan aku Lorren.” sapa wanita itu

“Aku pendatang baru di sini dan aku tinggal di apartemen itu.” Lorren menujuk apartemen yang tidak jauh dari taman itu.

“Aku Silvana. Kalau begitu aku permisi.” Silvana beranjak dan meninggalkan Lorren.

“Aku semakin ingin memilikinya.” Lorren menatap punggung Silvana yang menjauh, sedetik kemudia ia menghilang.

*

Silvana berjalan dengan cepat berharap dirinya sampai tepat waktu dirumah. Begitu membuka pintu rumah, Carrie beserta ibunya lansung mendekati Silvana dengan tatapan tajam.

Plakkk...

Ibu Lyna menampar wajah Silvana keras dan mencengkram dagu Silvana.

“Kau tau sekarang sudah jam berapa, hah?!” Ibu Lyna mencengkram dagu Lyna kencang.

“Maaf, Ma … aku,” Silvana memegang tangan kiri ibu Lyna yang mencengkram dagunya.

“Mau alasan apa lagi kau! Aku muak mendengar alasanmu!” Ibu Lyna kini menjambak rambut Silvana.

“Ma,tolong ampuni aku … sakit ma.” Silvana berusaha melepaskan rambutnya dari jambakkan ibunya.

Ibu Lyna mendorong Silvana hingga jatuh, bukannya selesai justru Carrie kini menarik rambut Silvana.

“Makanya ikuti peraturan rumah ini bodoh! Di rumah ini kau hanya seorang budak. Paham!” Carrie melepaskan tangannya dari rambut Silvana dan meninggalkannya.

Silvana kembali ke kamarnya ia merebahkan dirinya, air mata mengalir membasahi pipinya. Ia menggenggam bandul kalung pemberian Gerald.

“Tuan Gerald.” Silvana berucap lirih berharap sang pemilik nama datang.

“Sudahlah, tak mungkin juga dia datang.” Silvana pun tertidur. Kalung yang di pakai Silvana bersinar sangat terang. Perlahan memar yang ada di pipi Silvana sembuh begitu saja.

*

Silvana berjalan menyusuri halaman belakang kampus, dirinya sudah terbiasa untuk meng-istirahatkan tubuhnya di salah satu kursi yang ada di sana. Silvana mengeluarkan ponsel dari saku celananya di lihatnya lagi pipinya melalui kamera ponselnya, dirinya cukup heran karena lebam bekas tamparan ibunya sudah tidak terlihat bahkan pipinya terlihat lebih cerah.

“Aku merasa ada yang aneh, apa karena kalung ini?” pikiran Silvana mengarah pada kalung di lehernya. Hari ini Silvana hanya sendiri karena sang sahabat,Luci sedang ada kelas.

“Aku ingin memastikan sesuatu.” Silvana menggenggam bandul kalung tersebut.

“Tuan Gerald.” Silvana memanggil nama Gerald karena ingin tau apakah Gerald akan muncul saat namanya di panggil dan jawabannya tidak.

“huft … kemarin hanya kebetulan ia ada dirumahku.” Seru Silvana.

Saat Silvana akan beranjak tiba-tiba Lorren wanita yang di temui nya di taman muncul kembali.

“ Kau. Bagaimana bisa ada disini?” Silvana menatap bingung.

“Aku di sini karena ingin sesuatu darimu.” Lorren menjawab dengan senyum miringnya.

“Apa yang kamu mau dariku? Aku tidak punya apapun.” Silvana membalikkan badannya ingin meninggalkan Lorren.

“Kau punya sesuatu yang indah dan berharga di lehermu!” Lorren mendekati Silvana

“Apa yang kamu maksud.” Silvana menggenggam kalung di lehernya.

“Darimana kau mendapatkan kalung itu?” Lorren bertanya dingin dengan tatapan tajamnya.

“kamu tidak perlu tau.” Silvana mencoba untuk tidak gentar

“Berikan padaku!” Lorren berusaha menarik kalung yang ada di leher Silvana.

“Aku tidak bisa!” Silvana masih mempertahankan kalung itu dengan genggaman tangannya.

“Berikan padaku sekarang!” Lorren berkata lagi

“Tidak akan.”

Lorren langsung mengeluarkan sedikit tenaganya dan berusaha melepaskan tangan yang menggenggam kalung itu. Namun begitu kalung itu terlepas dari genggaman tangan Silvana kalung itu kembali mengeluakan sinar merah.

“Sial.” Lorren mengumpat kesal.

Akhirnya Lorren mengeluarkan kekuatan yang tadi di tahannya. Dengan cepat Lorren mendekati dan mencekik leher Silvana dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menarik kalung yang ada dileher Silvana.

Kalung yang bersinar terang itu semakin berubah menjadi merah pekat dan semakin bersinar bersamaan dengan petir yang tiba-tiba menyambar tanpa ada angin dan hujan.

“ Aakhh ..." erang Loren

Tubuh Lorren terpental menabrak kursi yang tadi di duduki Silvana. Silvana sangat terkejut melihat Lorren yang tiba-tiba terpental.

Terpopuler

Comments

Anin

Anin

lanjut dong jangan lama-lama

2022-11-05

1

diora

diora

keren ceritanya

2022-11-05

1

diora

diora

keren...

2022-11-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!