Part 9 Pohon kehidupan

Jangan lupa koment ya. Bagi yang

masih punya vote silahkan

berikan buat Silvana dan Gerald.

Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat,

pisau, nonton iklan sangat disarankan.

terima kasih sudah membaca karyaku.

senyum sayang untuk kalian semua :)

***

Gerald menatap tidak suka pada Valir saat pria itu membawa masuk Leo ke dalam Kerajaan Vinhart. Gerald menatap tajam pada Valir yang terlihat khawatir terhadap pria yang terbaring bersimbah darah di atas kasur.

“Kenapa kau membawanya kemari?” tanya Gerald

“Aku punya alasan tersendiri.” Pria itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.

“Apa itu?”

“Selamatkan dia terlebih dahulu.” bukannya menjawab pertanyaan Gerald , justru pria itu memerintah Gerald.

“Kau berani memerintahku!” sungut Gerald. Namun, pria itu tetap melakukannya.

“Biarkan dia mati! Dia sudah tidak dapat diselamatkan.” ucap Gerald

“Jangan biarkan mati. Dia tahu keberadaan Clara!” desak Valir.

“Aku pecahkan saja kepalanya dan kuambil in-”

“Bodoh, kau tetap tidak akan menemukannya. Kau lupa siapa dia?!” decak Valir emosi terhadap saudaranya itu.

Gerald mencoba memberikan sebagian darahnya pada Leo. Namun, tubuh pria itu tidak bereaksi. Valir tampak begitu cemas melihat tidak adanya respons pada Leo.

“Sial! Kita harus bagaimana.” Valir terduduk di samping Gerald.

“Aku harus menemukannya, Ge” lanjut Valir lirih.

Gerald menepuk pundak pria di sampingnya. Ia memberikan sebuah sebuah pisau kecil dengan permata biru di ujung nya.

“Pergi kehutan Hylius. Bawa pohon kehidupan untuk menyelamatkannya.” ujar Gerald mengulurkan pisau kecil ditangannya.

“Tapi, pohon kehidupan itu akan kau perlukan nantinya.” tolak Valir

“Cepat pergi! Atau dia tidak akan bisa hidup kembali!” Perintah Gerald.

Valir membentangkan sayap dari balik punggungnya, dirinya terbang dan menghilang. Gerald menatap pria yang terbaring itu. Rambut yang sudah berubah putih, kulit yang mulai hitam dan menyusut.

***

Eudora kembali ke dalam kelas dengan perasaan gundah. Wanita itu memikirkan keadaan Leo. Silvana yang memang sangat peka terhadap orang sekitarnya melihat perubahan pada raut Eudora.

“Kak. Ada apa?” tanya Silvana

“Kak? Kenapa kak Valir belum kembali juga?” lanjut Silvana tangannya terulur menggenggam tangan kanan Eudora. Membuat wanita itu melirik Silvana.

“Tidak ada yang terjadi.” sahut Eudora mengalihkan pandangannya.

“Jika ada masalah yang harus kakak selesaikan. Pergilah!” perintah Silvana seakan tau apa yang yang dipikirkan wanita di sampingnya.

“Tidak! Aku tidak bisa pergi membiarkanmu sendiri.” tegas Eudora.

“Ada aku di sini!” sungut Luci yang dari tadi hanya mendengarkan.

“Tetap tidak bisa. Kau adalah Ratu dari seluruh kerajaan.”

“Terlalu banyak musuh yang akan menyakitimu.” lanjut Eudora.

Silvana yang mendengarkan itu menjadi sedikit takut. Berbeda dengan Luci yang terkejut mendengarkan penuturan Eudora.

“Ratu? Kamu tidak bilang padaku.” bisik Luci ditelinga Silvana.

“Maaf … aku kira pria itu bercanda saat mengatakan aku Ratu dari kerajaannya.” Balas Silvana.

Setelah terdiam cukup lama, Silvana memutuskan untuk ikut bersama Eudora. Awalnya wanita itu menolak permintaan Silvana. Namun, saat Silvana berkat itu perintah maka, ia pun harus menurutinya.

“Aku akan pergi dengan kakak.” ucap Silvana.

“Aku tidak akan pergi kemana-mana.” Tolak Eudora.

“Aku Ratumu, dan Kakak Harus bawa aku ke tempat yang ingin kau kunjungi itu!” Silvana berkata tegas.

***

Valir tiba di hutan  Hylius. Hutan yang terdapat pohon keabadian. Begitu Valir melangkah memasuki hutan itu.

Dirinya terpental jauh kebelakang bersamaan munculnya Hydan dan Elyus.

“Apa yang, Tuan Valir lakukan di sini?” tanya Hydan

“Aku ingin mengambil pohon kehidupan.” jawab Valir sudah berada di hadapan mereka berdua.

“Maaf, Tuan Valir. Kami tidak bisa memberikannya padamu.” tolak Elyus.

“Berarti kalian ingin melawanku!” bentak Valir menatap tajam Hydan dan Elyus.

“Jika memang itu yang harus kami lakukan, akan kami lakukan.” tegas Elyus kembali.

Valir menatap tajam keduanya. Emosi sudah hampir menguasai Valir. Namun, emosinya kembali mereda. Ia mengeluarkan pisau kecil pemberian Gerald. pria itu mengulurkan pisaunya menunjukkan pada keduanya.

“Benar. Ini Pisau pohon kehidupan.” ucap Hydan menatap Elyus setelah memeriksa ujung pisau yang terdapat permata biru di ujungnya. Keduanya ikut menemani Valir menuju pohon kehidupan itu.

Terpopuler

Comments

Thata Chan

Thata Chan

harusnya Silvana di kasih kekuatan atau senjata untuk melindungi diri thour, macam perisai pelindung gitu🤭 seenggaknya musuh sedikit kesulitan kalau mau ganggu Silvana

2022-11-11

2

Nia sumania

Nia sumania

semangat kak ... beri Silvana kekuatan biar bisa melindungi dirinya sendiri

2022-11-10

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!