Part 10 kehidupan 2

Jangan lupa koment ya. Bagi yang

masih punya vote silahkan

berikan buat Silvana dan Gerald.

Like kemudian kembang. Kopi, kursi pijat,

pisau, nonton iklan sangat

disarankan.

terima kasih sudah membaca karyaku.

senyum sayang untuk kalian semua :)

***

Valir kembali kekerajaan dengan membawa pohon kehidupan . pria itu segera menuju dimana Gerald dan Leo berada. Valir menggores tangan kirinya dengan sebilah pisau, hingga bunga kecil berwarna merah muda keluar dari dalam darah Valir.

Valir menyerahkan bunga itu tepat di hadapan Gerald. Valir meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya. Pria itu jatuh terduduk di lantai.

“Kau bahkan rela memberikan sebagian nyawamu untuk dia.” tunjuk Gerald dan meletakkan bunga berwarna merah muda itu tepat di mulut Leo.

“Ini tidak seberapa. Daripada aku harus kehilangan untuk kedua kalinya.” jawab Valir

Tubuh dan kulit Leo perlahan kembali seperti semula. Namun, Rambut dan luka di sekujur tubuhnya belum juga berubah. Gerald dan Valir saling menatap melihat perubahan pada Leo sangat jauh dari pikiran mereka.

“Bagaimana mungkin ini terjadi?” tanya Valir melihat Leo yang tidak juga sadar bahkan luka yang ada di tubuh Leo masih terbuka lebar.

“Mungkin dia tidak ingin hidup.” balas Gerald

“Pohon kehidupan tidak akan bereaksi jika pemilik tubuh tidak ingin hidup.” jelas Gerald

“Sial!” umpat Valir.

Silvana dan Eudora sampai di kerajaan. Sayap di punggung Eudora menghilang . Silvana menatap takjub pada wanita yang ada di hadapannya. Ia meneliti setiap pergerakan di sekitarnya.

Suara keras dari deritan pintu gerbang membuat beberapa perajurit bingung. Dengan sigap mereka bersiaga dan berkumpul mengacungkan senjata pada Silvana. Eudora yang sudah lebih dulu berjalan, berbalik.  Eudora tersenyum sinis dan langsung melirik tajam. Para perajurit yang melihat itu menundukkan kepala.

“Beraninya kalian mengacungkan senjata kalian terhadap Ratu kerjaan ini!” bentak Eudora. Sedangkan para prajurit yang mendengarnya langsung membungkuk dan bersujud memohon ampun. Para prajurit sudah mendengar bahwa mereka memiliki Ratu baru dan tidak menyangka mereka justru mengacungkan senjata pada ratu baru mereka. Terlebih lagi Eudora, pengawal kepercayaan Raja yang terkenal Kejam dan tanpa ampun.

“Ampuni kami, Ratu.” Para prajurit mengucapkan secara serentak. mereka bersujud tepat di bawah kaki Silvana.

“eeh ... Bangunlah. Aku memaafkan kalian” jawab Silvana sembari meremas jemarinya, dirinya sungguh gugup berada di situasi ini. Para prajurit meninggalkan Eudora dan Silvana.

Valir dan Gerald tampak terkejut saat melihat Eudora datang bersama Silvana. Eudora membungkuk hormat pada Gerald.

"Salam hamba Yang mulia," ucap Eudora

"Salam untukmu." balas Gerald.

Silvana terdiam membeku begitu melihat seseorang yang populer di kampusnya terbaring tidak berdaya. Bahkan di hampir di seluruh tubuhnya terdapat luka terbuka dan cukup lebar. Wanita itu menatap takut pada Gerald dan Valir. Berbeda dengan Eudora yang langsung duduk di tepi ranjang.

"Bangun bodoh!" bentak Eudora sembari menggenggam tangan pria yang terbaring lemah.

"Yang mulia. Ku mohon selamatkan nyawa nya" Eudora bersujud, memohon pada Rajanya.

"Aku tidak bisa menyembuhkannya. Bahkan pohon kehidupan itu juga tidak bisa."

Eudora yang mendengar itu semakin terisak, menggenggam kembali tangan Leo. Eudora mengulurkan tangan kirinya dan menjentikkan jarinya.Sebilah pisau muncul ditangan kirinya.

"Percuma. Aku sudah memberikan darahku, begitu juga dengan Valir yang memberikan setengah nyawanya untuk dia." tunjuk Gerald. Melihat wanita itu pasti akan memberikan darahnya.

Pisau ditangan kiri Eudora dilemparkannya dan berada tepat di bawah kaki Silvana.

"Kenapa dia masih tidak bangun juga, Yang mulia." tanya Eudora.

"Bukankah pohon ini bisa membuatnya kembali hidup." lanjut wanita itu menunjuk bunga berwarna merah muda di bibir Leo.

"Dirinya yang tidak menginginkan hidup." jelas Gerald

Tangis Eudora pecah kembali, sedangkan Silvana yang semula takut terhadap Gerald dan Valir justru mendekat. Wanita itu tau bahwa kedua pria itu mencoba mengobati pria yang terbaring lemah itu. Silvana mengusap punggung Eudora pelan.

"Bersabarlah," ucap Silvana mencoba menenangkan.

"Dia sangat berharga bagiku." sahut Eudora.

Terpopuler

Comments

Thata Chan

Thata Chan

siapa nanti yang nyembuhin dia kak!

2022-11-13

1

Nia sumania

Nia sumania

lanjut kak

2022-11-11

0

HaeSoo

HaeSoo

halo kak Zidni, salam kenal ya,ak udah baca smp part 10, tapi baru kasih komen sekarang, maafken ya hehe, tapi ak cuma mau bilang, keren banget ceritanya, semangat terus untuk berkarya ya kak.

2022-11-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!