Gerald memanggil para pelayan untuk melayani Silvana, bahkan ada 10 pelayan yang turut melayani Silvana. Silvana keluar dari dalam kamar menghampiri Gerald dengan dandanan anggunnya. Gerald terpana melihat Silvana yang sudah berubah menjadi gadis cantik dan menawan, tak ada lagi kacamata yang melekat di wajahnya.
Gerald menghampiri Silvana sembari tersenyum manis, membuat Silvana tersipu malu.
“Ratuku memang sangat cantik,” ucap Gerald lalu menggenggam tangan Silvana.
“Tuan terlalu memujiku, aku sama sekali tidak cantik, Tuan.” jawab Silvana dengan suaranya yang lembut.
“Kau memang sangat cantik Queen.” Gerald mengecup punggung tangan Silvana dengan penuh cinta dan kelembutan.
Para pelayan dan pengawal yang ada di sana menatap begitu tidak percaya. Bahwa Gerald mampu bersikap lembut dan manis seperti itu. Karena yang mereka tahu selama ini, Raja mereka itu adalah Raja yang sangat kejam. Berani membuat kesalahan sedikit saja, maka Raja mereka akan melenyapkan orang yang membuat kesalahan itu hingga menjadi abu.
Tanpa perduli pada orang lain, Gerald pun membawa Silvana ke dalam ruangan khusus dimana hanya Gerald sendirilah yang dapat masuk ke dalam ruangan itu, tanpa terkecuali. Lagi-lagi Silvana hanya bisa menatap kagum saat melihat ruangan yang ia masuki bersama dengan Gerald.
“Tempat ini sangat indah, Tuan,” ucap Silvana dengan mata yang menatap penuh kagum.
“Apa kau menyukainya, Queen?” tanya Gerald, pria itu masih menggenggam tangan Silvana dengan erat.
“Tentu, bahkan sangat menyukainya,” jawab Silvana sembari tersenyum manis. “Mengapa kau membuat ruangan ini, Tuan?” tanya Silvana pada Gerald.
“Aku sengaja membuatnya agar aku dapat beristirahat dengan nyaman dan bisa membuang rasa bersalahku di sini.” jelas Gerald.
“Apa yang membuat Tuan merasa bersalah? Apa Tuan melakukan kesalahan?” Tanya Silvana menatap dengan intens Gerald.
“Ya, Queen. Aku merasa bersalah setiap melenyapkan mereka semua.” Jelas Gerald sembari menatap wajah Silvana. Pria itu takut jika ratunya akan takut pada dirinya.
Silvana memeluk erat Gerald, membiarkan seluruh perasaannya membuncah. Silvana mengusap punggung Gerald dengan lembut.
“Lupakan semuanya, Tuan. Tapi, aku mohon mulai sekarang jangan pernah Tuan melenyapkan nyawa seseorang.” Pinta Silvana penuh harap, ia masih terus memeluk tubuh Gerald.
“Aku tidak yakin, Queen.”
“Berjanjilah padaku, Tuan.” Pinta Silvana sembari melepaskan pelukannya, lalu menatap Gerald.
“Baiklah. Aku berjanji tidak akan menghabisi nyawa seseorang, Queen!” terang Gerald sembari mencium kening Silvana.
Silvana dan Gerald saling berbagi cerita di ruangan khusus itu, ruangan yang terdapat taman kecil buatan yang di tumbuhi begitu banyak bunga Hyacinth ungu. Silvana mengerti mengapa Gerald membuat taman bunga Hyacinth Ungu. Karena bunga itu melambangkan permintaan maaf dan dukacita.
Silvana juga menceritakan semua kejadian yang dirinya alami, gadis itu juga bercerita bagaimana perlakuan ibu tiri dan adik tirinya itu. Gerald mengerang menahan kesal. Melihat perubahan di raut wajah Gerald, membuat Silvana tersenyum lalu memeluk gerald.
“Jangan marah,” ucap Silvana pelan berbicara tepat di telinga Gerald
“Rasanya ingin aku lenyapkan mereka saat ini juga.” jawab Gerald menahan kesal.
“Ingat kau sudah berjanji padaku.” Silvana mengurai pelukannya.
Gerald menggandeng tangan Silvana untuk keluar. Namun, baru saja keluar dari ruangan itu. Luis dan Eudora sudah berada di depan pintu dan menunggu Gerald dan Silvana keluar.
“Yang Mulia. Raja dan Ratu dari klan Wolves datang kemari,” Luis berkata sambil menundukkan kepalanya. Silvana menaikkan satu alisnya.
“Siapa mereka?” tanya Silvana penasaran menatap Gerald
“Mereka paman dan bibi Leo dan Eudora, yang menyerangmu.” Gerald menjelaskan namun tampak menahan kesal karena teringat peristiwa yang baru saja menimpa Silvana.
“Mau apa mereka? Apa kau sudah ada janji bertemu dengan mereka?” Silvana merasa takut saat teringat paman dan bibi Leo.
“Maaf menyela, Saya rasa ini semua ada hubungannya dengan Yang Mulia Ratu. Mereka menunggu Yang Mulia di ruang utama.” Eudora ikut mengutarakan pikirannya.
“Aku? Lalu apa hubungannya denganku sekarang?” tanya Silvana sedikit cemas, gadis itu tampak ketakutan.
“Ini tentang penyerangan Klan serigala yang dilakukan pada Yang Mulia Ratu.” Eudora kembali menjawab.
“Kak, bisakah kau memanggilku seperti biasa. Aku tidak ingin di panggil Ratu oleh kalian.” Silvana justru protes soal panggilannya, sembari menatap Eudora dan Luis. Luis yang di tatap pun menundukkan kepalanya hormat.
“Aku akan menemuinya. Karena mereka melukai Ratuku, aku akan memberikan pelajaran untuk mereka.” Gerald mulai melangkah. Namun, tangannya ditarik oleh Silvana.
“Tu-tuan, apa yang mau tuan lakukan?” Silvana menggenggam tangan kanan Gerald.
“Aku akan mengurusnya.” Jawab Gerald sembari melepaskan genggaman tangan Silvana.
“Tuan, ingat kau sudah berjanji.” Lagi Silvana menarik tangan Gerald menghentikan langkah pria itu.
“Aku tahu. Aku tidak akan melenyapkan mereka, Queen. Aku hanya menghukum mereka, karena berani melukaimu.” Perkataan bernada lembut tetapi tegas di ucapkan oleh Gerald.
Silvana merasa takut akan hukuman yang di berikan Gerald pada Raja dan Ratu Wolves atau lebih tepatnya pada bibi dan paman Eudora dan Leo. Silvana menggigit kukunya sendiri sembari menatap Eudora yang berada satu langkah di samping kirinya. Silvana mencoba berpikir agar Gerald tidak menghukum mereka.
“Tuan, bisakah tuan tidak menghukumnya? Mereka orang-orang baik. Mereka hanya salah paham padaku, Tuan.” Silvana kembali menggenggam kedua tangan Gerald.
“Tidak bisa, mereka tetap harus di hukum, Queen.” Gerald berucap lembut.
“Kumohon, Tuan.” Silvana menyatukan kedua tangannya untuk memohon, melihat tidak ada perubahan reaksi pada Gerald. Silvana langsung menyambar bibir pria yang ada di hadapannya dan menyatukan bibir itu mereka.
Gerald yang merasakan ciuman tiba-tiba itu cukup terkejut. Gerald yang ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh ratunya itu pun hanya diam dan memasang ekspresi datar.
Sedangkan Silvana yang melihat tidak ada respons dari Gerald pun memberanikan diri melu-mat bibir Gerald. awalnya tidak ada respons dari Gerald. Namun, di detik berikutnya Gerald merangkul pinggang Silvana dan membalas setiap ciuman Silvana. Akhirnya, ciuman itu berakhir karena Silvana mulai kehabisan napas.
“Baiklah.” Gerald tersenyum menatap Silvana lalu beralih menatap Luis dan Eudora.
“Kalian aku tugaskan untuk menjaga Ratu. Temani Ratu kemana pun Ratu pergi. Jangan sampai ada yang berani mendekatinya!” tegas Gerald pada Eudora dan Luis.
“Kami akan menjalankan perintah Yang Mulia.” Eudora dan Luis menjawab bersamaan.
“Queen, aku harus menemui mereka. Berkelilinglah bersama mereka, mereka akan menjagamu.” Gerlad mencium kening Silvana dan meninggalkan wanitanya itu bersama Eudora dan Luis.
“Isshh.. Apa-apaan dia seenaknya saja menciumku.” gerutu Silvana.
Eudora dan Luis yang mendengarkan gerutuan Silvana, hanya bisa tertawa pelan. Mereka tidak menyangka Silvana berani melakukan hal itu dan Raja mereka juga melakukan hal yang sama.
“Kamu bahkan mencium bibirnya.” Eudora berucap pelan pada Silvana sambil tersenyum. “Lalu siapa yang lebih seenaknya?” goda Eudora pada Silvana hingga membuat Silvana menjadi begitu malu.
“Ehh.. Itu… Ahh sudah lah lupakan.” Silvana salah tingkah karena ulahnya sendiri.
Sedangkan Gerald, pria itu segera pergi menuju ruang utama menemui Bibi dan Paman Leo, entah apa yang akan ia lakukan kepada orang-orang yang telah menyakiti wanitanya. Karena Amarahnya terhadap mereka masih ada.
*Bersambung.
hai readers setiaku. sambil nunggu aku update mampir juga yuk di karya temanku.
Blurb
Musim paceklik sedang melanda negeri, rakyat sedang menderita akibat dari kekeringan sumber mata air mulai mengering, sedangkan hujan tak turun-turun, tiap malam Kaisar Chimera memandang langit berharap hujan deras mengguyur negerinya. Kesekian kali purnama ia juga memandang langit malam nampak rembulan bersinar terang,
“Huh,... Kau malah selalu tersenyum rembulan, kenapa kau tidak berubah menjadi awan hitam saja?” Gerutu Kaisar Chimera geram.
Tanpa Kaisar Chimera ketahui, rembulan yang ia pandangi setiap malam itu, juga sebenarnya seseorang wanita yang suka menatapnya dari kejauhan langit. Wanita itu adalah Dewi Rembulan, ia terpesona pada sosok seorang pemuda yang selalu memandang kearahnya.
“Siapakah pemuda itu? Dia sangat tampan dan berwibawa,” gumam Dewi Rembulan tersenyum.
Namun syarat Dewi jika ingin berubah jadi manusia agar bisa berjumpa dengan pemuda idamannya, haruslah menunggu selama 5000 tahun agar kesempurnaannya menjadi seorang manusia perempuan dapat terlaksana, sedangkan itu sosok Kaisar Chimera berenkarnasi dari generasi ke generasi.
Dapat kah Dewi Rembulan menemukan cinta sejatinya ? Mampukah ia memikat hati seorang Kaisar Chimera?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
rya22
aishhh Gerald bikin meleleh
2022-11-24
1
rya22
disini kayanya justru Gerald org yang perasa banget ya Thor?
2022-11-24
1
Bhebz
Woooow
2022-11-19
2