Part 5 Luka

Silvana terperanjat saat melihat rambut Lorren berubah putih.

“Sial. Kalung itu sudah menyerap energiku.” umpat Lorren bangkit dan meninggalkan Silvana.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa rambutnya bisa berubah?” cicit Silvana

Kalung yang bersinar itu perlahan meredup, kembali seperti semula.

“Berarti kalung ini benar-benar punya kekuatan.” gumamku.

Silvana menunggu Luci di kantin, sesekali memperhatikan keadaan sekitarnya. Dilihatnya Carrie dan kedua temannya berjalan mendekat dengan sorot mata tajamnya.

“Apa yang kau lakukan pada Dion? Sampai dia ingin putus dariku, hah?!” Carrie mencengkeram lengan Silvana.

“Aku tidak mengerti maksudmu, tolong lepaskan. Carr” Silvana mencoba melepaskan cengkeraman tangan Carrie.

“Jangan pura-pura bodoh! Dion terluka parah karena ulah pacar sialmu itu!” bentak Carrie.

“Itu tidak benar. Ku mohon lepaskan” pinta Silvana

“Ini sangat sakit, lepaskan Carrie.” ucap Silvana lirih.

Glegerr …!

Sebuah petir menyambar. Semua mahasiwa yang ada berteriak takut dan lari berhamburan.

Plakk!

Suara tamparan tanpa ada yang terlihat siapa yang melakukannya.

“Aahhkk. Sakit!” Carrie berteriak kencang dengan memegang pipinya. Ada darah keluar dari sudut bibirnya. Matanya menatap nanar sekelilingnya, namun tidak ada orang yang menamparnya, kedua teman pun terlihat bingung.

Plakk!

Suara tamparan kembali terdengar dan tidak ada yang tahu siapa yang melakukannya.

“Aahhkk.” jerit Livia dan Vanessa. Mereka memegang pipi mereka. Carrie bingung dengan orang yang menampar pipinya dan kedua temannya. Tidak ada yang tau siapa yang melakukan itu, tapi tamparan itu sangat menyakitkan terlihat dari sudut bibir yang mengeluarkan darah.

Carrie memandang sengit Silvana, ada rasa kesal yang menjalar di hatinya karena dia yang menerima tamparan misterius itu. Kenapa bukan Silvana? Karena silvana hanya gadis pembawa sial!.

“ayo kita peri dari sini!” Livia menarik tangan Carrie dan Vanessa meninggalkan kantin.

 “kita lihat, apa yang bisa aku lakukan untukmu dirumah nanti.” ancam Carrie meninggalkan Silvana

*

Silvana melangkah masuk ke dalam rumah dan meletakkkan semua barang yang berada ditangannya. Dengan lelah, Silvana mulai melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas airi putih. Baru akan meminum, gelas itu di tangannya direbut. Silvana menoleh, dan.

Plakk! Sebuah tamparan mendarat pada pipi mulus Silvana. Silvana memegang pipi kanannya, air mata menetes membasahi kedua pipinya.

“Beraninya kau menampar putriku!”  ibu Lyna  menatap murka pada Silvana.

“Tidak bu. Silvana tidak pernah menampar Carrie.” Silvana mencoba menjelaskan.

“Kau mau bilang putriku berbohong?!” ibu Lyna kembali menampar Silvana tepat di pipi kirinya.

“Dia bohong,ma. Mama lihat pipiku ini.” Carrie menunjukkan pipinya yang masih merah bekas tamparan. Carrie berdiri di samping ibunya sambil tersenyum sinis kepada Silvana.

“Tapi Carr, bukan ak-“

“Masih berani kamu mengelak?! Potong Lyna

“Diam atau aku akan melarangmu untuk melanjutkan kuliahmu.” ancam Lyna menjambak rambut Silvana.

“Tapi bu. Sungguh bukan aku yang melakukannya.” Tutur Silvana

“Masih berani menjawab rupanya kau.” Lyna menarik rambut Silvana dan mendorong tubuh Silvana hingga jatuh ke lantai.

“Aahhkk.” Silvana memegang keningnya yang terasa perih.

“Itu belum cukup ma. Coba mama lihat sudut bibirku ini.” Carrie menunjukkan sudut bibirnya yang terluka.

“Dia bahkan menamparku sampai berdarah.” Carrie tersenyum senang saat melihat Silvana meringis kesakitan.

Lyna menarik rambut Silvana lagi, dan menampar pipi Silvana lebih kencang.

“Ampun bu, Silvana tidak pernah melakukan itu semua.” Silvana memegang tangan Lyna yang menarik rambutnya.

“Masih tidak mau mengaku juga kau. Dasar gadis pembawa sial!” umpat Lyna

Lyna menyeret Silvana, menarik rambut Silvana dengan sangat kasar dan membenturkan kepala Silvana ke dinding dengan cukup kencang.

Dukkkh!

Kepala Silvana membentur tembok dan sisi meja di dekatnya hingga membuat luka terbuka di kening Silvana. Namun Lyna justru membenturkan Silvana kembali ke dinding, membuat luka di kening Silvana pecah dan menyemburkan darah segar yang cukup banyak.

Silvana langsung ambruk dan terduduk di lantai dengan tangan yang memegangi keningnya. Rasa pusing sangat mendera di kepalanya.

“Tolong bu, ampuni aku.! Silvana merintih kesakitan. Namun Lyna tidak menggubrisnya  dan menampar

Silvana, membuat darah mengalir dari sudut bibirnya.

“Kali ini aku mengampuni mu. Sekarang pergi ke kamarmu!” Lyna dan Carrie meninggalkan Silvana,

“Berani kau berbuat ulah lagi. Aku pastikan kau akan dapatkan yang lebih dari ini.” Carrie tersenyum puas memandang Silvana sebelum beranjak pergi meninggalkan Carrie.

Silvana masuk ke dalam kamarnya dengan tertatih menahan rasa sakit serta pusing yang menderanya.

Silvana menutup pintu kamarnya, kamar sempit yang sesak. Dulunya kamar ini hanya sebagai gudang barang yang tidak terpakai, namun  masih layak untuk di gunakan. Kini, gudang tersebut menjadi kamar Silvana. Takdir begitu cepat berubah untuk Silvana.

Silvana memandang bingkai foto yang ada di nakas.

“Ma,Pa. Silvana rindu kalian.” Silvana berkata lirih.

“Bukankah rumah ini milik kita? Tapi kenapa rumah ini menjadi terasa sangat asing.” air matanya telah menggenang di matanya.

“Bolehkah aku ikut dengan kalian.Ma,Pa?” kini tumpah sudah air mata yang menggenang di matanya dan turun ke pipi mulusnya.

Silvana  menatap wajahnya di cermin, membersihkan luka yang ada di keningnya. Rasa sakit dan

pusing yang mendera cerara bersamaan membuat Silcana tak mampu untuk tidak menangis.

“Aku lelah menghadapi semua ini.” Silvana berkata lirih dan menatap bayangannya di carmin. Perban yang tertempel pada kening  dan rasa sakit pada pipi dan sudut bibirnya

membuat tangisan Silvana pecah.

“Tidak, aku tidak boleh menyerah, aku harus kuat hingga lulus. Setelah itu aku akan pergi dari rumah ini. Aku harus bertahan!” Silvana menghapus air matanya mencoba memberi semangat pada diri sendiri.

Di rebahkan kepalanya pada sebuah bantal dari beberapa kain yang telah di bungkus dengan rapi. Silvana meraih bingkai foto kedua orang tuanya dan tersenyum.

“Hari esok pasti akan lebih.Aku sanggup menghadapi semua ini.” Silvana meyakinkan dirinya dan tersenyum tipis. Dipejamkan matanya dan akhirnya  gelap dan mimpi menyambutnya.

Sekelebat bayangan datang dan perlahan terlihat nyata. Pria tinggi yang sangan tampan dengan sengan jubah hitamnya. Pria itu mendakat dan menatap wajah Sivana.

“Aku baru meninggalkanmu sebentar, dan saat aku kembali kau sudah terluka parah seperti ini.” Gerald menatap lekat wajah Silvana

“Kalung itu belum sempurna untuk melindungimu Karena darahmu belum tercampur dalam darahku.” Gerald menyentuh kalung di leher Silvana.

“Mulai sekarang aku akan melindungimu, kau tidak tidak akan merasakan sakit seperti ini lagi.” Gerald melepaskan kalung di tangannya.

“Mereka juga akan mendapatkan semua ini.” Gerald menyentuh semua luka pada Silvana. Perlahan luka tersebut menghilang dan kembali seperti tak pernah terluka sekalipun.

“Mereka akan mendapatkan yang lebih dari ini, queen. Karena kau adalah ratuku!” kedua bola mata Gerald berubah menjadi merah, tapi sedetik kemudian kembali berwarna coklat.

Gerald tersenyum. Diciumnya kening Silvana dan menggeser bantal yang dipakai dengan tangannya. Gerald tersenyum memandang wajah Silvana dan ikut berbaring memeluk tubuh silvana.

“Selamat malam,Queen. Mulai hari ini aku akan menjagamu.” Gerald menciup pucuk rambut Silvana dirinya terus memandang Silvana.

Terpopuler

Comments

kianana

kianana

seru kak

2022-11-05

1

Bhebz

Bhebz

seruuu

2022-11-05

1

Bhebz

Bhebz

apa ya?

2022-11-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!