Di dalam hutan gelap yang tidak dapat di tembus cahaya matahari sebuah patung yang baru saja terbebas dari lilitan serta busur panah yang sebelumnya tertancap di tubuhnya kini sudah terbebas dan mulai berubah menjadi makhluk seperti manusia namun berbeda dengan manusia biasa.
“Akhirnya aku bebas,” ucap suara itu dia pun merentangkan tangannya dan mengucapkan sebuah kata.
“Vlon Anmuarka.” Kata yang baru saja terucap itu mengundang hembusan angin yang dahsyat dan di iringi petir yang begitu menakutkan. Srigala dan beberapa burung datang mendekat pada makhluk itu.
“Swuardiadum invades.” 2 kata yang terucap itu merupakan sebuah mantra yang mengubah serigala dan burung itu menjadi kebentuk semula seperti pria yang baru saja mengucapkan mantra itu.
“Yang Mulia Gerald, akhirnya kau terbebas dari kutukan itu.” Srigala yang tadi berubah menjadi seorang pria berjubah hitam, Dan burung-burung itu berubah menjadi para pengawal lainnya.Ya patung sebelumnya adalah Gerald Duton Pattius sang penguasa Kerajaan Vinhart.
“ Aku bisa terbebas karena seorang gadis yang mencabut panah dari tubuhku dan setetes darah suci yang di berikan padaku dan aku berterima kasih kepada kalian karena sudah menjagaku selama aku menjadi patung.” Gerald berjalan menghampiri para pengawal.
“Bagaimana dengan keadaan disana Luis?” Gerald menepuk pundak Luis yang sebelumnya seekor srigala.
“Kaum Valk sudah menguasai hampir seluruh kerajaan yang ada disana,Tuan.” Luis selama ini selalu memantau dari kejauhan kerajaan mereka.
“ Dimana Valir? Mengapa dia tidak ada disini.” Gerald mencari salah satu pengawal yang merupakan kakaknya.
“ Tuan Valir akan segera datang tuan.” Luis tau apa yang akan dilakukan pertama kalinya oleh Valir salah satu tuannya itu.
“Rupanya kebiasaannya itu tidak pernah berubah.” Gerald menghina Valir
Tidak berapa lama orang yang ditunggu pun datang dengan santainya langsung duduk disalah satu batang pohon yang ada disana.
“ Lama sekali kau.” Gerald melompat ke salah satu pohon dan ikut duduk di bang pohon 1 tingkat lebih tinggi dari yang di tempati Valir. Sedangkan para pengawal yang lain diam menyimak dibawah.
“ Aku hanya ingin memastikan bahwa semua baik-baik saja.” Valir berucap sembari memandang langit yang tidak terlalu terlihat.
“Kau pikir mereka mau mengurusi hal semacam itu. Bodoh sekali kau ini.” Ejek Gerald
“Bagaimana dengan gadis yang menolongmu itu, Apa akan kau biarkan begitu saja?” Valir tau bahwa yang bisa melepaskan kutukan Gerald adalah darah dari gadis suci.
“Dia akan menjadi ratu di Kerajaan kita.” Gerald memang tidak akan melepaskan gadis yang telah menolongnya itu.
“Kau memang lemah terhadap perempuan ya.” Giliran Valir yang balik mengejek Gerald
“Tenang saja, akan ku pastikan kali ini Ratu kalian tidak akan menghianati kita dan seorang Ratu yang baik bagi kalian.” Bukan tanpa sebab Gerald mengatakan itu karena saat Panah yang dicabut Silvana masa lalu Silvana masuk ke dalam ingatan Gerald.
“Baiklah. Aku akan pergi kalian persiapkan semuanya kita tunggu waktu yang pas untuk menyerang kaum valk.” Gerald pergi meninggalkan para pengawalnya.
*
Sore ini Silvana bergegas berangkat ke tempatnya bekerja karena sudah waktunya ia mencari uang untuk kebutuhannya. Dirinya segera mengambil tas dan keluar dari kamar.
Baru saja sampai di ruang tamu Carrie dan Ibunya Lyna memanggilnya hingga mau tidak mau ia pun berhenti.
“Ada apa Ma,carrie?” Silvana ingin rasanya berteriak namun ditahannya.
“Jangan lupa Gaji mu berikan padaku aku tidak mau kau pulang dengan Gaji yang kurang. Paham !” Lyna memilin rambut kepang Silvana dan dianggukin oleh Silvana.
*
Silvana meletakkan tas nya di loker dan mengambil seragam kerjanya tas sengaja sebuah kalung dengan bandul berbentuk 2 kepala burung.
“Kalung siapa ini, kenapa ada di tas ku?” Silvana memungut Kalung yang jatuh di kakinya. Kalung yang sangat cantik namun Silvana tak berani memakainya karena itu bukan kalung miliknya. Dia kembali memasukan kalung itu ke dalam tasnya berharap orang yang punya kalung itu akan datang mencari.
Sementara di sisi lain Gerald sang Raja Muda kerajaan Vinhart itu tersenyum menatap gadis dari sisi yang cukup jauh.
“Ternyata disini gadis itu berada.” Gerald bergumam sendiri, karena dirinya sudah mencari keberadaan gadis itu namun tidak menemukannya padahal dirinya sudah memberikan kalung itu sebagai petunjuk dimana gadis itu berada namun sayang gadis itu tidak menyentuhnya dan baru ini kalung itu disentuh oleh gadisnya.
Sudah waktunya bagi Silvana pulang ia berjalan menyusuri kota ditengah malam walau ada sisi takut saat berjalan sendiri tapi kebutuhannya mengalahkan rasa takutnya.
“Semangat Sil. Aku sudah tinggal sedikit lagi perjuanganmu.” Silvana menyemangati dirinya.
“Aku harus cepat.” Silvana berjalan lebih cepat saat merasakan seperti ada yang mengikutinya.
Sialnya justru kawasan yang ia lalui kini justru makin sepi, baru ingin berlari tangannya sudah di tarik oleh seseorang.
“Mau kemana kau gadis cupu,” Ucap orang tersebut.
“Dion… ku mohon lepaskan aku.” Silvana berusaha melepaskan genggaman tangan Dion orang yang ada di depannya.
“Diam kau… berikan aku Uang.” Dion justru menarik Silvana hingga jatuh.
“Aku tidak punya uang. Ku mohon pergi lah.” Silvana menekuk kedua lututnya tampak sekali lelaki di depannya ini sangat ia takuti.
“Aku tau kau baru saja mendapatkan gaji. Berikan padaku sekarang!” bentak Dion sedangkan Silvana sudah menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya yang di tekuk.
“Baiklah mungkin kau ingin ku beri pelajaran.” Dion mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya.
“Mari kita lihat berapa lama kau mampu bertahan” .Silvana semakin takut Dion akan menyakitinya lagi ia pun menyerahkan tasnya.
“Uangnya ada di dalam tas itu.” Ucap Silvana gemetar karena jujur dirinya sangat takut. Dion pun menyambar tas yang diberikan Silvana dan mengeluarkan seluruh isi tasnya. Tidak sengaja kalung yang ada di dalam tas Silvana itu jatuh tepat dibawah kaki Dion. Ia pun memungutnya, kalung ini lumayan juga jika ku berikan pada Carrie dia pasti suka. Namun kalung itu berhasil di rebut oleh Silvana.
“Kau boleh mengambil uang itu, tapi tidak dengan kalung ini. Ini bukan milikku dan pasti orangnya akan mencari kalung ini kembali.” Silvana mengatakan dengan sangat pelan,
“Bukan urusanku, aku ingin kalung itu. Sekarang kalung itu milikku.” Dion menggenggam tangan Silvana ingin menarik kalung yang ada ditangan kanan Silvana itu namun tidak mudah karena Silvana masih memegangnya dengan erat.
“Berikan padaku gadis sial!” umpat Dion masih menarik kalung tersebut dengan pelan, tidak ingin asal menarik karena takut kalung itu putus tak bisa jadi hadiah yang ingin diberikan ke Carrie.
“Baiklah. Kau ingin aku memotong tanganmu itu ya.” Dion mengambil kembali pisau yang sudah di simpannya di saku celananya.
“Ku mohon.. tolong aku siapa pun tolong aku…” Silvana berucap dalam hati sudah takut dirinya akan kehilangan tangannya.
Baru saja pisau yang di pegang Dion hampir menyentuh kulit Silvana namun tiba-tiba pisau itu terpental membuat kedua orang itu bingung. Mendadak langin mengeluarkan kilatan petir di sambut gemuruh angin di dekat mereka. Dion melepaskan pegangan tangannya pada Silvana hendak mengambil Pisau yang terpental itu. Begitu ia ingin kembali berjalan mendekat ke arah Silvana tiba-tiba dirinya terpental cukup jauh.
Silvana yang melihat itu hanya bisa terdiam begitu terkejut dirinya bingung apa yang sebenarnya terjadi. Gemuruh angin itu mendadak menghilang dan muncul seorang pria Tampan di balut dengan jubah hitam di tubuhnya. Bukan itu masalahnya pikir Silvana. Gadis itu memunguti barang-barang dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
“Apa kau baik-baik saja, Queen?” Tanya Pria itu sudah berada tepat di samping Silvana membuat gadis itu terkejut karena ia melihat sendiri pria itu berada cukup jauh dan tak ada suara jejak kaki mendekat ke arahnya.
“Tenanglah.aku tidak akan menyakitimu, Queen” Gerald tau Silvana merasa takut pada dirinya.
“Siapa kau?” tanya Silvana mencoba menjauh dari Gerald
“Aku Gerald dan aku pasanganmu, Queen,” ucap Gerald menarik tangan Silvana agar lebih mendekat padanya.
“Lepaskan aku, kau gila hah.” Silvana memberontak dipikirannya saat ini ia harus kabur dari pria gila ini.
“Baiklah.” bukannya melepaskan Gerald justru merangkulnya dan perlahan kaki mereka sudah tidak menapak ditanah. Ya Gerald mengajak terbang Silvana.
“kau … ba-gaimana bi-sa …” belum selesai Silvana berucap Gerald sudah memotong terlebih dahulu. “Aku bisa melakukan apa saja, 1 hal yang tidak aku bisa yaitu membunuhmu.”
Mendengar kata “membunuh” nyali Silvana menciut tak lagi berani memberontak dan diam sambil berpegangan pada jubah yang dipakai pria itu.
“Apa aku membuatmu takut? jangan takut, sudah ku katakan aku tidak akan menyakitimu apalagi membunuhmu.” Gerald berucap dengan suara lembut hingga membuat Silvana mendongakkan wajahnya. Silvana wajah yang ada di depannya itu. Hal yang pertama yang di rasakan Silvana adalah silau.
Bagaimana tidak? Lelaki asing di depannya itu sangat tampan.bahkan dia sangat-sangat tampan. Mata indah, hidung macung, bibir tipis yang sangat seksi, alis mata yang tertata rapi, dan sorot mata yang tajam tapi sangat meneduhkan bila dipandang.
Silvana mengerjapkan mata tak percaya namun sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya karena malu kedapatan mengagumi wajah tampan pria itu. Dan sialnya lagi pria itu justru tersenyum sangat manis.
“Apa aku sangat tampan?” suara lembut dan merdu itu menerawang indah masuk ke dalam pendengaran Silvana. Namun Silvana tetap bergeming namun jantungnya tetap berdebar-debar.
“Apa yang kau inginkan dariku tuan?” Silvana berusaha tak gentar
“Aku hanya mau dirimu..”
“Ak-akku? Ke-kenapa tuan ingin saya, tolong saya tidak punya apa-apa tuan, bahkan hasil gaji saya pun sudah di rebut pria tadi.” Silvana menunjuk dirinya dan berpikir bahkan ia memikirkan bagaimana nasibnya nanti dirumah karena tak membawa uang.
“Kau punya segalanya karena aku hanya membutuhkanmu. Dan apa yang kau maksud amplop ini.” Gerald mengulurkan sebuah amplop putih di tangan kirinya.
Silvana langsung menyambut amplop itu dengan mata berbinar. Kini ia sudah tidak perlu lagi khawatir pulang untuk bertemu ibu dan adik tirinya itu.
“Apa isi amplop itu lebih penting dariku?” pertanyaan konyol yang dilontarkan Gerald membuat Silvana tertawa ringan.
“Tentu,Tuan. Tanpa uang aku bisa mati.” jawab Silvana di sela tawanya.
“Siapa yang berani membunuhmu, akan aku lenyapkan dia!” seru Gerald mendengar pernyataan Silvana. Sedangkan Silvana mendadak kaku dan merinding mendengarkan suara lembut namun terdengar tajam itu.
“Bu-kan begitu maksudku tuan, tanpa uang aku tidak bisa membeli makan ataupun sesuatu yang aku inginkan.” Jelas Silvana dan teringat maksud dari ucapan Gerald
“Apa maksud tuan membutuhkanku?” Silvana mulai berani bertanya .
“Aku berterima kasih padamu Karena kau sudah membuka segelku.”
Silvana yang mendengarkan itu mengerutkan kedua alisnya karena tak mengerti apa maksud dari pembicaraan Gerald.
“Kau membebaskanku dari kutukan itu, rantai dan anak panah .” Gerald melanjutkan perkataannya.
Silvana teringat 2 hari yang lalu ia melepaskan rantai dan busur panah yang ada pada patung manusia tapi itu kan hanya patung pikirnya.
“Maksudnya,Tuan adalah patung itu?” Silvana kini mulai merasa takut
“Benar aku adalah patung itu, sudah ku katakan aku adalah raja dari kerjaan vinhart.” Jelas Gerald.
“mana aku tau kerajaan itu, aku saja baru dengar!” gerutu Silvana pelan namun masih bisa di dengar oleh Gerald.
“Aku adalah raja diatas seluruh klan vampire, serigala dan penyihir.” Suara lembut itu menerawang ke dalam pendengaran Silvana bukannya terpukau malah membuat Silvana merinding kaku.
“Vampire?” hanya itu yang dapat ditangkap oleh Silvana.
“Ya. Dan aku adalah penguasa tertinggi.”
Kedua kaki Silvana lemas sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya, ia merosot menjatuhkan tubuhnya namun tertahan karena rangkulan Pria di depannya.
“Ada apa, Queen?” Gerald menurunkan tubuhnya kembali berpijak pada bumi.
“Kau. Pasti ingin menghisap darahku kan? Tolong aku masih ingin hidup,Tuan.” Silvana sudah menangis ketakutan dirinya takut akan jadi mangsa pria tersebut.
Gerald tersenyum tipis dan membelai rambut Silvana menenangkan wanita itu.
"Kau tidak perlu takut, aku ada di sini karena kau adalah ratuku dan ratu dari kerajaanku.” Ucap Gerald lembut. Bukannya berhenti menangis justru semakin membuat Silvana terisak, Gerald pun memeluk
tubuh mungil itu.
“Ada apa katakan, jangan takut, Queen.” Gerald masih berusaha menenangkan Silvana tak berapa lama akhirnya wanita itu diam.
“Tuan, jika aku menjadi ratu itu tandanya aku akan menjadi istrimu, sedangkan aku masih ingin lulus kuliah dan melanjutkan cita-citaku.” Keluh Silvana
Gerald tersenyum tipis karena baginya gadis didepannya ini sungguh lucu. Gerald kembali membelai rambut Silvana.
“ Aku tak memaksamu untuk menjadi ratuku sekarang, Queen.” Gerald mengucapkan dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.
“ Aku harap kau tak menolakku, Queen.” Gerald melanjutkan kata-katanya hingga berhasil membuat rona merah diwajah Silvana.
*
Silvana kini sudah berada tepat di halaman rumahnya, dirinya ragu ingin masuk atau tidak karena dirinya pulang terlambat.
“Kau tidak ingin masuk ke dalam?” Gerald mendekati Silvana yang hanya diam.
“Aku takut.” Jawab Silvana lirih”
“Apa kau mau aku menghabisi mereka?” perkataan Gerald langsung membuat Silvana merinding dan refleks memukul lengan kiri Gerald.
“Tuan, tolong jangan selalu mengucapkan kata-kata mengerikan itu. Kau ini mengerikan sekali.” sungut Silvana
“Aku hanya tidak mau ada yang menyakiti ratuku.”
“Kenapa kau tidak masuk ke dalam?” lanjut Gerald
“Pintunya sudah pasti terkunci dan jika aku membangunkan ibu atau Carrie pasti aku akan…” belum sempat melanjutkan Gerald sudah menarik tangan Silvana hingga ia sudah berada di pelukkan Gerald.
Gerald merentangkan tangan kanannya matanya terpejam. Daun-daun mulai berjatuhan dan hembusan angin berada disekitar mereka. Gerald membuka matanya dan tersenyum manis menatap wanita di depannya. Silvana tertegun menatap mata Gerald karena mata pria itu kini berubah menjadi Biru dan sangat indah.
“Tuan …” tiba-tiba angin berputar kearah mereka dan kini Silvana sudah berada di dalam kamar kecilnya.
Silvana tampak sangat terkejut bagaimana tidak, bukankah dia tadi ada di halaman rumahnya kenapa sekarang sudah ada di kamarnya.
“Bagaimana bisa?” Silvana berbicara pada dirinya sendiri
“Itu mudah, Queen.” Sahut Gerald mengerti maksud dari perkataan Silvana.
Silvana membersihkan dirinya sedangkan Gerald entah berada dimana sekarang setelah mengatakan “itu mudah” dirinya menghilang. Silvana merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah usang itu. Mengingat yang terjadi hari ini, baginya semua ini terasa mimpi.
“Gerald,” ucap Silvana saat mengingat nama pria itu, baru saja terucap beberapa detik pria bernama Gerald itu muncul tepat di langit-langit kamarnya hingga membuat Silvana menjerit ketakutan.
“ Akkhhh…” Silvana berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Apa aku menakutimu, Queen?”
“Hiss .. siapa yang tidak takut. Ku pikir kau hantu. Muncul tiba-tiba dan di atas sana lagi, hampir saja aku terkena serangan jantung.” Protes Silvana.
Gerald duduk di tepi kasur Silvana memandangi wajah Silvana. Silvana yang merasa di perhatikan terus-menerus merasa risih namun tak banyak yang bisa ia lakukan.
“Jangan menatapku seperti itu.” Akhirnya perkataan itu lolos dari bibir Silvana
“Kenapa? Aku menyukainya.” Gerald menjawab dan sedetik kemudian sudah berada di samping Silvana hampir membuat wanita itu hampir terpekik.
“Tuan, kumohon jangan tiba-tiba muncul begini, aku bisa mati karena terkena serangan jantung.” Silvana mengantupkan kedua tangannya ke depan dada.
Bukannya menjawab justru Gerald mengulurkan kedua tangannya mengarah ke leher Silvana, membuat wanita itu mundur dan memejamkan matanya takut dirinya akan dicekik karena membuat Pria itu tersinggung dengan perkataanya.
“Tuan, maafkan aku…”
“Selalu pakai kalung ini,kalung ini akan menjagamu dari bahaya” Gerald memotong perkataan Silvana. Wanita itu membuka matanya menatap liontin kalung itu dari cermin yang ada di depannya.
“Ini kalung milik, Tuan?” Silvana tau kalung yang di berikan Gerald itu adalah kalung yang ada di dalam tasnya.
“ kalung itu adalah milikmu. Ingat selalu gunakan kalung itu.” Gerald mengingatkan Silvana kembali dan diangguki oleh wanitanya.
*
Pagi hari Silvana sudah selesai dengan kegiatan memasak dan membersihkan rumah ia menunggu ibu dan adik tirinya itu bangun. Dirinya sudah bersiap akan amukan dari kedua orang itu karena pulang telat. Namun ia terkejut karena ibu dan adik tirinya terlihat biasa saja. Justru menyatap makanan yang ada dengan lahap.
“Tumben kau masak banyak sekali?” Carrie menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya sedangkan ibunya sedang asik menikmati makanannya.
Silvana menatap kedua orang itu bingung, bukan tanpa sebab Karena kemarin ibu nya sudah memberikan ultimatum kepadanya untuk meminta gaji bulanannya. Namun ia bersyukur berarti uang itu bisa ia tabung.
“Ibu,Carrie. aku pamit mau berangkat ke kampus.” Silvana mengambil tas ysng berada di atas kursi.
“Pergilah. Aku juga muak melihatmu di sini menggangguku makan saja.” Lyna ibu tirinya itu memang selalu melontarkan kata-kata pedas pada Silvana.
Silvana memang selalu berangkat lebih awal karena ia harus berjalan kaki dan naik bus untuk sampai ke kampusnya berbeda dengan carrie yang pakai mobil untuk ke kampus. Silvana duduk di bangku belakang bus yang kosong, dirinya kembali mengingat ke anehan pada ibu Lyna dan Carrie.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Tumben mereka tidak mengamuk karena aku pulang telat dan tidak meminta gaji ku?” Silvana bertanya pada dirinya sendiri. Baginya ini adalah keanehan di sepanjang hidupnya karena kedua orang itu tidak pernah luput dari kesalahan Silvana termasuk soal uang. Silvana tersenyum dan memegang bandul liontin dari kalung yang dipakainya.
“Sangat cantik.” gumam Silvana dengan senyum mengembang diwajahnya.
Sedangkan dari kejauhan tampak seorang pria tersenyum setelah melihat wajah ceria Silvana.
“Kurasa sudah terlalu lama aku berada di sini. Sudah saatnya aku pergi.” Pria itu pun menghilang dengan pusaran angin di sekitarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Jesi Jasinah
bagus ceritanya
2023-04-29
0
Thata Chan
tanpa uang aku bisa mati🤣🤣
2022-11-09
1
Lena Laiha
gak mau komen, aku suka dengan ceritanya
2022-11-03
1