Silvana bergeser dan bersimpuh agar posisinya sejajar dengan tubuh Leo.
Silvana menatap Leo iba, airmata sudah menggenang. Dirinya mengingat bagaimana rasanya kehilangan orang yang ia sayangi, terutama tempatnya berlindung.
"Aku ingin memastikan sesuatu," ucap Silvana. Wanita itu ikut merasakan kesedihan yang Eudora rasakan.
“Aku harap dugaanku ini benar.” kata Silvana lagi.
Gerald, Valir dan Eudora menatap bingung pada Silvana.
"Apa maksudmu, Queen?" tanya Gerald
Silvana hanya menjawab dengan senyum lembut. Silvana mengiris jari telunjuknya hingga darah segar keluar dari jari wanita itu. Silvana mendekatkan jarinya yan terluka pada bibir Leo. Tetesan darah jatuh tepat diatas pohon kehidupan dan masuk kedalam mulut Leo.
"Queen! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyakiti dirimu?" tanya Gerald langsung memegang tangan Silvana.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Silvana berkata lembut dan menyerahkan pisau yang ada ditangannya pada Gerald.
Silvana mengisap ujung jari telunjuknya yang terluka. Wanita itu menatap dalam wajah Leo. Namun, detik kemudian senyum terbit di wajah cantiknya. Silvana menatap intens wajah Leo. Berharap apa yang ia pikirkan adanya.
"Ternyata benar," ucap Silvana dengan senyum mengembang di wajahnya.
Mereka bertiga mengalihkan pandangan menatap Leo. Perlahan Luka di tubuh pria itu menghilang tanpa bekas dan rambutnya pun sudah kembali coklat.. Perlahan bunga berwarna merah muda di atas bibir Leo memudar dan menghilang menyatu dalam diri pria itu.
Gerald tersenyum menatap ratunya. Berbeda dengan Eudora dan Valir yang masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana bisa?" tanya Valir memandang Gerald.
Eudora menatap keduanya, ia juga ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi Gerald hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap wajah gadis di sampingnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Silvana.
Eudora dan Valir langsung mengalihkan pandangannya pada Leo. Pria itu telah membuka matanya dan duduk di pembaringan.
"Leo," ucap Eudora sembari menghapus airmata di !pipinya.
"Maafkan aku," ucap Leo langsung memeluk wanita di hadapannya. Pria itu merasa bersalah karena membuat wanita itu menangis kembali.
"Aku sudah memaafkanmu." jawab Eudora. Wanita itu memandang Silvana.
"Terimakasih, Yang Mulia Ratu," ucap Eudora mengurai pelukan Leo. Dirinya membungkuk dan bersujud dihadapan Silvana. Silvana berjalan mendekati wanita yang bersujud itu, menepuk pelan pundaknya dan tersenyum.
"Ratu?" Leo mengerutkan kedua alisnya.
"Dia ratu kerajaan ini," ucap Eudora kembali duduk di dekat Leo.
Gerald menggenggam tangan Silvana dan tersenyum. Gadis itu membalas senyuman manis melihat Gerald. Ada rasa haru dalam dirinya, karena ia bisa ikut menolong.
"Kau memang Ratuku," ucap Gerald sembari mengecup kening wanitanya.
"Dia?" Leo terkejut melihat Gerald mencium kening Silvana di depan mereka.
"Pantas saja dia memiliki kalung itu," ucap Leo memandang Silvana.
Tangan Eudora terulur menjitak kepala Leo. "Diamlah! Berikan hormatmu pada Ratu kita!" balas Eudora dengan
tatapan sengit.
"Tanpa Ratu. Kau mungkin sudah mati." ucap Eudora lagi .
"Bagaimana mungkin? Ratu kita hanya manusia biasa." protes Leo.
Valir berjalan mendekat berdiri tepat di !samping Leo. Tangannya terulur keatas dan mengeluarkan sebuah pedang.
"Kau Seharusnya mati saja!" ucap Valir menggoyangkan pedang ditangannya.
"Oke. Oke!" jawab Leo.
Eudora menjelaskan semua yang terjadi kepada Leo. Pria itu terus memandang Silvana. Dirinya beranjak dari pembaringan.
"Hormat saya, Yang Mulia Ratu." ucap Leo membungkukkan tubuhnya.
Silvana mengulas senyum "Iya." imbuhnya.
Silvana berkeliling melihat-lihat pemandangan yang ada di dalam kerajaan itu. Wanita itu tersenyum senang bahkan bola matanya tampak berbinar setiap melihat sesuatu yang indah bagi dirinya.
Silvana duduk di taman kerajaan bersama Gerald. Senyum tak pernah pudar dari wajah gadis itu. Menatap pria di depannya.
"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Gerald
"Kerajaan ini sungguh luar biasa, bahkan memiliki raja yang luar biasa juga." ungkap Silvana.
"Apa yang membuatmu berpikir aku raja yang luar biasa?" tanya Gerald tangannya terulur merapikan rambut yang ada di pipi Silvana. Membuat rona merah di pipi gadis itu muncul.
"tidak baik untuk kesehatan jantung ku.” gumam Silvana mengalihkan pandangannya. Takut jika Gerald melihat rona merah di wajahnya
"Ada apa, Queen? tanya Gerald sembari membelai pipi Silvana.
"Kau terlalu tampan" jawab jujur Silvana setelah Gerald berhenti membelai pipinya.
Gerald tersenyum sangat manis. Membuat jantung Silvana berdebar sangat kencang.
* Jika difilm-film pasti pria akan mencium kekasihnya*. Batin Silvana
Tapi itu kan untuk manusia. sedangkan pria di depanku ini. Entahlah makhluk apa yang pasti dia
sangat tampan. Batin Silvana lagi sembari tersenyum geli.
Kedua bola mata Silvana hampir saja keluar. Bagaimana tidak, Gerald tiba-tiba saja mencium Silvana. Seperti yang wanita itu bayangkan. Gerald mencium tepat di bibir Silvana, ciuman yang begitu lembut. Silvana memalingkan wajahnya, Rona merah wajahnya semakin terlihat. Silvana menyentuh bibirnya.
“Apa aku menyakitimu, Queen?” tanya Gerald yang melihat Silvana diam sembari memegang bibirnya.
“Ahh. Tidak.” jawab Silvana pelan.
“Syukurlah.”
“Ini ciuman pertamaku,” ucap Silvana menunduk malu.
Gerald yang mendengar itu tersenyum dan mengelus rambut Silvana dan mencium puncak rambut Silvana. “Terima kasih.” Gerald mengulas senyum menatap wajah Silvana. Wanita itu pun mengangguk sembari tersenyum.
Nih aku kasih kiss yg kalem" dulu.🤭 biar gak tegang
babang Valir
babang Gerald
****
Jangan lupa koment ya. Bagi yang
masih punya vote silahkan
berikan buat Silvana dan Gerald.
Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat,
pisau, nonton iklan sangat
disarankan.
terima kasih sudah membaca karyaku.
senyum sayang untuk kalian semua :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
rya22
duhh Gerald tuh type idaman ya
2022-11-24
1
Thata Chan
kak, di ceritain dong. kenapa Silvana bisa menggunakan darahnya gitu..🤣🤣
2022-11-13
2
Bhebz
Valir sama Gerald kok mirip banget sih
2022-11-12
3